Bukan Salahku

Bukan Salahku
Khawatir


__ADS_3

Waktu terasa singkat jika itu denganmu


Padahal rasanya baru kemarin aku menyembunyikan, tapi akhirnya aku mengatakannya juga.


Benar-benar cinta, membuat waktu panjang pun terasa singkat.


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


PT. TRI TUNGGAL


Sudah lebih dari seminggu dari kejadian saat Evelyn mengatakan kebenaran akan rahasianya.


Saat ini Evelyn sedang mengerjakan pekerjaannya seperti biasa, dengan jari-jari lincah mengerjakan dengan baik bagian miliknya.


Ia fokus dengan apa yang di ketiknya, melihat ke arah layar laptopnya, meski sesekali akan berhenti untuk melihat map di samping laptopnya, sekedar memastikan apa yang dikerjakannya benar atau tidak.


Evelyn tidak menyadari jika ia di perhatikan dari layar monitor, melalui cctv di layar handphone sang kekasih.


Arlan yang memperhatikan dari dalam tersenyum, meski tangannya pun tidak tinggal diam, membubuhi kertas demi kertas setelah ia periksa sekilas.


Ia tidak takut salah menandatangani dokumen, saat apa yang di tanda tanganinya lebih dulu di periksa oleh sekretaris kepercayaannya, Barly.


"Ck ... Padahal melihat setiap hari, tapi kenapa selalu kangen dan ingin peluk," decak Arlan kesal. Menggores ujung penanya dengan gemas, saat tidak habisnya kolom tanda tangan, padahal ia sudah menandatangani begitu banyak laporan.


"Shit, bisa gila."


Dengan kesal, ia melempar pena dan menekan tombol panggil pada pesawat telepon, yang ada di meja kerjanya untuk menghubungi asistennya, kekasihnya yang ada di depan sana.


Ia menunggu dengan tidak sabar, saat panggilannya masih menyambungkan.


Tut! Tut! Tu-


Klik!


"Dengan Evel-


"Masuk ke dalam."


Belum juga Evelyn menyelesaikan kalimatnya, seperti biasa Presdir dari Pt. Tri Tunggal ini akan menyelanya cepat, sehingga decakan sebalpun bisa terdengar oleh Arlan, yang hanya tersenyum tanpa beban sambil melihat ekspresi wajah Kekasihnya, melalui layar handphonenya.


"Jadi mau gigit," batin Arlan seenaknya.


"Baik."


Panggilan pun berakhir, dengan Evelyn yang masuk tanpa mengetuk pintu. Ia berjalan dengan ekspresi sebal tanpa perlu ditutupi, saat melihat ekspresi sumringah di wajah Presdirnya.


"Ada apa, Arlan. Aku sedang sibuk," ketus Evelyn tanpa sungkan, sudah biasa saat Arlan justru akan marah jika ia bersikap formal dengannya.


"Ck ... Apa seorang kekasih harus ada alasan dulu, baru bisa bertemu dengan kekasih, terlebih di kantor sendiri, heum?" sahut Arlan gemas.


Evelyn mendengkus saat mendengar perkataan tidak masuk akal kekasihnya, yang mengayunkan tangannya, memberi isyarat agar ia mendekat.

__ADS_1


Dengan terpaksa ia pun berjalan menghampiri kekasihnya, berdiri di depan meja dan lagi-lagi menuai ekspresi kesal dari kekasihnya.


"Aku sudah berdiri di hadapan kamu, Arlan," tandas Evelyn gemas, namun sayang Arlan tidak menyerah dengan kesalnya. Ia justru menepuk-nepuk kedua pahanya, dengan Evelyn yang melotot seketika.


"Ngaco! Ini kantor Arlan," seru Evelyn, dengan Arlan yang tergelak saat ekspresi kesal Evelyn yang terlihat lucu.


"Loh! Kenapa? Kan hanya duduk di sini, tidak ngapa-ngapain. Apa yang ngaco, heum?" tanya Arlan dengan senyum pura-pura polos.


"Ya tidak bisa, bagaimana kalau ada yang masuk tiba-tiba seperti kemarin?" tandas Evelyn saat ingat kedatangan Papa dari kekasihnya, Tuan Keanu Widiyo.


"Mana ada yang berani," sahut Arlan cepat.


"Tentu saja ada," timpal Evelyn tidak mau kalah.


"Siapa?" tanya Arlan dengan alis terangkat penasaran.


"Tuan Keanu," cicit Evelyn takut.


Deg!


Benar juga, jika selain Tania masih ada Papanya yang tentu saja tidak akan mudah untuk menerima keputusannya.


