Bukan Salahku

Bukan Salahku
Kemarahan Riki


__ADS_3

I don’t know, what to do now that we’re apart, I don’t know how to live without the other half of my heart.


If dreaming is the only way to be with you, then I’ll never open my eyes.


Aku tidak tahu, apa yang harus dilakukan setelah perpisahan kita, aku tidak tahu bagaimana melewati kehidupan tanpa separuh hatiku.


Apabila bermimpi adalah satu-satunya cara bersamamu, maka aku tidak akan pernah membuka mataku.


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Di jalanan ramai dengan kendaraan, baik roda dua atau pun roda empat, ada salah satu kendaraan mobil berjalan dengan kecepatan luar biasa.


Seorang pria tampan, dengan rasa marah besar mengendarai mobil dengan tangan mengepal erat dan gigi menggeletuk, bahkan sesekali umpatan akan terdengar saat ia lagi-lagi ingat akan cerita sahabatnya.


Flasback on


Riki pov on


"Ada apa, Lyn. Cepat katakan?" tanyaku dengan nada tidak sabar.


"Hiks! Riki, aku dan Arlan ..."


"Ada apa?"


Aku semakin tidak sabar, saat dia menjeda kalimatnya, dengan tangisan yang membuat hatiku semakin teriris.


Aku masih memeluknya, bahkan semakin memeluknya erat, saat aku merasakan tubuhnya bergetar.


"Astaga, ada apa ini sebenarnya," batinku semakin khawatir.


"Lyn, ceritakan pelan-pelan. Aku akan mendengarnya, oke."


Aku bisa merasakan anggukan di dalam pelukanku.


Evelyn tidak pernah menangis, kecuali permasalahannya berat dan saat dia merasa benar-benar kacau.


Dan aku yakin masalahnya kali ini berat.


"Riki, Arlan ternyata punya tunangan."


"Apa?"


Seketika aku tersentak kaget, aku melepas pelukanku dan menatapnya tidak percaya, saat dia memberitahukan pokok masalahnya.


"Apa maksudnya, Lyn?" tanyaku tidak mengerti.


"Arlan sudah memiliki tunangan, bahkan ingin memutuskan Pertunangan, agar dia bisa bersama denganku, Riki."


Aku masih mendengar, saat dia menjawabku kemudian kembali bercerita.


Apa-apa'an ini!


Apa maksud Arlan melakukan ini?


"Dia bilang dia mencintaiku, dia rela memutuskan Pertunangan demi aku. Tapi kenapa dia tidak jujur, bahkan lamanya dia bertunangan, sama dengan masa dia pendekatan denganku."


Seketika amarahku memuncak, saat Evelyn menjelaskan dengan nada tergugu sedih.


Apa maksudnya mendekati sahabatku yang jelas-jelas aku sukai, jika dia sendiri sudah memiliki tunangan.


"Aku sudah memutuskan untuk melupakannya Riki,"


"Ak-aku, hiks! Sakit Riki, sakit, kenapa aku harus merasakan ini?"


"Lyn."


"Apa salahku, Riki. Apa?"


Aku hanya menatap Evelyn nanar, saat melihat batapa hancunya dia.


Evelyn baru ini merasakan jatuh cinta dan harus merasakan sakit, dipertama kali dia merasakan apa itu cinta.


Terlebih karena sepupunya.


Aku tidak bisa menjawab pertanyaannya, aku hanya bisa memeluknya kembali, saat dia terus bertanya mengenai kesalahannya.


"Sialan."


Saat ini batinku sedang mengumpat, menyerapah, dengan segala macam isi kebun binatang untuk sepupuku.


Dalam hati aku berjanji akan membuat perhitungan saat ini juga.


"Arlan sialan, bajing*n, bangs*t,"


Maka di sini aku, di depan pintu huniannya dan menunggunya membuka pintu, dengan hati panas dan siap menumpahkan segala amarahku.


Ini bukan hanya karena dia sudah menyakiti sahabatku, tapi dia juga telah menghinati kepercayaan yang aku berikan, untuk menjaga Evelyn sama seperti aku menjaganya.


Ting! Tong!


Ceklek!


"Rik-


"Sialan, pergi saja ke neraka!" seruku murka menyela ucapannya, sebelum kepalan tanganku melayang, tepat di pipi sebelah kanannya.


Buagh!

__ADS_1


Brugh!


Uhuk!


"Apa-apa'an kamu, Rik?"


Riki pov end


Sebelumnya


Kondominium Arlan


Arlan pulang dengan perasaan kacau, bahkan ia tidak ingat bagaimana ia bisa pulang, sampai huniannya dengan selamat.


