Bukan Gadis Biasa

Bukan Gadis Biasa
#4


__ADS_3

Weekend


05.00


Seperti biasa di hari minggu Yuda melakukan rutinitas paginya. Lari-lari pagi mengelilingi kompleks dengan santai menikmati sejuknya embun pagi. Biasanya Yuda mengakhiri lari paginya dengan beristirahat di bawah pohon besar yang rindang di tepi danau, yang sudah menjadi tempat favoritnya untuk menikmati sunrise.


Tapi semenjak Deolin tau danau itu, Deolin sering datang entah untuk sekedar merenung, mencari inspirasi, atau meluapkan yang ada di imajinasinya. Setahu Yuda, hanya ia yang sering mengunjungi danau ini, sehingga tempat itu masih bersih.


______


Dibawah pohon besar yang rindang ada seorang anak perempuan yang terlihat begitu serius menggoreskan kuas untuk menciptakan sebuah karya dengan berbagai perpaduan campuran warna dan imajinasi. Dari kejauhan Yuda hanya bisa melihat sedikit lukisan itu. Entah kenapa aku begitu tertarik untuk melihat lukisan itu lebih utuh.


Dengan perlahan aku mendekati gadis itu, aku ingin mengetahui lukisan itu tanpa diketahui pelukisnya. Dalam waktu singkat aku sudah berdiri di belakang gadis itu, tanpa ia ketahui.


Rupanya lukisan itu sudah jadi, hanya membutuhkan beberapa sentuhan akhir untuk menciptakan maha karya yang sempurna. Meski baru pertama kali aku melihatnya, aku begitu terpukau dengan lukisan itu. Itu adalah lukisan pemandangan danau yang diciptakan dengan warna jingga kebiruan, dengan berdecak putih dipermukaannya, membuat sungai itu terlihat berkilau-kilauan.


Gadis itu menghela nafas. Aku tau dia akan berbalik, lalu apa yang harus aku lakukan.


"Ahh!!". Teriak Deolin. Pundaknya yerguncang diikuti dengan kuasnya yang terjatuh di tanah.


"Oh, Lo! Ngagetin gue tau gak." Lanjut Deolin.


"M-mmaaf". Kata Yuda sedikit kaget dan menyesal karena telah mengganggunya. "Ga usah ge er Lo, gue cuma kagum sama lukisan Lo". Kata Yuda sedikit malu-malu.


"Lo tertarik sama lukisan gue?". Goda Deolin sambil tersenyum miring.

__ADS_1


"Iya lukisan Lo.... Ahh enggak, gue ga tertarik tuh". Elak Yuda.


"Munafik Lo. Lain di hati lain dibibir".


"Sok tau Lo." Ujar Yuda sambil membalikkan badan meninggalkan Deolin.


Cihhh... Dasar tu cowok dinginnya kaga ketulungan. Gede in gengsi kaga tenang hidup Lu tau!. Batin Deolin. Kemudian Deolin memunguti kuasnya dan memasukkan peralatan lukisnya kedalam tas dan menenteng kanvas yang masih basah itu.


Yuda POV


Selama perjalanan pulang kerumah, Yuda tak henti-hentinya membayangkan gadis pelukis itu.


Kenapa masih kepikiran sama gadis tadi sih. Ahhh!!


Otak gue kenapa sih, sejak pertama kali gue ketemu sama tuh anak wajahnya selalu terngiang-ngiang di otak gue. Padahal juga gue kaga tau dia itu siapa. Wajahnya yang cantik, kulit nya yang putih bersih, matanya yang sipit meneduhkan terlihat seperti gadis yang periang dan sempurna buat gue pengen natap mata gadis itu terus. Bibirnya yang kecil dan tipis serta lesung pipit yang tidak terlalu dalam, begitu serasi dengan kedua matanya.


Tak lama kemudian sampailah Yuda didepan halaman rumahnya ia melihat mobil sedan putih terparkir didepan rumahnya. Ngapain sih susi pagi-pagi udah kesini.


