Bukan Salahku

Bukan Salahku
Kode Dari Seorang Arlan


__ADS_3

Aku pernah bertanya, jika dunia sudah tidak memihakku, lantas siapa yang akan membelaku.


Dan bukankah sudah aku menjawab.


Jika dunia tidak memihakmu, maka aku lah yang akan selalu disisimu, serta memihakmu dengan segenap jiwaku.


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Di dalam sebuah mobil, milik dari Presdir Pt. Tri Tunggal. Ada Arlan, yang mengendarai mobilnya santai dengan Evelyn duduk manis di sampingnya.


Seperti biasa lagu dengan instrumen saksofon mengiringi perjalanan mereka, kali ini instrumen __Nothing gonna chance my love for you.


Saat ini mereka sedang di perjalanan menuju tempat, yang kata Arlan sudah di siapkan untuk mereka makan malam.


"Apakah masih jauh, sayang?" tanya Evelyn disela-sela ia mendengarkan musik, padahal mereka baru saja keluar dari kost-an, sekitar sepuluh menit yang lalu.


"Tidak juga, tapi tidak dekat juga."


Jawaban dari kekasihnya yang tidak jelas, membuat Evelyn mengernyitkan dahi bingung.


"Apa maksudnya, sayang?" tanya Evelyn, menatap Arlan dengan ekspresi bingung yang kentara.


Sebelum menjawab pertanyaan sang kekasih, Arlan membawa tangannya untuk hingga di kepala kekasihnya, kemudian mengusap sayang dengan sesekali melihat ke arah kekasihnya.


"Maksud aku, sabar Schatz," sahut Arlan dengan nada geli di akhirnya, kemudian terkekeh saat mendapat pukulan sayang di lengannya.


"Reseh, tinggal jawab masih lama aja, susah banget," gumam Evelyn sebal, menggerutu saat kekasihnya hanya terkekeh santai.


"Oke, jangan ngambek. Sebentar lagi kok, kamu tenang saja. Lagian bukannya enak, menghabiskan banyak waktu dengan aku seperti ini. Heum?" goda Arlan saat melihat ekspresi kesal, namun lucu dari kekasihnya yang saat ini sedang tersenyum malu.


"Apa sih. Siapa juga yang mau habisin waktu dengan kamu," dengkus Evelyn sambil melengoskan wajahnya ke arah lain.


"Dih ... Ada yang sedang berbohong, awas hidungnya nanti panjang loh," ujar Arlan semakin menggoda sang kekasih, yang akhirnya terkekeh dengan manisnya. Membuatnya ikut terkekeh, kemudian tangannya beralih menggengam tangan sang kekasih, yang dibalas dengan genggaman juga.


"Apa sih," gumam Evelyn dengan wajah menoleh ke arah luar, melihat bagaimana hiruk pikuk kota di malam hari.


Arlan tergelak saat melihat sendiri, bagaimana lucunya tingkah dari kekasihnya. Ia meyakini diri, jika ekspresi yang saat ini sedang di tampilkan kekasihnya adalah murni, ekspresi yang datang dari hati.


Tidak dapat di pungkiri, senyum natural bahkan senyum buatan pun jika itu dari kekasihnya, baginya adalah pemandangan yang indah.


Tidak lama kemudian, mobil yang di kendarai oleh Arlan pun sampai, di area parkir restoran yang sudah di pesan oleh Arlan sebelumnya.


Arlan turun lebih dulu, berjalan sedikit cepat untuk menghampiri pintu penumpang, membukakan pintu untuk kekasihnya dengan tangan terulur.


Dari arah dalam mobil, Evelyn menerima uluran tangan Presdir yang adalah kekasihnya juga. Ia tersenyum manis sebagai ganti ucapan terima kasih, kemudian berdiri tegap di hadapan kekasihnya.


"Masuk yuk!" ajak Arlan, sebelum menggenggam tangan Evelyn, menuntunnya memasuki area restoran.


