Brondong Tajir Vs Perawan Tua

Brondong Tajir Vs Perawan Tua
82. Pergi


__ADS_3

Dunia Era benar-benar runtuh saat itu juga. pria yang sangat ia cintai selama ini tak lebih dari seorang pecundang. Bahkan Pasha lebih bejatt dari Hagi yang telah berselingkuh darinya. Pasha sudah mengambil harta paling berharga dalam dirinya, dan dicampakkan begitu saja. bahkan Era sangat merutuki kebodohannya yang telah percaya dengan janji manis Pasha tentang pernikahan.


Ingin sekali Era tidak mempercayai kabar pernikahan Yeslin dan Pasha. namun beberapa bukti telah menguatkannya. Pertama undangan itu. dan yang kedua adalah hilangnya kabar tentang Pasha. Apa di saat yang sudah seperti ini Era masih membutuhkan penjelasan Pasha secara langsung? dengan menunggu pria itu sampai datang mengatakan semuanya?


Jika Pasha adalah pria gentle dan bertanggung jawab, mau keadaan seperti apapun atau sedang ada masalah sebesar apapun, harusnya ia datang menemuinya. Apa susahnya mengubunginya, walau hanya melalui sambungan telepon. Apa jangan-jangan Pasha memang seorang pengecut? Yang tidak berani menemuinya untuk mengatakan semua ini.


“Aku membencimu, King! Aku sangat membencimu.” Gumam Era sambil mengusap air matanya.


Era selama ini sudah cukup merendahkan harga dirinya hanya demi Pasha. berulang kali menghubungi pria itu dan mengirim pesan yang entah sudah berapa kali juga, namun tidak mendapat balasan. Lantas, apa ia harus mendatangi rumah Pasha sambil memohon-mohon pada pria itu agar bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya? Tentu saja tidak akan Era lakukan.


Mungkin memang kegagalannya dalam hal asmara ini adalah salah satu cara Tuhan untuk menunjukkan orang yang salah terlebih dulu sebelum menemukan taambatan hatinya. Atau bisa jadi Era ditakdirkan akan menjadi perawan tua seumur hidupnya. Perawan tua dalam artian tidak akan pernah menikah.


***


Seharian itu, setelah mendapat undangan pernikahan dari Yeslin, Era sungguh tidak bersemangat lagi dalam bekerja. Entah rencana apa yang sedang Era pikirkan. Yang paling penting, secepatnya ia harus keluar dari perusahaan ini.


Ya, Resign adalah jalan satu-satunya yang akan Era ambil. Entah nantinya Pasha akan kembali lagi ke perusahaan ini atau tidak, Era tetap akan resign. Sangat sulit bekerja di sebuah tempat yang sudah meninggalkan kenangan manis yang berakhir tragis. Maka dari itu lebih baik ia pergi saja.


Jam pulang kantor pun tiba. Era melawan rasa sakit dalam tubuhnya yang akhir-akhir ini membuatnya kurang bersemangat. Putus cinta memang sakit. Tapi putus asa bukanlah jalan pintas. Era yakin, habis gelap terbitlah terang. Walau ia tidak tahu pasti sampai kapan bisa keluar dari kegelapan itu.


Beberapa saat kemudian Era sudah tiba di rumahnya. Dengan keadaan fisik dan batin yang sama-sama lemah, Era mamasuki kamarnya. Air matanya tidak bisa ditahan lagi. dadanya kembali sesak. Rasa benci dan rindu pada satu sosok orang yang telah menorehkan luka begitu dalam kini bersemayam dalam hatinya. Ingin sekali Era berteriak sekencang-kencangnya. Protes pada sang pencipta akan takdir hidup yang tengah ia alami saat ini.

__ADS_1


“Aku benci kamu, King! Aku sangat membencimu!” emosi Era meledak-ledak. Ia sampai melempar barang-barangnya dan berhamburan ke seisi ruangan.


