Bukan Salahku

Bukan Salahku
Schatz es tut mir leid


__ADS_3

Dirimu yang sekarang aku miliki, bukan lagi seperti yang dulu.


Aku merasa kamu seperti menyimpan sesuatu, sesuatu yang membuatku merasa bersalah alih-alih marah.


Schatz ... Maafkan aku.


Aku yang salah dan aku yang akan menanggung rasa marahmu.


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


PT. TRI TUNGGAL


Di ruangan milik Presdir dari Pt. Tri Tunggal, ada dua orang laki-laki yang sedang terlibat dalam pembicaraan dan pembahasan serius.


Padahal waktu sudah menunjukkan pukul dua belas kurang lima menit malam, tapi keduanya masih belum beranjak pulang, dan sedang saling melihat dengan tatapan serius.


"Jadi ... Maksud kamu, ini bukan kecelakaan, tapi memang ada unsur kesengajaan?" tanya Arlan, kepada Barly yang mengangguk membenarkan pertanyaan, sang Presdir yang merangkap sebagai sahabatnya.


"Sepertinya begitu, tapi kita tidak bisa bertanya kalau hanya satu saksi mata."


Arlan mengangguk membenarkan apa yang dikatakan asisten kepercayaannya.


Ia membaca lagi hasil keterangan yang tertera di laporan dengan seksama. Informasi yang dicari oleh Barly beberapa waktu ini, membuatnya berpikir dan menggabungkankan, kejadian satu per satu yang di alaminya.


Seakan menjadi kepingan puzzel, dengan skema blur, namun sudah semakin jelas arah dan tujuannya.


Untuk saat ini ia hanya bisa mengikuti, menunggu waktu akan kejujuran dari si pemilik hatinya.


"Aku yang menginginkan ini, jadi ini bukan salahnya," batin Arlan memaklumi apa yang dilakukan sang kekasih.


"Baiklah, untuk saat ini cari terus informasinya. Oh iya, Barl. Bagaimana dengan dokumen marger, yang dibuat untuk Pt. Brata?" perintah dan tanya Arlan, saat ia sudah selesai dengan urusan pribadinya.


"Sudah dibuat oleh Notaris kita, hanya tinggal penandatanganan saja. Kemudian Bapak bisa mengambil alih kekuasaan dengan segera," jelas Barly lugas , menatap Presdirnya dengan tatapan bangga.


Padahal sudah jelas Bosnya tidak menerima ini, tapi akhirnya dia bergerak juga saat seseorang itu menjadi alasannya.


Untuk saat ini biarlah Bosnya bergerak dibawah bayangan, di nilai seseorang itu tidak tahu apa yang terjadi, dan juga mengikuti arus permainan dari seseorang itu.


"Oke ... Kalau sudah siap, biar aku yang selesaikan."


Nada suara yang dipakai Bosnya lebih berat dan datar, membuat Barly segera mengangguk mengiyakan.


"Baik," jawab Barly tegas.


"Sebaiknya kita pulang, terima kasih Barl. Besok kamu bisa istirahat, biar aku dan Evelyn yang mengerjakan sisa pekerjaan besok," ucap Arlan dengan nada bersahabat.


"Tidak masalah, Bos. Terima kasih hari liburnya," jawab Barly dengan senang, akhirnya selama beberapa pekan ia mencari informasi tanpa istirahat, tiba juga saatnya ia untuk beristirahat.


"Hn," gumam Arlan kemudian mengangguk saat asisten kepercayaannya pamit undur diri.


Kini di ruangannya hanya tinggal ia seorang, merenung dengan mata memandang sebuah foto di dalam layar handphonenya.


Foto ia dan asistennya, saat mereka dulu melakukan perjalanan bisnis di Melbourne.


Ia tersenyum kecil, saat mengingat hari itu, hari di mana ia masih bisa menikmati senyum tulus dan ceria, khas seorang Evelyn.


"Aku tidak akan bertanya, jika itu bisa membuat kamu terus ada disisi aku. Bahkan jika itu bisa membuat aku memilikimu di seumur hidupku, aku akan ikhlas menjadi pria bodoh dihadapanmu," gumam Arlan dengan senyum sedih.


Anggap ini karma atas kelakuan buruknya dulu, yang mempermainkan hati wanita dan kini, ia sendiri yang sedang dipermainkan oleh wanita yang dicintainya.


Ia sudah menduga jika perubahan kekasihnya karena ada sebabnya, dan ia yang menanggung akibatnyanya.


Jangan kira ia bodoh, nyatanya jika ia sendiri yang memerintahkan seseorang untuk menjadi pendukung kekasihnya.


