
Di suatu rumah yang sederhana, seperti biasa setiap pagi semua jendela akan dibuka agar sirkulasi udara masuk ke dalam rumah. Namun itu semua memancing kemarahan laki-laki yang baru keluar dari kamar mandi.
"Siapa yang suruh kamu membuka jendelanya?" Bentaknya. Anne terkejut karena suara itu terdengar sangat tinggi. Anne menatapnya dengan penuh arti, sehingga Sean yang tadinya di penuhi amarah kini bisa luluh juga.
"Maaf, aku tidak bermaksud. Sekarang tutup saja jendelanya," ujarnya kemudian pergi ke dalam kamar. Anne menurut saja dengan ucapan Sean, dia pun kembali menutup rapat jendela-jendela yang sudah dia buka tadi. Padahal udara pagi sangat bagus, pikirnya.
Akhir-akhir ini Sean terlihat aneh, Anne merasa ada sesuatu yang dia sembunyikan darinya. Padahal dulu Sean adalah orang yang paling sabar, namun setelah Anne pergi ke kafe itu Sean berubah sifatnya. Anne menjadi curiga, dia ingin sekali mencari tahu kebenarannya. Saat ini dia harus pura-pura tidak tahu dan tidak mencari tahu, perlahan namun dia akan terus mengawasi dan mencari tahu sesuatu yang Sean sembunyikan itu.
Tidak lama kemudian, terdengar suara ketukan dari pintu depan. Anne menoleh namun belum berani membukanya, dia pun berjalan ke kamar menghampiri Sean yang tengah siap-siap untuk pergi bekerja.
"Ada apa?"
"Ada seseorang yang bertamu," ujar Anne. Sean pun terbelalak, dia menyuruh Anne untuk masuk ke dalam kamar dan tidak boleh keluar sebelum dia yang menyuruhnya.
"Biar aku buka. Kamu masuk ke kamar!"
Sebagai seorang istri yang baik, Anne pun mengikuti perintah yang Sean katakan. Dia tidak ingin membuat Sean marah, walaupun dia juga ingin mengetahui siapa yang tengah bertamu ke rumahnya.
Cukup lama Sean tidak kembali menemuinya. Sampai pada akhirnya terdengar suara keributan di luar sana. Anne bingung, dia tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Tetap diam di kamar atau melihat ke luar?
Karena khawatir terjadi sesuatu pada Sean, dia tidak memperdulikan lagi ucapan Sean yang menyuruhnya menunggu di dalam kamar. Anne berlari cepat untuk melihat keadaan, namun nyatanya Sean terlihat baik-baik saja, hanya saja ada dua orang laki-laki yang terluka.
__ADS_1
"Sean! Kamu tidak apa-apa?" Tanya Anne berlari memastikan. Kehadiran Anne justru semakin membuat Sean marah, dia pun membentak wanita itu agar tetap berada di kamarnya.
"Sudah kubilang, tetap tinggal di kamar!"
Anne terdiam, bukan karena Sean membentaknya dengan nada suara tinggi, namun salah satu orang yang terluka itu adalah orang yang dia cari-cari kemarin. Anne semakin penasaran dengan kehadirannya sampai di rumah ini, tidak mungkin ini kebetulan, pasti ada alasan kenapa orang itu sampai datang mencarinya kesini.
Juniar dan Doni yang tergeletak di lantai karena luka yang Sean sebabkan, saat melihat kehadiran Anne rasa sakit yang mereka rasakan hilang seketika, terutama Juniar. Dia langsung berdiri menatap nanar wajah Anne tanpa berkedip, tidak memperdulikan bagaimana Sean akan menghajarnya lagi.
Doni menyadari bahwa Sean tengah lengah karena memperhatikan Juniar, Doni segera ambil siaga untuk membuat Sean tidak mengganggu pertemuan antara Anne dan Juniar. Dia merogoh dua benda di tangannya.
