Bukan Salahku

Bukan Salahku
Lamaran Yang Tidak Dijawab


__ADS_3

Melihatmu yang tertidur di sampingku, membuatku tidak berhenti untuk tersenyum.


Jika waktu bisa berhenti, aku ingin seperti ini saja. Bersamamu, berduaan denganmu, hanya denganmu.


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Kost-an Evelyn


Arlan pov on


Kupandangi rupa wanita di sampingku, dengan pahatan sempurna ciptaan Tuhan, yang telah menghadirkan dirinya untukku, menemani diriku menjalani hidup abu-abuku.


Wajah kekasihku terlihat bak malaikat, yang saat ini sedang memejamkan matanya, tidur di sebelahku. Dia tampak bercahaya, saat sinar matahari menyinari wajahnya dengan berani.


Ku telusuri wajahnya dengan jariku, mulai dari hidung mungil miliknya yang halus, lembut bagai kulit bayi, sehingga aku pun tersenyum saat merasakannya.


Eungh!


Aku menarik kembali jari tanganku, saat aku mendengar lenguhan darinya. Hum ... Sepertinya dia terganggu, saat aku dengan usil menjelajah wajah serta tubuh polos, dengan selimut merah maroon menutupi.


Aku terkekeh geli, saat dia memunggungiku, sehingga punggung putih miliknya menjadi pemandangan indah bagiku.


Aku memajukan wajahku, mengecupi punggungnya dengan sentuhan ringan, dengan dia yang lagi-lagi melenguh.


Dia bergerak lagi, kali ini menghadapku dengan selimut turun, saat dia bergerak bebas, menghadapku kemudian mengedip-ngedipkan matanya pelan, baru kemudian terbuka sempurna.


"Guten tag, Schatz, (Selamat siang, sayang)" bisikku lembut. Memandanginya yang saat ini mengedipkan matanya sekali lagi, sebelum menyembunyikan wajahnya di dalam selimut.


Lagi-lagi aku terkekeh, saat melihat tingkah menggemaskan Kekasihku, yang baru saja bangun dari tidur lelahnya.


Tidur lelah, tentu saja tidur lelah, saat dia harus menghadapi hasrat lamaku, yang sudah lama sekali tidak tersalurkan. Padahal ini adalah pertama kalinya, tapi aku dengan seenaknya mengajaknya untuk lagi dan lagi, saat diriku sendiri tidak puas hanya dengan menyentuhnya satu kali. Seakan aku berpikir, jika tidak ada hari esok jika aku tidak segera melakukannya.


"Hei! Kenapa ditutupi, aku bahkan sudah mencicipi setiap inci tubuhmu," ujarku menggodanya, sehingga aku merasakan sakit saat ada tangan dari dalam selimut yang mencubitku kuat.


Gyut!


"Ouch ... Sakit Schatz, kenapa harus cubit jika bisa yang lain," lanjutku, semakin menggodanya.


"Hentikan Arlan, belum cukup kah untuk hari ini. Kenapa kamu kuat sekali."


Aku semakin tergelak, dengan kekehan yang sungguh bukan seperti diriku yang dulu. Baru ini aku bercanda setelah ritual dewasa, saat dulu aku akan meninggalkan begitu saja partner ranjangku.


"Cukup? Jangan bercanda Schatz, justru aku ingin sekali, memakanmu lagi dan lagi," balasku dengan nada seduktif.


"Mesum!"


Ha-ha-ha!


Aku semakin tergelak, saat ia memekik dengan kata-kata andalannya, jika aku sudah berbicara seperti ini.


"Oke-oke, sebaiknya kamu perlihatkan wajah cantikmu kepadaku sekarang juga."


Selimut yang bergerak di sampingku, menandakan jika seseorang yang di dalamnya saat ini, sedang menggeleng kepala menolak perintah dari perkataanku.


"Sekarang, Schatz. Atau aku yang masuk dan akan ada ronde selanjutnya," ancamku dan berhasil, dengan dia yang memekik dan membuka selimut hingga batas lehernya.


"Jangan! Cukup Arlan, bahkan yang tadi pun masih terasa sakit."


Pekikannya yang panik berubah jadi cicitan malu, saat dia mengatakan tentang kondisi tubuhnya saat ini.


Dalam hati aku senang bukan kepalang, saat aku adalah pria pertama untuk dia, yang suatu hari nanti akan menjadi istri serta ibu dari anak-anakku.


