Bukan Salahku

Bukan Salahku
Siapa Yang Akan Mencintaiku?


__ADS_3

Cinta tak harus saling memiliki


Kadang kala mereka harus melepaskan cinta tersebut.


Karena cinta yang sejati selalu ingin Membahagiakan orang yang dicintai


Cinta itu seperti seni yg indah dan agung,


berbahagialah yang pernah mendapatkannya, meskipun cinta tersebut tidak abadi.


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Sebelumnya


Ruang tempat keluarga Tania berkumpul


Saat ini, di ruangan tempat Tania menunggu kedatangan Arlan tadi, telah berkumpul empat orang yang terlibat dalam pembahasan pribadi.


Di sofa empuk sudah duduk Kana, yang bersilang kaki menatap Evelyn dengan senyum dibuat-buat.


Ibu yang baru beberapa minggu lahiran ini, terlihat seperti biasa saja, tanpa ada rasa risih yang dirasakannya.


Sedangkan Farid ayah dari Evelyn, hanya bisa duduk di samping istrinya dengan ekspresi bersalah, saat melihat Evelyn yang enggan melihatnya.


Lalu Tania ... Ia duduk di kursi hias, memandang kedua orang tuanya bergantian, lalu mendengus kesal.


"Oh ... Ayolah, apa belum ada yang ingin membuka suara."


Tania ingin segera berdiri disisi tunangannya, memamerkan Arlan kepada teman-temannya, yang dulu bilang jika ia bulshit, saat ia berkata ia adalah tunangan seorang Presdir PT. Tri Tunggal.


"Ehem."


Kana yang merasa anaknya mulai bosan, berdehem meminta perhatian, sehingga Evelyn yang tadi melirik kesegala arah akhirnya melihatnya.


Sebelum menyampaikan apa maksudnya, Kana menyunggingkan senyum kecil penuh tipu muslihatnya.


"Tania ... Kamu sudah tahu kan, jika mama menikah dengan Papamu, saat Papa masih beristri."


Tania mengangkat sebelah alis, saat sang Mama bertanya dengan nada lembut seperti itu.


"Ow ... Akan ada drama apa lagi ini," batin Tania menatap sang Mama yang masih tersenyum.


"Ya ... Seperti itulah," balas Tania apa adanya.


"Jadi ... Evelyn ini adalah anak Papamu, bisa juga dibilang jika Evelyn ini adalah adik tiri kamu."


Tania berdiri dari duduknya, melihat Evelyn dengan kaget, lalu melihatnya Mama dan Papanya meminta penjelasan.


"Jadi, maksudnya, aku dan dia, kakak-adik tiri. Seperti itu?" tanya Tania memastikan.


"Iya ... Seperti itu, Tania."


"Baga-


"Jadi, Evelyn. Tania adalah kakakmu, meskipun Tania kakak tiri, sesama saudara tidak mungkin menusuk dari belakang, kan?"


Kana menyela dengan cepat ucapan anaknya, yang pasti isinya tidak jauh-jauh dari kalimat protesan.


Sedangkan Evelyn yang mendengar ucapan menyindir, dari seorang wanita, istri baru ayahnya hanya bisa menahan emosi.


Ia tidak mengerti ucapan Nyonya, yang saat ini menatapnya penuh maksud.


"Apa maksudnya, Nyonya Brata," tanya Evelyn menatap Kana tidak mengerti.


"Tidak ada maksud apa-apa, Mama hanya sedih, saat kakakmu bilang jika Arlan ada main dengan wanita lain. Dan Mama paling tidak menyangka, jika wanita yang dimaksud Tania adalah kamu, adik Tania sendiri."


Tania yang awalnya ingin marah dan tidak mengerti, apa maksud ucapan sang Mama, segera memasang wajah sedih saat mulai mengerti, alur permainan kata sang Mama yang saat ini berbicara dengan nada lembut.


Ah ... Mamanya selalu bisa bermain kata, untuk menjatuhkan mental lawannya.


"Mama pantasnya jadi artis," batin Tania memandang sang Mama takjub.


"Ak-


"Bukan begitu, Papa." sela Kana saat Evelyn hendak berbicara.


Farid yang ditanya hanya bisa diam, ia masih melihat anaknya dengan sorot mata menyesal, apalagi saat tahu jika anaknya ternyata wanita, yang sebenarnya dicintai oleh tunangan anak tirinya.


"Farid," panggil Kana lagi, saat suaminya hanya diam melihat depan dengan sedih.


"Farid," ulang Kana, kali ini menyentuh punggung tangan suaminya, sehingga Farid tersentak dan memandangnya bingung.


"Ya?"


Kana ingin sekali berdecak sebal, saat suami barunya melamun dan memandang anak kandungnya menyesal.


Jika tidak ada anak antara ia dan suaminya, pasti suaminya masih bersama istri atau juga ibu dari wanita muda di depannya.


"Takdir yang malang," batin Kana entah harus tertawa atau apa.


"Tadi aku bilang, sebagai saudara tidak boleh saling menyakiti. Bukan kah seharusnya seperti itu?" ujar Kana mengulangi pertanyaannya, memandang suaminya seakan bilang.


