Brondong Tajir Vs Perawan Tua

Brondong Tajir Vs Perawan Tua
S2 (131) Sabar Dulu, Ya?


__ADS_3

Serena semakin salah tingkah saat tubuhnya sudah mendarat di atas kasur, dengan posisi Rayyan tepat di atasnya sambil memandanginya.


Rayyan hanya bertumpu pada satu lengannya. Jarak wajahnya dengan Serena sangat dekat. Setelah itu tatapannya tertuju pada bibir sekssi wanita itu.


“Cantik!” puji Rayyan dengan suara yang nyaris tak terdengar.


“Ray, silakan kamu lanjutkan pekerjaanmu!” ujar Serena mengalihkan perhatian.


“Apa kamu tidak nyaman seperti ini?” tanya Rayyan seperti melihat kecemasan dalam diri istrinya. Atau mungkin wanita trauma dengan kejadian waktu itu. kejadian di mana pertama kalinya ia merenggut mahkotanya.


Cup


Rayyan mendaratkan kecupan singkat pada kening Serena. Dia berharap dengan begitu Serena bisa merasa lebih nyaman dan tidak menganggap kalau dirinya hanya menginginkan tubuhnya saja.


“Tidurlah!” Ucap Rayyan, setelah itu ia beranjak menjauhi Serena, agar wanita itu bisa istirahat.


“Kalau butuh apa-apa, panggil aku saja. aku masih di ruang tengah.” Pamit Rayyan.


Namun, saat Rayyan hampir membuka handle pintu, tiba-tiba saja Serena kembali bangun dengan buru-buru. Suara kerongkongan yang tercekat seperti menahan sesuatu, terdengar jelas oleh Rayyan.


“Seren! Kamu kenapa?” Teriak Rayyan panik, saat Serena berlari menuju kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya.


Di depan wastafel, Serena terus mengeluarkan isi perutnya yang baru beberapa saat yang lalu diisi dengan sepiring nasi goreng buatan Rayyan.


Rayyan yang berdiri di samping Serena, terus memijit tengkuk wanita itu tanpa ada rasa jijik sama sekali.


Setelah cukup banyak mengeluarkan isi perutnya, Serena langsung membersihkan mulutnya. Namun tenaganya tiba-tiba lemas, dan hampir saja jatuh kalau Rayyan tidak sigap menangkapnya.


Rayyan melihat wajah pucat Serena seperti itu sangat kasihan. Dia tidak tega meninggalkannya sendirian.


“Tunggu sebentar, aku buatkan minuman hangat dulu!”


Serena hanya mengangguk lemah. Badannya benar-benar lemas. Sayang sekali nasi goreng buatan suaminya yang sangat enak tadi harus keluar semua gara-gara drama hamil mudanya.


Rayyan sudah selesai membuatkan minuman hangat seperti yang Mama Feby buat kemarin. Dengan sabar ia membantu Serena bangun, untuk minum.

__ADS_1


“Nanti kita ke rumah sakit, ya? Sekarang kamu tidur dulu.”


“Kamu mau kemana?” tanya Serena dengan suara lemah, namun manja.


Rayyan meletakkan gelas kosongnya di atas meja. Dia tahu dengan maksud ucapan Serena baru saja. sepertinya bumil itu memang tidak ingin ditinggal. Atau mungkin si janin yang yang masih berupa gumpalan darah itu ingin selalu dekat dengan Papanya.


Rayyan kini merebah di samping Serena. Tanpa basa-basi, salah satu tangannya terulur memberi usapan lembut pada perut Serena yang masih rata. Dan memang benar, Serena langsung seperti mendapatkan obat mujarab. Rasa pusing dan lemas yang sempat mendera, kini perlahan hilang. Dan berganti rasa kantuk. Tidak menunggu lama, wanita itu sudah menutup rapat matanya.


“Aku tahu, kalau kamu memang selama ini kurang mendapatkan kasih sayang dari orang terdekatmu. Aku janji akan selalu ada di dekatmu, Seren.” Gumam Rayyan dan semakin mengeratkan pelukannya.


***


Tanpa terasa usia kandungan Serena sudah berjalan empat minggu. Wanita itu menjalani kehamilannya dengan baik. Meskipun drama morning sickness’nya belum berakhir.


