
Bab 26
“Abi? Apa kabar Nak?”
Om Awan memeluk Abi dengan sayang kala mereka baru saja tiba dirumah Salsabila, gadis itu masih terus menunduk, bahkan selama di perjalanan tidak banyak hal yang mereka bicarakan setelah sejenak mereka nostalgia dengan masa kecil mereka.
“Abi baik Om, lama tidak berjumpa, Abi pikir Om sudah lupa dengan Abi” Abi tersenyum lembut, lantas segera menyalami tangan istri Om Awan, Tante Mariana.
“Haha, bagaimana mungkin Om lupa padamu Abi? Kamu anak Satriya dan Zahara, mereka berdua sahabat baik Om semasa SMA” Om Awan sedikit tergelak.
“Namun, akhir-akhir ini Om memang jarang berkumpul dengan mereka, maklum saja kesibukan kami membuat semuanya terjadi” Om Awan menghela napas lelah.
“Untungnya kemarin Om bertemu dengan Bima, kami sempat bicara banyak dan bercerita tentang Bila yang sedang kesulitan menyelesaikan studinya di bidang seni, Om Bima mengingatkan jika Abi adalah ahlinya seni. Loh? Kok Om bisa lupa kalau Abi juga lulusan seni” Om Awan menepuk jidatnya, lantas kedua pria berbeda usia itu tertawa.
“Om bisa saja, Abi tidak sepandai itu Om, Abi juga masih banyak belajar” Abi merendah lagi.
“Hei ... Abi, jangan bicara seperti itu, atau galeri seni mu akan menangis mendengarnya” Om Awan kembali tergelak, tatapannya memancarkan kekaguman, sedari awal Awan tahu siapa Abi, putra siapa dia, kejadian berpuluh tahun lalu, mana mungkin dia bisa melupakannya.
Abi mungkin terlahir dari kesalahan Bima, namun Abi dibesarkan oleh Satriya dan Zahara yang teramat mencintainya.
“Om harap kamu tidak keberatan membimbing Bila, masih ingat bukan? Dulu Bila ini sudah seperti adikmu sendiri” Om Awan menatap Abi penuh harap.
“Ah, ya ... tentu saja Abi ingat, hanya saja waktu tadi Om Bima mengenalkan Bila pada Abi, Abi sempat pangling, dulu Bila masih sangat kecil, sekarang Bila sudah remaja” Abi terkekeh geli, sesekali tangannya menyentuh alat bantu dengarnya yang terasa tidak nyaman, dan gerakan Abi membuat Om Awan turut memperhatikan.
“Ah yaa, bagaimana pengobatan Abi? Terakhir Om dengar Abi mau melakukan operasi lagi keluar negri?” suasana mendadak canggung.
__ADS_1
Om Awan tahu persis, seberapa berat hari yang harus Abi jalani karena penyakitnya ini, Awan juga tahu persis seberapa sulitnya perjuangan Satriya dan Zahara kala membesarkan Abi, selepas lulus sekolah mereka terpaksa harus buru-buru menikah hanya untuk menyelamatkan status Abi, meski jujurnya semuanya tidak tertolong, dalam segala kegelapan dan ketidaktahuan mereka tentang mengurus bayi special, Satriya dan Zahara tetap berjuang keras meski tidak ada dukungan dari kedua belah pihak keluarga. Satriya merelakan banyak uang warisan yang menjadi sengketa antara keluarganya untuk pengobatan abi agar Abi tumbuh menjadi lebih baik lagi, sederet therapy dan pengobatan lainnya dilakukan, dimulai dari pengobatan didalam maupun diluar negeri telah mereka lewati, Satriya dan Zahara sempat merasa ingin menyerah, namun menatap wajah tampan Abi, tatapan sendu, dan betapa antengnya Abi dulu, seketika semua lelah itu hilang, apalagi jika kebetulan mereka melihat senyuman manis Abi kecil, tentu Zahara dan Satriya segera menepis segala lelah yang mereka rasa.
“Abi menolaknya Om, Abi rasa Abi sudah tidak butuh hal itu lagi, Abi baik-baik saja” Abi tersenyum sendu menatap Awan yang menatapnya iba.
“Ah yaaaa, Om dengar Abi sudah mau punya anak? Kemarin Satriya berkata heboh pada kami, katanya dia akan menjadi kakek dari dua cucu sekaligus? Haha bagaimana mungkin Satriya selalu mendahului kita semua, dia yang paling pertama menikah dan punya anak kamu, lalu sekarang dia yang paling pertama punya cucu, dua sekaligus lagi, betapa beruntungnya Satriya dan Zahara, haha ...” Om Awan kembali dalam mode guyonnya.
