
Bab 28
“Ah, ya ini lukisanmu sudah bagus sekali Bila, tapi akan lebih baik jika seperti ini” Abi mencontohkan beberapa teknik cara melukis dengan baik, Bila memperhatikannya dengan seksama, lalu mencoba untuk mengikuti petunjuk Abi, mereka begitu fokus dengan kegiatannya, hingga tidak menyadari ada sosok makhluk yang tengah kesal, dan kini makhluk tersebut tengah menatap keduanya dari kejauhan.
Naina mengedikkan bibirnya kesal kala melihat Abi tengah mengajari Bila, gadis cantik itu terlihat tengah tersenyum malu-malu melirik Abi, Naina juga melihat Bila sempat curi-curi pandang pada suaminya.
“Emang cocok banget mereka! Yang satu budeg yang satu ganjen!” Naina menghentakkan kakinya di lantai, merasa kesal sendiri, tapi tidak tahu kesal karena apa.
“Non Naina mau jadi dibuatkan rujak?” tiba-tiba Bibi datang membuat Naina terjingkat kaget.
“Ngagetin aja sih! Nanti kalau Gue mau, Gue pasti langsung teriak kok” Naina kembali memperhatikan kedua insan yang tengah asyik berdiskusi di seberangnya, membiarkan Bibi pergi setelah geleng-geleng kepala merasa heran.
Naina meneliti penampilan Bila dengan seksama, gadis itu masih muda, terlihat cantik, cerah dan ceria, gadis itu juga murah senyum dan sedikit pemalu, kulitnya putih, hidung mancung, juga memiliki bulu mata lentik, hingga ketika mata berbinarnya mengedip gadis itu terlihat cantik, Naina mencebikkan bibirnya, kala melihat penampilannya sendiri yang sangat berantakan, bagaikan induk singa selesai berperang.
Naina meraba rambutnya sendiri yang terlihat sangat lepek, berbeda dengan rambut Bila yang terlihat lurus, hitam, lembut berkilau, juga tercium bau wangi yang menenangkan.
“Gue butuh salon!” Naina kembali melempar keripik kentang yang berada di tangannya, matanya kembali fokus pada televisi dihadapannya, dengan sengaja Naina membesarkan volume tv nya, hingga Abi dan Bila yang membutuhkan fokus tinggi kini merasa begitu terganggu.
“Apa Mas?” Bila mencoba mendekatkan wajahnya pada Abi kala pendengarannya sulit menangkap suara Abi karena kurang fokus, Bila sedikit melirik pada Naina yang tengah ongkang kaki sambil makan cemilan, terlihat sangat berantakan, karena remahan cemilan dan bungkus bekasnya tercecer dimana-mana.
“Sebentar ...” Abi menghela napas, lalu beranjak mendekati Naina dengan sabar.
“Na? Bisa kecilkan tv nya sedikit? Kita sulit berkonsentrasi jika berisik begini” Abi berkata dengan lembut, namun Naina segera menatapnya tajam, sangat tajam.
“Gak bisa! Gue nyaman kayak gini! Lagian anak Lo juga suka” Naina tidak peduli, perempuan itu kembali menatap tivi, meskipun tatapannya kabur kemana-mana.
Abi menghela napas, berniat mengalah saja daripada harus memancing keributan, Abi melangkahkan kakinya beranjak meninggalkan Naina, namun ...
“Abi!” teriakan Naina membuat langkah Abi urung, dan kembali berbalik.
__ADS_1
“Iya Na, kamu gak perlu teriak sekencang itu, aku bisa denger kok” Abi berkata dengan lembut.
“Anak Lo mau rujak! Bikinin sekarang juga!” Naina masih ketus berkata.
“Oke, mau rujak apa?” Abi dengan sabar bertanya.
“Rujak salak! Tapi salaknya jangan yang ujungnya monyong, harus yang bulet! Bener-bener bulet, ngerti kan?” Naina melirik sinis.
Abi menghela napas berat, Ia tahu Naina hanya ingin mengerjainya saja.
“Na, susah nyari salak yang bulet, lagian sejak kapan salak bisa dijadikan rujak?” Abi bertanya lembut, berharap sang istri mau mengganti keinginannya, namun ...
“Lo nolak? Lo gak mau wujudin ngidam Gue? Eh ini anak Lo yang mau ya! Bukan mau Gue!” Naina sudah meradang, gadis itu terlihat begitu kesal dengan wajah ditekuk sempurna.
