
Seminggu berlalu setelah kejadian itu, Anne tidak berbicara pada Sean sedikitpun. Laki-laki itu jelas merasa bersalah karena telah membuat sang wanita kecewa, namun tidak ada cara lain lagi untuknya agar Anne menjadi miliknya seutuhnya selain membuat wanita itu lupa ingatan tentang masa lalunya, dengan begitu dia bisa mencuci otaknya agar dipikirannya hanya ada Sean.
Namun walau begitu kecewa terhadap Sean, Anne masih belum bisa percaya pada Juniar. Setelah sebelumnya dia mendengarkan penjelasan dari laki-laki itu bagaimana dirinya menghilang, dan Juniar mengalami depresi karena kehilangan, itu belum cukup untuk meyakinkan dirinya.
Hari ini adalah hari dimana dirinya akan di bawa ke rumah sakit oleh Juniar. Untuk mengecek kondisi kesehatan dirinya, dan cara agar dirinya bisa ingat kembali.
Sambil menunggu jemputan datang, Anne memandangi sang buah hati yang tertidur pulas. Semakin dilihat-lihat ternyata anaknya itu semakin mirip dengan Juniar. Jantungnya berdebar.
"Apa dia memang ayahmu, nak?" Ujar Anne pelan sambil memegangi dadanya.
# tin___tin___
Suara klakson mobil berbunyi, itu tandanya orang yang menjemputnya sudah berada di depan rumah. Anne pun segera menggendong sang buah hati dan pergi menemui Juniar.
Namun perhatiannya tertuju pada suasana rumah saat itu, hening rasanya. Dia pun bertanya-tanya dalam hati, kemana perginya Sean. Padahal tadi malam dan tadi pagi laki-laki itu tidak hentinya mengetuk-ngetuk pintu kamarnya. Sengaja memang tidak Anne buka, Anne sangat marah padanya. Anne pun melanjutkan lagi langkahnya yang sempat terhenti.
"Maaf menunggu lama." Ujar Anne pada seseorang yang tengah bersender di bagian depan mobil.
Juniar baru menyadari bahwa dulu saat Anne menghilang, isterinya itu tengah mengandung anaknya. Lalu, sekarang Anne membawa bayi mungil yang cantik dan seketika mata Juniar terbelalak saat melihatnya.
"An-ne, apa dia anak kita?" Tanyanya gugup, namun pandangannya tidak hentinya berpaling dari sang bayi.
"Aku tidak tahu dia anak siapa. Tapi setelah ku lihat-lihat, dia memang mirip sekali dengan kamu."
"Karena aku memang ayahnya. Dulu kita keluarga yang bahagia. Aku ingin segera membawa kamu dan anak kita ke rumah, ayah-ibu dan juga kakek pasti sangat senang saat melihat bayi ini."
"Ayo cepat naik!" Titahnya pada Anne. Anne masuk ke dalam mobil mewah yang Juniar bawa, Ia sempat bertanya-tanya dalam hati, apa mungkin laki-laki yang kini sudah duduk di kursi kemudi itu orang yang sangat kaya, bagaimana bisa dia memiliki mobil mewah yang Anne sendiri belum pernah melihatnya secara langsung. Pertanyaan itu tidak dia utarakan, dia hanya mampu bertanya dalam hati. Mobil pun melaju, di perjalanan Anne tidak banyak bicara. Walaupun ada banyak sekali pertanyaan yang ingin dia tanyakan, dia masih belum bisa terbiasa dengan Juniar. Lalu dia pun menyadari satu hal,
__ADS_1
"Laki-laki yang bersamamu itu kemana dia?" Tanya Anne tiba-tiba. Juniar kesal dengan pertanyaan Anne, ada banyak sekali pertanyaan yang harusnya Ia katakan, lalu kenapa harus keberadaan Doni yang dia ingin ketahui. Namun walaupun begitu kali ini Juniar akan memaklumi, dia tidak akan marah pada Anne, dia tidak ingin memberikan kesan yang tidak baik pada pertemuan pertamanya setelah sekian lama berpisah. Dengan penuh senyuman manis, Juniar menjawab pertanyaan itu.
"Dia aku tugaskan untuk mengawasi laki-laki brengsek itu!"
Anne berpikir sejenak, dan dia pun paham siapa yang Juniar maksud. Ya, memang benar Sean adalah laki-laki brengsek. Selama ini Anne percaya saja dengan perkataan dan perbuatan manis yang Sean lakukan padanya. Padahal itu semata-mata hanya untuk menutupi kebusukannya.
