
Hari-hari berikutnya Era kembali merasa tidak tenang lagi. hampir setiap pagi ia selalu berangkat ke kantor sangat pagi. tentu saja tujuannya untuk menghindari Hagi yang pastinya akan selalu menjemputnya. Bahkan pulangnya juga Era selalu mampir dulu ke apartemen Tatia. Setelah cukup yakin kalau mantan kekasihnya itu tidak standby di depan rumahnya, baru Era akan pulang ke rumahnya.
Yang membuat heran Era adalah, meskipun ia selalu menghindari Hagi, tapi pria itu sama sekali tidak menghubunginya. Bisa saja kan dia marah-marah karena tidak berhasil bertemu dengannya. tapi hal itu juga membuat Era sedikit lega. Mungkin saja dari sejumlah uang yang pernah ia berikan dulu yang mampu membuat pria itu memberi kelonggaran pada Era.
Seperti pagi ini, Era sudah tidak sekhawatir hari-hari sebelumnya. Ia masak untuk sarapannya dengan santai. Bahkan ia juga membawakan bekal untuk Pasha. mengingat selama beberapa hari ini ia tidak sempat masak, jadi pagi ini ia sempatkan masak sekaligus membuat bekal untuk kekasihnya.
Setelah semuanya selesai, Era juga sudah rapi dan sarapan, perempuan itu bersiap untuk pergi ke kantor. namun sebelumnya Era memastikan dulu kalau di luar tidak ada Hagi yang sudah menunggunya.
Era menghembuskan nafasnya lega saat tidak melihat siapapun di luar sana. Buru-buru ia keluar rumah, mengunci pintu rumahnya, dan segera berangkat. Sekali lagi Era bernfas lega, karena perjalanannya menuju kantor cukup lancar tanpa dihantui bayang-bayang Hagi.
Beberapa menit berkendara, Era kini sudah tiba di kantor. suasana basement pagi ini lumayan ramai. Maksudnya semua karywan tampak berangkat lebih pagi semua, karena memang akan ada meeting penting.
Tak lama setelah Era memarkirkan mobilnya, dia melihat mobil Pasha juga baru datang. kebetulan juga ia akan memberikan bekal yang sudah ia buat tadi untuk kekasihnya.
“Pagi!” sapa Era yang berinisiatif dulu menghampiri Pasha.
Pasha yang tampak mengenakan kacamata hitam itu terlihat semakin tampan dan mempesona. Era sendiri sangat mengagumi ketampanan pria itu.
“Pagi juga, Ra!” sapa Pasha balik, tanpa mempedulikan beberapa karyawan lainnya yang masih ada di basement itu.
Memang mereka yang melihat interaksi Era dan Pasha juga hanya bisa melihat saja, tanpa berani membicarakannya ataupun nyinyir. Karena mereka sendiri tidak mengira kalau Era dan Pasha mempunyai hubungan special.
Tapi tidak untuk seseorang yang sejak tadi masih berada di dalam mobilnya. Yeslin tampak mengepalkan tangannya saat melihat Pasha dan Era sangat akrab. Apalagi saat Era memberikan kotak bekal yang diambil dari tas perempuan itu pada Pasha.
Yeslin semakin marah saat Pasha berhasil mencium kening Era saat suasana terlihat sepi. Dan itu artinya kalau diantara mereka berdua memang ada hubungan special. Bukan dugaan lagi.
“Oh ternyata selera kamu si perawan tua itu, King? Awas saja, aku akan membalas sakit hatiku ini atas penolakan kamu di depan kedua orang tuaku waktu itu.” gumam Yeslin.
Yeslin masih ingat dengan jelas saat acara makan malam bersama keluarga Pasha waktu itu. dimana setelah Pasha menolak perasaannya, hatinya benar-benar hancur. Terlebih Pasha mengaku dengan jujur kalau pria yang ia sukai ternyata sudah memiliki kekasih.
__ADS_1
Memang hubungan kedua orang tuanya dan orang tua Pasha masih baik-baik saja. terlebih Papa Nabil yang sudah meminta maaf pada kedua orang tuanya. Papa Nabil juga tidak bisa memaksakan kehendak anaknya mengenai asmara anak-anaknya. dan Papa Yeslin pun mencoba menerimanya dengan lapang dada. Untuk masalah Yeslin yang jelas sangat kecewa, pria itu akan mengajak anaknya bicara baik-baik.
