
Selamat untuk kakakku, atas segala kesuksesan yang kamu raih.
Sebagai adikmu, aku hanya bisa berdoa untuk kejayaanmu.
Serta meminta maaf.
Atas ketidak jujuranku selama ini.
Maafkan aku, kakak.
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Kost-an Evelyn
Hari cepat berlalu, saat Evelyn menjalaninya dengan hati senang. Bagaimana ia tidak senang, jika malam ini ia akan menghadiri pesta yang dibuat sang kakak, untuk merayakan satu tahunnya berdirinya Gandhi desain interior, perusahaan yang dikelola dan hasil jerih payah sang kakak tanpa embel-embel.
Di depan cermin ia bisa melihat pantulan wajahnya, dengan hiasan make-up natural dan polesan gincu berwarna soft red.
Senyum miring terukir apik dibibirnya, saat membayangkan kesenangan atas kejadian beberapa malam lalu, saat ia melihat ekspresi takut dari wanita yang nekat mendatanginya.
"Hanya tinggal wanita tua itu, tapi aku tidak tahu, apa yang harus aku lakukan."
Yah ... Apa yang bisa dilakukan seorang karyawan biasa sepertinya. Untuk melawan Nyonya besar, dari keluarga kaya sekelas Brata. Mungkin, jika ia meminta pertolongan kekasihnya, ia bisa saja mendapatkan apa yang dimaunya. Tapi, bahkan sampai sekarang ia masih menyembunyikan kebenaran sebuah fakta, dari sang kekasih yang diam-diam sudah tahu tanpa disadarinya.
"Aku harap, akan ada keajaiban untukku," gumam Evelyn dengan doa dalam hati.
Getaran dari handphonenya, membuat Evelyn mengalihkan wajahnya, dari cermin ke arah meja rias di mana ia meletakkan handphonenya.
📞 Arlan calling
Tut!
"Halo, sudah di bawah kah?" tanya Evelyn semangat, setelah ia menerima panggilan dari sang kekasih.
"Semangat sekali, Schatz."
Evelyn terkekeh saat mendengar nada sarkas dari kekasihnya, sepertinya sang kekasih sebal saat ia langsung bertanya, alih-alih menyapa dengan benar kepada kekasihnya.
"He-he .... Maaf, sayang. Aku terlalu senang hari ini," sahut Evelyn dengan kekehan kaku.
"Lupakan. Kamu sudah siap?"
"Sudah, aku sudah siap!" balas Evelyn, dengan senyum yang tidak luntur sama sekali.
"Kalau begitu turun, aku tunggu di bawah."
"Baiklah, aku tutup sambungnya. Oke?"
"Hn."
Evelyn pun menekan tombol merah, kemudian melihat sekali lagi penampilannya di depan cermin. Merasa sudah tidak ada cela dalam penampilannya, Evelyn pun menyambar tas tangannya, kemudian berjalan ke arah pintu.
Ia mengunci kamarnya dengan segera, memasukan kunci ke dalam tas dan menuruni tangga dengan perasaan tidak sabar.
Di depan gerbang sana, ia bisa melihat sang kekasih berdiri dengan tegap dan gagah seperti biasa, menunggunya di depan pintu mobil berwarna putih, mobil kesayangan sang kekasih.
"Sudah siap?" tanya Arlan ketika kekasihnya berdiri tepat di hadapannya.
Evelyn mengangguk dengan senyum mempesona, membuat Arlan yang melihat tidak segan untuk membawa bibirnya mendarat dengan sempurna, di kening sang kekasih yang hanya mampu tersipu malu.
"Arl, jangan seperti itu. Aku takut ada yang melihat," bisik Evelyn saat Arlan menarik wajahnya.
"Tidak masalah, Schatz. Biasanya, kalau warga kampung melihat hal seperti ini, mereka meminta agar pasangan yang melakukan hal seperti tadi, menikah sekarang juga," jawab Arlan dengan santai, menjelaskan hal yang membuat Evelyn melotot seketika.
