
Bab 33
Mentari baru saja hadir untuk menunaikan tugasnya menghangatkan bumi, burung-burung berkicauan, suara angin semilir harusnya mampu membuat siapa saja yang mendengarnya menjadi nyaman, menikmati pagi yang indah dengan secangkir teh hangat sebelum memulai aktifitas mungkin bisa jadi solusi. Namun, tidak bagi seorang Habibi, pria itu tengah menajamkan pendengarannya, berulangkali membenahi alat bantu dengarnya, suara ini terlalu berisik, dan Abi tidak menyukai sesuatu yang jauh dari ketenangan dan kedamaian.
Perlahan Abi berjalan mendekati pintu kamar seorang perempuan yang kini berstatus sebagai istrinya, perlahan Abi berniat untuk membuka pintu tersebut, namun nihil. Rupanya pintu dikunci dari dalam. Abi mencoba mengetuk pintu tersebut, namun rupanya tidak membuahkan hasil, hingga ketukan berubah menjadi suara gedoran namun pintu tak kunjung dibuka. Dan hal tersebut jelas membuat Abi merasa frustasi sendiri, bahkan di waktu sepagi ini.
“Na! Buka pintunya!”
Abi terlihat mengeratkan rahangnya terlalu kesal, pria itu menatap tajam pada pintu dihadapannya, sebelumnya Abi sempat melihat CCTV kamar istrinya, dan terlihat disana Naina tengah melakukan olahraga ekstrim dengan music menggelegar memekakan telinga.
“Den, ini kunci cadangannya” Bibi datang tergopoh dengan beberapa anak kunci cadangan pintu kamar Naina, Abi segera membukanya.
Dan ketika pintu kamar terbuka, suara memekakan telinga langsung menyambut kedatangan Abi, pria itu berdecak lalu mengedarkan pandangan pada kamar yang terlihat seperti kapal pecah, sementara itu Naina tengah menggerakkan badannya lincah, seirama dengan music yang terus berbunyi nyaring, pakaian Naina terlihat begitu ketat bahkan perutnya tercetak jelas, menonjolkan kehamilannya yang kini menginjak angka lima bulan.
Tidak tahan lagi! Abi segera mencabut kabel yang menghubungkan alat pemutar music, hingga dalam waktu beberapa detik saja suasana mendadak hening, hingga membuat Naina spontan menghentikan gerakannya, menoleh pada Abi yang kini tengah menatapnya nyalang.
“Apa sih? Ganggu banget!” Naina mendelik kesal, lalu segera mendekati Abi, berniat kembali meraih kabel yang kini ada ditangan Abi, untuk kembali dicolokkan, dan Naina kembali bisa berolahraga.
“Siniin gak!” Naina mulai menaikkan nada suaranya ketika Abi menepis tangan Naina.
“Kamu kenapa sih Na? Ha? Melakukan olahraga ekstrim buat apa? Biar anak kamu brojol sekarang?” Abi menghardik Naina dengan sangat kesal.
“Kalau bisa kenapa enggak?” Naina berkata ketus, membuat Abi kian dikuasai emosi.
“Ya Tuhan Na, sebenarnya apa yang ada dikepala kamu itu? Kamu melakukan semua hal yang memungkinkan untuk membunuh anakmu sendiri?” Abi sungguh tidak habis pikir.
“Anakku? Anak Lo kalau Lo lupa! Gue gak pernah ngarepin dia ada! Sekarang siniin kabelnya! Gue mau olahraga lagi!” Naina kembali berusaha untuk meraih kembali kabelnya, namun Abi dengan sigap menyingkirkan tangan Naina hingga gadis itu kembali merasa kesal setengah mati.
“Kamu bisa gak sih Na, gunain sedikit aja hati nurani kamu? Bahaya Na kalau kamu melakukan gerakan aneh kamu itu! Sudah cukup!” Abi makin kesal dengan tingkah Naina yang semakin menjadi.
__ADS_1
“Gerakan aneh? Heh! Kalau anak Lo gak ada diperut Gue, Gue gak mungkin kelihat kayak buntelan kayak gini! Tubuh Gue gendut dan gak selangsing dulu lagi! dan itu semua karena Lo! Karena anak Lo ada disini!” Naina menunjuk perutnya yang membuncit dengan kesal.
Abi menghela napas lelah, bukankah semua perempuan hamil akan mengalami perubahan pada tubuhnya? Itu hal yang sangat wajah dan manusiawi sekali, lalu kenapa Naina terus protes, bahkan melakukan hal ekstrim yang justru bisa membuat anaknya hilang? Abi sungguh tidak habis pikir.
“Na, semua Ibu hamil yang ada di dunia ini akan mengalami perubahan pada fisiknya, itu wajar Na, lagi pula menurutku kamu tidak terlalu berubah kok, kamu masih tetap secantik sebelumnya” Abi mengatakan kejujuran.
“Alah! Bilang aja kalau Gue udah jelek sekarang! Awas minggir! Gue mau lanjutin lagi olahraga Gue!” Naina mengibaskan tangannya kesal.