Mereka masuk di sambut pelayan, menyapa mereka dengan ramah serta tubuh membungkuk sebagai salam hormat.


Evelyn sudah beberapa kali di ajak makan di restoran mahal, tapi baru ini ia merasa spesial saat ia menatap sekeliling, nyaris hiasan tumbuhan mengelilingi tempat meja makan dengan dua kursi di hadapannya.



"Ar," gumam Evelyn, menatap depan dengan mata berkaca-kaca senang.


"Heum ... Duduk yuk."


Arlan pun menuntun Evelyn, mendudukkan kekasihnya setelah ia menarik kursi untuk kekasihnya. Kemudian setelah memastikan sang kekasih duduk nyaman di kursinya, ia pun berjalan ke arah kursi lainnya untuk duduk berhadapan dengan sang kekasih.


"Arlan, ini, ini sangat romantis," ucap Evelyn memandang kekasihnya dengan senyum haru.


Arlan tersenyum dengan hati, membuat ketampanannya berkali lipat bertambah, di penglihatan Evelyn saat ini.


Dengan hati berdegup kencang, Evelyn semakin merasa akan menyerah akan perasaan dirinya untuk Arlan.


Ketulusan Arlan dalam menjalani hubungan dengan beberapa waktu ini, semakin membuatnya merasa bersalah. Ingin mengakhiri namun ia masih ingin melihat wanita itu marah, terlebih ia belum menemukan jalan untuk menghancurkan perempuan tua satunya.


"Tuhan, beri aku petunjuk-Mu, aku mohon," batin Evelyn sedih, membuat Arlan yang melihatnya merasa sakit, saat tahu jika saat ini kekasihnya sedang merasakan sesuatu, yang ia sendiri yakini jika itu menyangkut dengan hubungan mereka.


Tidak ingin membuat makan malam romantis mereka terganggu, ia pun menepuk punggung tangan sang kekasih, berpura-pura tidak tahu jika sang kekasih sedang sedih.


Puk!


Evelyn tersentak kaget, memandang Arlan dengan ekspresi bingung, yang dibalas dengan tatapan dan senyum teduh olehnya.


"Siap makan malam?" tanya Arlan tidak ambil pusing, saat Evelyn menatapnya tidak fokus.

__ADS_1


Evelyn mengangguk semangat, berusaha menampilkan senyum terbaiknya, senyum yang ia harap bisa membuat kekasihnya tidak curiga, tanpa tahu jika memang kekasihnya bahkan sekarang sedang mengikuti arus permainannya.


"Mau makan yang banyak!" seru Evelyn bercanda, menuai dengkusan dari Arlan yang mengusap sisi wajahnya lembut.


"Sayang sekali, porsi restoran tidak sesuai dengan ekspektasi," timpal Arlan balas dengan candaan, membuat Evelyn pun tergelak dengan apa yang di ucapkan sang kekasih, ucapan yang benar adanya.


Makan malam mereka datang saat Arlan menepuk tangannya sebagai tanda, karena sebelumnya Arlan memang sudah memesan tempat, lengkap dengan makanan yang akan mereka konsumsi.


Dengan mata berbinar senang, Evelyn menatap makanan yang tersaji dan Arlan bergantian, saat menu yang disajikan sungguh sangat menggugah selera.



"Sepertinya enak," ucap Evelyn dengan menelan liur menahan rasa lapar.


"Kalau begitu di makan, Schatz."


"Boleh aku makan?" tanya Evelyn menggoda sang kekasih, yang lagi-lagi mendengkus ke arahnya.


"Guten Appetit, Schatz. (Selamat makan, sayang)"


"Umh ... Danke liebe, (Terima kasih)" gumam Evelyn, kemudian memakan makanan.


Ia dengan anggun memotong potongan daging sapi tenderloin, menjadikannya potongan kecil dan memasukkan ke dalam mulutnya dengan kunyahan pelan, berbeda sekali dengan cara makan saat di tempat lainnya.


