Bukan Salahku

Bukan Salahku
Hati Yang Tersakiti


__ADS_3

Mencoba tuk bertahan di tengah kepungan badai cobaan


Lelah dalam melangkah menggenggam cinta 'tak berbalas


Warna pelangi hanyalah semu yang dirasakan


Hilang tersalip awan-awan biru yang menderu-deru


Lupakan semua kenangan dan janji-janji hati


Kepastian sudah diberikan


Namun pengkhianatan menjadi jawaban


Cinta sejati kini telah ternodai


Hampa terasa sunyi di dalam jiwa


Menanti harapan melepas masa-masa kelam


Melangkah maju menuju sebuah harapan


Cinta sejati sudah jauh dan pergi


Berlalu pilu ditelan oleh sang waktu.


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Sepanjang perjalanan yang lalui sepasang Bos dan Asisten ini, tidak ada percakapan yang seperti biasa mereka lakukan.


Keterdiaman Arlan di sampingnya, membuat Evelyn yang merasakan menatap penasaran, kearah Sang Presdir dengan pandangan bingung.


Biasanya Arlan, meski hanya menoleh, pasti tidak akan ketinggalan mengerlingkan mata atau juga mengeluarkan kata-kata menggoda.


"Tapi kenapa Dia diam saja?" batin Evelyn bertanya.


Rasa penasaran menggerogoti hati Evelyn, Ia ingin bertanya, namun Ia tidak berani. Meskipun mereka sudah dekat lebih dari sekedar Astasan dan Bawahan, tapi ini terlalu lancang baginya.


"Sebenarnya apa yang terjadi dengannya?" Lanjutnya masih dalam hati.


Karena melamun memikirkan apa yang terjadi dengan Presdirnya, Evelyn tidak menyadari jika Ia menatap Arlan dengan kening berkerut, membuat Arlan yang merasa di perhatikan menoleh kearahnya dengan alis terangkat.


"Ada apa, Lyn? Ada sesuatu yang mengganggumu?" tanya Arlan tiba-tiba.


Evelyn tersentak kaget saat mendengar pertanyaan dari Arlan, Ia buru-buru menggeleng kepala dengan tangan terayun, jangan lupakan senyum kaku yang terlihat lucu di mata Sang Presdir.


"Santai Lyn. Bukankah sudah Aku bilang, Kamu boleh bertanya, jika ada sesuatu yang mengganjal di fikiranmu?" ujar Arlan tersenyum kecil, meski wajahnya tidak menoleh, tapi itu cukup untuk membuat Evelyn sedikit merasakan lega.


"Aku kira ada yang tidak beres," batin Evelyn sambil tersenyum kecil.


"Ada sih," gumam Evelyn ragu.


"Apa? Tanyakan saja," ujar Arlan, melihat sebentar kearah Evelyn lalu kembali kearah jalan, fokus menyetir lagi.


"Tentang tadi di Restoran." ujar Evelyn.


"Hum?"


"Kenapa, Kamu seperti buru-buru begitu? Apakah ada sesuatu yang mengganggu Kamu?" tanya Evelyn menatap Arlan penasaran.


Ckitt!


Dug!


"Ouch!"


Mobil yang di kendarai oleh Arlan berhenti tiba-tiba, saat Ia mendengar pertanyaan penasaran yang membuatnya jantungan seketika.


Ia yang terlalu kaget dengan kepekaan Asistennya, mendadak mengerem mobilnya hingga bunyi decitan ban dan bunyi sesuatu terbentur terdengar setelahnya.


Ia dengan panik melihat kearah samping, dimana Sang asisten memegang kening korban rem mendadaknya, di sertai ringisan yang membuatnya khawatir seketika.


"Lyn! Kami tidak apa-apa? Maaf Lyn, Aku-ak-


"Ukh! Tid-tidak ... Aw! Tidak apa-apa, Ar,"


Evelyn dengan cepat di sertai ringisan menyela ucapan Presdirnya, Ia masih memegang keningnya saat Arlan ikut memegang keningnya dengan gerakan panik.


"Kita ke Dokter sekarang, Kamu har-


"Tidak perlu, Ar!" seru Evelyn menyela lagi ucapan Presdirnya.