“Na, please, jangan lakuin hal itu lagi, kamu bisa melakukan apapun, asal jangan melakukan hal yang membahayakan anakku” Abi menatap dengan raut mengiba.
“Yakin boleh apapun?” Naina menyeringai dengan sejuta akal licik di kepalanya.
“Ya tentu saja” Abi mengangguk tenang.
“Gue mau belanja!” Naina berkata sinis.
Naina menatap Abi, dahinya mengkerut ‘duit nya mana?’ batin Naina berteriak, Abi hanya menyetujui dan mengangguk tanpa memberikan uangnya? Itu sama saja bohong!.
“Ini uangnya” Abi membuka dompetnya, memberikan salah satu kartu pada Naina tanpa pikir panjang.
“Kartu itu bisa kamu gunakan untuk belanja sesuka hati kamu, asal kamu jangan lagi membahayakan anakku” Abi menghela napas menatap Naina yang kini tengah menatap kartu yang diberikan olehnya dengan mata berbinar ceria.
“Oke” Naina mengangguk, lantas dalam hitungan detik gadis itu segera melompat untuk masuk kedalam kamar mandi, Naina sudah memiliki rencana segudang atas kartu sakti yang kini tengah dipegangnya.
“Na! Kamu jangan lari-lari!” Abi hanya bisa mengerang frustasi.
Abi melanjutkan langkahnya menuju keluar halaman rumahnya, pria itu berniat untuk pergi ke kantor hari ini, Papa Satriya tadi memintanya untuk datang.
***
__ADS_1
“Lo mikir dong Bim! Abi itu punya istri, alangkah tidak bijaknya Lo sebagai orangtua malah mau jodohin Abi sama anaknya Awan! Jangan lupa Awan itu sahabat kita, kalau sampai kita mengecewakan dia, apa persahabatan kita bakalan tetap seutuh ini?” Satriya memaki sahabatnya yang dia rasa sudah hampir hilang akal. Ingin menjodohkan anaknya, dalam kondisi anaknya masih memiliki istri dan sebentar lagi akan memiliki anak. Apa Bima sudah gila sungguhan? Setelah kematian Lili, hidup Bima memang bagaikan orang linglung, tapi apa harus selinglung ini? Satriya tidak habis pikir.
“Apa Lo lupa bagaimana perangai menantu Lo? Bahkan Naina pernah bentak Gue dan berlaku tidak sopan sama Gue! Sedari awal Gue emang udah gak suka sama gadis itu, gadis itu gak pantes jadi pendamping Abi” Bima masih kukuh dengan pendiriannya.
“Jujur, Gue nyesel pernah jodohin Abi, hingga hidup Abi menjadi serumit sekarang, tapi tidak dengan melakukan tindakan konyol kayak gini, Lo bisa nyakitin banyak pihak Bim” Satriya menghela napas berat.
“Kita bisa minta Abi buat nikahin Bila nanti, setelah mereka berpisah” Bima berkata dengan santai.
“Sinting! Siapa yang mau pisah Bim? Lo mau anak Lo bercerai setelah Naina melahirkan? Dimana otak Lo? Ah Gue lupa, Lo emang gak punya otak! Gue lupa, dulu bahkan Lo pernah mau buang Abi!” suara Satriya cukup menggelegar memenuhi ruangan, membuat Bima membeliakkan matanya. Tidak! Bima tidak bisa menerima ucapan Satriya, pria itu berdiri tangannya membulat bersiap menghajar Satriya, namun ...
“Pak Abi? Kenapa masih berdiri disini?”
Satriya dan Bima membeku, mendengarkan dengan seksama suara sekretaris Satriya diluar sana, Abi? Apakah Abi ada di luar sana dan mendengarkan semua percakapan mereka? Astaga! Mereka sungguh teledor.
Dengan gerakan cepat, Satriya dan Bima berlari menuju pintu ruangan, kedua pria itu segera mendapati Abi yang tengah menunduk ke bawah seperti sedang mencari sesuatu.
“Abi?” Satriya menepuk punggung Abi, hingga Abi menoleh lalu tersenyum padanya.
“Sedang apa Nak?” Papa bertanya dengan perasaan cemas.
“Abi sedang mencari alat bantu dengar Abi, tadi tidak sengaja jatuh di dekat sini” Abi menggerakkan tangannya menggunakan bahasa isyarat.
Satriya dan Bima saling pandang, diam-diam kedua orang pria itu bernapas lega, itu artinya Abi tidak mendengar apapun obrolan mereka.
“Biar Om bantu cariin ya” Bima menggerakkan tangannya dengan senyuman tulus tersemat dari bibirnya.
Abi mengangguk setuju, membalas senyuman Bima. Hingga ketiga pria itu berjongkok mencari benda hitam berukuran kecil yang selama ini membantu Abi untuk mendengar.
“Kenapa bisa jatuh sih Bi? Kita udah nyari lama tapi kok gak ketemu” Satriya melirik pada Abi yang sedari tadi menatap lantai dengan pandangan kosongnya. Tentu Abi tidak menjawab karena dia tidak bisa mendengar ucapan Satriya.
__ADS_1