Arlan menikmati setiap apa yang di lakukan oleh kekasihnya, dari cara memotong hingga mengunyah, tidak satu pun ia lewatkan dengan mata tajamnya.


Merasa di tatap sedemikian rupa, Evelyn pun balas menatap kekasihnya dengan pandangan bertanya.


"Ada apa, sayang?" tanya Evelyn menghentikan acara makannya. Kini ia menatap secara penuh, kepada Arlan yang menatapnya juga dengan gelengan kepala pelan.


"Tidak, kamu lanjutkan makan kamu," elak Arlan, memasukkan potongan daging ke dalam mulutnya juga.


Evelyn mengangguk dan melanjutkan makannya, sambil berbincang dengan Arlan yang akan menanggapinya antusias.


Makanan inti sudah tandas, berpindah ke dalam perut mereka. Kini saatnya makanan penutup dengan Arlan, yang memesankan chocolate lava cake, makanan manis kesukaan kekasihnya.


"Aku bisa gemuk, kalau kamu kasih aku makanan banyak seperti ini," gumam Evelyn disela-sela makan hidangan penutupnya.


"Aku sengaja, jadi tidak akan ada yang melirik kamu lagi," sahut Arlan santai, membuat Evelyn mencebil namun tetap memasukkan potong kue ke dalam mulutnya.


"Katanya takut gemuk," goda Arlan.


"Mubazir, sayang," balas Evelyn tidak peduli.


Arlan lagi-lagi tergelak, sambil meminum red wine di tangannya, menyesap perlahan menikmati rasa manis di lidahnya.


Teringat akan kejadian tadi siang, Arlan berpikir sejenak saat ia bimbang, mengenai tindakannya.


Dirinya saat ini sedang berperang dalam batin, memutuskan untuk memberi tahu atau tidak akan rencananya.


"Tidak, aku harus memberi tahu Evelyn, dia berhak tahu, agar dia bisa menyusun sendiri rencananya," batin Arlan, akhirnya memutuskan untuk memberitahukan tindakannya.


"Evelyn," panggil Arlan, ia meletakkan gelas di tangannya dan menatap Evelyn dengan serius, sehingga Evelyn pun balik menatap Arlan dengan ekspresi serius.


"Iya?"


"Evelyn, aku tadi siang menemui Tania," ujar Arlan tanpa nada, dengan lugas menjelaskan apa yang sudah dilaluinya.


Deg!


Evelyn tersentak kaget, saat mendengar sendiri jika kekasihnya menemui tunangan dari kekasihnya sendiri.


Ia menatap dengan sedikit kecewa, saat Arlan berbohong tentang kepergiannya tadi siang.


"Tidak, aku tidak boleh egois," batin Evelyn, kemudian memasang wajah biasa.


"Lalu, kenapa sayang?" tanya Evelyn dengan senyum kecil, menyembunyikan rasa tidak relanya.


"Aku yakin Tania sangat senang, dengan kedatangan Arlan," batin Evelyn berkecambuk.


"Aku bilang, jika aku akan menikahinya-


"Apa!"


Belum juga Arlan menyelesaikan ucapannya, Evelyn sudah menyelanya dengan pekikan kaget yang kentara, pekikan akan rasa kecewa yang tidak sempat di tahannya.


Jantung Arlan diam-diam berdenyut nyeri, saat mendengar dan melihat sendiri ekspresi kaget kekasih hatinya. Tapi sekali lagi ia meyakinkan diri, jika ini adalah cara yang pas setelah ia melanjutkan apa yang akan ucapkannya.

__ADS_1


"Aku belum selesai, Evelyn."


Evelyn menatap tidak percaya, dengan Arlan yang dengan santainya berbicara seperti itu kepadanya.


Meskipun dalam hati ia membenarkan ucapan sang kekasih, karena bagaimana pun mereka adalah pasangan tunangan, tapi tetap saja dalam hatinya ada bagian tidak menerima kenyataan.