Fikirannya melayang dengan ucapan Evelyn, yang menyuruhnya untuk tetap melanjutkan pertunangan.


Bagaimana ia bisa melanjutkan Pertunangan, sedangkan dirinya terlanjur mencintainya.


Ia tahu ia yang salah dengan menutupi segalanya darinya, tapi ia hanya ingin memenuhi janji matinya, kepada sang Mama yang telah berpulang.


Jika saja ia tidak bertemu Evelyn, ia yakin jika ia akan menerima begitu saja pernikahan omong kosong ini.


Tatapan mata Evelyn yang kecewa saat melihatnya, membuatnya kembali mengumpat, menyerapah akan kebodohan dan ketidaktegasannya, dalam mengambil tindakan.


Seharusnya tidak akan serumit ini, jika ia mau jujur dan meminta Evelyn bersabar menunggu, hingga pembatalan Pertunangan dari wanita itu terjadi.


Saat ini ia sedang duduk dengan dua botol beer, satu botol terbuka, sedangkan satunya lagi telah tandas.


Semenjak ia kenal dengan sang asisten, ia sama sekali tidak meminum bahkan menyentuh minuman, yang saat ini sedang diminumnya.


Tak!


"Sial."


Lagi-lagi ia hanya mampu mengumpat, saat kilasan bayangan kejadian diruangannya terlintas, seakan menari di hadapannya, meledek akan kekalutan yang ia rasakan.


"Evelyn."


Ting! Tong!


"Siapa, itu?" gumam Arlan bingung.


Dahinya mengernyit saat mendengar bell pintu huniannya berbunyi, ia merasa tidak memiliki janji dengan siapapun, lantas siapa yang datang bertamu.


Sebelum membuka pintu, ia menyempatkan diri melihat jam digital, yang saat ini menunjukan waktu delapan malam.


Berarti cukup lama ia duduk merenung, merenungi nasib percintaannya, bahkan ia pun belum mengganti pakaiannya dari pagi layaknya orang gila.


Ia pun melihat pada intercome, dengan Riki berdiri di depan pintu.


Ini sudah pasti, jika Riki datang berarti Evelyn sudah bercerita.


"Sial," umpat Arlan sebelum membuka pintu, lalu mengubah raut wajahnya seperti biasa.


Ceklek!


"Rik-


"Sialan, pergi saja ke neraka!" seru Riki dengan wajah murka menyela ucapannya, sebelum kepalan tangannya melayang.


Buagh!


Brugh!


Uhuk!


Bunyi pukulan terdengar, di susul dengan Arlan yang tersungkur, saat Riki dengan tiba-tiba memukul Arlan tepat di pipi kanannya.


"Apa-apa'an kamu, Rik?" ujar Arlan dengan tangan, mengusap sudut bibirnya yang berdarah kemudian terbatuk.


Pukulan sepupunya yang tidak main-main, berhasil membuat sudut bibirnya robek dan mengeluarkan cairan merah.


"Kamu yang apa-apa'an, bangs*t!" seru Riki murka.


"Apa masalah kamu, Riki?" tanya Arlan bangkit berdiri, kemudian menatap Riki dengan sorot mata marah.


Geep!


Muak dengan tingkah sepupunya yang sok tidak berdosa, Riki dengan geram menarik kerah kemeja yang di pakai Arlan, sebelum melayangkan lagi pukulan, yang masih sempat di tahan oleh Arlan.


"Sialan, jelaskan apa maksudnya ini, Riki!" sentak Arlan tidak terima.


Ia menangkap kepalan tangan Riki, yang hendak mencapai pipinya, kemudian mendorong paksa Riki, sehingga Riki mundur beberapa langkah.


"Jangan pura pura, Arlan. Sialan, aku sudah merelakan dia untuk kamu, lalu apa yang kamu perbuat!" seru Riki dengan nada tidak kalah tinggi.


"Ap-


"Sudah ingat?"


"Riki, aku bisa jelaska-


"Jelaskan apa lagi? Aku sudah mendengar semua dari Evelyn. Sialan, seharusnya aku lebih keras memperingati Evelyn!" sela Riki dengan nada tajam.


Riki menatap sepupunya dengan tangan mengepal, menahan kepalan yang ingin sekali ia layangkan lagi, untuk sepupu sialannya.


"Riki, ini tidak seperti yang kamu kira. Aku benar-benar cint-

__ADS_1


"Cinta? Bulshit, tidak ada cinta yang seperti ini, Arlan."


