Bukan Salahku

Bukan Salahku
Keputusan Evelyn


__ADS_3

Pleasure of love lasts but a moment, Pain of love lasts a lifetime


It really hurts when you, expected so much more from the person you once loved so much


Kebahagiaan karena cinta hanya berlangsung sekejap saja, namun kekecewaan karena cinta berlangsung selamanya


Yang menyakitkan itu sebenarnya, saat kita terlalu berharap pada seseorang yang sangat kita cintai


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Entah apa yang difikirkan oleh Evelyn, yang jelas saat ini Ia sedang dalam perjalanan, menuju kantor sang sahabat.


Hatinya sangat kacau dengan kenyataan, yang lagi-lagi di ketahuinya.


Awal mula Pertunangan, kenapa bisa terjadi dan alasan sang Presdir menyembunyikan Pertunangan, hanya kerena sang Presdir tidak ingin kehilangannya.


Fikirannya kacau, saat mengingat perkataannya kepada sang Presdir.


Tapi ia sudah memutuskan untuk menyudahi permainan sang Presdir, ia wanita dan wanita mana yang akan terima, saat laki-laki, terlebih calon suami menghinati hanya karena keegoisan sendiri.


Hal yang terakhir sebelum ia meninggalkan kantor adalah pecahan benda dan teriakan dari sang Presdir.


Ia menulikan pendengarannya, ia tidak perduli dengan pekerjaannya, saat dirinya sendiri tidak bisa mengontrol emosinya.


"Ini sudah benar, aku tidak mau ada yang tersakiti lagi," batin Evelyn mengingat saat tadi, sebelum ia dengan langkah terburu meninggalkan gedung perkantorannya.


Kilasan akan ucapannya, ucapan yang membuat dirinya sendiri sakit, saat mengingatnya.


Flasback on


Evelyn pov on


Aku sebisa mungkin fokus dengan pekerjaanku saat ini, melupakan sejenak urusan pribadi, yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan pekerjaanku.


Ceklek!


Saat aku fokus dengan layar laptopku, tiba-tiba pintu terbuka membuatku berjengggit kaget, saat aku melihat Arlan berdiri di pintu sana.


Ini salahku, yang memberi harapan sehingga aku sendiri termakan harapan.


"Lyn!" serunya sambil melangkah mendekatiku.


Aku tidak menoleh ke arahnya, aku tetap melihat ke arah laptop, yang sebenarnya tidak aku perhatikan.


"Lyn, dengarkan aku!" lanjutnya dan aku tetap pada pendirianku.


Demi Tuhan, aku tidak ingin berbicara dengannya saat ini, aku masih menata hatiku.


"Lyn, aku mo-


"Ada yang bisa di bantu, Pak Presdir?" selaku, dengan nada biasa dan mata tetap fokus pada layar laptop.


"Lyn, kita butuh bicara," ujarnya keras kepala.


Itu sifatnya, pemaksa dan egois.


"Katakan, pekerjaan apa, yang harus saya kerjakan," balasku masih tanpa melihat ke arahnya.


"Lyn, lihat aku. Aku sedang berbicara dengan kamu!" serunya memaksa.


Dengan segala emosi yang aku tahan, aku pun melihat ke arahnya, dengan mata berair tanpa di sadari diriku sendiri.


Tidak Evelyn, kamu tidak boleh lemah.


Mauku seperti itu, tapi sayang air mataku, lebih mengikuti insting alamiahku.


Aku melihat dia mengulurkan tangannya, hendak menyentuh pipiku. Namun aku segera menghindar, tidak ingin lagi bersentuhan denganya.


"Lyn," panggilnya dengan mata bergetar nanar.


Aku bisa melihat kesedihan dan penyesalan dimatanya, tapi terlambat, aku sudah kecewa dengan ini semua.


Aku tidak ingat bagaimana bisa, yang jelas saat ini dia sedang menarik tanganku, untuk di bawanya kedalam ruangannya, meninggalkan debaman kuat saat aku mencoba memberontak.


