
Malam ini juga Rayyan memanggil dokter keluarga specialist kandungan. Dia ingin memastikan kalau kandungan Serena baik-baik saja. walau tidak dipungkiri, sampai saat ini dia masih dilanda kecemasan.
Dokter yang memeriksa kandungan Serena hanya bisa mengidentifikasi beberapa gejala yang dialami oleh Serena. Tidak dapat melakukan pemeriksaan secara mendetail, karena memang harus datang langsung ke rumah sakit.
“Kandungan istri anda mengalami guncangan ringan. Untuk sementara, lebih baik jangan melakukan banyak aktivitas luar rumah. apalagi usia janinnya masih kecil, dan sangat rawan terjadinya keguguran. Saya akan beri resep, mohon untuk ditebus di apotek. Jika dalam dua hari masih merasakan sakit di area perut bagian bawah, lebih baik segera periksa ke rumah sakit.” Ujar dokter panjang lebar.
“Terima kasih banyak, Dok. Baiklah, saya akan mengikuti saran dari dokter.”
Setelah dokter pulang, Rayyan membantu Serena bangun, karena wanita itu harus segera makan. Rasanya memang Rayyan harus berpuasa dulu sampai kandungan istrinya benar-benar sehat.
Guncangan kecil pada kandungan Serena selain karena wanita itu habis berlari demi menyelamatkan diri orang jahat, Rayyan juga khawatir jika hal itu disebabkan akibat ulahnya semalam.
“Aku bisa makan sendiri.” Ucap Serena saat Rayyan hendak menyuapinya.
“Nggak apa-apa. aku ingin menyuapi kamu.”
“Lebih baik kamu tebus obatnya tadi. aku akan cepat menghabiskan makanan ini.” ujar Serena memberi saran.
Akhirnya Rayyan pun setuju. Pria itu segera pergi ke apotek untuk menebus obat yang sudah diresepkan oleh dokter tadi.
*
Meskipun keadaan Serena sudah jauh lebih baik setelah meminum obat sesuai anjuran dokter, namun Rayyan masih sangat khawatir. Hingga akhirnya, pria itu tetap membawa istrinya ke rumah sakit untuk untuk melakukan check up secara menyeluruh.
Serena sungguh merasa sangat beruntung memiliki tipe suami seperti Rayyan. Dia tidak menyangka kalau pria yang awalnya sudah menampakkan sisi buruknya, kini justru sangat baik hati dan perhatian padanya. Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Mungkin itulah peribahasa yang cocok untuk Rayyan dengan sang Papa.
Sejauh ini Serena memang mengamati kalau Papa mertuanya itu sangat baik dan juga perhatian. Dan benar, sikap dan sifatnya itu diturunkan pada Rayyan.
*
Saat ini Rayyan dan Serena tengah bersiap untuk pergi ke rumah sakit. Rayyan sengaja mengosongkan jadwal meeting demi menemani istrinya check up kandungan.
“Apa kamu baik-baik saja?” tanya Rayyan saat mereka baru saja masuk mobil.
“Iya. bukankah aku sudah bilang dari kemarin kalau aku baik-baik saja. harusnya tidak perlu cek kandungan dulu. karena memang belum jadwalnya.”
__ADS_1
“Menurutlah, Seren! Aku ingin memastikan kalau anakku baik-baik saja. aku juga tidak berharap hal buruk terjadi padanya. Kalau terjadi sesuatu, aku adalah orang yang pantas disalahkan. Karena akulah kamu jadi sepert,-sstttt”
“Baiklah. Kita ke rumah sakit. Jangan berpikir yang macam-macam.” Sahut Serena sambil menempelkan jari telunjuknya pada bibir Rayyan.
Rayyan mengemudikan mobilnya keluar dari apartemennya. tepat saat mobil Rayyan baru keluar dari basement apartemen, di luar ada seorang laki-laki yang entah sejak kapan seperti sedang menunggu seseorang yang tinggal di apartemen itu. kebetulan saat mobil Rayyan melintas, laki-laki itu bisa melihat Serena. Perempuan yang sejak di café kemarin ia perhatikan.
Laki-laki itu pun menghentikan taksi untuk mengikuti mobil Rayyan. Entah apa yang direncanakan. Namun yang pasti, laki-laki itu ingin sekali bertemu dengan Serena.
Setibanya di rumah sakit, Rayyan langsung menuju ruang praktek dokter kandungan. Sebelumnya ia sudah daftar via online. Jadi tidak perlu mengantre lagi, karena ia datang tepat di saat nama Serena dipanggil.
Di dalam ruangan itu Serena mendapatkan pemeriksaan secara menyeluruh. Termasuk salah satunya pemeriksaan ultrasonografi demi mengetahui keadaan janin Serena.