Musim dingin juga masih berlangsung di negara itu. jam kerja Rayyan pun menjadi berkurang. Selain memang kondisi cuaca, pria itu tidak tega meninggalkan sang istri sendirian di apartemen.


Sebenarnya Serena juga ingin tetap bekerja. Tapi sayangnya Rayyan melarangnya. Mungkin kalau kandungannya sudah cukup kuat, Rayyan akan mengijinkan dia untuk bekerja lagi.


*


“Tidak. Aku tidak ingin pergi ke mana-mana.” Jawab Serena dan langsung menyadarkan kepalanya pada dada bidang Rayyan.


Rayyan mengulas senyum tipisnya. Dia membelai lembut rambut Serena. Mencium aroma wangi rambut wanita itu, yang tiba-tiba saja membangkitkan sesuatu dalam dirinya.


Rayyan adalah pria normal. Tinggal berdua dengan wanita cantik yang berstatus sebagai istrinya sangatlah wajar jika dia menginginkan kegiatan bercinta. Namun Rayyan takut jika melakukannya, akan berdampak pada janinnya. Terlebih saat terakhir cek kandungan Serena dua minggu yang lalu, dokter masih melarangnya demi kesehata janin. Karena usianya yang masih sedikit, rawat terjadi keguguran jika si janin mengalami guncangan.


Tiba-tiba saja Serena mendongak, menatap wajah suaminya yang tampak resah saat sedang membelai rambutnya.


“Apa kamu nggak ingin tidur?” tanya Rayyan berusaha mengalihkan perhatian.


Jujur saja dia tidak kuat jika terus seperti ini. apalagi melihat bibir Serena yang menggoda seperti itu, membuatnya tidak tahan.


“Kamu nggak mau dekat denganku seperti ini?” tiba-tiba saja Serena menangkap maksud lain dari ucapan Rayyan baru saja. lalu wanita segera berdiri dan hendak masuk ke dalam kamar. kamar yang selama ini sudah ia tempati bersama Rayyan.


“Tunggu!” Rayyan mencekal tangan Serena.

__ADS_1


Dengan hati-hati Rayyan menarik Serena dan duduk di atas pangkuannya. Sontak saja wanita itu tiba-tiba gugup. Terlebih saat ini Rayyan langsung memegang dagu Serena, hingga tatapannya langsung tertuju bibir Serena yang sangat menggoda.


“Jangan marah lagi! aku tidak bermaksud menyuruhmu tidur.” Ucap Rayyan dengan nada berbisik, namun tatapan matanya tak lepas dari bibir Serena.


Serena seperti sedang terhipnotis oleh Rayyan. Hingga tanpa permisi, pria itu langsung menempelkan bibirnya pada bibir Serena.


Untuk beberapa saat, tidak ada pergerakan dari mereka berdua. Dan itu artinya Serena tidak menolak ciuman Rayyan. Akhirnya Rayyan pun mulai menyapukan lidahnya pada bibir Serena dengan lembut. Mema gutnya dengan manja, memberikan sentuhan yang membuat Serena seketika terbang melayang.


Posisi yang semula Serena duduk menyamping di atas pangkuan Rayyan, kini posisi itu sudah berubah dengan kedua kaki Serena mengapit pinggang Rayyan. Bahkan ciuman mereka juga semakin lama semakin memanas.


“Cukup, Seren!” Rayyan lebih dulu mengakhiri ciuman itu.


Wajah Serena langsung kecewa. Padahal dia sangat menikmati ciuman itu. kenapa tiba-tiba Rayyan melepasnya. Apakah pria itu tidak menyukainya.


“Maafkan aku! jangan salah paham dulu! aku tidak ingin kelewat batas, dan itu akan membahayakan anak kita.” Ucap Rayyan.


“Kita bisa melakukannya dengan pelan.” Sahut Serena dan membuat Rayyan terkejut. Apa itu artinya wanita itu juga menginginkan sentuhannya.


“Apa kamu yakin?”


Dengan yakin, dan membuang rasa malunya. Serena menganggukkan kepalanya.


“Tapi pelan-pelan!” ucapnya dengan tersipu malu.


Rayyan mengangguk, dan segera berdiri, menggendong istrinya masuk ke dalam kamar.


.


.


.


*TBC


Haappy Reading!!

__ADS_1


Jiahhahahaha…. Sabar dulu, ya?😂😂✌✌


__ADS_2