"Aku belum selesai, dengarkan aku," lanjut Arlan saat Evelyn hanya terdiam, memandangnya dengan pandangan kecewa.


"Lanjutkan, Arlan."


Nada datar dari Evelyn, tanpa panggilan sayang untuknya, membuat Arlan menghela napas diam-diam.


"Oke, ini yang terbaik. Semoga kamu mengerti, Evelyn," batin Arlan menatap sungguh-sungguh kekasih dan pemilik hatinya.


"Aku hanya menikahi Tania karena perusahaan, tanpa cinta di dalamnya. Dan aku juga sudah memberitahukan, jika aku hanya akan mencintai kamu, serta akan menikahimu juga secara terbuka."


Evelyn menatap semakin tidak percaya, apa yang di ucapkan oleh kekasihnya.


Apa ini, apa ini artinya ia benar-benar akan menjadi si nomer dua, meski ia yakin jika ia adalah yang di cintai oleh Arlan.


Atau ...


Arlan sedang membuka banyak cara, agar dirinya semakin memiliki peluang menyakiti wanita itu.


"Kamu akan menikahiku?"


"Dengan segera."


"Dan kamu juga akan menikahiny-


"Hanya kamu yang aku cinta, dia hanya untuk melebarkan kekuasaan akan kerajaan bisnisku. Selamanya akan seperti itu," sela Arlan cepat. Mengeraskan hati, tidak perduli jika di anggap berengs*k oleh kekasihnya.


"Tania setuju?" tanya Evelyn lagi, dengan nada getir terjabak akan perasaannya sendiri.


"Tentu saja tidak," sahut Arlan cepat, membuat Evelyn lagi-lagi tersadar jika apa yang sedang ia khawatirkan hanyalah kekhawatirannya semata.


"Ini hanya akal-akalan kamu, untuk membuatnya menyerah?" tanya Evelyn masih dengan rasa sakitnya, yang berganti menjadi helaan napas saat mendapatkan jawaban selanjutnya.


Arlan hanya menjawabnya dengan bahu terangkat, serta senyum miring yang paling ia suka.


Astaga! Jantungnya hampir saja lepas, saat membayangkan jika ia benar-benar akan menjadi si nomor dua.


"Aku yakin, ada maksud tertentu saat Arlan melakukan itu," batin Evelyn menatap kekasihnya, yang kembali menikmati red winenya.


Makan malam yang romantis tetap berlanjut, meskipun ada pembahasan yang membuat Evelyn kesal dan senang di saat bersamaan.


Kesal jika Tania tidak menyerah dan menerima syarat dari kekasihnya, lalu senang jika ia berhasil membuat Tania merasakan pilihan sulit dengan keputusannya sendiri.


Akan jadi dua belah mata pedang yang saling menyakiti, jika apa yang di rencanakan oleh Arlan terjadi.


Satu sisi Tania akan merasakan bagaimana menikah tanpa cinta, dan satu sisi ia yang akan merasa seperti perebut sungguhan.


Ia hanya berharap, jika kedua pilihan ini tidak ada yang terjadi. Sehingga ia bisa memenangkan permainan ini mutlak, tanpa ada bagian dirinya yang merasa di rugikan.


Skip



Di depan kost-annya, Evelyn berdiri berhadapan dengan sang kekasih, yang memeluknya erat seraya berbisik lirih, bisikan yang membuatnya kaget dengan mata melotot tidak percaya.


"Lepaskan semua dendammu, mengadulah padaku, maka akan aku pastikan jika apa yang kamu mau, semuanya akan terpenuhi tanpa terkecuali."


Dengan ciuman singkat di keningnya, Arlan pun meninggalkan Evelyn tanpa menengok lagi.


Yah ... Meninggalkan Evelyn, yang menatap udara kosong dengan tidak percaya.


"Arlan."


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ikuti kisah selanjutnya ...


Jangan lupa dukungnya 🤣


Sampai babai.

__ADS_1


__ADS_2