
Mempesonanya dirimu
Menyungging senyumanmu
Menghiasi raut wajah sendumu
Namun mendiamkan detak jantungku
Mataku mencuri senyummu
Perlahan menghantam jantungku
Bingung aku dengan kehadiranmu
Mungkinkah kau akan menerimaku
Kutakut akan kehilanganmu
Andai kau tahu perasaanku
Yang jatuh cinta padamu.
****
Kondominium Arlan
"Arlan yah?"
Arlan mengernyit bingung, saat seorang wanita paruh baya menyebut namanya. Alisnya terangkat sebelah, merasa asing dengan orang di depannya.
"Siapa?" tanya Arlan bingung.
"Saya Kana Brata, boleh saya masuk?" balas wanita tersebut, yang menyebut dirinya dengan nama Kana.
Meskipun Ia tidak menyukai orang asing masuk di hunian pribadinya, tapi saat melihat perut besar dari ibu di depannya, membuat Ia mengalah dan akhirnya mengizinkan masuk.
"Silakan masuk," ujar Arlan membuka pintunya sedikit lebar, menyingkir ke samping memberi jalan untuk Si ibu.
"Terima kasih!" balas Kana dengan lembut.
Arlan pun menggiring Kana menuju ruang tamu dan mempersilakannya duduk di sofa, sedangkan Ia sendiri sudah duduk berhadapan dengan ibu di depannya.
"Jadi ada apa?" tanya Arlan to the point, Ia tidak punya waktu untuk berbasa-basi.
Sesekali Ia melihat ke arah arloji di pergelangan tangan kanannya, sedikit mengumpat saat waktu sebentar lagi akan memasuki jam makan siang.
"Sial, lewat deh waktu makan siang," batin Arlan gelisah.
"Begini Arlan. Saya adalah ibu dari Tania, perempuan yang akan di nikahkan dengan kam-
"Wait ... Tunggu sebentar, nikah? Sejak kapan saya punya calon istri untuk saya nikahi?" sela Arlan kaget, Ia hampir saja berdiri dari duduknya saat mendengar perkataan ngaco, dari ibu paru baya di depannya.
"Ibu salah alamat ya?" Lanjutnya dengan dengusan geli.
Kana yang di depannya menampilkan senyum keibuan, namun dengan isi hati berbeda.
"Apakah Papa Kamu belum memberitahu?" tanya Kana masih dengan senyum keibuannya.
"Maksudnya Keanu?" balas Arlan menyebut nama Sang papa dengan nada malas.
"Ya ... Keanu itu kebetulan teman tante, ibumu juga. Kami semua berteman dari zaman kami sekolah!" ujar Kana menjelaskan dengan pelan.
"Ibuku? Tapi Saya tidak pernah bertemu dengan anda!" seru Arlan kaget, Ia tidak menyangka ada teman mendiang ibunya yang datang menghampirinya.
Dan
"Apa-apa'an ini, kenapa ada kata pernikahan dan teman ibu di dalam satu waktu. Apa maksudnya?" batin Arlan mencoba memahami.
Kana tersenyum saat mendapat respon kaget dari laki-laki, yang akan menjadi menantunya kelak.
"Iya ... Tentu saja Kita tidak pernah bertemu, tapi saya tahu waktu Kamu kecil seperti apa. Kamu sangat manja dengan ibumu, bukan kah seperti itu?" balas Kana menjelaskan.
"Tapi, tapi apa maksudnya dengan pernikahan? Saya tidak mengerti." tanya Arlan.
Ia melihat Kana dengan ekspresi bingung sangat kentara, meskipun Papanya sudah memberitahu, tetap saja Ia tidak pernah menyetujui ini semua.
"Tidak bisa, bagaimana dengan Evelyn," batin Arlan cemas.
"Begini Arlan, Kami ..."
Dan Arlan pun mendengarkan cerita demi cerita dari wanita di depannya dengan serius.
"Tidak mungkin." batin Arlan.
Skip
Keesokan harinya
PT. TRI TUNGGAL
__ADS_1
Ruangan dengan aroma pengharum ruangan itu sunyi, saat Si empunya ruangan diam tanpa melakukan sesuatu.
Di kursinya Arlan hanya menatap kosong ke arah layar laptop, tanpa niat menghidupkannya.
Tak!
"Kopinya Ar, di minum!"
Diam ... Arlan hanya diam tidak menyahuti seruan dari seorang wanita di depannya yang adalah Evelyn.
Dan Evelyn melihat kelakuan Arlan dengan alis mengernyit, heran dengan sikap diam dari Presdirnya.
Biasanya Arlan akan menggoda atau menjahilinya.
"Ada apa dengan Arlan?" gumam Evelyn pelan.