Aku mengecup keningnya lama, kemudian menatap Kekasihku yang belum Menatap ku, masih malu dengan hiasan rona merah di pipinya.


"Cantik," bisikku, barulah dia menatapku dengan senyum malu.


"Gombal," dengkusnya.


Aku menariknya untuk merapat ke arah tubuhku, menempelkan tubuh merasakan sensasi menyengat, ketika tubuhku dan tubuhnya lagi-lagi menyatu.


Aku juga bisa merasakan tubuh Kekasihku menegang tiba-tiba, saat ia sepertinya merasakan sesuatu yang membuatku tersenyum miring.


"Kenapa." itu bukan pertanyaan dariku, melainkan godaan untuknya, saat dia dengan segera mendorongku menjauh, namun sayang aku tidak terdorong sama sekali.


"Jangan bergerak, dia masih belum tidur. Aku takut dia akan meminta perhatianmu lagi. Kamu tidak inginkan jika kegiatan tadi terulang lagi, saat ini," pintaku, dengan suara serak hingga akhirnya kekasihku pun berhenti bergerak dan diam di pelukanku.

__ADS_1


"Nah ... Seperti itu, wanitaku," gumamku senang, lebih mengeratkan pelukanku dengan dia yang membalas sama eratnya.


"Sudah siang, apa kita tidak masuk kantor?" tanyanya, menengadahkan wajahnya menatapku.


Aku pun menurunkan pandanganku, melihatnya dengan senyum kecil menenangkan.


"Aku bekerja, tapi tidak denganmu. Kamu istirahat di sini, aku tahu kamu pasti lelah sekali."


"Ya ... Dan ulah siapa ini," dengkusnya dengan mata mendelik galak ke arahku.


"Tapi kamu suka."


"Ukh."


Aku sekali lagi tergelak, kemudian mengusap rambutnya lembut, serta mengecupinya sesekali.


"Aku harus bersiap, sudah terlalu siang. Tapi siapa yang berani menegurku," gumamku, dengan dia yang terkekeh merdu.


"Ya-ya-ya ... Tuan Presdir Arlan yang terhormat."


Aku hanya mengangkat bahu acuh, saat mendengar kalimat sindiran darinya.


"Jadi aku tidak boleh bersiap nih," godaku kemudian.


"Dih ... Siapa yang yang melarang, syuh sana, mandi dan bersiap."


"Tadi siapa yang bilang jika aku adala- hemmp."


Ucapanku terpotong, saat dia dengan segera menutup bibirku dengan telapak tangannya.


Ah! Kenapa dengan tangan, pikirku sinting.


"Diam, mandi dan cepat pergi bekerja."


Aku tersenyum dalam hati, saat melihatnya memarahiku dengan ekspresi wajah yang sama sekali tidak cocok dengannya. Bagaimana akan terlihat seram, jika Kekasihku marah dengan pipi merah, lengkap dengan ekspresi malu-malunya.


Aku pun memiliki ide jahil, yang segera aku lakukan. Aku dengan usil menjilat telapak tangan yang menutup bibirku, dengan dia yang segera melepas dan menatapku dengan delikan semakin tajam.


"Iyuh! Arlan, jorok!" serunya kesal, dengan aku yang balas dengan kekehan semakin jadi.


"Ouch ... Sakit, Schatz," desisku saat benar-benar merasakan sakit di area dadaku.


"Sukur."


Sambil mengusap bagian dadaku yang sakit, aku memerhatikannya yang saat ini sedang menatapku, dengan tatapan yang sungguh tidak aku mengerti kenapa.


Tatapan sedih, senang, emosi dan lainnya. Tatapan yang tidak aku mengerti, kenapa dan mengapa.


"Kenapa?" tanyaku, namun aku hanya mendapat jawaban dengan gelengan kepala pelan.


"Tidak apa-apa, kamu cepat mandi," jawabnya.


Aku tidak begitu saja percaya, saat dulu ia selalu bilang tidak apa-apa, nyatanya ada apa-apa.


"Yakin?"


"Iya, Arlan. Sekarang kamu mandi, lalu berangkat ke kantor. Aku akan mengikuti apa perkataanmu, istirahat dan tidak bekerja. Begitu kan?"


Huft ...


Aku tidak ingin mengganggu moment bahagiaku dengannya. Jadi, dengan helaan napas dalam aku pun mengangguk.