**
“Makasih ya, Ra! Sudah lama aku tidak makan masakanmu. Dan hari ini aku bisa menikmatinya lagi.” ucap Pasha setelah mencium kening kekasihnya dan menerima kotak bekal itu.
Wajah Era langsung memerah setelah mendapat hadiah kecupan di keningnya dari Pasha. apalagi posisinya kini sedang berada di luar. Era takut kalau ada yang melihatnya.
“Ya sudah aku pergi dulu!” pamit Era.
“Tunggu, Ra! Apa sekalian saja kita jalan bareng?”
“Jangan! Please, kamu masih ingat kan dengan permintaanku dulu?”
Pasha hanya menghembuskan nafasnya pelan. Ia menganggukkan kepalanya, lalu membiarkan Era masuk lebih dulu.
“Ya ampun Jul! kemana saja sih kamu? Dari tadi nggak datang-datang?” tanya Tatia dengan wajah cemasnya.
“Memangnya ada apa sih? Kan meetingnya belum dimulai. Ini juga belum masuk.”
“Kamu tahu nggak sih, kalau baru saja direktur utama kita ke sini. dan kamu tahu, Tuan Nabil mencari kamu. Tapi apa? Kamu belum datang. jelas kita semua panik dong. Apalagi sekelas direktur utama sampai turun tangan sendiri mendatangi ruangan Kepala HRD. Apa itu artinya kamu sedang dalam masalah besar, Ra?” ucap Tatia menggebu-gebu.
Era sendiri juga bingung. Kenapa direktur utama sampai mendatangi ruangannya? Karena Era merasa tidak mempunyai masalah, dia terlihat santai saja. tapi tidak untuk Tatia dan teman-teman lainnya.
“Apa jangan-jangan kamu mau disidang Tuan Nabil gara-gara hubungan kamu dan, mppphh”
Era langsung membekap mulut sahabatnya saat hendak keceplosan membicarakan hubungannya dengan Pasha.
“Hubungan apa sih, Tat? Jangan buat kita pensaran dong? Kita juga ikut takut loh jika Juleha kena masalah. Apalagi sama direktur utama langsung.” tanya teman Era yang satunya.
__ADS_1
“Iya nih. Atau jangan-jangan kamu dan direktur utama punya hubungan special, Jul?” tuduh salah satu teman Era yang lainnya.
“Jangan ngaco deh kalian! dah, masuk sana ke ruangan kalian. yang pasti, aku dan Tuan Nabil tidak ada hubungan apa-apa dan tidak ada masalah yang aku perbuat. Setelah ini aku akan datang ke ruangannya. Dan kalian tenang saja. semuanya akan baik-baik saja. ok?”
**
Ternyata Era dipanggil langsung oleh direktur utama yang tak lain Papa dari Pasha adalah untuk menemani Pasha memimpin meeting pagi ini. memang Era juga akan hadir dalam meeting tersebut. Hanya saja Tuan Nabil meminta Era secara langsung untuk ikut andil dalam meeting itu. tentu saja hal iu semakin membuat Yeslin kesal. Bagaimana tidak, posisinya yang sebagai sekretaris pembantu seolah tidak dianggap sama sekali. Padahal itu hanya perasaannya sendiri. Dan tujuan Tuan Nabil meminta bantuan Era, karena meeting kali ini berhubungan dengan kinerja karyawan.
Dan meeting itu berjalan sangat lancar. Pasha juga sangat senang karena ditemani secara langsung oleh kekasihnya. Andai saja semua orang tahu kalau Era adalah kekasihnya, Pasha pasti akan terang-terangan memuji kekasihnya itu di hadapan semua peserta meeting.
Drt drt drt…
Ponsel Pasha bergetar. Ada pesan masuk dari seseorang yang selama ini ia tunggu-tunggu. Beruntungnya semua peserta meeting sudah undur diri dari ruangan itu. begitu juga dengan Era. Pasha pun langsung melakukan panggilan pada orang tersebut.
“Apa kita bisa bertemu sekarang juga?”
“…..”
“Katakan tempatnya. Aku akan ke sana sekarang juga.”
.
.
.
*TBC
Happy Reading!!
__ADS_1