
Saat manusia sudah tidak memiliki daya lagi, apapun akan dilakukan.
Seperti meminta belas kasih, saat dulu memasang pagar dengan dalih harga diri.
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Kost-an Evelyn
Di depan gerbang kost yang disewa oleh Evelyn, ada Evelyn dan Arlan yang masih berada di dalam mobil milik Arlan.
Membuka seat belt yang melilit tubuhnya, Evelyn menghadap ke arah kekasihnya, saat sudah selesai membukanya.
"Nggak turun dulu?" tanya Evelyn, menatap sang kekasih dengan ekspresi sedikit muram, karena biasanya tanpa disuruh, kekasihnya akan dengan sendirinya turun dan mengekor di belakangnya hingga depan pintu kamarnya.
Arlan menggelengkan kepalanya, tersenyum menenangkan sehingga Evelyn pun hanya mampu menghela napas diam-diam, baru kemudian membalas senyum sang kekasih dengan senyum tipis.
"Maaf, lain kali yah," sesal Arlan, mengusap sisi wajah Evelyn yang ikut menangkap tangan besar Arlan, untuk di kecupnya pelan.
Perlakuan yang baru ini Evelyn lakukan, saat dulu ia tidak berani melakukannya, jika itu bukan Arlan yang memulai.
Sontak Arlan merasakan perasaan senang luar biasa, karena merasakan kecupan lumbut di tangannya dari sang kekasih, yang saat ini menatapnya sayang.
"Tidak apa-apa. Kamu hati-hati di jalan, oke."
Dengan segera Arlan membawa Evelyn untuk masuk ke dalam dekapan hangatnya. Entah kenapa ia merasa jika akan ada hal tidak terduga, yang akan menimpa mereka saat ia meninggalkan dan pergi menemui tunangannya.
Namun sekali lagi ia tepis, ia berpikir positif, jika apa yang akan disampaikan oleh tunangannya nanti, bukanlah hal yang akan membuatnya terkena serangan jantung mendadak.
"Hum ... Tentu saja, kamu tenang saja, oke," bisik Arlan membalas ucapan Evelyn, masih dengan memeluk tubuh Evelyn erat.
Setelah dirasa cukup, Arlan pun mengurai pelukannya, menatap sayang Evelyn yang tersenyum kecil untuknya.
"Ich liebe dich, Baby, (Aku menyayangimu, sayang)" gumam Arlan, kemudian mengecup kening Evelyn dan mengadu dahinya dengan dahi Evelyn, yang balas dengan membawa telapak tangannya, untuk mengusap pipi Arlan lembut.
"Ich auch, (Aku juga)" lirih Evelyn.
Memutuskan untuk menyudahi acara melownya, Arlan pun memundurkan wajahnya dan membawa tangannya untuk menepuk kepala Evelyn pelan.
Puk! Puk! Puk!
"Istirahat yang benar, nanti aku hubungi jika aku sudah selesai. Oke," perintah Arlan, dengan Evelyn yang mengangguk pelan.
"Oke."
Evelyn pun turun dari mobil milik Arlan, melambaikan tangannya hingga mobil putih milik kekasihnya tidak terlihat lagi.
"Aku memang mencintaimu, sekali pun dulu aku selalu mengelaknya," batin Evelyn tersenyum kecil, baru kemudian memasuki halaman kost-nya.
Kembali pada Arlan, yang saat ini sedang mengendarai mobil kesayanganya, dengan perasaan aneh saat memikirkan apa yang akan terjadi, di pertemuannya nanti dengan tunangan, Tania.
"Sebenarnya, apa yang ingin dibahasnya lagi," gumam Arlan bingung. Ia meletakkan telapak tangannya di kening, mengurutnya pelan dan kemudian menyugar rambutnya ke belakang.
"Penting? Bikin penasaran saja," dengkusnya kemudian.
Sekitar lima belas kemudian, ia pun sampai di tempat sudah yang diberi tahu oleh Tania sebelumnya. Sebuah apartemen mewah, tempat biasa kalangan jetset tinggal.
Ia turun setelah memarkirkan mobilnya, di bagian tamu dan berjalan santai ke arah lobby apartemen.
Tanpa bertanya, Arlan terus berjalan dan berdiri tepat di depan pintu lift yang terbuka.
Memasuki lift dan menekan tombol sepuluh, pintu pun tertutup menuju ke atas,ke lantai di mana Tania tinggal.
__ADS_1
Sebenarnya ia baru tahu ini, jika Tania tinggal terpisah. Karena setahunya, Tania masih tinggal dengan kedua orang tuanya, Kana dan Farid.
Ting!
Kakinya melangkah lagi, berjalan menuju pintu kamar paling ujung dengan nomor 1005.
"Ini kamarnya," monolog Arlan, kemudian mengangkat tangannya untuk menekan bel dan menunggu pintu di buka.
Ting! Tong! Ting! Tong!
Ceklek!
Pintu terbuka, dengan Tania yang menatapnya dengan binar senang.
"Arlan! masuk, yuk," seru Tania senang, membuka lebar pintu dan mempersilakan tunangan yang ia cintai, untuk masuk ke dalam apartemen, yang baru ia tempati beberapa bulan ini.
"Hn."
Tanpa permisi, Arlan pun melangkahkan kakinya, memasuki hunian milik Tania dan berdiri di tengah-tengah ruang tamu.
"Duduk dulu, baru aku jelaskan maksudku," titah Tania, dengan Arlan yang menurut saja. Ia tidak ingin memperpanjang masalah, sehingga akan membuatnya lama di sini.
Tania duduk bersebrangan dengan Arlan, yang duduk dengan bertopang kaki santai. Pose elegan khas seorang Arlan, dengan karisma yang dimilikinya.
