
Bab 23
Naina membuka kedua bola matanya, rasanya tubuhnya masih sepenuhnya terasa perih juga sakit, perutnya juga terasa tidak nyaman, berulang kali Naina merasakan kram juga pada perut bagian bawahnya. Menggigit bibir bagian dalamnya, berulang kali Naina merintih. Keadaan ini sungguh sangat menyiksanya, hingga Ia kembali harus mengutuki Abi, suami yang kini tidak ada lagi disampingnya, Naina tahu mungkin saja Abi merasa jengkel dengan tingkahnya, hingga Abi memutuskan untuk pergi dari ruangannya.
Naina merasa jika Ia ingin pergi ke kamar mandi, namun tidak ada yang bisa membantunya, tadi Mama bilang mau ke kantin rumah sakit, waktu sudah siang dan Mama belum sempat sarapan dari tadi pagi.
Terpaksa Naina menggerakkan kakinya yang terasa sakit dan masih diperban, Naina berniat untuk pergi ke kamar mandi seorang diri, namun karena tidak kuat menahan bobot tubuhnya sendiri, Naina yang masih lemah ternyata malah berakhir dengan jatuhnya dirinya dari atas tempat tidur, mendarat di atas lantai dingin, Naina semakin tersiksa dengan rasa sakit yang dia derita. Naina menjerit kala merasakan ada yang mengalir diantara kedua kakinya, bertepatan dengan kedatangan Mama yang berlari dengan tergesa. Dengan sigap Mama segera memanggil dokter untuk memeriksa Naina.
“Syukurlah, janinnya masih bisa diselamatkan, namun sepertinya janin Ibu Naina menjadi kian lemah, tolong Bu, lebih perhatikan lagi kondisi Ibu, jika kejadian ini terus berulang, mungkin saja janin Ibu akan lahir sebelum waktunya” peringatan dari dokter membuat tubuh Naina sedikit bergetar mengingat peringatan dari Abi terlihat bukan main-main.
Naina, gadis itu mengangguk saja, sementara Mama sudah sibuk dengan air mata juga telponnya, beliau menelpon menantunya, Mama terlihat panik dan semakin shock dengan kejadian baru saja.
***
Abi menatap tajam pada Naina yang kini tengah meringis menahan sakit, selang infusan kembali menancap di tangan lainnya, sebelumnya Naina sudah diperbolehkan pulang keesokan harinya, keadaan Naina sudah cukup membaik, namun setelah kejadian tadi kini Naina kembali harus dirawat, karena kondisinya dokter belum bisa menentukan kapan Naina boleh pulang.
Menurut keterangan orangtuanya Naina tadi ditemukan telah terjatuh dilantai dengan darah mengalir di antara kakinya, jelas orangtua Naina panik, apalagi sebelumnya abi telah menitipkan Naina pada Ibu mertuanya, mewanti-wanti agar Ibu mertua tidak pergi terlalu jauh dari ruangan Naina, Abi pergi karena dirinya terus di usir oleh Naina.
“Maafin Mama Nak Abi, harusnya tadi Mama tidak pergi ke kantin untuk membeli makanan” Mama tertunduk merasa bersalah, namun Abi hanya tersenyum lembut menatap Mama, menekan setiap amarahnya kepada sang istri.
__ADS_1
“Ini bukan salah Mama, harusnya Naina yang lebih berhati-hati, dia ini calon Ibu, seharusnya dia lebih peka”
Naina membulatkan matanya, kini Abi terdengar seperti menyalahkan dirinya sepenuhnya, tentu saja Naina tidak bisa menerima itu.
“Lo nyalahin Gue? Lo pikir Gue mau jatuh dari atas ranjang sialan ini?!” Naina meradang, sungguh dirinya merasa teramat kesal.
“Kamu berani menabrakkan diri kamu sendiri dari atas motor Naina, jadi kalau hanya menjatuhkan diri dari atas ranjang rasanya itu masuk akal saja” Abi mendecih sinis menatap istrinya, Naina kembali terdiam, dirinya sibuk meratapi rasa sakit yang kini dideritanya akibat ulahnya sendiri.
“Aku bisa melakukan apapun jika kamu terus berulah seperti ini” Abi menatap datar penuh dengan ancaman pada Naina, membuat Naina mendongak menantang tatapan Abi.
“Silahkan jika Lo bisa” Naina mengeratkan giginya, tangannya mencengkram perutnya menahan sakit.
“Kamu meremehkan aku Naina?” Abi menggeram marah.
