
Sahabatku adalah terkesan embun pagi
yang jatuh membasahi kegersangan hati
hingga mampu menyuburkan seluruh taman sanubari dalam kesejukan
Sahabatku adalah bintang gemintang malam di angkasa raya yang menemani kesendirian rembulan yang berduka hingga mampu menerangi gulita semesta dalam kebersamaan
Sahabatku adalah pohon rindang dengan seribu dahan yang memayungi dari terik matahari yang tak tertahankan hingga mampu memberikan keteguhan dalam kedamaian
Sahabatku adalah kumpulan mata air dari telaga suci yang jernih mengalir tiada henti
hingga mampu menghapuskan rasa dahaga diri dalam kesegaran.
"Riki .... Ini kamu bagi aku, apa kah kamu bisa menerimanya?"
"Evelyn ... Jika itu mau kamu, maka itu sama saja dengan perintah bagiku."
"Sahabat kekal selamanya, tanpa ada jarak di dalamnya."
"Aku mencintaimu, kakakku Riki."
"Aku lebih mencintaimu, Evelyn."
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Taman Kota
Sepasang sahabat beda jenis kelamin ini duduk berdampingan, dengan jarak sedikit jauh memisahkan, serta hening menemani.
Sudah terhitung beberapa puluh menit, mereka berdua duduk seperti ini.
Meraka diam, tidak saling melihat bahkan melirik pun seakan enggan.
Ini untuk si wanita, nyatanya si pria jelas-jelas melihat dan menatap si wanita gelisah.
Si pria atau juga Riki, menatap sahabat wanitanya dengan sorot mata gelisah.
Ia akui ia salah waktu dan tempat, saat menyatakan perasaan terpendamnya kemarin malam.
Seharusnya ia bisa menahan hingga Evelyn siap, untuk menerima kenyataan baru dengan rasa lama darinya.
Tidak tahan lagi dengan keterdiaman Evelyn di sampingnya, Riki pun berdehem membuat sahabatnya, yang duduk dengan diam tanpa bersuara tersentak kaget, sepertinya sang sahabat juga bukan diam karena di sengaja.
"Ehem."
"Lyn, apa kamu baik-baik saja?" ujar Riki membuka obrolan dengan pertanyaan klasik, namun cukup untuk membuat Evelyn, membalas meski hanya balasan singkat.
"Ya, baik."
Hening.
Lagi-lagi hanya keheningan yang menyelimuti keduanya, saat Riki hanya mendapatkan balasan singkat, tanpa pertanyaan balik untuknya dari Evelyn.
Di sisi Evelyn saat ini, ia masih menata seperti apa sikap yang harus ia tunjukkan pada Riki, sahabat sekaligus kakak yang sudah menemani lebih dari lima tahun lamanya.
Mungkin jika saja ia tidak mengetahui perasaan sahabatnya, ia juga tidak akan tega mendiami Riki yang punya perasaan, perasaan yang tidak pantas di larang olehnya.
Biar bagaimana pun, rasa seseorang untuk orang lainnya bukan lah aib atau dosa.
Perasaan cinta dan sayang Riki juga perasaan yang sama, seperti perasaan yang di miliki setiap laki-laki untuk wanita di luar sana.
Tapi ....
Ini bukan berarti ia membenci Riki, hanya saja ia tidak menyangka jika selama ini kedekatan meraka, menimbulkan benih-benih cinta dari sahabatnya.
"Laki-laki dan perempuan, tidak ada yang bersahabat tanpa ada rasa cinta di salah satunya."
Sekilas perkataan Arlan terngiang di telinganya, membuat nafasnya tercekat seketika.
Apa ini maksud ucapan Arlan untuknya, saat mereka dulu selalu membahas persahabatan antara dirinya dan Riki, sepupu Arlan sendiri.
Apa sebenarnya Arlan juga tahu, jika Riki sebenarnya memiliki rasa untuknya, itu sebabnya Arlan akan merasa dan mengungkit jika ada pembahasan, yang berhubungan dengan Riki di setiap kesempatan.