Dokter menjelaskan beberapa hal mengenai kandungan Serena. Dampak dari guncangan yang terjadi beberapa waktu yang lalu sudah tidak ada masalah. Bahkan dengan tidak tahu malunya, Rayyan bertanya pada dokter apakah ia masih boleh melakukan hubungan dengan Serena, di saat usia kandungan Serena masih kecil.
“Tentu saja boleh. Memang untuk dalam beberapa kasus tidak diperbolehkan. Dan secara keseluruhan kandungan istri anda baik-baik saja. hanya satu hal yang perlu diperhatikan. Yaitu jangan terlalu membuat calon ibu kelelahan.” Ujar dokter panjang lebar.
Rayyan pun bisa tersenyum lebar juga. namun tidak untuk Serena. Dia menahan malu atas ucapan suaminya yang menurutnya terlalu frontal. Meskipun bagi dokter maupun Rayyan biasa saja.
Setelah menjalani pemeriksaan, Rayyan dan Serena bergagas keluar dari ruangan itu. mereka hanya dminta untuk menebus beberapa vitamin dan obat tambah darah saja.
“Joel?” panggil Rayyan tiba-tiba.
“Hai, Ray?”
Rayyan dan Era saling berpelukan. Mungkin sama-sama rindu setelah sekian lama tak saling bertukar kabar. Terakhir saat Serena dirawat di rumah sakit, dan Era mengatakan kalau ia akan menjalani terapi di rumah sakit ini beberapa kali sebelum melanjutkannya di Indonesia.
“Kamu masih di negara ini, Joel? Astaga! Kenapa kamu tidak pernah memberitahuku? Lalu ke mana suami kamu?”
“Iya. sorry, aku memang sibuk terapi dan membantu sedikit pekerjaan Pasha. ini juga yang terakhir aku terapi di rumah sakit ini. lusa aku akan pulang ke Indonesia. King masih ke toilet.”
Rayyan dan Era semakin asyik ngobrol, karena keduanya mungkin sama-sama rindu. Rayyan juga ingin tahu bagaimana perkembangan kesehatan Era selama menjalani terapi.
Hingga mereka berdua mengabaikan Serena yang sejak tadi sebagai penonton keseruan obrolan sepasang sahabat itu. jujur saja, Serena tidak suka melihat interaksi suaminya dan perempuan yang bernama Era. Walau mereka berdua bersahabat, namun ia teringat dengan ucapan Mama Feby kalau Rayyan pernah mencintai sahabatnya itu. ahirnya Serena memutuskan untuk melipir sejenak. Membiarkan suaminya melepas rindu bersama sahabatnya.
Serena memilih pergi ke cafetaria rumah sakit. Mungkin itulah satu-satunya tempat yang cukup nyaman untuk menenangkan hatinya. Bahkan sampai saat ini pun Rayyan tidak mencarinya.
__ADS_1
“Permisi!” sapa seorang laki-laki yang tiba-tiba sudah berdiri di depan Serena.
Serena hanya menganggukkan kepalanya. Dia trauma dengan kejadian tempo hari saat sedang sendiri, ada orang jahat menghampirinya. Namun saat Serena melihat laki-laki itu, sepertinya dia tidak asing. Bahkan dari garis wajahnya memiliki kemiripan dengannya.
“Maaf. Apakah kamu, Rena?” tanya laki-laki itu.
Air mata Serena tiba-tiba menggenang di pelupuk matanya saat laki-laki itu menyebut nama kecilnya.
“Benar kamu Kak Rena?” tanyanya lagi dengan menggunakan Bahasa Indonesia.
Serena pun langsung berdiri, dan berhambur ke pelukan laki-laki itu. laki-laki yang usianya dua tahun lebih muda dari Serena. Yang tak lain adalah adik kandungnya.
“Alvin!!”
“Kak Rena!!”
Kedua kakak beradik yang sudah lama terpisah itu saling memeluk haru. Serena tidak menyangka kalau di negara ini ia akan dipertemukan dengan adik kandungnya yang selama belasan tahun tidak pernah ia temui.
Tak jauh dari keharuan kakak beradik itu, Rayyan tampak mengepalkan tangannya kuat saat melihat istrinya sedang berpelukan dengan laki-laki lain. Susah payah dia mencari keberadaan Serena yang tiba-tiba menghilang, ternyata wanita itu justru bercengkrama dengan pria lain.
“Jangan kotori tanganmu untuk orang yang kotor!” ujar seseorang yang tiba-tiba menahan langkah Rayyan.
Rayyan menoleh ke arah orang tersebut, yang ternyata adalah Pasha.
“Apa maksud kamu?” tanya Rayyan semakin emosi.
.
.
.
*TBC
Happy Reading!!
__ADS_1
Wahhhh.... Pasha minta diseleding nih😆😆