"Is! Nyebelin," sembur Evelyn dengan rona merah dipipinya.
Ha-ha-ha!
Arlan tergelak, saat melihat ekspresi sewot namun malu dari kekasihnya, membuatnya semakin gencar untuk menggoda sang kekasih, namun sayang waktunya tidak pas saat mereka harus segera mendatangi pesta sekarang juga.
__ADS_1
"Oke-oke, sebaiknya kita pergi sekarang juga. Kamu mau tertinggal, heum?" ujar Arlan, menyudahi acara menggodanya.
"Ah! Benar juga, yuk kita berangkat!" seru Evelyn semangat.
Arlan membuka pintu mobil, melindungi kepala kekasihnya dengan telapak tangan, kemudian menutup pintu setelah membantu Evelyn memasang sabuk pengamannya.
Di perjalanan seperti biasa, obrolan ringan dan musik instrumen saksofon lah yang terdengar, kali ini instrumen dari Ada Band__Haruskah Ku Mati yang mengiri, saat keduanya larut dalam obrolan mereka.
Skip
Ballroom Hotel Luxury, Kota B.
Beberapa waktu kemudian, mobil berwarna putih yang di kendarai Arlan sampai di depan pintu masuk ballroom.
Di dalam mobil, Arlan membantu melepas sabuk pengaman yang di pakai oleh Evelyn, baru kemudian miliknya lalu ia turun membukakan pintu untuk kekasihnya seperti biasa.
"Terima kasih," bisik Evelyn sambil menerima uluran tangan hangat kekasihnya.
"Nope," balas Arlan tersenyum kecil.
Mereka memasuki area tempat di adakan pesta, setelah Arlan memberikan kunci mobilnya kepada seorang petugas parkir valet, untuk memarkirkan mobilnya ke tempat seharusnya.
Jalan dengan langkah tegapnya, Arlan sukses menjadi sorotan saat awak media, yang ikut hadir dalam pesta ini melihatnya di pintu masuk.
Kilatan dari lampu flash kamera, membuat seseorang di sampingnya bergerak tidak nyaman, gelisah. Saat dirinya tidak terbiasa, menjadi santapan lensa kamera, beda dengan kekasihnya yang sudah seperti jadi makanan sehari-hari.
Arlan pun menoleh ke samping, menepuk punggung tangan kekasihnya, yang saat ini melingkar semakin erat di lengan kanannya.
"Relax, Schatz," bisik Arlan lembut, sehingga Evelyn pun menoleh ke arahnya, kemudian mengangguk kecil.
"Em."
Setelah mendapat gumaman dari kekasihnya, Arlan pun melanjutkan langkah kakinya, masuk lebih dalam dengan Evelyn yang berjalan lambat, namun anggun disaat bersamaan.
Masih diikuti oleh kilatan lampu flash, Arlan membawa Evelyn menghampiri sepupunya, yang saat ini sedang berdiri dengan Bibi dan Pamannya, serta seorang wanita yang ia kenali sebagai anak dari partner bisnisnya.
Tap!
Setelah berdiri di hadapan sang kakak, Evelyn dengan segera menghambur memeluk Riki tanpa sungkan, membuat Arlan yang melihatnya merasakan cemburu namun ditahannya. Beda dengan seorang wanita yang berdiri disisi kedua orang tua Riki, ia sudah bisa menerima saat kedua orang yang saat ini berpelukan, menunjukan skinship layaknya seorang kekasih tapi sebenarnya bukan.
"Riki, selamat yah! Sukses selalu, aku bangga sekali denganmu," ujar Evelyn dengan semangat, menatap kakaknya dengan binar mata lebih hidup.
"Terima kasih, Lyn. Berkat doa dan dukungan semuanya, aku bisa sukses seperti ini," balas Riki dengan senyum bahagia di bibir.