Ia melihat kearah samping, dimana Arlan melihatnya dengan ekspresi khawatir yang kentara dan itu membuatnya geli, karena sikap berlebihan Sang Presdir.


"Tapi-


"Aku hanya terjeduk, tidak lebih. Lihat! Kening Aku juga tidak apa-apa, tidak perlu di obati, Ar." sela Evelyn.


"Lebih baik sekarang Kamu jalankan lagi mobilnya," lanjut Evelyn, saat melihat Presdirnya hendak mengucapkan kalimat lagi.


Karena tidak bisa membantah perkataan Asistennya, Ia pun hanya mengangguk pasrah dan kembali menghadap stir kemudi, memindahkan persneling melaju dengan kecepatan sedang.


"Tapi benar kan, kamu tidak apa-apa?" tanya Arlan belum puas.

__ADS_1


"Iya ... Aku tidak apa-apa, Ar," balas Evelyn dengan senyum kecil.


Setelahnya suasana pun sunyi lagi, hanya suara musik instrumentasi saksofon dari handphone Arlan, yang memenuhi indra pendengaran mereka.


Tidak lama, mobil yang di kendarai Arlan sampai di depan gerbang kost milik Evelyn.


Ia mematikan mesin mobil, turun lebih dulu lalu membukakan pintu penumpang untuk Asistennya.


"Terima kasih!" seru Evelyn semangat, melupakan segala rasa curiga terhadap Arlan, karena baginya saat ini mereka masih belum ada apa-apa.


"Tidak perlu,".


"Oh iya ... Kening Kamu sudah tidak apa-apa?" lanjut Arlan bertanya.


"Eh! Kening Aku yah, sudah tidak apa-apa kok. Lihat sudah tidak merah," balas Evelyn meyakinkan, Ia menunjuk keningnya dengan tangan kanan dan tersenyum kecil.


Di saat Evelyn menunjuk keningnya yang sudah membaik, mata Arlan tidak sengaja melihat ruam merah di pergelangan tangan Asistennya yang seharusnya putih.


"Tangan Kamu kenapa?" tanya Arlan saat melihat pergelangan tangan Evelyn yang memerah.


"Kenapa merah seperti ini?" Lanjutnya khawatir.


"Eh!"


Evelyn dengan segera memeriksa pergelangan tangannya, dimana ada bekas merah hasil tarikan tangan Sang Presdir saat mereka meninggalkan Restoran tadi.


"Ini ... Ini bukan apa-apa kok, nggak sakit!" seru Evelyn dengan menggerakkan tangannya, menunjukan jika tangannya baik-baik saja.


"Apa ini karena Aku?" gumam Arlan lirih.


"Aku nyakitin Kamu, di Restoran tadi yah?" lanjutnya bertanya.


Arlan mengulurkan tangannya, mengambil kedua tangan Evelyn untuk di perhatikannya dengan seksama.


Kulit Evelyn yang putih membuat sentuhan kecil meninggalkan bekas, itu sebabnya genggaman tangan Arlan saat menariknya keluar tadi, membuat pergelangan tangannya sedikit meninggalkan jejak ruam merah.


"Maaf," gumam Arlan lirih, dengan mengusap pelan kedua pergelangan tangan Asistennya lembut.


"Maafin Aku, Aku nyakitin Kamu," Lanjutnya masih bergumam.


Evelyn tersenyum kecil, saat mendengar gumaman menyesal dari laki-laki di depannya.


Ini bukan salah Presdirnya, ini salahnya sendiri yang memiliki kulit terlampau putih, jadi sekecil apapun bekas fisik, pasti akan terlihat dengan jelas.


"Tidak, Aku tidak apa-apa. Tadi sih saki-


"Tuh kan, Kamu kesakitan. Aku salah Lyn, Ak-


"Ih ... Dengerin dulu penjelasan Aku, Tuan Presdir yang terhormat!" seru Evelyn gemas, menyela kalimat penyesalan yang akan di ucapkan Presdirnya, membuat Sang Presdir pun mengangguk dengan cepat.


