Bukan Salahku

Bukan Salahku
Pamit


__ADS_3

Bab 22


Dalam waktu-waktu heningnya, kadang Habibi seringkali meratapi lalu menyesali takdir hidupnya sendiri, menatap luka dimasa lalu, lantas menatap luka dimasa yang akan mendatang, terkadang ada kalanya Habibi merasa hidupnya selalu dipenuhi oleh luka tak kasat mata. 


Setiap orang akan selalu memujinya hanya karena Habibi memiliki sejumlah kekayaan atas hasil pencapaiannya sendiri, dalam heningnya Habibi sudah mendapatkan banyak sekali prestasi yang mungkin tidak orang lain sadari. Menghasilkan pundi-pundi rupiah dengan kedua tangannya sendiri. Semua itu cukup membanggakan bagi setiap orang yang mengenalnya, namun, terlepas dari itu semua, Habibi juga menyadari satu hal, bahwasannya sebagian orang juga banyak yang meninggalkannya hanya karena risih, Habibi memiliki kekurangan pada fisiknya, menurut manusia lainnya kekurangan fisik Habibi adalah sebuah aib, dan semua itu membuat Habibi kian terpuruk dalam sunyi, terlahir berbeda memang semenyakitkan itu. 


Tak terbilang hinaan dan bully an yang Habibi dapatkan sedari Ia kecil, namun Habibi selalu berusaha kuat dan selalu abai dengan apa yang mereka katakan, mencoba menjadi anak yang terlihat ceria di hadapan Mama dan Papa agar mereka tidak selalu mengkhawatirkannya. Habibi sadar Mama dan Papa selalu menangisi takdirnya setiap kali ada yang menghina fisiknya, jadi diam dan menyembunyikan kesakitannya seorang diri, mungkin saja adalah pilihan yang tepat. 


Habibi mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, terlihat di depan pintu sana Ratih tengah berjalan menuju kearahnya, tersenyum lembut dan terlihat begitu tulus, sedari lama rupanya Abi baru sadar, hanya Ratih yang bisa menerimanya setulus itu. 


“Sudah lama?” Ratih duduk dihadapan Abi, lalu tersenyum lembut seperti biasa, hanya saja Abi mampu menangkap satu hal, dimata Ratih terlihat sebuah kesedihan yang dalam, Abi begitu peka dengan hal-hal semacam itu. 


“Baru saja” Abi menunduk lesu, kembali mengingat betapa banyaknya masalah yang menghampiri hidupnya akhir-akhir ini. 


“Selamat kamu akan menjadi seorang Ayah” Ratih mengusap tangan Abi yang ada diatas meja sejenak, lalu segera melepaskannya kemudian, gadis itu sadar kini Abi sudah memiliki istri, tidak baik baginya melakukan kontak fisik dengan sengaja seperti demikian. 


“Hmh, Aku tidak tahu lagi harus bersikap seperti apa terhadap Naina Ra, dia terlalu keras kepala” Abi memegangi kepalanya sendiri merasa pusing. Tentu saja Ratih sudah mengetahui seperti apa sikap Naina selama ini, bukan Abi yang sengaja menceritakannya, namun Ratih pernah memergoki seberapa buruknya sikap Naina.


“Sahabat baikku Abi, dia selalu bersikap sabar atas semua hal yang terjadi dalam hidupnya, sekarang kemana perginya sabar sahabatku ini?” Ratih tersenyum menggoda. 


“Aku lelah Ra” Abi menundukkan kepalanya, teringat kejadian tadi pagi saat Naina melempar piring berisi makanan yang diberikan olehnya, membuat Abi kembali marah, dan menyesali semuanya setelahnya, berdekatan dengan Naina hanya akan membuatnya mengeluarkan amarah yang meledak. 


Ah ... Abi memiliki trauma terhadap ingatan masa kecilnya, tentang cerita Bunda dan betapa kejamnya Ayah Abi yang tega meninggalkannya hingga Bunda harus meregang nyawa, Abi tidak ingin nasib anaknya seperti dirinya sendiri. 


“Bahkan ujian ini baru dimulai, kenapa kamu sudah merasa lelah? Sabar ya Bi, Aku yakin suatu hari nanti Naina pasti akan menyadari dan menyesali sikapnya sendiri” Naina kembali berkata lembut. 

__ADS_1


“Makasih ya Ra, kamu selalu dengerin keluhan aku. Dari dulu bahkan hingga hari ini, kamu memang sahabat terbaikku Na” Abi menatap Naina lembut dengan pandangan teduhnya, seketika Naina hampir tenggelam dengan tatapan Abi yang seperti itu, namun Naina segera menyadarkan dirinya sendiri. 


