
Di sebuah kantin rumah sakit, tampak tiga orang duduk dengan posisi saling berhadapan. Entah sudah berapa lama mereka ada di sana. Namun, sampai sekarang tidak ada satu pun yang mengeluarkan suaranya.
Era dan Pasha memilih untuk diam, karena tidak mau memaksa Rayyan untuk cerita tentang pernikahan rahasianya dengan Serena. Sedangkan yang ditunggu, sejak tadi malah diam, tak kunjung bicara.
“Bagaimana hasil pemeriksaan kandungan kamu, Joel?” tanya Rayyan akhirnya. Namun ia lebih memilih membahas pemeriksaan kandungan Era, dibandingkan membahas Serena.
Era melirik suaminya sekilas. Hembusan nafas tampak terdengar dari Era, karena merasa kalau sahabatnya sedang berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Lusa aku baru bisa melakukan terapi. Hanya tiga kali saja, setelah itu aku bisa melanjutkan terpi di Indonesia.”
“Oh, syukurlah. Semoga usaha kalian berhasil.”
“Ya. Terima kasih, Ray. Sekarang ceritakan! Bagaimana kamu bisa menikah dengan Serena? Apa kamu terpaksa menikahinya, karena dia telah menggodamu?” tanya Era to do poin.
Pasha langsung menyenggol lengan istrinya sambil memberi kode agar tidak kelepasan bicara.
“Tidak. Dia tidak menggodaku sama sekali. Semua ini murni karena kesalahan kita berdua. Aku dan dia pernah terlibat dalam one nigt stand. Dan setelah itu aku menikahinya, karena sebagai bentuk pertanggung jawabanku padanya.”
Rayyan melanjutkan ceritanya, dia menikahi Serena juga sampai menunggu wanita itu hamil. Karena jika tidak hamil, dia akan segera menceraikan Serena. Sesuai dengan permintaan Serena sendiri. Mengingat sejak awal Serena sudah menolak pernikahan itu.
“Lalu, sekarang dia sedang mengandung anak kamu, dan setelah melahirkan nanti, kamu akan menceraikannya?” tanya Era menggebu-gebu.
“Iya. karena dia juga menginginkan hal itu.” jawab Ray dengan tertunduk lemah.
“Bodohh! Kamu memang bodohhh Ray! Kamu bukan seperti sahabatku yang kukenal dulu. bagaimana bisa kamu tidak punya hati seperti itu? Apa kamu pernah berpikir, bagaimana nanti kalau anak kamu sudah lahir, dan Serena pergi. Kamu mungkin bisa membayar pengasuh untuk anak kamu. Tapi bagaimana dengan kasih sayangnya?” Era benar-benar meluapkan amarahnya pada Rayyan.
“Sayang, udah dong. Jangan marah seperti itu.” Pasha berusaha menenangkan istrinya.
“Inilah yang paling aku nggak suka dari laki-laki. Tidak pernah menggunakan hatinya kalau berpikir. Selalu otaknya saja yang bekerja. Sama seperti kamu.” Ucap Era sambil menunjuk suaminya.
Pasha sendiri langsung gelagapan. Kenapa dirinya juga disangkut pautkan. Ini tidak beres. Akhirnya Pasha hany bisa mengusap lembut punggung Era, agar wanita itu sedikit lebih tenang.
__ADS_1
“Lalu, apa yang harus aku lakukan, Joel?” tanya Rayyan.
“Kamu harus bisa menahannya, Ray! Masih banyak waktu. Sembilan bulan ke depan itu waktu yang lumayan panjang untuk kamu bagaimana cara membuat Serena jatuh cinta. Pikirkan nasib anak kamu, bukan memikirkan ego kalian sendiri. Sudah, aku pusing. Ayo, Sayang kita balik dulu ke hotel.” Jawab Era, dan segera mengajak suaminya pergi.
***
Sementara itu di ruang perawatan Serena, tampak Mama Feby sedang menyuapi Serena bubur yang sengaja dibuat dari rumah. tentunya setelah mengetahui kalau Serena sedang mengandung.
“Sudah, Ma!” ucap Serena setelah merasa kenyang.
“Ya sudah. Mama tadi bawa lebih. Nanti kalau makan lagi, Mama taruh di sini.”
“Terima kasih, Ma.”
Mama Feby tampak membereskan sisa makanan itu. kemudian mengambilkan Serena minum, untuk meminum obatnya.
“Kalau ingin tidur, tidur saja. biar Mama tunggu di sini.”