"Ini bukan salah Kamu. Ini karena kulit Aku yang terlalu sensitif, oke. Jadi jangan di buat ribet, selesai," ujar Evelyn tegas.


"Oke, Lyn," balas Arlan masih dengan ekspresi bersalah.


"kalau begitu Kamu pulang, istirahat." ujar Evelyn.


"Aku tidak di undang masuk dulu?"


"Tidak, lain kali saja!" seru Evelyn cepat.


"Is ... Oke deh," balas Arlan lemas.


"Kamu juga perlu istirahat, jangan kerja terus," ujar Evelyn mengingatkan dengan lembut, membuat Arlan yang mendengarnya tersenyum dan mengangguk mengiyakan.


"Oke, apapun itu, jika Kamu yang bilang," balas Arlan tersenyum sumringah.


"Hum ...kenapa karena Aku?"


"Karena Kamu, segalanya buat Aku!" seru Arlan menjawab dengan tegas.


"Dih ... Gombalnya tidak habis-habis," balas Evelyn dengan kekehan kecilnya.


"Siapa yang gombal, Aku serius tahu!" seru Arlan tidak terima.


"Orang serius kok, di ketawain," gumam Arlan sebal.


"Oke-oke ... Kamu lagi tidak gombal, sekarang Kamu pulang lalu istirahat," balas Evelyn setelah terkekeh, kepalanya menggeleng heran dengan sikap Presdirnya.


Di luar banyak yang melihat Dia adalah sosok yang tegas dengan aura wibawanya, tapi lihat di hadapannya, yang ada hanya Bos dengan segala macam kegombalannya.


"Mungkin sebentar lagi Aku akan ..."


"Baiklah, Aku pulang dulu. Salam untuk Ibu," ujar Arlan mengalah.


"Iya, nanti Aku sampaikan!" seru Evelyn tersenyum kecil.


"Aku pulang dulu, sampai jumpa besok," ujar Arlan lembut, mengusap sisi wajah Asisten kesayanganya dengan penuh perasaan.


Evelyn meresapi usapan yang di terimanya, rasanya seperti usapan ayahnya dulu, hangat dengan tangan besar, memberikan efek nyaman baginya yang hampir terlena.


"Hati-hati," gumam Evelyn pelan, tersenyum manis membalas usapan sayang yang di terimanya.


"Of course." balas Arlan.

__ADS_1


Ia melepas dengan tidak ikhlas tangannya yang di gunakan untuk mengusap, berganti dengan menepuk lembut kepala Asistennya, sebelum memasuki mobil dan meninggalkan depan gerbang kost milik Asistennya.


Kegiatan keduanya di saksikan oleh seseorang, yang melihatnya dari dua sisi berbeda.


Satu dari dalam mobil dan satu lagi dari jendela kamar kost milik Evelyn.


"Riki, ada apa?"


Sebelumnya


Riki hari ini ada pekerjaan di luar kantor, Ia harus melihat lokasi yang akan menjadi tanggung jawabnya, saat kliennya meminta desainnya atas ruangan lobby kantor perusahaan terkenal.


Karena hari ini hanya melihat dan mencari gambar besar dari desainnya, pekerjaannya pun tidak terlalu makan waktu banyak, jadi Ia pun memutuskan untuk mengunjungi kost milik sahabatnya, sekedar melihat Ibu dari Sahabatnya yang sudah di anggap seperti Ibunya sendiri.


Sayang sekali ... Sepertinya nasibnya sedang sial, karena saat Ia ada di jalan menuju kost milik Evelyn, ternyata mobilnya tiba-tiba mogok.


Tapi untunglah karena lokasi yang tidak terlalu jauh dari kost milik sahabatnya, jadi Ia putuskan untuk menaiki ko-jek online, sedangkan mobilnya Ia tinggalkan di bengkel.


Saat ini Ia sudah ada di depan pintu kost milik Evelyn, Ia mengetuk pintu dan mendengar suara sahutan yang di kenalnya dari dalam.


"Sebentar!"


Ceklek!


"Riki! Kamu datang! Tapi, Ibu tidak mendengar suara mobil Kamu?" tanya Mirna bingung, sebab suara kendaraan yang ada di depan kost milik Anaknya pasti akan terdengar.


