Bukan Salahku

Bukan Salahku
Ada Sela Di Balik Kesedihannya


__ADS_3

Semua cinta sama saja, benar, sama saja


Namun aku berharap kau berbeda


Untuk apa kau meminta maaf, mengapa setiap hari meminta maaf?


Berpisah pun kau tidak tahu alasannya


Saat ini kau sudah berubah 180o


Raut wajahmu, cara bicaramu


Bahkan sampai harum tubuhmu, sorot matamu yang begitu hangat


Benar-benar sudah sangat berubah


Cinta juga kenangan tentang kita


Namun Aku masih begitu saja


Sekarang sudah berubah total 180o


Saat ini Kau dan Aku


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Gandhi Interior desain


Kantor dengan papan nama Gandhi di depan adalah nama dari kantor milik Riki.


Kantor kecil ini adalah hasilnya sendiri, dengan bantuan modal usaha dari Sang ayah.


Setelah mengambil mobilnya yang ada di bengkel, Riki segera bertolak ke kentornya, melanjutkan pekerjaan sesuai apa yang dikatakannya.


Diam bukan lah pilihannya, jika ia sedang mengalami apa itu kacau, dengan berdiam diri hatinya akan bertambah sakit, jadi lebih baik Ia bekerja untuk mengalihkannya.


Setelah menempuh jarak yang tidak terlalu jauh, akhirnya sampai juga Ia di halaman parkir kantornya.


Ia turun dari mobilnya dan mengernyit saat ada mobil lain selain mobilnya yang terparkir di halaman kantornya, mobil yang Ia kenali dengan baik milik siapa, maka Ia pun dengan segera memasuki kantornya.


Ia memasuki lobby kantor dan hal yang pertama Ia lihat di sana adalah seorang wanita, duduk dengan wajah menunduk melihat ke arah layar handphone.


"Dia?" Gumamnya.


Ia pun segera masuk lebih dalam, menghampiri Si wanita lebih dekat dan berdiri di hadapannya.


Sedangkan Si wanita yang merasakan seseorang berdiri di hadapannya, segera mengangkat wajahnya dan tersenyum cerah.


"Hai! Aku datang lagi," sapa Si wanita.


"Sudah lama?" tanya Riki.


"Masuk ke ruanganku, kita bicara di dalam saja." Lanjutnya.


"Oke!" seru Si wanita, mengikuti langkah Riki yang lebih dulu berjalan ke arah ruangannya.


Ceklek!


Riki membuka pintu, lalu menolehkan wajahnya ke belakang melihat ke arah Si wanita.


"Masuk, kamu mau minum apa?" perintah dan tanya Riki.


"Em ... Nggak usah deh," tolaknya sambil tersenyum kecil.


Riki pun mengangguk dan menutup pintu setelah Si wanita memasuki ruangannya.


"Duduk Riy, aku ambil desain punya kamu," ujar Riki kepada Si wanita yang adalah Riyanti.


"Oke!" seru Riyanti, kemudian menduduki dirinya di sofa, sedangkan Riki sendiri berjalan ke arah meja, di mana ia meletakkan berkas hasil desainnya.


"Kamu, sudah lama menungguku, Riy?" tanya Riki sambil mencari tumpukan desain, yang kemarin baru diselesaikannya.


Kebetulan desain pesanan Riyanti, datang bersamaan dengan permintaan desain dari perusahaan lainnya.


"Tidak juga, um ... Kira-kira sepuluh menit," balas Riyanti dengan senyum kecil.


Bohong sebenarnya ia sudah datang lebih dari waktu yang ia sebutkan.


"Kamu dari mana, Riki? Apa ada pekerjaan di lapangan?" tanya Riyanti penasaran.


"Menemui Ibu dan Evelyn, kami makan bersama," balas Riki tanpa mengalihkan wajahnya dari laci.


"Ah! Ketemu!" seru Riki senang.


"Aku tahu," batin Riyanti, melihat ke arah Riki yang senang dan berjalan ke arahnya.


Yah .... Pertanyaan yang sebenarnya ia tahu dan tidak perlu di jawab oleh Riki, ia tahu darimana dia dan menyaksikan sendiri apa yang terjadi dengan pria yang ia panggil Riki tersebut.

__ADS_1


Ia saat itu ingin mampir ke rumah Evelyn, namun tidak jadi saat ia menyaksikan sendiri, bagaimana Evelyn berdiri dengan Arlan yang bermesraan di depan gerbang.