Tidak ada yang menolong Era saat ini kecuali dirinya sendiri yang mau meredam emosinya. Era sudah tidak punya siapa-siapa lagi. tidak ada sandaran untuk mencurahkan isi hatinya kecuali dengan sang yang maha memberi kehidupan.


Mungkin ini balasan atas dosa besar yang sudah pernah ia lakukan bersama Pasha waktu itu. lalu Tuhan menakdirkan dirinya tidak berjodoh dengan Pasha, dan dipisahkan saat ini juga.


***


Beberapa hari setelah mendapat undangan pernikahan Yeslin dan Pasha, Era masih bekerja di perusahaan itu seperti biasa. Anehnya lagi, sampai detik ini juga Pasha tidak memberi kabar apapun. Hal itu semakin meyakinkan Era kalau pernikahan mereka memang benar adanya.


Beberapa hari ini Era mencoba fokus dengan pekerjaannya. Setelah rumahnya laku dijual yang kemungkinan dua hari lagi, saat itu juga Era akan pergi dari perusahaan ini, juga negara ini.


Era sudah bertekat menjual semua aset berharga miliknya untuk modal ia pergi dari negara ini. dia sudah yakin dengan keputusannya. Bahkan saat ini ia juga sambil mencari lowongan pekerjaan di kota ini, namun memiliki cabang di luar negeri. karena itu akan sangat memberi banyak peluang diterima daripada langsung melamar di perusahaan luar negeri.


Hari itu tiba. Era sudah mengirimkan surat resignnya ke perusahaan. Dan sempat membuat teman divisinya terkejut. Tapi Era juga tidak memberikan alasan pada teman-temannya. Karena setelah memberikan surat resign itu, dia langsung pergi dari perusahaan.


Waktu pun berlalu begitu cepat. Hari ini juga Era akan berangkat ke luar negeri untuk memulai hidupnya. Lebih tepatnya memulai lembaran baru, meskipun sampai saat ini ia belum bisa melupakan Pasha.


Era duduk di kursi tunggu keberangkatan di bandara. Dia memegang ponselnya sambil melihatnya, seperti sedang menunggu sesuatu. Jujur saja Era masih berharap Pasha menghubunginya, dan menjelaskan permasalahan yang terjadi. Meskipun pada akhirnya akan tetap membuat luka di hatinya, setidaknya Era masih menghargai itikat baik Pasha untuk mengakui semua itu.


Era tersenyum getir saat mendengar suara panggilan kepada penumpang pesawat untuk segera bersiap karena sebentar lagi akan berangkat. Dan saat itu juga ponsel Era tidak menunjukkan pertanda ada pesan atau panggilan yang masuk.

__ADS_1


“Selamat tinggal, King! Walau sebenarnya kamu yang lebih dulu meninggalkan aku.” lirih Era dengan setetes air mata yang sudah jatuh begitu saja.


Era mengambil nomor ponselnya, lalu membuangnya. Karena ini pilihan yang tepat sebelum ia memulai lembaran baru di negara baru yang akan ia singgahi, entah dalam waktu berapa lama.


**


Era kini sudah berada di pesawat. Beberapa saat yang lalu pesawat yang ditumpangimya sudah lepas landas menuju negara yang akan menjadi tujuan hidupnya.


Kebetulan Era duduk di bangku tepi jendela. Air matanya tumpah begitu saja dengan dada yang semakin sesak. Sungguh tega sekali Pasha membuatnya terluka sedalam ini. andai saja saat itu Era bisa memilih, dia akan memilih untuk tidak jatuh cinta pada Pasha.


Air mata Era terus mengalir. Tidak peduli dengan penumpang lain yang duduk di sampingnya. Apalagi suara sesenggukannya terdengar jelas.


“Nona, anda baik-baik saja? pakai tisu ini.” seru seseorang sambil menyodorkan tisu untuk Era.


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Happy Reading!!


Maap guys, hari ini cuma up 1bab saja. Othor lg sok sibuk😅🙏


__ADS_2