"Baiklah. Tapi ingat, jika ada apa-apa segera beri tahu aku," tegasku dengan dia yang hanya mengangguk.


"Oke, aku mandi."


"Mau sarapan?"


"Tidak usah," tolakku, kemudian berjalan santai tanpa memakai penutup, dengan kekasihku yang memekik dengan pekikan hebohnya.


"Arlan! Tidak tahu malu!"


"Untuk apa, hanya ada kamu ini," balasku kemudian sebuah bantal terbang dan membentur pintu kamar mandi, dengan aku yang tergelak senang.


"Astaga! Lucu sekali," gumamku dengan bibir tersenyum ke arah cermin, yang ada di hadapanku.

__ADS_1


Arlan pov end


Normal pov


Sepeninggalnya Arlan, kini ruangan yang tadi ada gelak tawa dan pekikan sunyi, saat Evelyn menatap nanar pintu kamar mandi yang tertutup.


Tatapan kesalnya berubah menjadi tatapan sendu dengan senyum sedih, yang terpatri dibibir kekasih Arlan ini.


"Maaf, maafkan aku," gumamnya sedih, entah karena apa.


Skip


Saat ini Arlan sudah selesai dengan ritual bersih-bersihnya. Ia berdiri di depan gerbang kost-an Evelyn, dengan Evelyn yang mengantarnya dan berdiri berhadapan.


"Kamu istirahat, nanti aku hubungi kamu jika aku sudah sampai kantor. Oke," ujar Arlan, mengusap kening Evelyn sayang, dengan Evelyn yang hanya balas dengan senyum dan anggukan kepala.


"Umm."


"Jangan lupa makan juga," lanjutnya, dengan Evelyn yang akhirnya mendesah lelah saat kekasihnya berubah menjadi cerewet.


"Iya Arlan, iya. Aku akan istirahat, akan makan, akan menanti telepon darimu. Oke, puas," tandas Evelyn dengan kedua tangan terangkat, menyerah. Sehingga Arlan yang melihatnya pun tersenyum puas, menarik leher kekasihnya untuk dibawa mendekat, dengan ia yang mengecup singkat bibir lembut milik Evelyn.


"Belum puas. Aku akan puas, jika kamu menikah denganku, melahirkan anak untukku, juga hidup selamanya denganku. Baru aku akan puas. Jadi, menikahlah denganku, Evelyn," timpal dan pinta Arlan dengan nada sungguh-sungguh.


Deg!


Seketika Evelyn merasa bersalah dengan perkataan Arlan, yang terdengar sungguh-sungguh saat memintanya untuk menikah dengannya. Ia memberikan senyum kecil menyimpan makna, kepada Arlan yang saat ini tersenyum juga kepadanya.


"Arlan, aku mencintaimu."


"Aku lebih mencintaimu."


"Dan aku hanya menginginkanmu," lanjut Arlan dengan perasaan bahagia.


"Aku tahu."


"Jangan tinggalkan aku."


"Tentu saja, maaf, aku tidak bisa," balas Evelyn kemudian melanjutkannya dalam hati.


"Kamu belum jawab lamaran aku."


Senyum, Evelyn hanya tersenyum dan memeluk Arlan tiba-tiba.


"Aku milikmu," bisik Evelyn dengan Arlan yang mengernyit bingung.


"Maksudnya?"


"Tidak, sebaiknya kamu berangkat sekarang."


"Tap-


"Berangkat sekarang, Arlan."


"Huft ... Baiklah, aku berangkat sekarang," pamit Arlan dengan helaan napas pasrah, kemudian masuk ke dalam mobilnya, setelah mencuri satu kecupan lagi candu miliknya seorang.


"Sampai jumpa!"


"Sampai jumpa."


Brumm!!


"Maafkan aku, Arlan."


Kini hanya tinggal Evelyn, yang berdiri dengan tangan mengepal erat disisi kanan dan kiri tubuhnya. Ia membalikkan tubuhnya, berjalan memasuki halaman dan kamarnya, mengambil tas kecil dan pergi menuju satu tempat.


Mendatangi seseorang untuk membantunya, melakukan sesuatu yang tentu saja akan membuatnya sedih, jika seseorang itu menyanggupi permintaannya dari keputusannya.


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ikuti terus kisah selanjutnya ...


Terima kasih dan sampai babai.

__ADS_1


__ADS_2