Sedangkan ia tahu jika Riki ada di dalam dan tidak menutup kemungkinan, jika Riki sendiri melihat kejadian di depan gerbang.


"Evelyn di rumah? Aku kira dia kerja hingga larut malam," ujar Riyanti pura-pura tidak tahu.


"Um ... Kebetulan, Arlan yang memberi izin," balas Riki apa adanya.


"Baik sekali, bos seperti Arlan pasti di sukai pegawai," ujar Riyanti dengan maksud.


"Ya ... Seperti itulah."


"Oh iya ... Ini desain punya kamu, coba di lihat," lanjut Riki mengalihkan pembicaraan.


"Mana, coba aku lihat!" seru Riyanti semangat.


Mereka pun melihat desain hasil buatan Riki bersama-sama, menilai dan memperhatikan lagi setiap detail yang di buat olehnya.


Riyanti dengan jeli melihat desain untuknya, kemudian tersenyum saat merasa puas dengan hasil kerja temannya.


"Aku suka! Terima kasih, Riki," ujar Riyanti dengan senyum lebar.


"Sama-sama," balas Riki balas senyum ke arah Riyanti.


Mereka melanjutkan lagi obrolan dengan sesekali membahas desain, pasar yang bisa di tembus dengan kemampuan Riki atau pun hal-hal lain, yang entah mengapa membuat Riki bisa menghilangkan sejenak rasa sedihnya.


"Kalau begitu aku pulang," ujar Riyanti saat ia merasa ini sudah terlalu lama, sejak Ia datang ke kantor Riki.


"Aku antar ke depan, yuk!" seru Riki berdiri dari duduknya.


"Iya," balas Riyanti senang.


Keduanya pun meninggalkan ruangan milik Riki, berjalan bersama di selingi obrolan ringan hingga mereka sampai di area parkir kantor Riki.


"Hati-hati di jalan, Riy. Terima kasih atas kerja samanya," ujar Riki saat mereka berdiri di samping mobil milik Riyanti.


"Sama-sama, Riki. Aku akan pakai jasa kamu lagi, aku puas dengan hasil kerja kamu. Boleh kan?" balas Riyanti tersenyum kecil.


"Tentu saja, aku malah senang sekali!" seru Riki semangat.


Riyanti tersenyum bahagia, saat laki-laki di depannya manampilkan senyum dengan semangat, apalagi saat ia sendiri yang membuatnya tersenyum seperti itu.


"Oke, aku akan hubungi kamu, saat ada pekerjaan." ujar Riyanti.


"Hubungi aku, di saat biasa juga boleh," balas Riki cepat.


Riyanti kaget dan bahagia saat mendengar permintaan Riki, tentang menghubunginya kapan saja.


Ia tidak menyangka akhirnya Riki sendiri yang memberinya izin, padahal dulu ia dengan nekat selalu menghubungi Riki dan harus terima saat Riki balas apa adanya.


"Beneran? Serius?" pekik Riyanti senang, membuat Riki terkekeh lucu dengan balasan semangat, dari wanita yang saat ini memandangnya berbinar.


"Iya ... Sorry yah, kalau dulu aku terkesan tidak menerima kamu. Aku seperti itu, jika bukan dengan orang yang aku kenal," balas Riki menjelaskan.


Bukan karena ia sedang patah hati, tapi karena Riyanti berusaha membuatnya nyaman di beberapa waktu ini.


Hilangnya Evelyn dari pandangannya hampir beberapa bulan ini, membuat hari-harinya di isi dengan Riyanti yang selalu menghubunginya, meski hanya untuk bertanya ia sedang apa dan ajakan keluar yang selalu ia tolak.


Seketika rasa bersalah menghampirinya, apa ini karmanya karena memperlakukan wanita yang tidak bersalah, dengan kejam seperti yang ia lakukan terhadap Riyanti.


"Riyanti." panggil Riki.


"Iya?"


"Maaf, dulu aku memperlakukan kamu dengan buruk," ujar Riki pelan, menatap Riyanti dengan sorot mata sendu.


"Memperlakukan buruk? Ha-ha! Kata siapa?" balas Riyanti bertanya setelah terkekeh lucu.


"Kamu tidak merasa?" tanya Riki kaget.


Ia tidak menyangka ada wanita yang tidak sakit hati, di perlakukan dingin namun tidak marah sama sekali.


"Tidak, tidak sama sekali," ujar Riyanti cepat.


Bohong ... Tapi keinginannya untuk bisa dekat dengan Riki, membuatnya selalu ingat untuk selalu bersabar.