“Oke, sebentar aku minta tolong dulu sama Pak Toto” Abi meraih ponselnya, berniat meminta tolong pada satpam depan rumahnya.
“Ini anak Lo atau anak si Toto? Anak ini maunya Bapaknya yang langsung cari!” dengan mata melotot Naina kembali membentak, membuat Abi kembali mengurungkan niatnya, tangannya kembali terhenti setelah akan menekan beberapa nomor.
“Kalau begitu aku ikut Mas Abi aja” Bila yang sedari tadi tidak kuat memperhatikan perdebatan suami istri tersebut segera menyela.
Mata Naina kembali membulat, amarahnya kini sudah ada di ubun-ubun.
“Gak bisa! Lo gak boleh ikut!” Naina segera menolak.
“Loh? Kenapa?” Bila mengerutkan keningnya heran. Sementara Abi lebih memilih diam memperhatikan.
“Karena, karena ... ya gak boleh aja! Emang Lo mau disebut pelakor?” kini tangan Naina sudah berkacak pinggang, tingkah dan ucapannya membuat Abi dan Bila terbelalak kaget.
“Pe pelakor? A aku ini a adiknya Mas Abi, kenapa aku disebut pelakor?” Bila menundukkan wajahnya, matanya berkaca-kaca, membuat Abi merasa tidak enak.
__ADS_1
“Sudah Na, kamu jangan keterlaluan” Abi menengahi dengan lembut.
“Bila ini sudah kuanggap seperti adikku sendiri, kenapa kamu bersikap berlebihan?” Abi masih berusaha sabar.
“Berlebihan Lo bilang? Ck! Emang kalian cocok jadi pasangan selingkuh!!” Naina menghentakkan kakinya kesal! Lalu segera pergi beranjak menuju kamarnya, bantingan pintu yang cukup kuat membuat Bila terperanjat kaget, kini Bila sudah menangis tanpa suara, membuat Abi kian merasa tidak enak.
“Tolong maafkan tingkah Naina ya Bil, maklum Naina tengah hamil, jadi emosinya suka naik turun” Abi tersenyum menenangkan, lalu segera membawa Bila keluar rumahnya.
“Aku antar kamu pulang, lain kali kalau Bila ada yang ingin ditanyakan lagi, sebaiknya kita bertemu di galeri saja” Abi menyarankan, dan diangguki Bila.
“Mas Abi serius mau nyari salak yang bulet aja?” Bila melirik pada Abi yang tengah fokus menyetir.
“Ya mau bagaimana lagi? Istriku ngidam, jadi harus dituruti” Abi menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Bunyi notifikasi ponsel Abi membuat Abi dan Bila melirik ponsel yang tergeletak diatas dashboard, segera Abi menepikan mobilnya, lalu mengangkat telpon yang ternyata dari sahabat tersayangnya.
‘Ya Ra?’ Abi menyapa dengan lembut.
‘Abi, aku ingin kita makan siang bersama, apakah bisa? Emmmhhh ajak Naina juga boleh, sebentar lagi aku akan pergi, jadi bisakah kita menghabiskan waktu bersama?’
Suara disebrang sana terdengar sengau, membuat Abi mengerutkan keningnya dalam, bertanya-tanya kira-kira ada apakah dengan Ratih? Akhir-akhir ini Ratih sepertinya sedang kurang bersemangat, sahabatnya itu adalah gadis yang sangat ceria, Abi merasa ada yang salah dengan Ratih.
‘Baiklah Ra, mari kita makan siang bersama’ tanpa pikir panjang Abi langsung menyanggupi keinginan Ratih.
Melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang, akhirnya Abi memutuskan untuk pergi dengan Bila bersamanya, gadis itu merengek ingin ikut makan siang bersama Abi, hingga mau tidak mau Abi menyetujuinya.
Sementara itu di seberang sana, Ratih tengah menelungkupkan wajahnya diatas meja dengan mata yang begitu sembab, baru saja Ayahnya keluar dari ruangan prakteknya, memakinya karena tidak setuju dengan keputusan Ratih yang ingin pergi ke luar negeri untuk melanjutkan studinya.
“Gue sadar, ngajakin makan siang suami orang itu salah, tapi Gue janji, ini yang terakhir kali” Ratih menyeka air matanya yang tiba-tiba saja meleleh, Ratih patah hati berat!.
__ADS_1