Apa di sini hanya ia yang tidak tahu apa-apa?
Bukankah ia sama saja menyakiti hati Riki sejak awal, sejak ia mulai berkenalan dan dekat dengan Arlan, yang adalah sepupu dari sahabatnya?
Seketika Evelyn menoleh ke arah Riki, yang masih menatapnya dalam diam.
Nyut!
Meskipun ia masih kecewa, tapi saat melihat ekspresi sedih dari sahabatnya, membuat ia luluh juga.
"Lyn."
"Riki."
__ADS_1
Keduanya sama-sama memanggil nama, lalu diam bersamaan pula.
Riki yang berdehem, mengambil alih karena ia tahu, jika sahabatnya pasti menunggu kalimat lanjutan darinya.
"Lyn, maafkan aku," ujar Riki menatap Evelyn sedih.
"Aku tahu aku salah, memiliki perasaan bahkan menyatakan perasaan di saat waktu tidak tepat. Tapi aku tidak menyesal, Lyn. Setidaknya kamu tahu, akan perasaanku sesungguhnya."
Riki menjeda Kalimatnya, melihat bagaimana ekspresi wajah dari sahabatnya, yang juga menatapnya berkaca-kaca.
Hatinya sakit, secara tidak langsung ia menambah luka akan rasa sakit di hati Evelynnya.
"Aku, aku tahu aku hanya seorang pengecut. Berlindung di balik ikatan persahabatan, hanya untuk selalu bisa dekat denganmu. Tapi aku serius, aku dari dulu, dari awal pertemuan aku sudah mencintaimu."
Evelyn masih mendengar dengan hati sedih, saat sahabatnya mengungkapkan kembali rasa terpendamnya.
Ia jelas tahu bagaimana sahabatnya, dia tidak pernah membohonginya dan baru ini Ia merasa di bohongi.
Tapi, ia masih mendengar, karena ia tidak ingin ada salah paham lagi di antara mereka.
Ia mencintai sahabatnya sama seperti ia mencintai sang ibu, sahabatnya segalanya baginya.
Lalu, bagaimana bisa ia menjalani hidup dengan tenang, jika ia saling berkejaran tanpa ada kepastian dengan sahabat satu-satunya.
Setidaknya ia ingin mendengar dan menyampaikan, apa yang akan di sampaikannya, dengan segala pertimbangannya yang matang.
"Lyn, aku tidak memaksa kamu untuk menerima cinta aku. Karena aku telah berjanji kepada ibu, akan mencintaimu dengan atau tanpa status dan syarat. Aku mencintaimu sama seperti aku mencintai dua ibuku."
Deg!
Evelyn menatap kaget saat mendengar perkataan tulus dari sahabatnya, yang juga ternyata mencintainya sama seperti ia mencintai sang ibu.
Ia tidak percaya jika sahabatnya bukan hanya memendam, tapi juga sangat mencintainya dengan persiapan yang matang.
Seperti dia tahu jika ia tidak akan membalas, rasa yang di berikan untuknya.
"Aku tahu, saat ini pun kamu masih enggan untuk menemuiku. Tapi aku tidak bisa Lyn, aku tidak bisa jika kamu menjauhiku dengan cara seperti ini, tidak bisa Lyn."
Riki meremas rambutnya frustrasi, saat hanya tatapan berkaca-kaca, yang ia dapat dari Evelyn tanpa balasan sepatah kata pun.
"Aku terlalu mencin-
Grep!
Ucapan Riki terpaksa berhenti, saat ia merasakan pelukan hangat dari seorang wanita yang di cintainya, di ikuti isakan lirih yang akhirnya tumpah juga.
Dua kali ...
Dua kali Riki mendengar isakan seperti ini, pertama karena sepupunya dan saat ini karena dirinya.
"Sial!"
Riki mengumpat dalam hati, sebelum membalas dan membawa Evelyn kedalam pelukannya.
Ia mendengar sendiri bagaimana Evelyn, meminta maaf dengannya dengan lagi-lagi di iringi sesegukan menyayat hatinya.
"Riki, maafin aku."
