Brondong Tajir Vs Perawan Tua

Brondong Tajir Vs Perawan Tua
103. Perpisahan


__ADS_3

Papa Nabil pun langsung menarik tangan istrinya untuk segera meninggalkan unit apartemen menantunya. Entah pasangan pengantin baru itu akan unboxing sekarang atau tidak, mengingat keadaan Pasha yang baru saja keluar dari rumah sakit. Yang terpenting bagi Papa Nabil, akan lebih baik membiarkan mereka berdua menikmati quality time’nya.


Setelah Mama dan Papanya keluar dari unit apartemen, Pasha masih tersenyum smirk pada Era. Sedangkan yang ditatap hanya bergidik ngeri sambil berlalu begitu saja masuk ke kamar. Pasha pun mengekor di belakangnya.


Ini adalah pertama kalinya Pasha masuk ke kamar Era. Ruangan yang tidak terlalu luas dan tidak terlalu sempit itu sangat nyaman dan juga bersih. Pasha pun langsung terhipnotis dan ingin mendaratkan tubuhnya di atas ranjang yang sangat rapi dan empuk itu. namun niat itu ia urungkan saat melihat sang istri sedang menguncir rambutnya ke atas bak ekor kuda, hingga terpampanglah leher jenjang Era yang putih dan mulus.


Grep


Pasha langsung merengkuh pinggang ramping Era dari belakang. Mengecup leher itu sejenak dan menimbulkan rasa geli yang Era rasakan.


“Sayang, apa kamu mau bersiap-siap?” tanya Pasha dengan suara lirih menggoda.


“Bersiap-siap mau ke mana? Kamu baru pulang dari rumah sakit. Kamu masih butuh istirahat yang cukup.”


“Bersiap-siap tidak harus pergi, Sayang.” Sahut Pasha membuat kening Era berkerut tipis.


“Bersiap-siap melihat pesonaku. Apa kamu tidak merindukanku, hemm?” lanjut Pasha dengan nada berbisik tepat di telinga Era.


Era segera melepas pelukan suaminya. kenapa dia jadi takut plus deg-degan seperti ini. apa ini efek karena mereka sudah lama tidak pernah sedekat ini. atau karena rasa cinta di hati Era sejak dulu memang masih utuh. Terbukti dia selalu gugup jika sedang sedekat ini.


Era menatap lembut mata Pasha yang penuh cinta itu. senyum tipis terbit dari bibirnya, membuat Pasha semakin yakin kalau Era pasti juga menginginkannya. Wajar saja, mereka kini sudah sah sebagai suami istri kan?


“Istirahatlah! Kamu masih butuh waktu untuk memulihkan tenaga kamu sebelum kita pulang ke Indonesia. Dan simpan banyak-banyak tenaga kamu itu. karena aku sekarang sedang datang bulan.”


Duaarrr……


Era mencoba sekuat tenaga untuk menahan ledakan tawanya saat melihat perubahan raut wajah sang suami. bahkan mungkin ucapan Era baru saja yang seolah juga menginginkan untuk berbuka puasa, sudah membuat sesuatu di balik celana Pasha menegang. Dan setelah Era mengatakan kalau dirinya sedang dalam masa periode, pasti si junior milik sang suami itu langsung lemah lunglai.


Era langsung masuk ke kamar mandi dengan membawa baju ganti. Meninggalkan Pasha yang masih tampak frustasi.


Beberapa saat kemudian Era sudah keluar dari kamar mandi. ternyata Pasha juga sudah berganti baju dan kini pria itu sedang berbaring di atas tempat tidur. Perlahan Pasha sudah bisa meredam gejolak dalam dirinya yang sangat mengingnkan Era.


“Sayang, kesinilah! Ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengan kamu.”


Era pun menurut dan langsung duduk di atas tempat tidur, memposisikan tubuhnya sejajar dengan sang suami.

__ADS_1


“Ada apa?” tanya Era.


Pasha menarik tubuh Era agar bersandar di dadanya. Salah satu tangannya melingkar di perut sang istri. Dan tangan satunya lagi menggenggam jemari Era.


“Sayang, maafkan aku. aku telah menyebabkan kamu kehilangan calon buah hati kita. Bahkan kamu sampai mendapatkan kenyataan pahit itu.” ucap Pasha dengan nada berat.


Era masih diam. dia juga tidak tahu bagaimana cara menanggapi ucapan suaminya. baginya, Pasha mau menikahinya, kedua orang tuanya juga merestuinya, itu artinya mereka sudah menerima segala kekurangannya.


“Kamu jangan marah dulu ya jika aku bicara seperti ini.”


“Maksudnya seperti ini, bagaimana?”