Ia hanya akan menikmati apa yang dilakukan sang kekasih, dan akan melihat sejauh mana kekasihnya bermain permainan hati ini.


Ingatannya melayang, saat kekasihnya yang dulu ramah dan sopan kepada sesama karyawan, kemarin menunjukkan sikap aneh dengan namanya dibawa serta.


Flasback on


Arlan pov on


Siang itu aku seperti biasa, mengerjakan laporan di dalam ruanganku.


Dari dalam sini aku bisa melihat kekasihku, sedang mengerjakan laporan seperti biasa.


(Episode ikut dalam permainan)

__ADS_1


Tidak lama kemudian ada seorang karyawati, datang dengan setumpuk berkas, lalu aku mengernyit. Bukan karena kedatangan karyawan tersebut, melainkan dengan ekspresi keduanya.


Aku pun berdiri dari dudukku, melangkahkan kaki mendekat ke arah pintu dan berdiri di belakang pintu, ikut mencuri dengar apa yang mereka bicarakan.


"Nih ... Asisten Presdir, ups atau selingkuhan tidak malu Tuan Widiyo."


Apa maksudnya, kenapa dia berbicara seperti itu.


Seketika aku merasa marah saat Kekasihku dihina seperti itu.


"Lihat saja, apa yang akan aku lakukan," gumamku dengan tangan mengepal marah.


"Kenapa bisik-bisik? Takut ketahuan Tuan- ah! Maksud aku, Arlan. Begitu kah?"


Evelyn.


Kenapa dia bisa membalas dengan begitu berani, apa ini, kenapa dia berubah seperti ini.


"Lihat saja, sampai Nyonya Tania datang, lalu menampar wajah sok cantik kamu."


"Nyonya Tania? Apa ini artinya Tania juga terlibat dengan pembullian Evelyn," tebakku dengan bingung.


"Lets see."


Karyawati itu pun pergi, dengan aku yang membuka pintu dan bersandar melihatnya dengan tatapan aneh.


"Lucu sekali."


"Lucu bagaimana?" sahutku dengan ekspresi ingin tahu dan datar, kemudian aku pun melihatnya tersenyum, membuatku mau tidak mau balas tersenyum.


Flasback end


Itu adalah salah satu hal yang membuatku merasa Kekasihku telah berubah, diantara perubahan-perubahan lainnya.


Sikap, cara berpakaian, caranya menggoda hatiku.


Semuanya terasa aneh, namun aku menyukai perubahan itu.


"Untuk saat ini, yang harus aku lakukan hanya membuatmu merasakan perasaan tulusku."


Aku akan pastikan, jika bukan hanya Kekasihku yang melakukan permainan ini, aku pun akan ikut serta.


Yah benar sekali ... Dimulai dari perasaannya, perusahaannya, juga segalanya yang di milik olehnya.


Arlan pov end


Normal pov


Skip


Keesokan harinya


Kost-an Evelyn


Di kamar sewaan Evelyn, ada si pemilik kamar yang sedang bersiap dengan keperluannya, sambil mengingat jadwal apa saja yang akan Bosnya dan ia lakukan hari ini.


Ini sudah lewat dari beberapa waktu, sejak kejadian Tania yang diusir dari hunian tempat kekasihnya tinggal.


Ia hanya bisa mendengkus sinis, saat dirinya kembali ramai-ramai di pojokan, saat tidak ada Arlan di sampingnya.


Ia tahu ulah siapa ini.


Siapa lagi kalau bukan Nona muda keluarga Brata.


Apakah ia takut akan kejadian yang menimpanya di kantor?


Tidak. Justru ia dengan sengaja mengalah, memasang wajah tidak perduli dengan kelakuan mereka. Ia ingin melihat sampai sejauh mana tindakan mereka kali ini, apakah bahunya akan cidera lagi, atau justru anggota badannya yang lain.


Getaran pada handphone, yang ia letakkan di meja rias membuatnya tersentak kaget, ia dengan segera melihat nama yang tertera di layar handphonenya, dan melihat nama sang kekasih disana.


Senyumnya terbit namun berganti menjadi sedih, saat ia sadar ia hanya berpura-pura menjadikan Presdirnya sebagai kekasihnya, dengan tujuan sebagai pijakan untuknya.


Menggeser tombol hijau di layar handphonenya, Evelyn pun menempelkan handphone di telinga kanannya, dengan tangan yang lain sibuk memasukan perlengkapan.


Klik!


"Gutten Morgen Schatz****!"