Brak!


"Arlan lepas!" seruku dengan nada tinggi.


Aku memberontak sekuat yang aku bisa, tapi sayang sia-sia.


Dia menulikan pendengarannya, dia tetap mencekal tanganku dan mencoba memelukku paksa, namun aku tetap mencoba melawan.


"Arlan! Lepaskan aku!"


Lagi-lagi seruanku tidak didengarnya, sakit di tanganku tidak sebanding, dengan sakit yang di rasakan hatiku.


"Tolong aku, Riki,"

__ADS_1


Aku bahkan menyebut nama sehabatku, yang saat ini pasti sedang sibuk bekerja.


Erat ... Semakin aku mencoba dan memintanya untuk melepaskanku, maka kekuatan dia memelukku semakin kuat.


"Arl-


"Tidak!"


Aku berjenggit kaget kemudian diam dengan tubuh kaku, saat dia menyelaku dengan bentakan bernada tinggi.


Tubuhku gemetar takut, baru ini dia membentakku dengan nada tinggi seperti ini.


"Aku mohon dengarkan aku, Lyn,"


Tapi kemudian dia berbisik lirih dan melembutkan suaranya, membuatku kembali sedikit bisa mengontrol rasa takutku.


"Tidak ada yang harus di dengar, Arlan." balasku, masih mencoba melepaskan pelukan sepihak darinya, namun sayang, kekuatanku tidak sebanding dengannya.


Aku masih di pelukannya, lalu tiba-tiba aku merasa aneh, saat merasakan tubuhnya bergetar.


"Dia menangis?" batinku kaget.


Aku tersentak dan terdiam, saat telingaku mendengar bisikan lirih, dari Presdirku yang frustrasi.


"Dengar aku, Lyn. Aku mohon,"


Aku diam saat lagi-lagi seharusnya aku pergi dari sini, tapi aku tidak bisa, aku harus menyelesaikan ini.


Menyelesaikan permainan hati yang dia dan aku sendiri buat.


Ini bukan salahku atau juga salahnya, ini hanya permainan takdir, saat takdir sudah berbicara tentang kehidupan, untuk kami jalani seharusnya.


Aku pun berhenti memberontak, mencoba mendengar setiap cerita yang dijelaskannya, dengan hati siap untuk melepas semuanya.


"Lyn, aku memang bertunangan dengannya, tapi aku tidak menginginkannya," Ujarnya, bergumam di telingaku.


Aku diam belum menjawab, masih mendengarkan apa yang akan di sampaikannya.


"Dengarkan aku, please," Lanjutnya dan aku pun mengangguk.


"Lepaskan aku," Ujarku namun dia menggeleng dan lebih memelukku erat.


Kalau begini aku takut pertahanananku luluh, lalu aku akan mengikuti sisi egoisku sendiri.


"Arlan, lep-


Aku diam lagi dan aku pun menghela nafas lelah, dia egois dan dia tidak akan menyerah jika belum mendapatkan, apa yang diinginkannya.


"Baik, jelaskan Arlan."


Masih dengan memeluknku, dia bercerita tantang kedatangan ibu dari Tania, pertemuan Keluarga, serta kesepakatan antara dia dan Tania.


"Aku tidak bisa melanggar janji itu, Lyn. Apa yang harus aku lakukan? Jika saja aku tidak bertemu kamu, mungkin aku akan menerimanya begitu saja," jelasnya setelah menceritakan awal mula terjadi Pertunangan.


Aku bingung harus bereaksi seperti apa, aku hanya diam, tapi entah kenapa aku menangis lagi dan aku tahu hanya satu jalan keluarnya.


"Apa ini ada hubungannya, dengan pertanyaannya pada ibu, saat dia main dan berbincang dengan ibu," batinku bertanya.


Hiks! Hiks!


Aku tidak sadar mengeluarkan isakan tangisku, tidak ... Aku tidak boleh lemah.


"Lyn, aku moh-


"Tinggalkan aku, Ar."


