Brondong Tajir Vs Perawan Tua

Brondong Tajir Vs Perawan Tua
60. Janji


__ADS_3

Pasha hanya tersenyum geli melihat raut wajah Era yang berubah-ubah. Dimana Era sempat kegelian akibat kecupan singkatnya yang mendarat di leher jenjang perempuan itu, lalu tak lama kemudian wajah Era berubah masam.


“Kenapa kamu tutup mata tadi? apa kamu berharap aku mencium bib,-mmppp”


Pasha tidak lagi melanjutkan ucapannya saat Era membekap mulut pria itu dengan tangannya. sungguh Era sangat malu sekali dituduh secara terang-terangan oleh Pasha seperti itu. meskipun kenyataannya benar, kalau tadi ia menutup mata karena terbayang seperti drama-drama romantis yang sering ia tonton. Yaitu kalau sedang ciuman pasti matanya terpejam.


Era sudah melepas bekapan tangannya dari mulut Pasha. setelah itu dia segera mengambil dua gelas coklat hangat yang Sudha ia buat tadi, dan membawanya ke ruang tamu, diikuti oleh Pasha.


“Minumlah, mumpung masih hangat!”


“Nanti saja. biarkan dingin, nanti aku minta kehangatan darimu saja.” sahut Pasha membuat Era lagi-lagi melirik kesal pada pria itu.


“Kenapa sih, jutek banget gitu? Nggak salah kan?”


“Terserah kamu lah!”


Era pun mengambil coklat hangat miliknya, lalu meminumnya sedikit. Dia juga merasa lebih tenang, meski tadi sudah mencurahkan semua masalahnya pada Tatia.


Tak lama kemudian Pasha pun ikut meminum coklat hangat itu. kemudian keduanya sama-sama diam. larut dalam pikirannya sendiri-sendiri.


Jika Pasha memikirkan tentang keputusannya kalau ia tidak bisa menjalin hubungan dengan Yeslin, dan juga memikirkan dampak yang akan terjadi selanjutnya. Mengingat Yeslin adalah tipe perempuan yang ambisius. Bagaimana kalau perempuan itu mencari tahu siapa yang menjadi kekasihnya saat ini. dan jika Yeslin tahu kalau orang itu adalah Era, Pasha takut jika Yeslin berbuat yang tidak-tidak pada Era.


Sedangkan Era juga memikirkan tentang masalahnya sendiri. Khususnya tentang saran yang diberikan oleh Tatia tadi. Mungkin malu. Itulah yang menjadi alasan Era tidak mau membagi masalahnya dengan Pasha.


Hubungannya masih terhitung sebentar, dan belum ada satu bulan. Bagaimana kalau ia menceritakan masalahnya pada Pasha. apalagi menyangkut uang. Tentu saja Era tidak ingin dicap sebagai perempuan matre yang memanfaatkan harta kekayaan kekasihnya.


Memang, kalaupun Pasha tidak keberatan untuk membantunya, tapi Era cukup tahu diri. Bagaimana nanti kalau kedua orang tua Pasha sampai tahu. Atau Hagi sendiri yang mengatakan itu semua, yang seolah dirinya memanfaatkan kekayaan Pasha, karena Hagi merasa gagal mendapatkan cinta Era kembali. Dan ujung-ujungnya hubungannya dengan Pasha yang menjadi taruhannya. Mengingat Hagi adalah pria yang sangat licik.


“Tidak!” batin Era sambil menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


“Ada apa, Ra?” Tanya Pasha saat melihat kekasihnya sejak tadi melamun.


“Nggak. Nggak ada apa-apa.”


Ya, Era akhirnya memutuskan untuk tidak menceritakan masalahnya pada Pasha. dia yakin pasti ad acara lain untuk mengatasi semua itu. memang sejak dulu Era tidak pernah menyusahkan orang lain. Termasuk pada keluarganya. Dan lagi, Tuhan juga tidak akan memberikan ujian di luar batas kemampuan makhluknya.


Tiba-tiba saja Pasha menarik tubuhnya ke dalam pelukannya. Era menurut saja. sepasang kekasih itu sama-sama sedang memiliki masalah. Dan begitu kompaknya mereka, sampai memilih untuk diam dan tidak membagikan masalahnya dengan pasangannya. Kecuali Pasha, yang memang sedang dalam proses penyelidikan tentang hubungan Era dengan mantan kekasihnya.