Ia pun mengayunkan telapak tangannya di depan wajah Arlan, namun sayang tidak ada tanggapan sama sekali.
"Ar, Arlan ... Kamu kenapa?" ujar Evelyn khawatir.
Karena masih belum mendapat respon dari Presdirnya, Ia pun dengan ragu memegang bahu Presdirnya, membuat Sang Presdir tersentak kaget dan melihatnya dengan mata tidak fokus.
"Ar!"
"Akh!! Ada apa?" tanya Arlan kaget, Ia melihat asistennya yang menatap dirinya khawatir.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Evelyn khawatir, ekspresi wajahnya menunjukan apa yang di rasakannya, sehingga Arlan yang melihatnya seketika menyesal, telah membuat asisten kesayanganya menampilkan ekspresi seperti itu.
"Maaf Aku, aku-
"Yang penting Kamu tidak apa-apa, Kamu tidak perlu menjelaskannya." sela Evelyn cepat.
Deg!
Jantung Arlan berdetak saat mendengar nada khawatir dari Evelyn, Ia merasa jika Evelyn sudah mulai menerima dan membuka hati untuknya.
"Tapi, apa yang harus Aku lakukan?" Batinnya bimbang.
"Aku tidak apa-apa, jangan khawatir!" seru Arlan dengan senyum menenangkan.
Evelyn mengangguk dan tersenyum kecil.
Sudah lebih dari seminggu lebih mereka menjalani hari dengan rasa terbuka, bahkan mereka juga sudah mulai dekat dan jalan menghabiskan waktu bersama.
"Oh iya Ar, mengenai rencana kerja sama dengan perusahaan Wijaya, Bukan kah Kita ada meeting lagi?" tanya Evelyn sambil memeriksa buku kegiatan Presdirnya.
"Em ... Kamu sudah atur tanggalnya?"
"Hum ... Bagus, Kamu selalu bisa di andalkan."
"Terima kasih, Aku akan bekerja sangat keras!" seru Evelyn dengan berbinar.
Arlan merasakan sesuatu yang berbeda dengan dirinya saat ini, sebelum seorang wanita menemuinya dengan sebuah fakta, Ia merasa hidupnya bebas tanpa beban tapi sekarang.
"Shit," batin Arlan mengumpat kesal, apalagi saat mengingat perkataan yang sungguh membuatnya bimbang seketika.
"Ar, Arlan!"
"Ah ... Ada apa?" balas Arlan kaget.
Lagi-lagi Ia tidak sadar saat terbawa ingatan tentang hari kemarin, hari libur yang seharusnya Ia habiskan dengan Evelyn, malah berakhir Ia yang diam di kamar sendirian.
"Kamu ada apa sih?" tanya Evelyn penasaran.
Tentu saja penasaran, Arlan jarang seperti ini tapi hari ini Dia tidak fokus, sebenarnya ada apa dengan Presdirnya.
"Aku tidak apa-apa, Aku hanya teringat sesuatu," balas Arlan dengan senyum canggung, menuai helaan nafas dari Evelyn yang berdiri di depannya.
"Oke Ar, sebaiknya Kamu minum kopimu dulu. Aku tinggal keluar, Aku harus bertemu Ibu Klarissa. Kalau ada yang di perlukan, hubungi Aku," ujar Evelyn mengalah.
"Iya," balas Arlan singkat dengan kepala mengangguk.
"Kalau begitu Aku keluar," ujar Evelyn sambil membalikkan tubuhnya, berjalan menuju pintu keluar dengan Arlan yang memandang punggung Evelyn nanar.
Blam!
"Sialan!" umpat Arlan kesal sambil membanting pena, ke arah dinding jauh dari tempatnya duduk saat ini.
"Apa yang harus Aku lakukan?" gumam Arlan dengan tangan meremas rambutnya frustrasi.
Kediamanan Brata
Di kamar milik Tania, ada Kana yang sedang duduk menghadap Sang anak yang melihatnya dengan pandangan berbinar senang.
"Jadi mah bagaimana ceritanya, apakah berhasil?" tanya Tania semangat.
"Tentu saja." balas Kana singkat.
"Ceritakan dengan detail Mah, Aku penasaran!" seru Tania.
__ADS_1
Kana diam-diam mendengus saat melihat anaknya yang tidak sabaran.
"Persis seperti Papanya." batin Kana.
"Begini ceritanya ....
Flasback on
"Begini Arlan, Kami sebenarnya memiliki janji satu sama lain. Janji tentang perjodohan antara anak-anak kami," ujar Kana menjelaskan namun belum benar-benar menjelaskan semua.
"Perjanjian perjodohan?"
"Iya ... Aku dan Bulan adalah teman, Kami berdua dekat dan saling menganggap satu sama lain sebagai saudara. Hingga terjadi lah perjanjian tersebut," balas Kana dengan ekspresi semeyakinkan mungkin.