“Iya, Ma. Kalau Mama mau pulang juga tidak apa-apa. Serena baik-baik kok di sini sendirian.” Ucap Serena dengan hati-hati.
Mama Feby yang hendak duduk di sofa, mengurungkan niatnya setelah mendengar ucapan menantunya baru saja. setelah itu mengambil tempat duduk di samping brankar Serena.
“Kamu tidak nyaman dengan keberadaan Mama?”
“Maaf, Ma. Bukan seperti itu maksud Seren.”
“Apa kamu tidak ingin terlalu dekat dengan Mama, karena kamu sudah merencanakan sesuatu dari pernikahanmu dengan Ray? Apa kalian akan berencana berpisah, setelah cucu Mama ini lahir?” tanya Mama Feby bertubi-tubi.
Serena hanya menundukkan kepalanya, air matanya kembali tumpah setelah mendengar banyak pertanyaan dari mertuanya.
“Maafkan Mama, Seren, jika Mama harus bicara seperti ini. seharusnya kamu bisa berkaca pada diri kamu sendiri. Kurang mendapatkan kasih sayang yang lengkap dari orang tua itu bagaimana rasanya? Sakit, bukan? Lalu, kenapa kamu akan menjadikan anak kamu bernasib sama dengan kamu? Kenapa kamu dan Rayyan sama-sama egois? Kalian memikirkan diri kalian sendiri, tanpa peduli dengan makhluk kecil di rahim kamu itu. kenapa tidak mencoba untuk belajar saling mencintai? Mama dan Papa sudah tahu bagaimana rumah tangga kalian selama ini. dan itu tidaklah mudah. Namun, kalian harus mempertimbangkan lagi jika benar-benar ingin bercerai setelah cucu Mama itu lahir.”
__ADS_1
Serena masih menundukkan kepalanya. Namun kini terdengar isakan kecil dari wanita itu. ucapan demi ucapan yang keluar dari mulut Mama Feby, membuatnya tertampar. Serena membenarkan ucapan mertuanya itu.
“Mama memang sudah lama menginginkan Rayyan menikah dan memiliki anak. Namun kalau kalian berencana seperti ini, lebih baik Mama tidak punya cucu. Tolong, Seren! Pikirkan ucapan Mama baru saja. lagi pula masih banyak waktu untuk kalian belajar saling mencintai. apalagi dengan hadirnya calon buah hati kalian, Mamaa sangat yakin kalau dia bisa menjadi perantara untuk kalian memupuk rasa cinta itu. Mama akan pulang. kamu istirahatlah yang cukup!” ucap Mama Feby, lalu memilih untuk segera pulang agar bisa memberi waktu pada Serena untuk berpikir.
***
Sore harinya Serena sudah diperbolehkan pulang. walaupun keadaannya masih lemah, namun wanita itu ngotot ingin pulang. apalagi salju sudah mulai turun. Tubuh Serena merasa tidak enak, dan lebih menginginkan untuk istirahat di apartemen.
Selama perjalanan pulang, baik Serena maupun Rayyan sama-sama terdiam. Namun siapa tahu jika otak mereka sedang berperang, memikirkan hal yang sama tapi tidak bisa diungkapkan.
Beberapa saat kemudian mereka sudah tiba. Rayyan membantu Serena keluar dari mobil dan menggandengnya masuk menuju unit apartemen. Awalnya Serena menolak, karena dia bisa jalan sendiri. Namun semakin lama, kepalanya terasa pusing. akhirnya ia menerima bantuan Rayyan yang menggandengnya.
“Masih pusing?” tanya Rayyan memberanikan diri, saat mereka sedang berjalan.
Tidak ada jawaban dari Serena. Karena selain kepalanya pusing, badannya juga meriang. Dan Rayyan bisa melihatnya dengan jelas raut wajah pucat istrinya. Akhirnya tanpa basa-basi, Rayyan langsung menggendong Serena ala bridal.
“Jangan!” teriak Serena, namun dengan suara lemahnya.
“Jangan banyak protes! Aku nggak mau terjadi sesuatu dengan kamu dan anak kita.” Ujar Rayyan dengan raut wajah datar, dan segera berjalan memasuki lift.
Wajah Serena yang memucat tiba-tiba bersemu merah saat mendengar ucapan Rayyan yang mengkhawatirkan keadaannya. Bukan hanya janinnya saja.
“Kenapa pipi kamu merah?” tanya Rayyan, saat sudah masuk lift dan melihat langsung perubahan wajah Serena.
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Happy Reading!!