Bukan Salahku

Bukan Salahku
Kenapa?


__ADS_3

Kenapa?


Kamu marah, saat dia saja suka dengan keberadaanku.


Atau ...


Kamu iri, dengan diterimanya aku, berdiri disisinya sedangkan kamu tidak mampu?


Du-du-du ... Kasihan sekali.


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


PT. BRATA


Hari sudah sore, saat Direktur dari perusahaan Brata, masih larut dalam kerjaannya.


Di kursi kebesarannya, ada Tania yang sedang sibuk dengan sisa pekerjaannya. Dengan jari-jari menari indah di atas keyboard laptopnya, serta mata yang sesekali akan melirik arloji pada pergelangan tangan kanannya, Tania mendesah lelah saat melihat pukul waktu yang tertera.


17:45


Waktu berjalan sangat cepat, saat dirinya disibukan dengan pekerjaan, yang tidak akan ada habisnya.


"Siang ini tidak ketemu, hm ... Apa aku ke tempatnya saja, yah," gumam Tania, membayangkan jika ia bisa menghabiskan waktu dengan sang tunangan.


"Oke deh, sebaiknya aku cepat menyelesaikan ini," lanjutnya dengan semangat.


Ia pun dengan segera mengerjakan sisa pekerjaannya, menyimpan file dan mematikan daya laptopnya.


Merenggangkan ototnya yang kaku, Tania melihat lagi arloji untuk melihat pukul berapa, dan ternyata ia sudah cukup banyak menghabiskan waktu.


"Astaga! Sudah jam segini saja, sebaiknya aku cepat pulang dan membersihkan diri," pekiknya, sebelum menyambar tas tangan dan melenggang pergi meninggalkan ruangannya.


Berjalan dengan langkah cepat, ia sesekali menganggukkan kepala, saat bawahannya yang masih ada di kantor menyapanya.


Sesampainya di area parkir, ia segera menekan remote di tangannya, sehingga bunyi bipp terdengar, serta lampu dari mobilnya berkedip.


Ia pun membuka dan menutup pintu mobil dengan debaman kecil, melaju meninggalkan area parkir menuju rumah, sebelum bertolak ke hunian milik tunangannya.


"Tunggu aku, sayang," gumam Tania dengan senyum bahagia, tanpa tahu jika senyumnya tidak akan bertahan lama, saat sudah sampai di tempat tujuannya.


Butuh waktu lima belas menit, untuk Tania sampai di kediamanan mewahnya. Ia dengan segera menaiki tangga, tanpa perlu menyapa penghuni rumah, sebab Mama atau pun Papa sambungnya tidak ditemui eksistensinya.


Ia mengangkat bahu tidak peduli, yang penting baginya saat ini adalah ia cepat mandi, dandan yang cantik, lalu pergi ke hunian dia.


Skip


Waktu sudah menunjukan pukul tujuh malam, Tania sudah bersiap dengan pakaian seksinya, berharap bisa melewatkan malam panjang dan panas, dengan tunangannya yang terkenal dengan lebel penjajah malam.


Ia tahu dengan sangat, jika tunangannya sudah lama tidak belanja, itu sebabnya ia akan membuat tunangannya menyentuhnya, agar mereka bisa secepatnya menikah.


Mungkin saja, setelah kegiatan intim mereka, ia dan tunangannya akan semakin dekat, apalagi ia yakin jika pelayanannya, akan membuat tunangannya puas.


Senyum di bibirnya merekah, menuruni anak tangga dengan semangat, tanpa melihat di ruang tamu sana, berkumpul Mama, Papa, serta adiknya yang usianya sama dengan pertunangannya.


"Aku tidak menyangka, menginjak delapan bulan pertunangan, Arlan akhirnya luluh juga," batin Tania percaya diri.


"Tania, mau kemana kamu?" tanya Kana dengan alis bertaut penasaran, serta nada biasa tidak kaget dengan penampilan sang anak.


"Coba tebak, siapa yang mulai menerima aku?" tanya balik Tania, duduk dengan bersilang kaki, sehingga gaun terusan setengah paha yang ia kenakan terangkat, memperlihatkan paha mulus miliknya.