Riki menggeleng kepala, lebih erat memeluk Evelyn yang semakin tergugu.
"Tidak, tidak Lyn. Ini bukan salahmu, ini salahku. Seharusnya aku lebih bis-
"Tidak Riki!"
Evelyn melepas pelukan dan menyela ucapan Riki cepat, saat Riki masih saja menyalahkan diri atas kejadian tadi malam.
"Ini salahku Riki, bukan salahmu. Seharusnya aku lebih tahu, menyikapi sikap baik kamu bukan dengan fikiran lugu. Seharusnya aku tahu, jika wanita dan pria benar, tidak akan bisa bersahabat tanpa ada rasa di dalamnya."
Sekarang gantian Riki yang mendengar setiap kata terbata, dari Evelyn yang menatapnya menyesal.
"Aku sudah banyak menyakiti kamu, iya kan, Riki?" tanya Evelyn.
"Tidak, Lyn-
"Iya Riki, iya!"
Riki kaget saat Evelyn menyela perkataannya dengan nada tinggi, sepertinya sahabatnya sangat emosional saat ini.
"Riki ... Bagaimana kamu bisa mencintaiku seperti ini? Bagaimana bisa kamu lebih memilih menyimpan sakit sendiri, tanpa berbagi denganku? Bagaimana bisa kamu masih mencintaiku, yang jelas-jelas menyatakan kenyataan jika aku mencintai orang lain, terlebih itu sepupu kamu, bagaimana Riki? Bagaimana bisa?"
Evelyn dengan segala emosi yang bercampur, bertanya dengan bertubi-tubi kepada Riki yang menatapnya kaget.
Evelyn sudah tidak bisa berfikir, bagaimana bisa ada laki-laki mencintai seorang wanita, dengan perasaan mendalam seperti itu.
"Jawab aku Riki?" bisik Evelyn lirih, dengan wajah menunduk menyembunyikan kesedihan dan malu atas perasaan sahabatnya yang tulus.
Ia tidak bisa membayangkan saat ia dengan wajah malu tersipu, mengatakan dirinya memiliki perasaan suka pada laki-laki lain, sedangkan sahabat laki-laki yang mendengarnya ternyata mencintainya juga, bahkan lebih dulu sebelum ia bertemu Bos merangkap sepupu sahabat laki-lakinya.
__ADS_1
Pasti sakit dan hancur.
"Bagaimana aku bisa mencintaimu seperti ini? Bagaimana bisa aku lebih memilih menyimpan sakit sendiri, tanpa barbagi denganmu? Bagaimana bisa aku masih mencintaimu, yang jelas-jelas menyatakan kenyataan jika kamu mencintai orang lain, terlebih itu sepupu aku, begitu Evelyn?" ujar Riki mengulangi pertanyaan bertubi dari sahabatnya, yang mengangguk pelan masih dengan wajah bersembunyi.
"Lihat aku!" seru Riki tegas namun lembut di saat bersamaan.
"...."
Diam Evelyn masih tidak mengikuti apa mau Riki, membuatnya gemas lalu mengangkat wajah Evelyn, menggunakan jari telunjuk dan ibu jari mengapit dagu Evelyn lembut.
Riki menarik dengan pelan wajah Evelyn yang tidak melawan, saat jari-jemarinya mengangkat wajahnya lembut, sehingga kini wajah keduanya berhadapan, dengan Riki yang menatap Evelyn lembut dan tersenyum tulus.
"Bagaimana aku tidak mencintaimu begitu tulus, jika aku selalu menganggap kamu segalanya bagiku. Aku lebih memilih sakit ini di simpan tanpa berbagi, karena aku tahu kamu sendiri sudah terlalu lelah menanggung beban hati. Dan juga aku tahu cinta tidak bisa dipaksa, hak kamu untuk mencintai sepupuku dan juga hak aku untuk tetap mencintaimu."
"Sudah aku bilang, jika aku mencintaimu tanpa syarat, artinya dengan atau tanpa kamu balas, aku akan tetap mencintaimu dalam diam."
