
Pikiran Pasha semakin kalut. Saat ini dia meminta orang suruhannya untuk mencari tahu dimana keberadaan Hagi saat ini. mungkin saja apa yang dikatakan oleh Tatia tadi benar, kalau kepergian Era yang tiba-tiba masih ada hubungannya dengan Hagi. Namun Pasha tidak berharap hal itu terjadi, sebelum ia bisa menemukan Era sendiri.
Seharian ini Pasha terus mencari Era. Sedangkan untuk keberadaan Hagi saat ini, orang suruhan Pasha tidak menemukan apapun. Pasha semakin frustasi.
Pasha juga terus berkomunikasi dengan Tatia. Tadi sebelum ia pergi memang sempat bertukar no ponsel dengan sahabat Era itu. Tatia juga mencari informasi tentang Era. Namun hasilnya sama dengan Pasha.
Sampai malam hari, Pasha tak juga mendapatkan kabar tentang Era. Dengan tubuhnya yang lelah, akhirnya Pasha memutuskan untuk pulang terlebih dulu.
**
“Astaga, King! Kamu dari mana saja? penampilan kamu kok kusut gitu?” tanya Queen, kakak Pasha yang kebetulan sedang menginap di rumah Mamanya.
Pasha diam saja, dan langsung menaiki tangga menuju kamarnya. Namun tiba-tiba Pasha ingat sesuatu. Pasti kakaknya tahu sesuatu tentang Era. Apalagi dulu Era adalah kakak tingkat Queen. Akhirnya Pasha mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam kamar. dia menghampiri kakaknya yang sedang menggendong bayinya.
“Kak, aku boleh tanya sesuatu nggak?”
“Boleh. Satu menitnya seratus ribu.” Jawab Queen.
“Dasar mata duitan! Aku serius, dan tidak punya banyak waktu lagi.”
Akhirnya Pasha mengajak kakaknya duduk di sofa ruang tengah. Namun Queen lebih dulu menidurkan anaknya di kasur kecil khusus bayi yang ada di sofa itu.
“Mau tanya apa?”
“Gini, Kak. Apa Kakak tahu sesuatu tentang Era?” tanya Pasha to do poin.
“Era? Era siapa sih?” tanya Queen yang sangat asing dengan panggilan itu.
“Juleha. Masak gitu saja nggak tahu?”
Queen tampak memicingkan matanya, menatap penuh selidik pada adiknya yang bertanya tentang Era. Bahkan hanya Pasha sendiri yang memanggil Era. Sementara semua karyawan memanggilnya Juleha.
“Ada apa kamu dengan Kak Juleha?”
__ADS_1
“Nggak penting. Sekarang jawab dulu pertanyaanku. Apa kamu tahu sesuatu tentang Era. Tempat tinggal keluarganya atau apa kek.”
Queen hanya manggut-manggut. Meskipun dia masih penasaran, ada hubungan apa antara adiknya dengan kepala HRD di perusahaan Papanya itu, tapi Queen menjawab dulu pertanyaan Pasha.
“Yang aku tahu sih Kak Juleha itu yatim piatu. Sejak kecil dia tinggal bersama Paman dan Bibinya.”
“Lalu, kamu tahu nggak dimana alamat tempat tinggal paman dan bibi Era?”
“Ada apa sih sebenarnya, King? Apa jangan-jangan kamu,-“
“Cepat, katakan dimana alamat tempat tinggal paman dan bibi Era?” sahut Pasha yang sudah tidak punya banyak waktu lagi.
Akhirnya Queen memberithau alamat tempat tinggal Era dulu, sewaktu masih tinggal bersama paman dan bibinya. Tidak terlalu jauh dari kota ini, hanya membutuhkan waktu sekitar satu jam setengah. Namun berhubung waktu sudah malam, akhirnya Pasha memutuskan untuk pergi besok.
Queen hanya bisa menatap kesal punggung Pasha yang sudah menaiki tangga. Pasalnya rasa penasarannya itu belum terjawab. Pasha juga belum memberitahu, sebelum menemukan Era.
***
Sementara itu malam ini, Era sudah siap pulang kembali ke rumahnya setelah tiga hari pulang ke rumah Paman dan Bibinya karena adik sepupunya meninggal.