“Hallo, tolong batalkan seluruh kerjasama antara perusahaanku dan perusahaan mertuaku, cabut juga seluruh investasi yang pernah aku tanam, jangan sisakan sedikitpun”
Seketika wajah Naina terlihat pucat pasi, Naina menatap Abi dengan tatapan tak terbaca, gadis itu terlihat frustasi. Gadis itu tahu persis jika perusahaan sang Ayah kini disokong oleh perusahaan milik Papa Satriya, dan Abi sebagai salah satu pengurus perusahaan tersebut, tentu saja bisa memutuskan apapun untuk keberlangsungan perusahaan.
Tiba-tiba saja keringat sebesar biji jagung mengalir deras di dahi Naina, gadis itu merasa sulit bernafas, perutnya kembali terasa sakit, tidak tahan membayangkan akan seperti apa murkanya Papa nanti.
__ADS_1
“Kamu lihat? Jika kamu bisa berbuat sekejam itu pada anakku, maka jangan harap aku juga mau berbaik hati pada kamu dan keluargamu, yah ... aku memang hanya pria dengan segudang kekurangan fisik yang bahkan tidak pernah aku minta pada Tuhan, namun aku masih bisa melakukan banyak hal jika kamu terus mengusik hidupku dan anakku tentu saja, pilihan itu ada ditangan kamu Naina!” Abi menatap tajam pada Naina yang kini menunduk dengan mata terpejam.
“Pikirkan itu baik-baik sebelum kamu bertindak gegabah!” Abi pergi dari dalam ruangan Naina bertepatan dengan sang Ibu mertua yang memasuki ruangan Naina.
“Abi pergi dulu Ma, ada banyak hal yang harus Abi urus, Abi titip Naina, jangan sampai Naina terjatuh lagi” Abi melirik Naina yang masih terdiam menatap udara kosong.
“Ya Nak Abi, hati-hati” Mama mengangguk menyanggupi, Mama masih menatap kepergian Abi, hingga dengan tergesa mama menutup pintu dan menghampiri Naina.
“Mama baru saja mendapat telpon dari Papa” Mama duduk di samping ranjang Naina tanpa menatap putrinya, pandangannya kosong pada lantai dingin di bawah sana.
“Katanya Abi menarik semua investasinya dan membatalkan kerjasama secara sepihak, betul begitu Nai?”
Naina terperangah, rupanya ucapan Abi tadi tidak main-main, Naina sedikit menggeleng tidak percaya.
“Papa membangun perusahaan itu sedari Ia muda, tidak mudah Nai untuk membangun sebuah perusahaan, jatuh bangun, tangis tawa derita, semua rasa pernah kami rasakan ketika membangun semuanya Nai, dan kini Papa mengalami penurunan dalam usahanya, sulit bagi sebuah perusahaan untuk mendapatkan suntikan dana sebesar itu, sulit mencari kepercayaan dari orang asing, ada banyak hal yang dipertaruhkan disini, bukan hanya perkara keluarga kita, namun juga nasib ratusan pegawai dan keluarganya yang menggantungkan hidupnya pada perusahaan kita, oleh karena itu, sekali ini saja, tolong jangan egois lagi Nai” Mama meneteskan air matanya, sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa untuk putrinya.
“Tidak bisakah kamu hanya bersikap patuh saja pada Abi? Dia pria yang baik, yah dia memiliki kekurangan secara fisik, namun ... tidakkah itu wajar saja? Dia pria tampan, mapan, kaya raya, berasal dari keluarga yang baik, tidakkah kamu mau mepertimbangkan semuanya?” Mama kembali menekan Naina dengan segala ucapannya, membuat Naina merasa hatinya begitu perih, merasa jika tidak ada seorangpun yang mampu memahami hatinya, bukan kondisi ini yang Naina mau.
Dipaksa mencintai pria yang tidak dicintainya, ditekan untuk menerima pria yang dibencinya, bagaimana mungkin hati Naina bisa luluh secepat itu?.
__ADS_1
“Mama mohon, jangan egois lagi, anak kamu butuh sosok Ayah seperti Abi” Mama kembali menekan,
“Segera minta maaf pada Abi, lalu minta padanya untuk mengembalikan investasi dan kerjasamanya dengan perusahaan kita, sebelum Ayahmu yang akan mengamuk padamu, atau kamu mau seperti itu Nai? Dipukuli Ayahmu dulu dalam kondisimu yang lemah seperti ini?”