Dengan alis menukik berpikir, kemudian berganti wajah kaget, Kana menatap anaknya bahagia, tentu bahagia akhirnya ia tidak lama lagi punya kuasa akan sepuluh persen perusahaan.

__ADS_1


"Maksud kamu, Arlan mulai menerima kamu?" tanya Kana antusias.


Tania mengangguk, salah paham dengan keantusiasan yang di tampilkan sang Mama.


"Iya Mah, Arlan minta maaf sama aku, dan sekarang aku ingin ke tempatnya, karena tadi pagi aku tidak bertemu dengannya," jawab Tania semangat, namun dengan nada kecewa di akhir kalimatnya.


"Bagus! Kamu harus semakin gencar mendekati Arlan. Buat dia bertekuk lutut, menyesal karena dulu menolakmu," dukung Kana, menyemangati anaknya yang ikut menganggukkan kepalanya antusias.


"Tentu saja!"


Obrolan kedua wanita ini disaksikan oleh seorang pria, yang merasakan sakit di ulu hatinya saat memikirkan nasib putrinya.


Bagaimana dengan kehidupan putrinya, sudah kehilangan ibu ditambah kehilangan cintanya.


"Evelyn, maafkan ayah nak," batin Farid sedih.


"Ya sudah Mah, Tania pergi dulu," ucap Tania lalu melenggang pergi meninggalkan kedua orang tuanya, dengan langkah semangat yang terlihat jelas.


Sekitar dua puluh menit kemudian, Tania sampai di halaman luas kondominium tempat tunangannya tinggal.


Ia memarkirkan mobil di tempat tamu berkunjung, membenahi sedikit penampilannya dan menyemprotkan lagi parfum di leher jenjangnya.


"Heum ... Harum begini, emang kamu bisa menolaknya," gumam Tania dengan rasa percaya diri tingkat tinggi.


Ia pun turun dari mobilnya, berjalan menuju pintu lobby dan masuk tanpa susah, karena apa? Karena ia sudah memiliki akses dari Mertuanya, untuk bisa datang kapan saja menemui Arlan, meski hanya sebatas lobby tanpa bisa masuk ke dalam hunian langsung.


Tapi tidak apa, ia sudah cukup puas, karena setidaknya ia bisa memberikan kejutan, saat sampai di depan pintu hunian milik tunangannya.


Benar sekali, akan ada kejutan, tapi bukan untuk Arlan melainkan untuk dirinya sendiri.


Ting!


Menekan bell dengan segera, Tania tidak sabar bisa melihat wajah rupawan dari seorang Presdir perusahaan keluarga Widiyo.


Ting! Tong!


Tidak lama kemudian pintu pun terbuka, ia segera memasang senyum terbaiknya dan seketika berubah menjadi wajah murka, dengan mata melotot marah.


Ceklek!


"Kamu!"


Di depannya saat ini ada seorang wanita, yang sangat dikenalnya, berdiri dengan ekspresi wajah kaget namun tidak lama, saat senyum miring dengan wajah meledek terpampang nyata dihadapannya.


"Oh .... Hai! Nyonya muda," sapa seseorang itu, yang kita tahu adalah Evelyn, masih dengan senyum miring senangnya.


Tania memperhatikan dengan perasaan kesal, saat melihat penampilan asisten tunangannya, yang terlihat mencurigakan dengan kemeja putih khas laki-laki.


Seketika pikirannya menuju hal yang berbau dewasa, lengkap dengan adegan yang tiba-tiba saja menari indah mengejek dirinya, akan ketidakmampuannya meraih tunangannya.


Kemeja putih yang dikenakan oleh wanita di depannya, ia curigai milik tunangannya. Terpasang dengan rapih, memperlihatkan lekuk tubuh dari wanita yang sangat Ia benci saat ini.


"Kamu! Ngapain kamu ada di hunian tunangan aku?" tanya Tania dengan intonasi nada tinggi, menatap tajam Evelyn yang sama sekali tidak takut. Justru Evelyn menatap Tania dengan sorot mata mengejek.


"Aku? Aku bekerja," jawab Evelyn santai, ia memainkan rambut tergerai indah miliknya, serta mata menatap Tania berani.


