
Buah dari kesabaran adalah kebahagiaan dan kami akan segera meneguknya.
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Seminggu setelah pemakaman ...
Saat ini Evelyn sedang di ajak Arlan ke tempat favoritnya, dimana kah itu?
Pantai
Tentu saja, pantai adalah tempat paling favorit dan tempat ternyaman menurut Evelyn dari tempat ternyaman lainnya.
Keduanya jalan bersama di bibir pantai, saling bercanda dan tertawa bersama setelah mereka akhirnya bisa melewati masa-masa suram, masa saat cinta mereka di uji oleh yang Maha Kuasa.
Evelyn berjalan dengan senyum yang tidak pudar, saat bisa merasakan hembusan angin pantai dengan bau khasnya yang masuk di indra penciumannya.
Sedangkan Arlan berjalan di sampingnya, tanpa banyak bicara dan hanya akan ikut tersenyum, saat melihat binar mata kekasihnya yang lebih hidup.
"Evelyn," panggil Arlan saat lama hanya ada keheningan di antara keduanya.
"Hmm ... Ada apa?"
"Ayok kita menikah," ajak Arlan tiba-tiba, tanpa ada keromantisan di dalamnya. Membuat Evelyn berhenti dari acara jalannya, menatap Arlan dengan ekspresi sedikit sebal.
"Kamu seperti mengajak seseorang untuk makan bersama, santai sekali bilang seperti itu," dengkus Evelyn pura-pura kesal, menutupi jantungnya yang berdetak kencang, dengan tambahan kupu-kupu di dalam perutnya.
Ah! Benar, kamu pasti senang, saat ayahmu akhirnya mengajak ibu menikah. Maaf yah, ibu belum sempat berbicara dengan ayahmu.
"Kata siapa aku santai seperti itu? Lihat ini," sahut Arlan kemudian mengeluarkan seseorang dari saku celananya, membuat Evelyn ikut melihat dengan raut wajah kaget dan bahagia.
"Heirate mich, Schatz, (Menikahlah denganku, sayang)" ujar Arlan dengan mengulurkan kotak cincin, di hadapan Evelyn yang melihatnya dengan senyum bahagia.
"Natürlich, Papa.(Tentu saja, Papa)"
Arlan mengernyit dengan jawaban aneh yang diberikan oleh Evelyn kepadanya dan Evelyn pun menyadarinya.
Evelyn dengan gerakan hati-hati jongkong dan menulis sebuah angka 3 di atas pasir pantai, membuat Arlan semakin memandang penasaran, bingung dengan apa yang saat ini sedang disampaikan oleh kekasihnya.
"Tiga? Apa maksudnya, Schatz?" tanya Arlan menatap Evelyn yang semakin tersenyum di depannya.
"Iya ... Tiga, Papa," sahut Evelyn lagi-lagi memanggil Arlan dengan panggilan Papa.
"Aku nggak ngerti," timpal Arlan dengan senyuman kaku, menggaruk kepalanya yang tidak gatal saat gagal paham dengan ucapan sang kekasih.
__ADS_1
Evelyn terkeke renyah, kemudian berdiri dari jongkoknya dan mengulurkan tangannya yang disambut segera oleh Arlan.
"Kemari," gumam Evelyn segera menarik tangan Arlan yang menyambut uluran tangannya, membawanya untuk mengusap perutnya yang sedikit buncit, sehingga Arlan yang merasakannya pun menatap Evelyn tidak percaya.
"Evelyn, kamu-
Anggukan kepala dari Evelyn membuat Arlan menelan lagi kata-katanya, menutup bibirnya kemudian mengusap kasar rambutnya dan mundur ke belakang.
Arlan meletakkan tangannya di pinggang, kemudian meletakkan kembali tangannya di bibirnya, lalu menghampiri Evelyn kembali dan segera memegang bahu Evelyn dengan remasan pelan.
"Kamu, kamu lagi mengandung?" tanya Arlan tidak percaya, ia menatap Evelyn dengan wajah bahagia dan berganti jadi histeris saat Evelyn kembali mengangguk.
"Ah! Serius Evelyn? Kamu sedang tidak mengibuliku kan?"
