Bukan Salahku

Bukan Salahku
Salah Paham


__ADS_3

Aku dan dia tidak ada hubungan apa-apa.


Bagaimana bisa kamu menuduhku seperti itu?


Tolong kamu jelaskan, tolong kamu tegaskan.


Siapa kita saat ini dan apakah pantas, dia berkata seperti ini kepadaku.


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Di sebuah mobil mewah keluaran terbaru, duduk si pengendara di belakang stir kemudi, mengendarai mobil dengan santai, serta jari-jari lentiknya sesekali mengetuk stir kemudi.


Saat ini si pengemudi atau juga Tania, sedang dalam perjalanan menuju perusahaan tunangannya, hendak mengajak makan siang saat hatinya cemburu, teringat akan cerita menyebalkan dari temannya.


"Sial, awas saja jika cerita itu benar," gumamnya tanpa perlu menyembunyikan rasa kesalnya.


Di depan sana sudah terlihat komplek gedung perkantoran, dengan papan nama TRI TUNGGAL tercetak besar, membuatnya semakin senang saat ia tidak sabar bertemu tunangan tampannya.


Sesampainya ia di area parkir perusahaan milik Arlan, ia pun turun setelah membenahi sedikit penampilannya agar sempurna.


Ia tidak mau tampil acak-acakan di depan tunangan, apalagi di depan karyawan perusahaan tunangannya.


Ia harus selalu terlihat cantik dan mempesona, agar semua tahu jika Arlan beruntung memilikinya.


Blam!


Setelah memastikan pintu mobilnya tertutup sempurna, ia pun melangkahkan kakinya dengan mantap, serta dagu terangkat saat ia berpapasan dengan semua karyawan.


Mereka harus tahu ia siapa, mereka harus hormat kepadanya dan juga mereka harus mengerti posisinya seperti apa.


Kelak ia akan menikah dengan pemilik perusahaan, itu artinya kelak ia pemilik perusahaan ini juga.


Hatinya gembira saat memikirkan kesenangannya, melupakan fakta jika sang tunangan bahkan enggan meliriknya.


Untuk saat ini mungkin belum melirik, tapi ia jamin ia akan membuat Arlan bertekuk lutut di kakinya.


"Selamat siang, ada yang bisa di bantu?" tanya seorang reseptionis ramah.


"Bapak Arlan ada?" tanya Tania dengan nada sombong seperti biasa.


"Sudah ada janji?"


"Kamu belum tahu siapa saya?" tanya Tania tidak terima.


"Maaf nyonya!"


"Saya tunangan pemilik perusahaan ini, apa harus saya punya janji dulu baru bisa bertemu?" ujarnya kesal.


Wajahnya merah padam saat melihat sekeliling, jika ternyata ia masih belum di kenali bawahan atau juga karyawan tunangannya.


"Maaf Nyonya!"


"Huh!"


Tanpa menunggu informasi dari petugas tersebut, ia mendengus sinis pergi meninggalkan lobby dan berjalan menuju lift berada.


"Tahu gini langsung aja ke atas," gumam Tania kesal.


Ting!


Pintu lift pun terbuka, ia segera memasukinya dan mengubah wajahnya menjadi senyum lagi.


"Kira-kira sedang apa dia?" gumamnya penasaran.


Angka di layar atas menunjukkan lantai 18 artinya 1 lantai lagi ia sampai.


Ting!


Pintu pun terbuka, membuat senyumnya yang sudah mekar berubah lagi menjadi marah, saat melihat kejadian di depannya.

__ADS_1


Seorang asisten, yang kemarin sudah bilang tidak akan dekat dengan tunangannya lagi, kini sedang memegang lengan tunangannya yang terlihat sedang menahan marah.


"Tidak, Ar. Dengar kan ak-


Ucapan Evelyn berhenti, berganti dengan mata melotot kaget saat ia melihat Tania, yang berdiri dengan ekspresi marah melihatnya.


Sedangkan Arlan yang melihat wanita gila di depannya, semakin marah ketika dirinya dari awal sudah marah.


"Mau apa kamu kemari?" sentak Arlan menatap tajam ke arah Tania, yang semakin melihat Evelyn murka.


"Tania."


Evelyn melepas pegangan tangannya di lengan Arlan, saat ia sadar jika Tania melirik marah ke arah tangannya.


Kemarahan Tania sudah berada pada ambang batasnya, dengan rasa ingin mencabik wajah si asisten tidak tahu malu, ia keluar dan melayangkan tangannya, diikuti oleh umpatan kasar yang membuat Arlan marah seketika.


"Wanita murahan."


Plak!


"Tania! Apa-apa'an kamu!"


Kejadiannya sangat cepat, hingga Arlan atau Evelyn sendiri tidak menyadarinya.


Yang jelas adalah Tania yang berdiri di depan Evelyn, dengan Evelyn yang memegang pipi kirinya menahan sakit.


"Wanita sialan, bukan kah sudah aku peringatkan untuk tidak mendekati Arlan lagi? Apa kamu tuli hah!"