"Tidak, kamu yang hebat," tandas Evelyn menampik perkataan sang kakak, membuat Riki balas tampikan dengan kata-kata lain, dan berujung dengan balasan lainnya dari Evelyn.
Sedangkan Arlan, kedua orang tua Riki serta wanita dengan nama Riyanti ini, hanya bisa melihat dengan gelengan kepala, serta rasa semakin cemburu untuk Arlan. Ia pun segera mengingatkan kekasihnya dengan deheman berat, membuat kedua orang yang sedang berdebat itu pun berhenti dan melihatnya dengan senyum canggung.
Ehem!
"He-he ... Sorry, honey."
"Sorry, Ar."
Riki dengan nada biasa meminta maaf kepada sepupunya, beda dengan Evelyn yang terkekeh canggung batu kemudian meminta maaf.
Dengan isyarat mata dari Arlan, Evelyn pun kembali berdiri di sampingnya, kemudian menatap ibu, ayah dan Riyanti bergantian dengan senyum kaku.
"Maaf Tante, Om, Riyanti. Evelyn kelepasan, aku terlalu senang akan keberhasilan yang dicapai oleh Riki," jelas Evelyn dengan nada canggung, dan untunglah tante atau Mama dari Riki ini sudah terbiasa dengan keakraban keduanya, sehingga beliau tidak terlalu mempermasalahkannya.
"Tidak apa-apa, nak Lyn. Tente mengerti," sahut Mama Riki, Rita Wirya.
Evelyn pun kali ini maju lagi, untuk memeluk Rita yang menerima pelukannya dengan suka cita.
"Tente sehat?" tanya Evelyn berbisik lirih di telinga Rita.
"Sehat, Lyn. Kamu juga, jaga kesehatan yah," balas Rita sama berbisik, kemudian melihat dengan tatapan teduh rupa dari sahabat anaknya, yang sebenarnya ingin sekali ia jadikan menantu, namun sayangnya keinginan hanya tinggal keinginan.
"Tentu tante, pasti!" seru Evelyn dengan semangat.
__ADS_1
"Kamu jarang main ke rumah," tanya Rita dengan ekspresi merajuk, membuat Evelyn terkekeh dan memeluk lagi Rita, dengan pelukan manja, merayu.
"Maaf, tante," cicit Evelyn takut membuat marah Rita, yang balas dengan kekehan renyahnya, merasa gemas dengan kelakuan Evelyn yang memeluknya manja.
Evelyn bisa merasakan lagi kehangatan pelukan dari seorang ibu, melalui Rita yang juga telah menganggapnya sebagai anak sendiri.
Masih ingat dengan jelas saat itu ia melihatnya, bagaimana sahabat anaknya menangis tanpa air mata saat di pemakaman.
"Oh iya! Bagaimana bisa kamu dengan Arlan datang bersamaan kemari?" tanya Rita dengan penasaran, karena setahunya keponakannya sudah punya tunangan, dan bukan Evelyn lah orangnya.
"Bukan kah kamu sudah bertunangan, Arlan?" lanjut Rita dengan mata memicing menatap keponakannya.
"Ceritanya panjang Bu. Tapi yang pasti, wanita yang nantinya aku nikahi adalah Evelyn," balas Arlan singkat, namun belun cukup membuat Rita mengerti dengan maksud keponakannya.
"Apa maksudnya?" tanya Agus, ayah dari Riki yang juga penasaran.
Kali ini Arlan menatap Agus dan Rita bergantian, kemudian melihat sepupunya yang mengangguk mendukungnya.
"Arlan terpaksa dengan pertunangan ini, saat Mama punya janji masa lalu. Tapi bagaimana, Arlan sama sekali tidak mencintainya, Arlan hanya mencintai Evelyn Bu."
Arlan tidak perduli dengan berita yang akan menyebar setelah ini, yang pasti ia hanya jujur dengan apa yang disampaikan olehnya.
Rita cukup kaget, saat mendengar alasan kenapa bisa terjadi pertunangan, yang sama sekali tidak diinginkan oleh keponakannya dan kenapa sampai membawa nama adik iparnya serta.