"Tidak Arlan, aku memang sedang mengandung buah hati kita," balas Evelyn dengan nada tenang, tidak ikut histeris seperti Arlan yang justru bolak-balik, saat mengekspresikan kebahagiaannya.
"Aku jadi, aku jadi Papa?" tanya Arlan masih dengan ekspresi berlebih.
"Em ... Papa," sahut Evelyn membenarkan.
"Jadi Papa?"
"Iya."
"Ha-ha-ha!!! Aku, ha-ha-ha!!"
"Terima kasih, terima kasih, Schatz," bisik Arlan sambil mencium kening Evelyn, yang hanya mengangguk dan tersenyum bahagia di hadapannya.
Skip
Beberapa minggu kemudian ...
Tidak lama dari Arlan yang tahu tentang kehamilan kekasihnya, Arlan segera mengurus segala sesuatu yang berhubungan dengan urusan pernikahan.
Arlan juga meminta bantuan Tante__Ibu dari Riki untuk menyiapkan pernikahan, karena hanya Tantenya lah yang saat ini ia punya untuk dimintai bantuan, lalu sisanya di urus dengan Barly juga dibantu Riyanti yang untuk masalah Evelyn.
Pernikahan mereka di gelar mewah di gedung hotel milik keluarga konglomerat, hotel Luxury cabang kota X.
Di depan juga sudah di pajang foto prewedding Arlan-Evelyn yang terlihat cocok.
Tamu undangan menunggu kedatangan dua pasang pengantin, yang tadi pagi menggelar akad di kediaman keluarga Gandhi dan dilanjutkan pesta di Ballroom Hotel Luxury.
Di luar ada mobil yang mengantar pasangan pengantin, yang sudah rapih dengan gaun pengantin putih dan jas hitam.
__ADS_1
Arlan mengamit lengan sang istri, membantu berjalan saat sang istri terlihat kesusahan dengan sepatu tingginya.
Keduanya jalan menuju tempat pesta, di sambut dengan para tamu undangan juga keluarga yang tersisa dari pihak Arlan.
Riyanti datang dengan gaun yang silver, terlihat cantik. Ia berdiri di sisi Riki, setia mengikuti Riki yang mulai menerima kehadirannya.
Sedangkan orang tua Riki menggendong Kenzo, yang saat ini sedang bercanda dengan Riki.
"Sssst ... Lihat, itu kak Lyn dan Kak Arl jalan kemari, jangan ganggu ya
Hi-hi
Kenzo hanya tertawa, melihat sekeliling dengan keramaian yang baru ini di lihat oleh netra mungil jernihnya.
Pesta berlangsung meriah dan lancar, di pandu oleh pembawa acara yang membuat suasana semakin ramai.
Lagu beautiful with mengiringi jalannya acara, disusul dengan lagu-lagu romantis lainnya, membuat tamu yang hadir ikut merasakan kebahagiaan pasangan pengantin yang berdiri berdampingan.
Evelyn melihat ke arah Arlan, yang senantiasa menampilkan senyum bahagianya, melepas topeng datar yang selalu di pakainya dan membalas ramah segala ucapan selamat untuknya.
Merasa diperhatikan, Arlan pun melihat ke arah Evelyn dan memasang senyum semakin lebar.
"Kamu lelah?" tanya Arlan mengusap kening istrinya sayang.
Ah! Istri yah ... Aku tidak menyangka akhirnya tiba juga masa untuk aku memanggilnya istri.
"Tidak, aku hanya terlalu bahagia," balas Evelyn dengan gelengan kepala, mengenggam tangan sang suami, yang kini sedang mengusap keningnya lembut.
"Akan lebih bahagia, saat beby lahir, sayang," timpal Arlan semangat, sehingga Evelyn tidak kuasa menahan kekehan renyahnya.
"Hmm ... Aku jadi tidak sabar," tambah Evelyn sama semangatnya.
Pesta akan berlangsung hingga beberapa jam kemudian, diisi dengan kebahagiaan Evelyn bersyukur dalam hati, saat kesedihan dalam hidupnya akhirnya terbalas juga dengan apa yang didapatkannya.
Terima kasih Tuhan, aku bersyukur atas segalanya. Ibu-ayah ... Evelyn mulai sekarang akan hidup bahagia.
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ikuti kisah selanjutnya ...
Terima kasih dan sampai babai.
__ADS_1