"Tapi-
"Tante tahu ini sangat mendadak, tapi tante hanya ingin memenuhi janji Tante, pada mendiang ibumu. Tante bersalah tidak hadir saat pemakaman ibumu dulu, saat itu tante sedang ada di luar negeri,"
Kana menjeda kalimatnya, melihat ekspresi dari pria muda di depannya saat ini.
"Kamu sudah dekat dari dulu, sepanjang Kami sekolah hingga Kami menikah Kami selalu main bersama. Kamu lahir juga Tante ada, apa Kamu percaya dengan ucapan Tante?" lanjut Kana bertanya dengan sungguh-sungguh, kepada Arlan yang hanya bisa terdiam, saat mendengar penjelasan tiba-tiba darinya.
Flasback end
"Jadi Arlan masih belum merespon Mah?" tanya Tania sedikit kecewa.
"Iya Dia diam saja, tapi Kamu harus tahu kalau diamnya lelaki artinya Dia sedang memikirkan ini dengan serius. Kamu tenang saja, lalu Kamu sendiri apa sudah siap dengan peran Kamu?" balas dan tanya Kana menatap Anaknya dengan serius.
"Tentu dong Mah, Aku sudah tidak sabar!" seru Tania semangat.
"Bagus, kalau begitu Mama pergi ke Dokter dulu. Sepertinya adikmu maju tanggal lahirnya," balas Kana berdiri dari duduknya dan berjalan meninggalkan kamar Sang anak, setelah mendapat jawaban dari Sang anak.
"Iya ... Selamat berjuang!"
Kana mendengus nada semangat dari anaknya, Ia hanya berharap semoga anaknya cepat menikah dan cepat mengurus masalah pembagian harta.
Anak di kandungan perlu status sebagai pemilik saham dan juga Tania berjanji akan memberikan beberapa persen saham, untuk adiknya yang artinya Dia nanti akan mendapat dua kali lipat saham.
"Cepat menikah, cepat dapat saham," gumam Kana dengan senyum sinis, berjalan meninggalkan kamar Sang anak dengan jalan perlahan.
Sepeninggalnya Sang ibu, Tania segera membuka kotak yang sudah di siapkannya.
Ia melihat dengan mata berbinar senang, mengusapnya perlahan dan tersenyum miring.
"Akhirnya Kamu akan jadi milik Aku, Arlan. Lihat saja, dulu Kamu tidak mengakui Aku dan sekarang, Kamu akan ada di genggaman tangan Aku," ujar Tania dengan segala rencana indahnya.
"Ah ... Jadi tidak sabar," Lanjutnya kemudian memakai benda tersebut, berjalan menuju cermin besar dan melihat pantulan dirinya disana..
"Aku pastikan, Kamu tidak akan menolak Aku lagi."
PT. TRI TUNGGAL
Arlan pov on
Saat ini Aku sedang sendirian, duduk diam merenungi kejadian kemarin siang.
Sungguh Aku sedang tidak konsentrasi, sehingga pekerjaan yang asistenku berikan Aku biarkan begitu saja.
Asistenku baru saja pergi keluar, meninggalkanku yang hanya bisa menatapnya nanar.
Sial ...
Entah sudah berapa kali Aku mengumpat, yang pasti umpatan saja tidak akan cukup.
Cerita dari ibu Kana jelas maksudnya apa, tapi jika Aku mengikuti apa perjanjian lama ibuku dan ibu Kana, artinya Aku harus melupakan Evelyn dan menikah dengan wanita bernama Tania.
Tunggu ...
Aku ingat dengan seorang wanita di pesta, yang menyebut dirinya sebagai Tania dengan nama keluarga Brata, sama seperti nama ibu Kana.
Apa ini maksud dari ucapan ngaco wanita itu dulu, apa Papa juga sudah tahu tentang ini.
"Papa kenapa tidak cerita." gumam Arlan.
"Fikirkan Arlan, tante hanya tidak ingin membuat mendiang ibumu kecewa. Tante harap Kamu bisa memikirkan ini."
Kalimat itu terus Aku ingat dan Aku fikirkan, membuat Aku frustrasi saat memikirkannya.
"Ya Tuhan, apa Aku harus mengikuti apa mau ibu atau memilih jalan hidupku sendiri?" Gumamku bertanya, bertanya entah pada siapa.
Saat ini Aku tidak tahu, apakah harus mentertawai nasib atau menangisi nasib malangku.
Bari berjuang saat bertemu cinta, tapi harus mengalah dengan kenyataan.
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Apa yang akan di lakukan Tania dan bagaimana dengan Evelyn.
__ADS_1
Nantikan kisah selanjutnya ....
Sampai babai