“Ah ya Om, mohon doanya” Abi tersenyum kembali.
Lama mereka bercerita, bernostalgia, Om Awan dan Tante Maria adalah pasangan suami istri yang sedikit kocak, hingga Abi merasa terhibur karenanya, banyak berbincang dengan mereka membuat Abi melupakan sejenak rasa resah dan sedihnya.
Hingga suara telpon yang berasal dari ponsel Abi terdengar, membuat obrolan mereka terhenti, Abi mengangkat ponselnya terlebih dahulu.
‘Pak maaf mengganggu, Ibu Naina sedari tadi tidak mau keluar kamar bahkan untuk makan, sedari Bapak pergi Ibu sama sekali tidak menunjukkan pergerakan di kamarnya, saya takut terjadi sesuatu Pak’
Abi menghela napas lelah kala mendengar informasi dari asisten rumah tangganya, lagi-lagi Naina berbuat ulah.
“Mas Abi!”
Abi menoleh kebelakang, membuka kaca mobilnya lalu memunculkan kepalanya dari jendela, terlihat Bila sedikit berlari menghampirinya, gadis itu tersenyum lembut.
“Mas Abi terimakasih untuk hari ini, Bila sudah chat Mas Abi, dan itu nomor Bila, tolong disimpan ya Mas, nanti Bila chat lagi kalau Bila mau bertanya banyak hal sama Mas Abi” gadis itu kembali menunduk malu-malu, Abi tersenyum menatapnya dengan pandangan kagum, gadis yang dulu pernah di gendongnya sekarang sudah besar dan tumbuh cantik, terlihat baik juga tulus jika dilihat dari pancaran sinar matanya.
“Baiklah, jangan sungkan menghubungi Mas Abi” Abi tersenyum lalu segera meninggalkan pekarangan rumah keluarga Bila, pria itu mengemudikan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi, tidak ingin terjadi apapun pada calon anaknya lagi, Abi mengusahakan semua yang terbaik untuk calon anaknya.
Tiba dirumah Abi disambut oleh kedatangan asisten rumah tangganya yang terlihat tengah tergopoh, segera menjelaskan bagaimana Naina hari ini, Abi tersenyum kecut, lagi-lagi Naina memancing emosinya, Abi tidak ingin marah-marah apalagi emosi terhadap Ibu dari calon anaknya, namun kenapa sikap Naina selalu diluar batas? Tidak makan seharian, membuat anaknya kelaparan, kenapa Naina selalu bersikap diluar nalar?.
__ADS_1
Tok tok tok
“Na, buka pintunya! Aku tahu kamu didalam tidak tidur!” Abi berusaha membuka pintu yang ternyata dikunci dari dalam.
“Kamu mau buka pintu dengan cara halus atau dengan cara kasar Na? Aku bisa dobrak pintu kamar ini sekarang juga!” Abi mulai emosi lagi.
“Na! Aku tidak main-main kalau kamu ...”
Ceklek
Pintu dibuka, Abi menghela napas lelah, segera pria itu masuk kedalam kamar Naina, mengedarkan pandangan segera, takut jika Naina melakukan hal membahayakan lainnya.
“Kamu tidak keluar kamar seharian dan tidak makan Na?” Abi bertanya namun tentu saja Naina masih terdiam, wajahnya terlihat kusut dan enggan.
“Bukan urusan Lo!” Naina membentak kala Abi memaksanya untuk bicara.
Abi memejamkan matanya, lalu dengan segera dia meraih nampan yang berada di tangan asisten rumah tangga yang mengikutinya tadi.
“Sekarang kamu makan Na, minum susu dan vitaminnya” Abi menyodorkan nampan tersebut, berharap Naina akan dengan sukarela memakan makanannya.
“Gue gak Mau”
Prak!
Abi tertegun kala melihat piring juga gelas kini berhamburan di lantai akibat tepisan tangan Naina, Abi memejamkan matanya sejenak, lalu berusaha menekan emosinya sedalam mungkin.
__ADS_1
“Di bawah masih ada banyak stock piring dan makanan, Bi ambilin lagi makanan untuk istriku, bawakan hingga dia mau makan sendiri, dan sadar! Jika dia makan bukan hanya untuknya, tapi juga untuk anakku! Katakan juga padanya, jika dia masih menolak, maka bersiaplah besok, tidak akan ada lagi hari baik untuknya dan untuk keluarganya”