"Iya atau lihat akibatnya."


Farid tentu tahu apa arti dari ucapan tanpa kata istrinya, maka ia membutakan hatinya dan menatap Evelyn, dengan pandangan memohon.


"Yang dikatakan Mamamu benar. Sekarang kalian adalah saudara dan sesama saudara, tidak boleh saling menyakiti. Apalagi sampai merebut tunangan kakakmu sendiri, apa kamu bisa bilang iya, Evelyn?"


Evelyn pov on


Saat ini aku sedang didalam ruangan, dengan tiga orang memandangku beda ekspresi.


Aku bisa melihat Tania yang menatapku tidak suka, aku juga melihat Nyonya Kana menatapku dengan senyum kecil.

__ADS_1


Senyum yang tidak aku tahu, apa maksudnya.


Serta Ayahku, yang menatapku rindu dan menyesal.


Penyesalanmu tidak berguna, Pak tua.


Ingin aku rasanya berbicara seperti itu, tapi lidahku kelu dan aku juga masih menyayanginya, karena biar bagaimana pun beliau adalah ayahku, ayah yang dulu menggengam tangan mungilku.


Aku tidak membalas dan menanggapi, saat pasangan anak dan ibu itu membahas tentang aku, yang adalah adik tiri dari wanita yang menjadi tunangan Arlan.


Tunangan, dari laki-laki yang dengan lancang, masuk namun hanya untuk menyakiti hatiku.


"Tentunya kamu juga tahu, ibumu tidak akan suka jika kamu menjadi penghancur hubungan orang. Jadi ayah minta, kamu untuk tidak berdekatan lagi dengan Arlan, tunangan kakakmu."


Deg!


Aku menatap ayahku tidak percaya, saat beliau berkata agar aku tidak merebut Arlan dari sisi Tania.


Seketika rasa rinduku luruh berganti dengan rasa emosiku, bagaimana bisa ayahku berkata seperti itu.


Aku anaknya.


Dia seharusnya tahu, bagaimana aku dan seperti apa aku.


Aku menatap ayahku nanar dengan mata berkaca-kaca kecewa.


Ini sama menyakitkannya, saat aku tahu penghianatan ayah pada ibu satu tahun lalu.


"Apa maksudnya, Tuan?" tanyaku menyebutnya dengan sebutan Tuan alih-alih ayah, aku tidak sudi memanggilnya dengan sebutan itu.


"Kamu anak ayah yang pintar, Lyn. Kamu pasti mengerti."


Ha-ha-ha ...


Bolehkah aku tertawa saat ini juga, saat mendengar perkataan pria durjana di depanku saat ini.


Harga diriku sedang di injak-injak oleh satu keluarga, dengan satu kepala keluarga yang dulu sangat aku kagumi.


Jika hidup bisa memilih, aku ingin sekali memilih yang indah-indah saja.


"Evelyn, aku minta maaf, karena aku baru tahu siapa kamu."


Aku segera menoleh ke arah Tania, saat dia meminta maaf dengan sorot mata menyesal.


Entah itu menyesal atau bukan.


"Jadi aku mohon adikku, jangan dekati lagi Arlan. Dia adalah kakak iparmu nanti, saat kami menikah. Bukan seperti itu Papa?"


Adik?


Aku bahkan tidak sudi di panggil adik olehnya.


"Bena-


Aku segera menyela ucapan laki-laki tua itu, sebelum lagi-lagi harga diriku di injak-injak.


Aku berdiri dari dudukku, menatap satu per satu orang di ruangan ini, dengan tangan mengepal menahan sakit dan emosi.


Bagaimana bisa mereka bilang agar aku tidak merebut Arlan, dari sisi Tania dengan santai seperti itu.


"Lyn."


"Cukup, aku bilang cukup."


Dengan nada tinggi untuk menutupi suara bergetarku, aku memandang mereka dengan sorot mata tajam, terlebih dia. Laki-laki tua yang masih menatapku menyesal, setelah dengan santai bilang jika aku tidak boleh berdekatan lagi dengan Arlan.


Mereka pikir aku wanita rendahan, seperti itu?


"Lyn!"


"Aku rasa ini semua sudah jelas, terima kasih atas semuanya." ujarku sebelum aku meninggalkan ruangan, dengan Tania yang mengekor di belakangku.


"Mau apa lagi dia," batinku, melirik Tania yang berjalan santai di belakangku.


Aku pun menghampiri Riki, yang saat ini sedang berdiri dengan Arlan di depannya.


"Riki," panggilku dan dia pun menoleh ke arahku, dia segera memeriksa keadaanku dengan pandangan khawatir.


"Lyn, kamu tidak apa-apa?"


Aku hanya mengangguk, saat Riki bertanya dengan nada khawatir seperti itu.


Aku ingin pergi dari sini, aku perlu udara untuk melegakan napasku yang sesak.


"Lyn, apa yang terjadi di dalam?"


Kali ini aku melihat Arlan, yang juga bertanya kepadaku sama khawatirnya dengan Riki.