Sore itu Era pulang dulu ke rumahnya untuk bersiap-siap. Setelah itu Era segera berangkat dengan mengendarai mobilnya sendiri.
Hati dan pikiran Era benar-benar kalut. Meskipun salah satu anak pamannya pernah menyakitinya, namun Era tetap menyayangi sepupunya yang tak lain adik dari Nola itu. Era juga tidak pernah absen membantu biaya pengobatan sepupunya selama menjalani perawatan. Hanya saja sampai saat ini Era belum pernah pulang untuk menjenguknya. Dan kini dia pulang, namun dalam keadaan berduka.
Era mengendarai mobilnya dengan hati-hati. Apalagi waktu sudah malam. beberapa saat kemudian, Era berhenti sejenak di sebuah spbu untuk mengisi bahan bakarnya. Namun naas, saat dia keluar dari mobil, dan kaca mobilnya dalam keadaan terbuka, ada seseorang yang mengambil sesuatu dari dalam mobilnya yang ternyata itu adalah ponselnya.
**
“Ra, lebih baik kamu pulang besok saja! ini sudah malam, Nak!” ucap Paman Era.
Sebenarnya Era bisa saja pulang besok atau lusa. Namun hati dan perasaan Era masih sakit saat berada di rumah Pamannya. Terlebih dengan kejadian masa lalu yang pernah menimpanya. Tidak hanya itu saja. selama beberapa hari tinggal di rumah Pamannya, Nola juga ada di sana. Tidak ada inisiatif sama sekali dari perempuan itu untuk meminta maaf pada Era atas kejadian beberapa tahun itu. entah Nola yang keras kepala, atau ada alasan lain yang membuat perempuan itu tidak berinisiatif meminta maaf pada Era.
“Tidak, Paman. Era banyak pekerjaan. Jadi harus pulang malam ini juga.” jawab Era.
__ADS_1
Paman Era pun paham sebenarnya apa yang membuat Era tidak betah tinggal di rumahnya. Padahal rumah ini juga rumah tempat tinggal Era sejak kecil. Dan penyebabnya adalah karena anaknya sendiri.
“Maafkan Paman dan Bibimu ya, Ra!” ucap Paman Era sambil memeluk Era.
“Paman bukan Ayah yang baik untuk Nola. Paman gagal mendidik Nola. Tapi Paman janji akan selalu menasehati Nola agar mau meminta maaf pada kamu.”
“Sudahlah, Paman. Era sama sekali tidak masalah. Era juga tidak berharap atau memaksa Nola meminta maaf pada Era.”
Setelah itu akhirnya Era memutuskan untuk langsung pulang. Era juga berjanji akan pulang lagi menjenguk paman dan bibinya jika ada waktu luang. Era masih menganggap paman dan bibinya sebagai orang tuanya. Terlepas dengan kesalahan Nola.
*
Dalam perjalanan pulang, tiba-tiba saja Era teringat dengan Pasha. seharusnya pria itu sudah pulang dua hari yang lalu. Tapi sayangnya Era tidak bisa mengirim pesan pada Pasha untuk memberikan ucapan atas pertunangan Pasha dan Yeslin. Namun jika hal itu benar.
Era tampak berpikir. Besok setelah ia membeli ponsel baru, dia akan menghubungi Pasha untuk menemui pria itu. bagaimanapun juga ia masih mengingat tantangan yang diberikan pada Pasha. dan harusnya, dua hari yang lalu dirinya memberi jawaban.
“Apakah setelah ini aku akan pergi dari kota ini? atau aku harus memperjuangkan Pasha?” gumam Era sambil fokus dengan kemudinya.
***
Keesokan harinya, Pasha sudah bersiap untuk pergi ke tempat tinggal Era semasa kecil. Dia berharap Era ada di sana dan keadaannya baik-baik saja.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam setengah, Pasha pun sampai di kediaman Paman dan Bibi Era. Dia segera mengetuk pintu rumah itu, dan berharap yang membukanya adalah Era.
Cklek
“Ada yang bisa saya bantu?”
.
.
.
__ADS_1
*TBC
Happy Reading!!