Ucapan dengan nada santai yang keluar dari mulut Evelyn, membuat Tania kesal bukan kepalang, tangannya mengepal menahan rasa marah yang sudah mencapai ubun-ubunnya.


"Bekerja dengan penampilan layaknya j*lang? Ternyata benar yah, kalau kamu ini adalah seorang j*lang," hina Tania tapi sayang, belum cukup untuk menyulut api emosi milik Evelyn, yang sudah ia latih saat dulu menerima makian seperti ini.


"Sabar Evelyn, jangan termakan hinaan ini. Kita lihat, sampai mana dia bisa menjaga tangannya," batin Evelyn menatap Tania menantang.

__ADS_1


"Aku j*lang? Tidak salah ... Look at you girl, bagaimana dengan penampilan anda saat ini? Mau menggoda Presdir saya dengan penampilan kampungan anda seperti itu? Ck-ck-ck, saya jamin Arlan meskipun tunangan anda, akan langsung menolak anda. Khe," balas Evelyn mendengkus jijik, melihat dari bawah sampai atas penampilan Tania, yang saat ini memakai gaun terusan pendek kelewat pendek, kalau tidak mau dibilang kurang bahan menjurus super mini.


"Sialan, dari pada anda heh, lihat pakaian seperti apa yang sekarang anda pakai. Anda mau menggoda tunangan saya dengan tubuh cungkring anda, begitu? Cih, sebaiknya jangan bermimpi, karena Arlan memiliki selera tinggi," balas Tania tidak kalah merendahkan Evelyn. Ia ganti melihat Evelyn dengan mata menilai, berdecih sinis menutupi rasa iri, karena ada wanita lain yang memakai pakaian milik seorang Arlan.


"Siapa yang menggoda siapa?"


"Kamu! Tentu saja kamu, j*lang," sahut Tania cepat, menghina dengan kata-kata makian andalannya.


"Baiklah, karena anda menilai saya ini j*lang, maka saya akan mengabulkannya."


Evelyn pun mendekatkan dirinya, ke arah Tania yang mundur perlahan, kemudian memajukan wajahnya ke arah telinga milik Tania.


"Kita lihat, bagaimana j*lang ini menggoda tunangan anda," bisik Evelyn menantang, kemudian memundurkan wajahnya lagi untuk melihat ekspresi dari seorang Nyonya muda, yang tubuhnya menegang kaku.


"Berani?" lanjut Evelyn dengan senyum miring.


"Kurang ajar!"


Plak!


Sebuah tamparan bersarang di pipi sebelah kanan Evelyn, yang saat ini wajahnya menyamping sangking kuatnya tamparan dari seorang Nyonya muda.


Napas Tania terengah dengan dada naik-turun, menatap nyalang seorang wanita yang baru saja menantangnya, dengan tantangan yang membuat emosinya keluar juga.


Apakah Evelyn membalasnya?


Tidak.


Karena apa?


Karena ia mendengar seruan memanggil dari kekasih Presdirnya, untuk kemudian memulai aksinya.


Evelyn dengan segera memasang wajah teraniaya, memegang tangan Tania yang gelagapan, saat Arlan berdiri menjulang lengkap dengan ekspresi marahnya.


"Tania apa maksud kamu menampar aku, aku hanya membukakan pin-


"Tania! Sialan, apa yang kamu lakukan!"


"Arlan aku-


"Pergi kamu dari sini! Pergi sekarang juga!"


"Arlan kamu usir aku demi wanita ini?"


"Cukup Tania, pergi sebelum aku panggil petugas keamanan!"


Evelyn melihatnya dalam diam, meski tangannya memegang pipinya yang berdenyut nyeri.


"Kuat juga tamparannya," batin Evelyn bersiul senang, tidak masalah dengan pipinya jika bisa melihat sekali lagi, kemurkaan akan seorang Arlan untuk wanita bernama Tania.


"Rasakan," dengkusnya masih dalam batin.


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ikuti kisah selanjutnya


Terima kasih yang sudah mendukung.


Sampai babai.

__ADS_1


__ADS_2