"Jadi, apa yang ingin kamu katakan, Tania?" tanya Arlan to the point, saat ia menunggu sedikit lama, sedangkan ia berjanji dengan sang kekasih untuk menghubungi segera.
"Tidak sabar sekali, apakah kamu sibuk?" tanya Tania, alih-alih menjawab pertanyaan Arlan yang saat ini berdecak kesal dalam hati.
"Bukan urusanmu, jawab saja pertanyaanku," tandas Arlan dengan nada dingin.
Tania harus menahan rasa kesalnya, dengan hati mengingatkan berulang untuk tidak termakan emosi.
"Sabar, aku harus sabar," batin Tania, kemudian tersenyum kecil. Menatap Arlan dengan sorot mata tidak peduli, tepatnya berusaha tidak peduli.
Arlan diam saja, tidak menanggapi apa yang dikatakan oleh Tania. Sedikit menyesal, karena ia dengan mudahnya mengiyakan ajakan pertemuan, yang katanya penting namun malah menghabiskan waktunya.
"Tapi setidaknya minum dulu, minuman yang sudah aku siapkan. Akan sangat tidak sopan, jika tamu tidak meminum minuman dari Tuan rumah," lanjut Tania dengan nada pura-pura kecewa.
Arlan tidak menjawab, tapi meminum dengan segera minuman sejenis red wine tanpa ada sedikit pun rasa curiga, sedangkan Tania tersenyum miring yang tertutup saat ia juga meminum minumannya.
"Baiklah, langsung saja intinya ..."
Tania melanjutkan kalimatnya, setelah melihat sendiri tunangannya meminum minum yang disiapkannya. Tapi ia juga menggantung ucapannya dengan sengaja, membuat Arlan semakin penasaran dengan apa yang akan didengarnya.
"Sialan, sebenarnya apa yang akan dikatakannya," batin Arlan kesal dan tidak sabar.
"Arlan, aku menyetujui perjanjianmu dulu. Untuk menerima pernikahan, dengan kamu yang menikahi Evelyn juga."
Deg!
"Apa?"
Seketika pupil mata Arlan melebar, saat mendengar sendiri urusan yang katanya penting dari Tania.
"Apa-apaan ini!" serunya dalam hati.
Jantungnya berdetak cepat, antara takut dan menyesal telah membuat kesepakatan bodoh ini.
Dalam hati ia mengumpati dirinya sendiri, saat rencana yang katanya bagus malah menjadi simalakama untuknya.
Kenapa disaat Evelyn sudah jujur dengan kebohongannya, cobaan ini datang lagi.
__ADS_1
Kenapa disaat seperti ini, Tania menerima syarat pernikahan darinya.
Masih memandang tidak percaya ke arah Tania, Arlan bertambah syok saat mendengar tawa senang dari Tania, yang merasa jika dirinya telah kalah.
Pusing tiba-tiba datang menyerang, saat ia melihat bagaimana Tania tertawa akan ucapan yang tadi didengarnya.
Ha-ha-ha!!
"Akhirnya kita akan menikah, Arlan. Aku tidak peduli, dengan kamu yang akan menikahi perempuan j*lang itu. Aku tidak peduli, Arlan. Sekalipun aku tidak bisa memilikimu, akan aku pastikan jika perempuan itu juga tidak akan bahagia karena menikah denganmu."
Ha-ha-ha!!!!
Setelah mengucapkan hal gila menurut Arlan, Tania kembali tertawa dengan senangnya, melihat Arlan yang menampilkan raut wajah pias, saat rencana tidak diduganya menjadi boomerang untuknya.
"Ukh! ... Sialan, kenapa rasanya pusing sekali."
"Bulan depan, pernikahan kita akan dilaksanakan bulan depan. Bagaimana, Arlan?" ujar Tania dengan nada manis dibuat-buat.
Arlan mendengar sambil menahan pusing yang datang tiba-tiba, dengan mata kabur saat melihat Tania yang masih tertawa di hadapannya.
Ha-ha-ha!!!
"Ukh ... Ada apa ini, pusing sekali."
"Kita ak-
"Tidak!"
Arlan segera berdiri dari duduknya, menyela dan menatap Tania nyalang. Tapi belum juga ia mengucapkan apa yang akan ingin di sampaikan, kegelapan lebih dulu menyambutnya.
Dan yang terakhir ia dengar adalah tawa Tania, dengan kata-kata yang semakin kabur di pendengarannya.
"Kita akan menikah, namun tanpa ada Evelyn ditengah-tengah kita."
Brukhhh!.
Deg!
Prang!
"Astaga!"
Di tempat lain, tepatnya di kamar milik Evelyn, terdengar pekikan dan juga gelas yang tiba-tiba jatuh, padahal jelas sekali jika Evelyn memegangnya dengan erat.
"Uh! Ada apa ini, kenapa tiba-tiba gelasnya jatuh. Tanganku bahkan tidak licin sama sekali," gumam Evelyn bingung.
Ia pun berjongkok, memunguti satu per satu pecahan gelas dan berjengkit kaget, saat merasakan goresan pada jari manisnya.
Cras!
"Aw!"
Setitik darah keluar di ujung luka goresnya. Evelyn pun memutuskan untuk melanjutkan lagi acara memunguti pecahan gelas, membuangnya di tong sampah, baru kemudian mengobati lukanya.
"Ada apa sebenarnya," gumam Evelyn takut.
"Arlan juga, katanya akan menghubungiku. Kenapa sampai sekarang belum ada kabarnya," lanjutnya gelisah.
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Ikuti kisah selanjutnya ....
Terima kasih. Sampai babai.