"Apakah ini artinya dia sudah menerima kehadiranku?" batin Riyanti bertanya.


Ia senang jika itu benar adanya.


"Terima kasih, Tuhan," lanjut Riyanti masih di dalam batin.


Riki sendiri semakin bersalah, sepertinya mulai saat ini Ia harus memperlakukan Riyanti dengan sedikit hangat.


Ia tidak mau kehilangan lagi, seseorang yang entah sejak kapan selalu ada di sampingnya.


"Kalau begitu, mulai saat ini kita berteman, bagaimana?" ujar Riki dengan semangat.

__ADS_1


Riyanti tersenyum saat mendengar ajakan pertemanan dari Riki.


Selangkah demi Selangkah, ia akan mendekati Riki dan akan semakin dekat untuk mendapatkan hatinya.


"Ya seperti itu," batin Riyanti tersenyum dan mengangguk membalas ajakan dari Riki.


"Tentu saja!" seru Riyanti semangat.


"Deal?" tanya Riki dengan tangan terulur, entah ini hanya refleksnya.


"Hi-hi! Deal!" balas Riyanti menyambut uluran tangan Riki.


"Karena aku sudah jadi teman kamu, berarti mulai sekarang, kamu nggak akan nolak lagi dong, ajakan makan dari aku." ujar Riyanti.


"Aku kan, teman kamu!" lanjutnya berseru dengan alis-naik turun menggoda.


Riki tergelak saat mendengar sindiran menohok dari Riyanti untuknya, yah ... Ia ingat dengan sangat, saat ia dengan kejamnya selalu menolak ajakan makan dan keluar, dari Riyanti yang saat ini ikut terkekeh.


"Oke, bila perlu aku yang ajak kamu makan deh. Ingat saja, dasar!" balas Riki di sela tawanya.


"Eits ... Sudah janji loh dan janji harus di tepati," ujar Riyanti menunjuk Riki dengan mata memicing, menggoda Riki yang saat ini geleng-geleng kepala.


"Iya-iya ... Laki-laki itu yang di pegang omongannya, jadi sebagai laki-laki yang gentle, aku pasti akan memegang omongan aku sendiri. Janji deh," balas Riki tersenyum geli.


"Oke, bagus deh, kalau begitu," ujar Riyanti puas.


Mereka kembali terkekeh dengan kelakuan mereka, meskipun salah satu di antara mereka belum menyadari perasaan satu lainnya, tapi itu cukup untuk saat ini sebagai awal kedekatan mereka.


"Pelan-pelan saja," batin Riyanti percaya.


"Baiklah aku pulang, sampai jumpa, Riki!" seru Riyanti setelah beberapa saat mereka sama-sama terkekeh.


"Iya ... Hati-hati di jalan, hubungi aku jika sudah sampai," balas Riki tanpa maksud.


Deg!


"Tentu!" seru Riyanti senang.


"Bye, Riki!" lanjutnya, kemudian memasuki mobil miliknya setelah mendapat balasan dari Riki.


"Bye, Riyanti!"


Mobil yang di kendarai Riyanti pun meninggalkan area parkir kantornya.


"Riyanti yah, aku tidak sadar, jadi selama ini dia ada di sekitar aku yah?" gumam Riki bertanya, dengan kepala menggeleng heran.


Kemana saja dirinya, sampai-sampai ada yang berhasil dekat dengannya pun ia tidak sadar.


Sepertinya selama ini ia terlalu fokus, dengan Evelyn dan usaha kecilnya yang saat ini sudah berjalan lumayan lancar.


"Apa yang aku fikirkan," lanjutnya, berjalan kembali kedalam kantornya untuk melanjutkan pekerjaannya.




Di sepanjang perjalanan yang di lalui Riyanti, ia sama sekali tidak bisa untuk tidak tersenyum.



Ia mengingat dengan jelas balasan sederhana dari Riki. Namun tidak untuk dirinya, yang menganggap itu adalah sinyal pertama dari awal hubungan mereka.



Meskipun ia tahu jika ini berhubungan dengan dia, tapi ia tahu jika Riki bukan pria seperti itu.



"Mungkin awalnya memang karena dia, tapi aku yakin bisa membuat kamu luluh, dengan kesungguhan aku, Riki." gumam Riyanti percaya diri.



"Akhirnya kehadiran aku diterima, terima kasih Tuhan," Lanjutnya dengan senyum mengembang.



Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=



Ikuti kisah selanjutnya ....



Sampa babai.

__ADS_1


__ADS_2