__ADS_1


"Morgen," balas Evelyn ceria, ia menarik sleting tasnya dan menyampirkan di bahu kanannya. Kemudian melihat penampilannya di depan cermin, lalu mengangguk sebagai tanda puas.


"Sudah siap berangkat?"


"Siap! Aku sedang mengunci pintu, aku akhiri yah panggilannya?" balas Evelyn.


"Baiklah, aku tunggu di luar sini, ok?"


"Oke!"


Tut!


Evelyn pun mengunci pintu, menuruni tangga dan segera berjalan menuju gerbang, membukanya dengan semangat, lalu tersenyum cerah saat melihat kekasihnya berdiri dengan gagah di hadapannya.


"Cantik seperti biasa," puji Arlan, saat melihat Evelyn berjalan menghampirinya.


Rone kemerahan menghiasi pipi milik Evelyn, yang tersenyum malu kepada Arlan, yang melihatnya dengan senyum juga.


"Jika seperti ini, entah kenapa aku merasa bila kamu sedang tidak mempermainkan aku," batin Arlan menatap Evelyn, dengan pandangan yang sulit di artikan.


Tap!


Evelyn melihat kekasihnya dengan dahi mengernyit bingung, saat kekasihnya diam melihat ke arahnya namun pandangannya kosong, seperti melamun.


Melambaikan tangan di depan wajah Arlan, Evelyn menatap khawatir kekasihnya, takut ada apa-apa dengan sang kekasih.


"Ar! Arlan!" panggil Evelyn, membuat Arlan tersentak kaget dan memasang senyum canggung, ketika melihat ekspresi khawatir dari kekasihnya.


"Iya?" sahut Arlan tidak fokus.


"Sepertinya aku melamun," batin Arlan.


"Kamu kenapa?" tanya Evelyn, masih dengan ekspresi khawatirnya, membuat Arlan tersenyum tipis saat ingat jika ia harus fokus dengan permainannya juga.


"Tidak apa-apa. Yuk! Berangkat," elak Arlan kemudian mengajak kekasihnya untuk masuk ke dalam mobilnya.


Evelyn mengangguk meskipun dalam hati merasa aneh, karena tidak biasanya sang kekasih melamun apalagi ini masih pagi.


"Ada apa dengan Arlan," batin Evelyn penasaran.


"Ada apa?" tanya Arlan dengan alis terangkat, menatap kekasihnya dengan dalam.


"Tidak, aku tidak apa-apa. Hari ini kamu hanya bertambah mempesona, aku takut kehilangan kamu," elak Evelyn, kemudian memuji kekasihnya tulus dan itu membuat Arlan harus tahan, untuk tidak memberikan kecupan panjang, dengan cara menggigit pipi bagian dalamnya.


"Kalau begitu, jangan pernah berbohong dan jangan pernah bermain api di belakangku," sahut Arlan dengan nada tenang, bukan maksudnya menyindir, tapi bagi Evelyn beda, ia merasa jika kekasihnya sedang memperingatinya untuk segera membuka kartunya.


"Apa maksudnya, Ar?" tanya Evelyn pura-pura kaget, membuat Arlan menghela napas dalam hati dan balas dengan menepuk kepala Evelyn sayang.


"Tidak ada maksud apa-apa, aku hanya tidak mau ada rahasia. Apalagi orang ketiga, itu saja," jelas Arlan mengelak dengan pernyataannya sendiri.


"Siapa yang mau selingkuh," tandas Evelyn dengan kekehan kecil, mencairkan suasana di dalam mobil yang tiba-tiba berubah canggung.


"Siapa tahu saja," sahut Arlan cepat, dengan senyum menggodanya.


"Dih ... Enak saja, aku ini setia tahu," sewot Evelyn dengan wajah berlipat.


"Iya-iya ... Kamu setia, maka itu aku juga mencintaimu dengan sangat."


"Ih! Pagi-pagi sudah gombal," dengkus Evelyn, melengoskan wajahnya malu, membuat Arlan mau tidak mau tergelak akan tingkah lucu kekasihnya.


Ha-ha-ha!


"Jangan tertawa Ar!"


"Du bist schön, Schatz,(Kamu cantik, sayang)" goda Arlan, semakin membuat Evelyn malu.


"Arlan!"


Ha-ha-ha!


"Schatz es tut mir leid. Ich habe mich geirrt und ich werde deine Wut ertragen,(Sayang maafkan aku. Aku yang salah dan aku yang akan menanggung rasa marahmu)" batin Arlan menatap kekasihnya menyesal.


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ikuti kisah selanjutnya ....

__ADS_1


Terima kasih atas dukunganya.


Sampai babai.


__ADS_2