Riki terus menyela ucapan Arlan tanpa ampun, emosi mengubahnya menjadi kasar, lupa akan daratan saat dirinya sudah siap terbang membawa sepupunya ke neraka.


"Tapi aku benar-benar mencintainya, Riki. Aku tidak pernah merasa seperti ini, bahkan saat dulu rela jika saat ini juga harus membatalkan Pertunangan ini," ujar Arlan cepat, sebelum perkataannya disela dengan taham oleh sepupunya.


"Sekali baj*ngan, tetaplah baj*ngan."


Arlan diam, saat dirinya memang merasa seperti apa yang di tuduhkan sepupunya.


Ini salahnya, jadi ia mencoba menerima jika itu bisa membuatnya memiliki hak, untuk mendekati Evelyn lagi.


"Aku akan tetap bersama Evelyn, aku aka-


"Tinggalkan Evelyn, Evelyn tidak pantas untuk kamu."


"Apa maksud kamu!"


Arlan menatap tajam, saat sepupunya mengucapkan sebuah kalimat dengan nada datar, kalimat yang berisi perintah untuknya meninggalkan Evelyn, wanita yang sangat dicintainya.


"Tinggal, Evelyn. Aku rasa kamu tidak setuli itu, saat ucapanku terdengar jelas."


Grep!


"Tidak bisa, Riki. Apa hak kamu, melarang aku untuk dekat dengan dia?" tanya Arlan emosi, ganti mencengkram kerah kemeja Riki, mengguncangnya dan menatap sepupunya dengan tatapan intimidasi.


"Hak aku? Ha-ha-ha!"


Plak!


Riki menampik tangan Arlan dengan sentakan kuat, saat Arlan lengah ketika ia tertawa sarkas.


"Kamu tanya, apa hak aku?" ulang Riki dengan nada datar.


Cih!


Riki meludah sembarang, merasa lucu dengan pertanyaan sepupunya.


Arlan mengepalkan tangannya erat, menekan rasa marah saat melihat ekspresi meledek dari sepupunya.


"Sialan, apa maksudnya," batin Arlan menatap Riki dengan sorot mata emosi.


"Kamu salah bertanya, Arlan."


Arlan menatap tidak mengerti saat Riki mendengus, melirik dan tersenyum sinis, saat ia bertanya tentang hak atas Evelyn.


"Apa-


"Bahkan Evelyn sendiri yang bilang, jika dia telah melupakanmu dan tidak ingin dekat denganmu lagi."


Riki tersenyum puas saat sepupunya menatapnya tidak percaya, dengan ekspresi kecewa yang kentara.


"Tidak, kamu jangan mengada!" seru Arlan menatap Riki dengan tubuh gemetar takut.


"Apa, untuk apa aku berbohong?" balas Riki santai, tidak takut saat sepupunya menatapnya tajam.


"Evelyn tidak mung-


"Dia juga bilang, jika kamu sampai membatalkan Pertunanganmu, saat itu dia akan benar-benar meninggalkanmu."


Hati Arlan sakit dan kecewa saat nyata, jika Evelyn benar-benar menginginkan Pertunangannya terjadi.


"Aku-


"Itu saja Arlan, sorry aku pukul kamu tiba-tiba. Aku emosi, aku menyesal, saat ternyata aku sendiri yang membuat Evelyn, jatuh kedalam jerat permainanmu."


Riki berbalik, memunggungi sepupunya, yang saat ini menatapnya menyesal.


"Ingat ini Arlan, selanjutnya jangan ganggu Evelyn. Jika aku tahu, aku bukan hanya akan memukul pipimu. Tapi aku juga bisa saja membunuhmu, jadi aku saranin untuk tidak dekat-dekat Evelyn lagi. Apa perkataanku bisa dimengerti?" ujar Riki tanpa membalikkan tubuhnya, kemudian meninggalkan Arlan yang lagi-lagi emosi, namun tidak puas jika menyalurkan dengan kata-kata penuh makian indah.


Brakh!


Ting!


Bunyi lift yang terbuka, berbarengan dengan bunyi pintu ditendang bebas, dari sepupunya sebagai penyaluran emosi.


"Sialan!"


Ting!


Dan makian emosi adalah yang terakhir, sebelum lift menutup dengan Riki, yang memukul pintu lift emosi.


Buagh!


"Sialan!"


Dua pria dengan satu hubungan berstatus sepupu, sama-sama memaki atas kejadian, yang baru ini mereka rasakan.


Perselisihan, pertengkaran akan satu wanita, yang sama-sama mereka berdua cintai.


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ikuti kisah selanjutnya ...


Sampai babai.

__ADS_1


__ADS_2