"Evelyn ... Jika perasaku mengganggu hidupmu, bisakah kita lupakan kejadian semalam, lalu anggap aku tidak pernah menyatakan perasaanku. Kembali seperti sediakala dan juga kembali menjadi Evelynku, Evelyn yang dulu selalu tersenyum."
"Berjanjilah Lyn, demi aku dan Ibu."
Riki mengakhiri kalimatnya dengan kedua tangan, menggengam erat tangan Evelyn di genggaman hangatnya.
Evelyn semakin merasa bersalah, ia semakin merasa berdosa telah menyia-nyiakan perasaan sahabatnya, yang begitu tulus untuknya.
Demi Tuhan, ia sangat mencintai sahabatnya tapi hanya sebatas kakak dan tidak akan pernah lebih.
Meskipun banyak orang bilang, cinta akan datang saat kita mencoba mencintai, tapi baginya, Riki tetaplah seorang kakak untuknya.
Cintanya untuk Riki juga tulus, maka itu ia tidak mau sewaktu-waktu terkikis saat ia memaksa membalasnya.
Ia mau Riki selalu ada di sampingnya, tanpa batasan dengan label putus, ketika mereka berpisah seperti pasangan lainnya, yang melebeli hubungan mereka dengan ikatan sepasang kekasih.
Ia mau hubungannya dengan Riki kekal dan abadi, tua bersama-sama, namun sekali lagi bukan sebagai pasangan kekasih.
"Tidak Riki, aku tidak akan melupakan pernyataan cinta kamu, juga tidak akan melarangmu untuk mencintaiku."
Deg!
Riki tentu kaget dengan perkataannya Evelyn, yang saat ini menatapnya dengan raut wajah menyesal.
Apa maksudnya ini?
Apa Evelyn akan menerimanya?
Atau justru akan menjauhinya, tanpa membalas pernyataannya?
Ia menunggu dengan tidak sabar, saat Evelyn menghapus air mata dan tersenyum sedih untuknya.
Perasaannya tidak enak seketika.
Benarkah ini nasib persahabatan mereka, benarkah hanya sampai sini saja.
"Maafkan aku Riki, atas segala sakit yang aku torehkan. Maafkan aku Riki, akan cintamu yang tidak dapat aku balas. Maafkan aku Riki, akan sikapku semalam."
"Apa, apa ini maksudnya?" batin Riki menatap Evelyn semakin bingung.
"Riki ... Mari kita tetap bersahabat dengan rasa cinta sebagai sahabat, aku tidak ingin kehilanganmu, juga tidak ingin membohongimu dengan cinta semu."
Prang!
Jika ini akhir cinta terpendamnya dan juga resikonya yang di tanggungnya, ia tidak apa-apa asal ia tidak kehilangan Evelyn, wanita yang sangat Ia cintai hingga mengakar dalam jiwanya.
Pecahan kaca dalam hatinya, sudah benar-benar pecah berkeping-keping.
Ia tidak tahu apakah nanti ada yang mampu menyambungnya atau tidak, tapi yang jelas perasaan cintanya lebih harus di perhatikan ketimbang pecahan hatinya.
Sudah ia bilang ia mencintai Evelyn tulus, maka dengan anggukan dan sesak di dada, ia menyetujui ajakan Evelyn tanpa fikir, jika sekali lagi ia menghancurkan diri sendiri di hadapan wanita yang sama.
"Berjanjilah Riki, selamanya kamu tidak akan meninggalkan aku!"
"Baiklah,Lyn. Aku berjanji!"
Evelyn pun memeluk sahabatnya dengan pelukan erat, tersenyum sedih saat ia sadari jika ia sekali lagi manjadi sahabat egois bagi sahabat di pelukannya.
"Akan ada wanita lain, yang terbaik dan mengisi hari-harimu nanti, kakakku Riki."
"Tetap kamu yang aku cinta," balas Riki mengeratkan pelukannya.
"Aku juga mencintaimu, kakak."
"Yah .... Kakak lebih baik, dari pada kehilangannya seumur hidup."
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ikuti terus kisah selanjutnya ....
__ADS_1
Sampai babai.