“Oh ya, sepertinya aku ingin melanjutkan studiku Bi” 


Diam ...


Hening ...


Abi mendongakkan kepalanya sejenak, menatap Ratih yang yang tengah tersenyum menatapnya. 


“Aku bangga jika kamu terus ingin menimba ilmu, kamu hebat Ra”


“Di luar negri”


Abi kembali terdiam, kenapa mendadak? Batin Abi bertanya, Ratih adalah salah satu orang penting dalam hidupnya, jauh dari Ratih tentu saja Abi merasa hidupnya ada yang kurang. Lalu bagaimana mungkin Ratih ingin pergi jauh dengan cara semendadak ini?.


“Kemarin aku iseng isi formulir beasiswa, dan ternyata hasilnya bagus, aku diterima! Aku akan berangkat sekitar satu bulan kedepan, aku harap kamu baik-baik saja disini”


Sakit! Rasa itu yang dirasakan oleh Ratih saat ini, bagaimana mungkin dia harus menekan rasa cintanya terhadap sahabatnya ini setiap hari? Melihatnya bersedih akan membuatnya justru lebih bersedih lagi, jadi pergi ke tempat yang jauh Ratih rasa itu adalah pilihan yang tepat untuk kebaikan semua orang. 


“Kamu yakin? Tidak, maksudku aku senang kamu melanjutkan pendidikanmu, tapi kenapa harus ke luar negri? Bukankah itu terlalu jauh? Orangtua kamu juga biasanya tidak setuju jika kamu terlalu jauh dari mereka, begitu bukan Ra?” sepertinya Abi tengah berusaha menghalangi kepergian sahabat satu-satunya ini. 


“Ini tidak akan lama, hanya sebentar, jika ada waktu libur, aku juga akan sering pulang, sekarang zaman sudah serba canggih, ingat itu Bi” Ratih terkekeh, tidak! Abi melihat sepertinya senyuman Ratih terlalu dipaksakan hingga wajahnya terlihat aneh. 


“Ah ya, ini jangan karena kamu terlalu sibuk oleh Naina, kamu jadi melupakan ini” Ratih menyodorkan beberapa toples obat pada Abi, sahabatnya itu tidak boleh berhenti mengonsumsi obat untuk keberlangsungan hidupnya. 

__ADS_1


“Ah, jujur masalah belakangan ini membuat aku melupakan obatku, tapi aku baik-baik saja Ra” Abi tersenyum menerima obat dari Ratih. 


“Hmh, jangan diulangi, ini terlalu beresiko buat kamu Bi, jangan telat lagi, pastikan kamu meminumnya dengan teratur”


Abi mengangguk dengan senyuman tulus di bibirnya “aku berharap kamu segera menemukan pendamping Ra, tapi tolong jangan naksir bule nanti di luar negri, kamu tahu sendiri bukan? Aku kurang suka pria bule, haha” Abi tergelak sendiri mengingat kekonyolannya sendiri yang tidak menyukai manusia yang berasal dari negeri asing, padahal klien nya sendiri banyak yang dari luar negri. 


“Aku masih menyukai orang lokal Bi” Ratih menjawab dengan sendu.


“O ya? Siapa? Katakan padaku, aku harus mengenalnya lebih dulu” Abi berkata dengan antusias, membuat Ratih hanya tersenyum samar, wajahnya bertambah duka. 


“Siapa?” Abi kembali bertanya saat Ratih hanya terdiam. 


Abi tidak lanjut bertanya saat ponselnya berdering, mengintip siapa yang tengah menelponnya, Abi menghela napas lalu mengangkatnya begitu saja. 


Raut wajah Abi seketika berubah merah padam kala mendengar ucapan yang terlontar dari seberang sana. 


“Apa?” sepertinya Abi terlihat begitu marah. 


Abi tergesa-gesa menutup teleponnya, menatap Ratih lalu segera bangkit berdiri. 


“Aku pergi Ra! Makasih buat semuanya, tolong bayarin makanan dan minumanku dulu, nanti aku ganti” tanpa menunggu persetujuan Ratih, Abi bergegas lari sekuat tenaga, bahkan tanpa sadar pria itu sempat menubruk pintu cafe yang terbuat dari kaca. 


Abi berlari menuju rumah sakit, rasa ngantuk karena berhari kurang tidur, rasa penat, dan rasa sakit yang selama ini Ia rasa seketika sempat menguap saat tadi berbicara dengan Ratih, namun kembali rasa tidak nyaman itu muncul kala mendengar berita yang disampaikan Ibu mertuanya. 


Naina terjatuh dari ranjang pasiennya, hingga gadis itu mengalami pendarahan. 

__ADS_1


“Jika itu disengaja, maka kamu tidak akan pernah aku maafkan Naina!”


__ADS_2