"Apa benar dia sudah menikahimu?"
Sebenarnya pertanyaan itu sensitif sekali untuk Juniar, menyadari bahwa Anne adalah istrinya. Dan dia mendapati pengakuan dari Sean bahwa mereka telah menikah. Saat pertama kali mendengar pernyataan itu, hatinya sakit bagaikan tertusuk sembilu. Tapi apa boleh buat, semuanya sudah terjadi, dia pun akan menerima Anne kembali ke pelukannya jika Anne menginginkan. Tapi jika wanita itu lebih memilih Sean, Juniar akan menerimanya dengan lapang dada.
"Iya, kami sudah menikah," jawab Anne. Kenapa hatinya merasa bersalah, untuk menatap wajahnya pun Anne tidak sanggup. Dia menjawab pertanyaan itu sambil menatap keluar jendela kaca.
Mendengar pernyataan dari mulut Anne sendiri lebih sakit ternyata. Juniar pun membuang napas kasar. Anne menyadari itu, dia pun segera menjelaskan semuanya. Ia merasa tidak ingin membuat Juniar kecewa.
"Ta-tapi itu hanya sebuah status saja. Kenyataan kami tidak pernah melakukan hubungan sebagai suami-istri."
"Kenapa dia tersenyum," batin Anne.
"Anne, kamu tahu aku sangat mengkhawatirkan kamu. Orang yang sudah berbuat jahat padamu sudah mendapat hukuman yang pantas. Sekarang setelah ini kita akan hidup bahagia." Ujar Juniar. Anne pun merasa geli dengan ucapan laki-laki yang tengah fokus menyetir itu.
"Apa maksudmu?"
Sesekali Juniar menoleh pada Anne, "Setelah ini kamu mau kan hidup bersamaku lagi, menghabiskan waktu bersama keluarga kecil kita, berkunjung ke rumah ayah dan ibu setiap hari libur dan-," ucapannya terhenti, Juniar sengaja tidak melanjutkannya karena agar Anne penasaran.
"Dan apa?" Tanya Anne.
"Kakek sudah merestui kita. Dia sudah tahu kejahatan Jane selama ini,"
__ADS_1
"Jane?"
"Apa kamu juga tidak ingat dia? Dia adalah kakak mu yang ada di balik semua ini, dia yang memisahkan kita, dia yang sudah berbuat jahat pada kita."
Namun sekeras apapun Juniar menjelaskannya, Anne tetap saja tidak tahu siapa Jane, dan apa yang telah dia perbuat sehingga dia di cap jahat. Memisahkan? Apa dia cemburu pada hubungan mereka, pikir Anne.
Sudah hampir satu jam perjalanan, kini mereka sudah sampai pada tempat yang mereka tuju, yaitu rumah sakit. Juniar berharap Anne bisa sembuh dan mengingat kembali kenangannya dulu.
"Bayi itu biar aku gendong," pinta Juniar. Anne pun menatap sekilas lalu memberikannya.
Bayi itu kini ada di pangkuan Juniar, ia tidak sadar sampai menitikan air matanya. Ia tidak menyangka anaknya kini sudah tumbuh besar.
"Dia sangat cantik," ujarnya.
"Tentu saja, dia anakku!" Ketus Anne.
"Jangan lupakan aku. Aku juga tampan, lihat bibir dan matanya, mirip sekali dengan ku," sahut Juniar tidak mau kalah.
Sambil berjalan keduanya pun saling membanggakan diri, dan mengkalim siapa yang lebih mirip siapa. Sampai akhirnya mereka sampai di ruangan tempat Anne memeriksakan kesehatannya.
Kurang lebih lima belas menit Anne menjalani pemeriksaan itu, sang bayi anteng saja berada di gendongan Juniar.
"Nyonya Anne, apakah selama anda mengonsumsi obat-obatan itu anda pernah mengalami gangguan di penglihatan anda?"
"Iya dok, saya pernah mengalami kejadian itu sekitar dua kali. Tiba-tiba saja pandangan dan pendengaran saya hilang bersamaan dalam waktu yang singkat."
"Baiklah kalau begitu, hasil rontgen bisa di ambil sekitar seminggu lagi. Sekarang anda istirahatlah yang cukup," ujar sang dokter. Sejujurnya dokter itu adalah kerabat Juniar, ia meminta pada sang dokter untuk tidak mengatakan apapun di depan Anne jika kenyataan kalau Anne tidak baik-baik saja. Biarlah Juniar mengetahuinya terlebih dahulu.
__ADS_1