"Bukan urusan kamu."


Bukan aku yang menjawab, tapi Riki lah yang menjawab dengan nada tajamnya.


Aku tidak ingin mereka bertengkar lagi, cukup kemarin saja, aku melihat pipi Arlan berwarna biru.


"Diam ka-


"Cukup."


Dua laki-laki di depanku diam, saat aku menyela ucapan Arlan dengan nada lirihku.


Aku pusing dan lelah ... Tidak kah cukup tadi saja, saat aku ada didalam ruangan dingin namun terasa panas untukku.


"Aku ingin pulang, Riki."

__ADS_1


Riki mengangguk, beda dengan Arlan yang berseru protes.


"Lyn ja-


"Kenapa kamu mencegah dia untuk pergi, Arlan."


Kami menoleh ke arah asal suara, dimana ada Tania yang berjalan dengan langkah anggun, memandang kami dengan senyum ganjil.


"Tania, hentikan. Jangan mulai."


Tap!


"Jangan mulai bagaimana?" ujar Tania, setelah sampai di depan kami.


Aku tidak tahan lagi, aku ingin segera pergi dari sini.


"Arlan dan Tania, selamat untuk pertunangan kalian. Bahagia selalu," ujarku menatap kedua orang di depanku, dengan senyum kecil yang aku paksakan untuk muncul.


"Tentu saja, sebagai seorang adik. Kamu harus selalu do'a kan aku, bukan begitu. Arlan?"


"Apa! Adik?"


Arlan menatapku dan Tania dengan ekspresi kaget, sedangkan Riki yang sudah tahu hanya menatapku sedih.


"Seorang adik tidak akan merebut milik kakaknya. Iya kan, Evelyn."


Lagi-lagi ini yang di ucapkan oleh Nona besar di depanku.


"Lyn, ak-


"Cukup, Arlan. Kamu sudah dengar sendiri, aku rasa kamu susah tahu apa maksudnya. Aku permisi."


Aku menyela lagi ucapan Arlan, sebelum meninggal mereka dengan Riki yang mengejar aku.


Aku tidak tahu apa yang menjadi alasan, kenapa sampai aku meninggalkan ruangan tersebut dengan cara seperti ini.


Bukan hanya rasa sakit akibat Arlan, tapi aku lebih sakit saat Ayahku sendiri mengatakan kalimat larangan, seakan-akan Aku ini berusaha merebut Arlan dari Tania.


Bukan kah seharusnya ayah tahu, jika aku bukan anak seperti itu.


Aku terus berlari dengan tangan sesekali menghapus jejak air mata.


Di belakangku ada Riki yang ikut berlari, sambil memanggil namaku khawatir.


"Lyn, tunggu aku!"


Aku ingin berhenti, berbalik arah dan memeluk sahabatku.


Tapi tidak bisa ... Aku semakin berlari, hingga aku merasa tarikan dan aku jatuh kepelukan seseorang.


"Lyn, kenapa kamu begini."


Suara Riki dan harumnya adalah yang ada di hadapanku saat ini, tapi entah kenapa bayangan saat Ayahku mengeluarkan kata-kata itu lah, yang selalu terngiang di telingaku.


"Lyn. Jangan seperti ini, aku mohon."


Bisikannya mambuatku mendongak, melihat ke arahnya dengan mata basah.


"Riki. Apa aku tidak pantas memiliki seseorang yang aku sayangi? Kenapa aku harus kehilangan seseorang dengan cara yang sama seperti ini? Bahkan Ayahku sendiri menyangka jika aku ingin merebut Arlan dari Tania."


"Om Farid."


Riki tidak menjawab pertanyaanku, dia hanya menatapku dengan ekspresi kaget saat aku berkata tentang ayah.


"Riki, Ayahku tidak mencintai aku. Apa aku juga tidak akan memiliki lagi cinta di hidup ini?" ujarku putus asa.


Aku kira cinta paling abadi adalah cinta dari ayahku, nyatanya aku salah ... Justru ayah yang menghancurkan sendiri rasa cintaku.


"Kamu salah, Lyn. Kamu salah!"


Aku memandang Riki tidak mengerti, saat seruan frustrasi keluar dari bibirnya.


Apa yang salah dengan ucapanku.


Ayahku pergi membawa cintaku.


Cinta pertamaku juga pergi, membawa cintaku.


Lalu siapa yang akan mencintaiku?


"Evelyn, lihat aku. Ada aku, aku yang mencintaimu."


Deg!


Seketika aku berhenti terisak saat mendengar perkataan sahabatku.


Apa maksudnya ini?


"Riki?"


"Aku Lyn, aku yang akan selalu mencintaimu. Aku yang dari dulu mencintaimu dalam diam, bagiku kamu adalah segalanya, hingga aku lebih memilih merahasiakannya, dibandingkan aku kehilanganmu."


Apa ....


Apa aku tidak salah dengar.


Riki sahabatku mencintai aku sejak lama.


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ikuti kisah selanjutnya ....

__ADS_1


Sampai babai.


__ADS_2