Tapi untuk apa ia takut, jika kendali perusahaan ada di tangannya.


Dengan senyum geli, Arlan pun berdiri dari duduknya, menghampiri Evelyn yang mengikuti setiap langkah yang dibuat olehnya.


"Ar," gumam Evelyn saat melihat Arlan melangkah dan berdiri di belakangnya.


Memeluk dari belakang leher Evelyn, Arlan membawa dagunya di kepala kekasihnya, yang hanya terdiam di pelukannya.


"Dengar ini, Schatz. Aku tidak perduli dengan siapa pun, karena yang aku tahu, kamu adalah segalanya untukku. Jangan pernah berpikir yang melebihi kapasitasmu, cukup pikirkan tentang aku. Selebihnya biar aku yang memikirkan cara ini dan itu, apa kamu paham, heum?"


Evelyn tersentak kaget saat ia mendengar bisikan tegas dari Arlan, yang memeluknya semakin erat dari belakang.


Sebenarnya ia ingin sekali menceritakan tentang mendiang ibunya, dengan Arlan yang pasti akan membantunya. Tapi ia masih ragu, saat dulu ia mengatakan alasan ia yang ingin balas dendam.


Ia hanya bilang jika ia merasa marah, saat Tania dulu menamparnya, mengambil Arlan dari sisinya, padahal masih ada alasan lain selain itu.


"Huft ... Apa aku harus bercerita," batin Evelyn bimbang.


Setelah menghela napasnya, Evelyn pun membalikkan tubuhnya menghadap Arlan yang melihatnya bingung.


"Maaf," cicitnya tanpa melihat ke arah Arlan.


"Kenapa minta maaf?"


"Aku seharusnya tahu, jika kamu pasti akan melindungiku," gumam Evelyn, baru kemudian melihat Arlan, yang saat ini memasang senyum lembutnya.


"Tentu saja," sahut Arlan cepat.


Evelyn memeluk Arlan, dengan Arlan yang membalas pelukan Evelyn semakin erat.

__ADS_1


Saat masih dengan acara pelukannya, mereka di kagetkan dengan dering handphone, yang berasal dari handphone milik Arlan, yang sengaja di letakkan di meja kerjanya.


"Ada telpon kamu, tuh," gumam Evelyn menjauhi wajahnya yang tadi ada di dalam dekapan dada Arlan.


"Ck ... Ganggu saja," gerutu Arlan, membuat Evelyn terkekeh saat Arlan melepasnya dengan tidak ikhlas.


Evelyn melihat dengan senyum kecil, saat Arlan menghampiri meja dan menerima panggilan dengan ekspresi kesalnya.


Tut!


"Hn."


"Arlan, bisa kita bertemu?"


Diam.


Arlan terdiam saat mendenat suara seorang wanita di ujung telepon sana. Ia tahu dengan jelas siapa yang saat ini sedang menghubunginya.


Keterdiaman Arlan, membuat Evelyn mengernyit heran.


"Ada apa?" tanya Evelyn dalam hati. Namun ia hanya diam, saat melihat ekspresi berbeda lagi dari Arlan di depannya saat ini.


"Hn."


Tut!


Panggilan pun berakhir, Arlan melihat Evelyn dengan senyum kecil saat Evelyn menatapnya penasaran.


"Tidak ada apa-apa, kamu tenang saja. Aku nanti tidak bisa lama-lama mengantarmu pulang. Ada yang harus aku lakukan," jelas Arlan tanpa Evelyn bertanya.


Evelyn hanya menganggukkan kepalanya, menerima saat kekasihnya bilang seperti itu. Ia tahu jika kekasihnya orang yang sibuk dan memiliki privasi, jadi ia tidak bisa memaksa dan ingin tahu, jika kekasihnya bilang tentang sesuatu yang harus di lakukan, kerena artinya itu adalah masalah pribadi.


"Baik, aku mengerti," balas Evelyn dengan senyum kecil.


"Aku akan menghubungimu, jika sudah selesai. Oke," tambah Arlan, agar kekasihnya tidak khawatir dengan apa yang akan dikerjakan nanti olehnya.


"Um ... Aku tunggu."


Evelyn pun menerima lagi pelukan Arlan, dengan Arlan yang berpikir tentang urusannya nanti.


"Arlan aku ingin bertemu, aku ingin membicarakan suatu hal, penting. Aku harap kamu akan datang."


Ya ... Panggilan tadi adalah panggilan dari Tania, yang mengajaknya bertemu dengan urusan yang katanya penting.


"Sepenting apa sebenarnya," batin Arlan gelisah.


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ikuti kisah selanjutnya, terima kasih dan sampai babai.

__ADS_1


__ADS_2