"Pagi Yuda". Sapa Susi yang lagi duduk di meja makan bersama mamah Yuda. Tapi Yuda bersikap tak acuh. Dan berjalan menuju kamarnya di lantai 2


"Yuda.. Disini ada Susi loh. Dia udah rela bangun pagi-pagi dan bikin sarapan buat kamu." Teriak mamah Yuda.


"Udah gapapa tante, mungkin Yuda mau bersih-bersih dulu. Kan abis lari-lari tadi".


"Maafin Yuda ya sayang, emang tu anak sifat tu anak agak dingin gitu. Nanti kalo kamu udah kenal deket juga dia bakal baik kok sama kamu. Oh iya, ini kamu sendiri yang masak?". Tanya mamah Yuda.

__ADS_1


"E-ehh iya tante, Susi masak sendiri. Yaa meskipun cuma nasi goreng sih tante. Tapi ini nasi goreng spesial kok tan". Ya kalee gue rela bangun pagi masak buat Yuda, bisa masak aja kagak. Tinggal beli kan beres.


"Wihh.. Ada yang spesial ternyata. Tante cobain ya". Ujar mamah Yuda sambil mencicipi nasi goreng milik Susi. "Hummmmm enak kok, pas banget di lidah tante. Ini sih nasi goreng ala rumahan". Puji mamah Yuda.


"Ahh.. Tante bisa aja."


Yuda yang mendengar percakapan Susi dan mamahnya hanya mendengus kesal. Memang sejak pertemuan keluarga Susi dan Keluarga Yuda yang tak sengaja saat pembukaan kafe Yuda, dan mencium bau-bau perjodohan, Karena Susi beri membujuk orang tuanya afar ia dijodohkan dengan Yuda.


Susi semakin hari semakin mendekat pada Yuda. Sampai-sampai ia mengaku-ngaku kalau ia sudah menjalin hubungan dengan Yuda. Susi terlalu berambisi untuk mendapatkan Yuda. Padahal ia tak sedekat itu sama Susi sampai-sampai ia membawakan sarapan kerumahnya.


Yuda dan Susi adalah satu angkatan kelas XI. Mereka satu sekolah tapi beda jurusan. Yuda jurusan broadcast. Sedangkan Susi jurusan kecantikan. Susi terkenal sebagai cewek yang anarkis suka melakukan bullying terhadal siapapun yang berani melawannya dan apa yang dia inginkan harus terpenuhi. Bagaimana pun caranya. Termasuk menjadi kekasih Yuda. Dimana Yuda adalah sang idola disekolahnya, cowok tertampan terkaya dan terpandai. Termasuk tiga sahabatnya yang tak kalah tampan.


_____________


Deolin memutuskan untuk ikut ekstrakulikuler basket, taekwondo dan painting. Deolin sudah bisa menguasai basket dan taekwondo karena sewaktu di Inggris ia sering di latih oleh abang nya


"Lo kenapa ikut basket sih Lin?". Tanya Citra.


"Yaa gue pengen ngelakuin apa yang gue bisa lah".


"Lo gak takut apa ntar kalo kulit Lo item kusam terus rambut Lo lepek gitu." Tanya Citra lagi.


"Astagaa Citraa... Lo itu berteman sama gue udah hampir setengah tahun deh, masa iya Lo belum kenal gue gimana sih. Gue mah bodo amat Cit. Mau kusem kek mau item kek, bodo omat". Jawab gue sambil nyengir. "Ni anak ya, daritadi baca buku mulu. Kaga capek apa?". Tanya Deolin pada Fera


"Gue mah harus rajin belajar Lin, biar nilai gue kaga turun, kan gue disini murid beasiswa Lin, Cit. Nah Lo enak Lin, punya IQ tinggi. Kaga belajar aja pasti bisa".

__ADS_1


Dibawah terik matahari disaat jam kosong Deolin terus bermain basket dan memperlihatkan betapa lihainya ia mendribell bola dan selalu tepat sasaran ketika ia men shoot bolanya. Dengan santuynya ia bermain sambil ditemani oleh kedua sahabatnya itu. Saat Deolin ingin melempar basket kearah ring ia tidak terlalu fokus karena diajak ngobrol, akhirnya..


👩🏻‍🎨Bersambung.... 👩🏻‍🎨


__ADS_2