Akhirnya malam itu, Era dan Pasha hanya mengisi waktu dengan bercanda bersama. Menikmati malam yang begitu menentramkan jiwa. Walau sejenak, setidaknya mereka berdua bisa saling menghibur untuk melupakan sejenak masalahnya.


“Ra, aku sangat mencintaimu.”


“Aku juga.”


“Ra, aku ingin kamu berjanji untuk selalu berada di sampingku. Apapun yang terjadi, apapun badai yang akan menerpa hubungan kita nanti. apa kamu mau?”


“Ck, romantis sekali sih kata-kata kamu. Kamu tahu nggak, kata-kata kamu barusan seperti yang diucapkan oleh ABG yang baru puber.”


Era sampai tertawa gemas. Ternyata begini rasanya mempunyai kekasih brondong. Walau pemikiran Pasha juga dewasa, tapi tidak menghilangkan sifat aslinya yang mudah merajuk seperti anak kecil. Ya, pantas sih jika dulu ia sempat menyebutnya bocah.


“Iya-iya, serius deh. Nggak duarius.” Kelakar Era, semakin membuat Pasha cemberut.


“Ok, ok, serius. Memangnya ada badai apa? Badai topan? Badai tornado?”


Pasha yang sejak tadi cemberut pun kini justru menggelitiki perut Era gara-gara ucapan kekasihnya itu. Era sendiri teriak kegelian. Jadi, Pasha juga puas bisa membalas kekesalannya pada Era.


“Stop, King! Ok, aku janji.” Sahut Era, sontak menghentikan aksi Pasha.


“Nah gitu dong. Kan aku jadinya semakin cinta.”

__ADS_1


“Ya, kita jalani saja layaknya air yang mengalir. Tentunya setiap jalan yang dilewati oleh air itu tak selamanya lurus. Terkadang banyak sekali batu besar yang menghadangnya. Dan aku juga ingin kamu berjanji untuk selalu setia.”


Ya, memang hanya itu yang Era inginkan dari sebuah hubungan. Setia. Kata yang sangat singkat dan mudah diucapkan. Tapi maknanya begitu dalam, dan tak semua orang bisa mempertahankan arti sebuah kesetiaan. Terlebih dengan pengalaman masa lalu Era yang pernah dihianati.


“Iya, aku janji.” Jawab Pasha dengan mantap.


Tanpa terasa mereka berdua sudah menghabiskan waktu cukup lama. Bahkan saat ini waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. namun Pasha masih enggan untuk pulang. dia masih ingin berlama-lama dengan Era. Kalau bisa sih dia ingin menemani Era tidur malam ini.


“Aku tidur di sofa sini deh, Ra! Janji nggak akan berbuat asus ila.” Ucap Pasha setelah meminta persetujuan dari Era untuk menginap di rumahnya. Padahal sebelumnya tadi Pasha sudah memberikan uang rokok pada satpam kompleks. Tentu saja ia akan aman jika menginap di rumah Era.


“Nggak boleh ya nggak boleh. Kamu mau pulang sekarang atau lebih baik kita put,-“


“Ok, aku akan pulang. please jangan sampai mengatakan hal itu lagi, Ra! Aku nggak mau kehilangan kamu.”


“Ya sudah, tunggu apa lagi? cepat pulang, sana! Aku sudah ngantuk.” Usir Era. Karena memang sejak tadi Pasha selalu mengulur waktu agar tidak pulang. meskipun besok hari libur. Tetap saja, Era juga butuh istirahat.


“Tuh kan mode galaknya keluar. Jadi nggak sabar pengen nikahin kamu.” Seloroh Pasha dan langsung mendapat hadiah cubitan di perut oleh Era.


Akhirnya malam itu Pasha pulang juga. setelah melewati drama yang cukup panjang, karena Pasha banyak sekali maunya.


Dan kini Era bisa beristirahat dengan hati yang lebih tenang setelah mendapat hiburan dari pujaan hatinya. Untuk masalahnya, malam ini Era memilih untuk lupa. Mungkin di dalam mimpinya nanti ia akan mendapatkan petunjuk dari masalahnya itu.


“Aku mencintaimu, King. Aku juga tidak mau kehilangan kamu.” Gumam Era sambil melihat foto Pasha yang dijadikan sebagai foto profil dalam kontaknya.


.


.


.

__ADS_1


*TBC


Happy Reading!!


__ADS_2