“Aku memang yang bersalah dalam hal ini. andai saja saat itu aku tahu kamu sedang hamil, kejadian pahit itu pasti tidak akan terjadi. Kamu tahu, saat aku sedang koma pasca operasi, aku bermimpi bertemu dengan putri kita. Dia sangat cantik seperti Mamanya. Dalam mimpi itu aku menemani dia bermain di taman bunga yang sangat indah. Aku ingin menebus kesalahanku pada dia dengan selalu menemani hari-harinya. Namun, tiba-tiba saja gadis kecil itu berlari menjauhiku. Aku mengejarnya dan aku ingin ikut kemana dia pergi, tapi dia menolakku. Dia memintaku untuk terus bersamamu, menjagamu, dan selalu menyayangimu.”


Era terisak mendengar cerita suaminya. tidak menyangka kalau calon buah hatinya yang tidak berkesempatan lahir ke dunia itu berjenis kelamin perempuan. Bahkan dia sempat menemui Papanya.


“Sayang, maafkan aku. aku siap menerima hukuman pa asaja dari kamu atas perbuatanku dulu. asal, jangan pernah memintaku untuk pergi.”


Era hanya menggelengkan kepalanya. Deraian air mata masih membasahi pipinya.


“Aku sudah memaafkanmu. Bukankah aku sudah bilang, kita mulai dari awal. Jangan ungkit masa lalu itu.”


“Tapi apa?’


Pasha masih diam. dia ingin bicara sesuatu tapi takut jika istrinya marah dan memiliki pemikiran yang buruk tentangnya.


“Janji jangan marah ya?”


“Nggak janji. Kalau kamu menyakitiku lagi, aku akan marah.” Sewot Era melepas pelukan sang suami.


“Jangan dong, Sayang!” sergah Pasha dan kembali merengkuh istrinya.


“Ehm, Sayang. Aku tahu setelah kamu keguguran dokter memvonis kamu susah hamil. Maka dari itu, apa kamu mau menjalani pemeriksaan secara menyeluruh tentang kondisi rahim kamu. Dan pastinya dokter akan memberikan perawatan terbaik.”


Era masih diam. dan diamnya itu membuat Pasha cemas. Takut jika Era merasa kalau dirinya sangat menginginkan anak. Bahkan terkesan memaksa.

__ADS_1


“Vonis dokter belum tentu vonis Tuhan, kan?” tambah Pasha seolah meyakinkan sang istri.


“Terserah kamu saja.” jawab Era akhirnya. Dan hal itu membuat Pasha bisa bernafas lega.


Setelah itu mereka berdua memutuskan untuk istirahat. Mereka berdua tidur saling memeluk. Karena tidak ada yang mereka lakukan. Lebih tepatnya harus menahan diri. Pasha khususnya. Jadi, mereka hanya berciuman saja sebagai pengantar tidur. Ciuman yang penuh kelembutan, tidak berakhir menuntut. Karena akan berakibat fatal pada Pasha.


***


Keesokan harinya Era sudah bersiap untuk pergi ke kantor. ini adalah hari terakhirnya menginjakkann kakinya di perusahaan keluarga Rayyan. Dia akan memberikan surat resignnya secara resmi, sekaligus ingin bertemu dengan Rayyan.


Sedangkan Pasha tetap berada di apartemen. Era melarang suaminya melakukan aktivitas apapun selama masih dalam masa pemulihan.


Kini Era sudah tiba di kantor. tujuan pertama adalah ke ruangan Mr. Chan. Beruntungnya pria itu ada di ruangannya.


“Mr. saya sangat berterima kasih karena sudah diberik kesempatan untuk mengasah karir di perusahaan ini. maaf jika selama bekerja di sini saya banyak melakukan kesalahan.” Ucap Era setelah memberikan amplop berisi surat pengunduran dirinya.


“Sama-sama Joelle. Semoga rumah tangga kalian selalu harmonis. Kita pasti akan bertemu lagi, karena mertua kamu masih memiliki hubungan kekerabatan dengan keluarga saya. jadi kita adalah saudara.”


Setelah bertemu dengan atasannya, kini Era memasuki ruang kerja Rayyan. Dia mengetuk pintu itu, namun tidak ada sahutan. Era pun langsung masuk. Ternyata Rayyan sedang berdiri di tepi jendela sambil melihat pemandangan luar.


“Ray!” lirih Era.


Rayyan masih diam dan tidak ada pergerakan apapun dari tubuh tegap pria itu. entah kenapa perasaan Era sangat tidak tenang melihat sikap Rayyan yang seolah dingin padanya.


Sedangkan Rayyan sendiri sengaja tidak menoleh ke arah Era karena dia malu jika Era mengetahui air matanya sudah menggenang di pelupuk matanya. Rayyan tahu kalau kedatangan Era hanya untuk mengucapkan perpisahan.


.


.


.


*TBC


Happy Reading!!

__ADS_1


Ahhh…. Kok jadi nyesek sih nulis part’nya Rayyan. Huhuhu…😢😢😢


Masih ingat nggak sama kisah bapaknya Rayyan. Dulu jg ditinggal nikah sama Feby tuh. Tp akhirnya mereka bertemu lg dan nikah. Dg status Feby udh janda. Masa iya Rayyan sama Era gitu?😅😅✌✌


__ADS_2