Aku lagi-lagi menyela ucapannya dengan cepat, aku telah memutuskan dan aku sudah bulat dengan tekadku.


Aku akan mundur dan aku akan melupakannya.


"Apa?"


Dia melepaskanku dengan cepat dan memandangku tidak percaya.


"Tapi aku tidak ingin ini, Lyn. Ak-


"Tidak!"


Lagi-lagi perkataannya aku sela cepat, membuatku semakin bulat dengan apa keputusan, yang akan aku sampaikan.


"kenapa, Lyn? Kenapa?" tanyanya dengan nada kalut.


Maafkan aku Arlan.


"Aku mencintaimu, Lyn!" Lanjutnya frustrasi.


"Tapi ibumu telah memilih Arlan, ibumu sudah menginginkan kamu dengan yang lain Arlan."

__ADS_1


Aku memberikan satu penjelasan fakta, jika memang ini semua adalah keinginan ibunya, dia sendiri bahkan yang berjanji untuk memenuhinya.


Dan ibuku bilang, jika janji maka harus ditepati.


"Tidak, aku akan tetap membatalkan pertunangan ini!" Serunya tidak perduli.


"Aku, hanya, mencintaimu," Lanjutnya menekan di setiap katanya.


"Tidak Arlan, tidak!" Bantahku menolak.


Ini salah, dari awal hubungan kami salah.


Maka biar aku yang menyudahi, dari pada aku dan dia semakin jauh melangkah, menyakiti hati wanita yang tidak bersalah.


Hati tunangannya.


"Kenapa Evelyn, apa kamu tidak mencintaiku?"


Aku melihatnya kaget, saat dia menanyakan perasaanku.


Aku sungguh mencintainya, tapi cinta saja tidak cukup untuk kehidupan kami selanjutnya.


"Apa selama ini hanya aku, yang mencintaimu, Evelyn? Apa hanya aku yang tergila-gila denganmu, Evelyn?" Tanyanya beruntun dengan nada tinggi.


Aku menatapnya dengan air mata semakin mengalir, saat aku sendiri merasa aku pun sama egoisnya dengannya.


Dia mencintaiku, aku mencintainya, tapi takdir tidak menginginkan kami bersama.


Aku harus apa?


Aku menggelengkan kepala, menatapnya takut, takut aku lagi-lagi melakukan kesalahan dengan ucapan yang akan aku sampaikan.


"Aku akan mem-


"Jangan!"


Dia menatapku kaget, saat aku bilang jangan dengan lantang.


"Jangan batalkan, Arlan."


Aku menatapnya serius, sedangkan dia menatapku tidak percaya.


"Apa maksud kamu, Lyn?" Tanyanya.


"Kamu harus terus melanjutkan Pertunangan dengan Tania, aku tidak ingin ada yang tersakiti lagi. Cukup aku, Arlan, cukup aku," ujarku menahan rasa sedihku.


"Berjanji lah, Arlan. Tidak akan ada pembatalan atau aku akan semakin menjauhimu," lanjutku dan aku bisa melihat tatapan kecewa dan tidak percaya, jelas tercetak di kedua matanya.


"Apa!"


Evelyn pov end


Flasback end


Normal pov on


Di sini lah ia sekarang, didepan kantor sederhana milik sahabatnya, dengan nama keluarga sebagai tanda pengenal usahanya.


Gandhi Interior Desain


Ia berjalan memasuki lobby, disambut dengan ramah, oleh reseptionist yang kebetulan sudah mengetahui siapa ia.


Ia hanya mengangguk dan terus berjalan, menuju pintu tertutup milik sahabat yang sudah di anggap kakak dan mengetuk pintu dengan pelan.


Tok! Tok! Tok!


Pintu pun terbuka, dengan sang sahabat yang menatapnya khawatir.


"Lyn?"


"Riki."


Brugh!


Grep!


Hiks! Hiks! Hiks


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ikuti terus kisah selanjutnya ...


Ada yg mau crazy up? Jawab di komentar yaaa ....


Sampai babai.

__ADS_1


__ADS_2