"Untung aja gue bawa ini," batinnya. Dia pun segera menempelkan sapu tangan yang sudah dia beri obat bius sebelumnya pada Sean yang tengah berdiri membelakanginya. Tidak lama kemudian Sean pun pingsan.
"Apa kamu tidak mengenali kami? Ini aku Doni, lihat dia, dia suamimu, Juniar!" Anne mengalihkan pandangannya pada laki-laki yang kini berada di hadapannya, memandangnya dengan tatapan sendu, namun Anne takut karena tatapan itu penuh dengan arti.
"Jangan asal bicara! Aku tidak mengenal kalian."
"Anne...." Panggil Juniar tidak berdaya. Rasanya seperti mimpi Juniar bisa kembali bertemu dengan wanitanya itu.
"Lepas! Jangan sentuh aku! Ku peringatkan pada kalian, keluar!" Tunjuk Anne pada sebuah pintu. Anne mengusir mereka, dia lupa ada banyak hal yang ingin dia tanyakan pada Doni. Namun karena Sean di buat tak sadarkan diri, Anne mengurungkan lagi niatnya. Mungkin memang benar, Sean menyuruhnya untuk tidak bertemu dengan orang-orang asing karena ini salah satu alasannya. Semua orang bisa saja berbuat jahat.
Karena dua orang laki-laki itu tidak kunjung keluar, Anne mendorongnya agar sampai di depan pintu, setelah itu dia akan menutup rapat-rapat pintu itu. Belum sempat sampai di pintu, Juniar menunjukan bukti bahwa mereka memang saling mengenal.
__ADS_1
"Aku punya bukti bahwa kita adalah suami istri."
Anne terkejut bukan main. Jelas-jelas di sebuah buku nikah itu tertera nama ANNETASYA dan foto itu jelas saja dirinya. Dia pun bertanya-tanya dalam hati, apa benar yang di katakan orang ini? Apa selama ini Sean membohonginya? Tapi kenapa dia tidak bisa mengingat apapun tentang masa lalunya.
"Mungkin orang yang ada di foto itu hanya mirip denganku. Sekarang pulang saja, orang yang kamu cari bukanlah aku."
Juniar merasa wanita yang berada di hadapannya itu adalah sang isteri yang selama ini dia cari. Dia tidak mungkin salah mengenali, namun ada satu hal yang bisa membuat wanita itu percaya.
"Isteriku memiliki sebuah tanda di perut bagian kanan yang hampir mirip dengan sayap kupu-kupu. Bisakah kamu pastikan? Jika memang tanda itu tidak ada pada dirimu, aku akan pergi."
Tanpa melihatnya pun Anne sudah tahu. Memang dia memiliki tanda itu.
Anne merasa kepalanya sakit, dia pun menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya.
"Kenapa kalian aneh sekali? Kenapa kamu bisa tahu tanda itu? Kenapa kamu datang tiba-tiba? Dan kenapa aku tidak bisa ingat apapun tentang masa laluku!" Ujarnya meringis.
Suara tangisan bayi mengalihkan perhatian semuanya. Anne yang tadinya pusing, kini merasa baikan karena tangisan itu. Anne segera pergi ke kamar untuk memastikan, diikuti oleh Juniar. Saat Anne menyadari bahwa Juniar mengekorinya, dia pun menahannya.
"Jangan mengikutiku! Atau aku panggil polisi untuk menangkapmu!"
Juniar terpaksa menunggu lagi di luar. Dia sekarang mulai tenang dan lebih bisa mengendalikan dirinya. Dia berpikir untuk memberi waktu pada Anne. Jika memang wanita itu tidak bisa mengingatnya, setidaknya ada saksi yang harus menjadi bukti bahwa Juniar dan Anne adalah pasangan suami istri yang sah. Juniar pun tidak tahu tentang Sean, laki-laki yang kini masih tidak sadarkan diri di lantai itu. Namun setelah sadar, dia akan mencercanya dengan berbagai macam pertanyaan.
__ADS_1