Riki tersenyum dengan tangan menggaruk leher canggung.


"Mogok Bu, orang bengkel bilang Akinya bermasalah," balas Riki menjelaskan.


"Oh! Ya sudah masuk, tapi kan Lyn masih di kantor," ujar Mirna sambil membuka pintu sedikit lebar untuk laki-laki, yang sudah Ia anggap anak sendiri.


"He-he, tahu kok Bu. Tapi kan bukan hanya Evelyn, yang harus Aku perhatikan," balas Riki dengan kekehannya.


Ibu Mirna tersenyum melihat ketulusan yang di berikan oleh Riki, sahabat Anaknya dari mereka kuliah.


"Andai saja Evelyn melihatnya," batin Mirna sedih.


"Ah! Sayang Ibu sudah tua, coba saja kalau masih muda. Ibu pasti Kejer-kejer Kamu," goda Mirna, membuat Riki bergerak salah tingkah.


"Ibu bisa saja!" seru Riki malu.


"Ya sudah ... Ibu buatkan minum ya, ibu ke-


"Taraa! Ibu tidak perlu repot ke bawah, hanya untuk membuatkan Aku minuman Bu. Aku justru bawakan makanan kesukaan ibu!" seru Riki semangat, menunjukkan kantung plastik di tangannya.


"Wah ... Sop jamur, tahu saja Ibu ingin makan itu. Terima kasih, Nak Riki!" seru Mirna ceria, saat Riki menunjukan kantung plastik dengan logo sebuah restoran.


"Tentu saja, Bu. He-he!" seru Riki terkekeh senang.


"Kalau gitu Ibu ambilkan peralatan makan dan siapkan meja yah, kali ini biarkan Ibu yang siapkan. Oke!"


"Oke deh!"


Mirna pun meninggalkan Riki di ujung pintu, melakukan sesuatu sesuai perkataannya.


Sedangkan Riki ikut berjalan memasuki kamar dan meletakkan plastik tersebut, di atas meja kecil yang sudah di siapkan Ibu dari Evelyn.


Saat akan membuka kantung plastik, telinganya tidak sengaja mendengar mesin mobil yang di matikan dari arah depan, membuatnya penasaran dengan siapa pemilik mobil tersebut.


Ia pun berjalan ke arah jendela, melihat kearah luar dengan kening beekerut.


Di depan sana Ia melihat dengan mata kepalanya, saat tangan Evelyn di genggam dan saat pipi Evelyn di usap oleh seorang laki-laki, yang sangat Ia kenali.


Hatinya seketika sakit, saat harus menyaksikan sendiri, bagaimana kedekatan dua orang yang sama-sama Ia sayangi.


Di satu sisi Ia sangat menyayangi sepupu satu-satunya dan di satu sisi Ia sangat menyayangi wanita yang saat ini merajai hatinya.


"Apa dengan ini, Aku harus mengalah?" Batinnya sedih.


Tangannya mengepal menahan emosi yang di rasakannya, fakta satu per satu berdatangan, membuatnya sadar satu hal akan semua kenyataan di depannya.


Evelyn bukan untuknya ....


"Tuhan, apa ini yang di takdirkan untukku? Jika Iya, izinkan Aku tetap bersamanya, tinggal di sisinya. Biarlah Aku mengalah, jika itu untuk kebahagiaannya," batin Riki dengan hati tersayat perih.


"Riki, ada apa?"


Ia tersentak kaget saat mendengar pertanyaan dari Ibunya, Ia pun menolehkan wajahnya kemudian tersenyum kecil.


"Tidak ada apa-apa, Bu!" seru Riki mencoba tetap bahagia.


Di hadapannya ada Mirna, yang melihat Riki dengan ekspresi bingung namun juga sedih di saat bersamaan.


Ia tahu apa yang sedang terjadi, maka dari itu, Ia hanya menampilkan senyum hangat khas seorang Ibu.


"Semua akan indah pada waktunya, Riki!"


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ikuti terus kisahnya ....

__ADS_1


Sampai babai


__ADS_2