"Seharusnya aku leb-


Plak!


Suara tamparan terdengar lagi, dengan pelaku Arlan yang menatap Tania murka.


Jika tadi adalah sang asisten yang menahan sakit, saat ini adalah Tania, yang menatap Arlan dengan pandangan tidak percaya.


Tangannya bahkan tidak pernah memukul nyamuk sekalipun.


Meski kini tangannya gemetar pasca sadar dari perbuatannya, nyatanya ia tidak menyesal telah melakukan tindak kekerasan.


"Arlan."


Tania menatap tunangannya tidak percaya, matanya menatap nanar Arlan yang balik menatapnya murka.


"Bukan kah sudah aku bilang, jangan pernah kamu ke sini lagi. Jangan pernah injakkan kakimu di perusahaanku lagi, jangan pernah perlihatkan wajah kamu lagi."


Nada suara yang di keluarkan oleh Arlan dingin, saat melihat wanita yang di cintainya memegang pipi dengan wajah menunduk.


"Arlan, kamu tega tampar pipi aku!" seru Tania murka, tidak dengan raut wajah marah tunangannya.


"Kenapa? Kamu yang lancang menyakiti wanitaku. Kamu yang sialan, wanita sialan!"


Arlan tidak kalah saat Tania marah dengannya, sudah dari awal ia sedang dalam keadaan marah di tambah kejadian barusan ia semakin marah saja.


"Minta maaf," desis Arlan dengan nada bahaya.


Tania diam, mengeraskan ekspresi wajahnya saat melirik ke samping.


"Aku bilang minta maaf!" bentak Arlan, membuat dua wanita di hadapannya berjenggit kaget.


Bagi Evelyn ini adalah kedua kalinya mendengar nada marah seorang Arlan.


"Tidak-tidak-tidak, aku tidak akan sudi meminta maaf dengannya," tolak Tania menunjuk Evelyn yang masih diam.


"Tania jangan uji kesabaranku."


"Apa Arlan apa! Aku ini yang tunangan kamu, kamu malah bela dia," ujar Tania emosi.


"Tentu saja, siapa kamu hah? Tunangan? Bahkan aku sama sekali tidak pernah menganggap kamu ada," balas Arlan dengan segala uneg-unegnnya.

__ADS_1


"Apa?"


"Kamu tul-


"Cukup!"


Ucapan Arlan terpaksa berhenti, saat Evelyn menyelanya dengan pekikan keras.


Dua orang yang tadi adu mulut itu terdiam, melihat ke arahnya yang balik menatap keduanya marah.


"Lyn-


"Cukup Arlan, diam!"


Arlan terdiam dengan hati sakit, saat melihat pipi mulus asistennya berwarna merah.


"Aku tidak mendekati Arlan, tapi aku juga tidak bisa jauh-


"Apa maksud kamu!"


Ucapan Evelyn dengan cepat disela oleh Tania, sehingga ia pun memandang Tania dengan tangan mengepal menahan emosi.


"Aku bekerja disani, aku adalah asistennya. Apakah aku akan di anggap perebut juga, saat aku sedang membahas pekerjaan bersamanya, bersama Presdirku?" tanya Evelyn menatap tajam Tania.


Lucu sekali ... Bahkan jika ia mau, ia bisa saja membuat Arlan membatalkan Pertunangan mereka.


"Kamu bisa mengundurkan diri."


"Inginku seperti itu, tapi sayang sekali. Aku terikat kontrak hingga lima tahun yang akan datang, kecuali jika Arlan sendiri yang meminta."


"Arlan pecat dia sekarang juga!" perintah Tania, menatap Arlan yang hanya diam memandangnya datar.


"Siapa kamu?" tanya Arlan menantang.


Dalam hati Arlan bersiul takjub, saat melihat Evelynnya berani melawan wanita arogan di depannya.


"Arlan aku tunanganmu!"


"Luc-


"Cukup, kalian lanjutkan pertengkaran rumah tangga kalian."


Arlan terdiam saat Evelyn menyelanya lagi, lalu menatap Evelyn dengan sorot mata tidak terima.


"Rumah tangga bulshit," batin Arlan mendengus kesal.


"Dan Pak Presdir tolong, jelaskan dengan benar kepada Nyonya Tania yang terhormat, siapa saya dan ada hubungan apa saya dengan bapak. Saya permisi," ujar Evelyn sebelum meninggalkan kedua pasangan tunangan, dengan salah satu memanggil namanya khawatir.


"Evelyn, mau kemana kamu!"


"Arlan, jelaskan apa maksudny-


"Cukup, pergi kamu dari sini!"


Itu adalah hal yang terakhir di dengar oleh Evelyn, sebelum ia berbelok menuju toilet yang masih berada di lantai tempatnya bekerja.


"Kenapa seperti ini lagi," batin Evelyn sedih.


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ikuti kisah selanjutnya ....


Update berikutnya jam 5 sore, di tunggu ya.


Jangan lupa vote dukunganya dan tap like serta komentar ya ...


Sampai babai.

__ADS_1


__ADS_2