Seketika ia merasa aneh, namun segera di tampiknya, saat ia berpikir jika itu mungkin saja terjadi saat adik iparnya masih sehat.
"Kamu tahu ini, Evelyn?" tanya Rita dengan nada sedikit kecewa, membuat Evelyn sedih namun ditahannya.
"Iya, tapi Evelyn juga mencintai Arlan, Tente."
Rita dan Agus hanya bisa mendesah lelah, juga tidak bisa berbuat apa-apa, bagi mereka kebahagian keponakan dan juga sahabat anaknya yang utama.
"Tante tidak bisa melarang, tapi yang jelas kamu harus tegas. Jangan menyakiti Evelyn."
Setelahnya Evelyn pun kembali bermanja ria dengan ibu dari Riki, Rita. Sehingga Arlan pun lebih memilih untuk bersalaman dengan sepupunya, mengucapkan kata selamat formal dan lanjut menyalami pamanya saag ia sempat lupa akan tata krama, dengan pelukan singkat lalu lanjut obrolan. Sedangkan Riyanti yang lebih nyambung saat membahas masalah politik dan bisnis, lebih memilih bergabung bersama para laki-laki, membicarakan banyak masalah dengan seputar saham dan sebagainya.
Tidak lama kemudian pesta dimulai dengan acara seperti biasa, dipandu oleh seorang pembawa acara, yang memandu acara dengan santai. Sehingga acara demi acara pun mereka lewati, tanpa satu pun kekurangan.
Acara selanjutnya adalah acara istirahat, hingga beberapa waktu ke depan, dengan tuan rumah yang telah menyajikan berbagai hidangan menggugah selera di setiap standnya.
Arlan yang merasa jika Evelyn nyaman dengan suasana pesta, lebih memilih menghampiri rekan bisnisnya, tanpa membawa Evelyn serta takut mengganggu kesenangan sang kekasih.
"Schatz," bisik Arlan, tangganya menyentuh punggung tangan kekasihnya, yang saat ini ada di atas meja. Membuat Evelyn pun menoleh, dengan senyum lebar yang ikut menular sehingga ia pun tersenyum meski samar.
"Iya?"
"Aku ingin menemui rekan bisnis aku, kamu tidak apa-apa kan, aku tinggal di sini?" tanya Arlan dengan nada tidak enak.
Evelyn menganggukkan kepalanya pelan, menjawab pertanyaan kekasihnya dengan senyum manisnya.
"Eum ... Tidak apa-apa, kamu bisa kembali setelah selesai," balas Evelyn mengizinkan.
"Oke, aku tidak lama kok," timpal Arlan dengan nada meyakinkan, membuat Evelyn terkekeh kecil dan memegang pipinya untuk diusapnya lembut.
"Its oke ... I'll be fine, here."
Mengecup mesra punggung tangan sang kekasih, Arlan pun akhirnya meninggalkan Evelyn, yang kembali larut dalam obrolan bersama Riyanti dan Rita di meja tanpa kehadiran laki-laki setelah kepergian Arlan sebagai pendahulu.
Seperti yang di ucapkan oleh Arlan, ia pun dengan segera menyapa rekan bisnisnya, dengan sapaan klasik dan singkat sebagai bentuk formal, lalu lanjut dari satu rekan satu ke rekan lainnya.
Terkadang ia juga akan larut dalam obrolan seru, bersama rekan yang lumayan akrab denganya saat mereka membahas kehidupan lain dan bukan membahas bisnis.
Saat Arlan sedang serius dalam obrolan bersama rekan bisnisnya, panggilan yang menyebut namanya membuat ia menoleh dan segera memasang wajah dingin, saat matanya bersiborok dengan mata, dari seorang wanita yang sangat tidak ingin ia temui.
"Arlan. Bisa kita bicara?"
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Ikuti kisah selanjutnya ...
Sampai babai.