
Sampai di rumah Anne merasa aneh pada sikap Sean. Dia menjadi orang yang ketakutan, super protektif, bahkan emosional. Dia tidak mengijinkan Anne keluar rumah bahkan satu langkah pun.
Pintu, jendela semua dia kunci, tidak ada celah untuk udara masuk. Tapi Anne tahu, untuk saat ini laki-laki itu tidak ingin di ganggu dan ingin menyendiri. Anne memilih untuk pergi ke kamar, menemani sang buah hati tidur. Namun nyatanya, kepergiannya ke kamar membuat emosi Sean naik, dia membentak Anne dengan keras, sampai-sampai Anne terkejut di buatnya.
"Berhenti dan jangan pergi!" Bentak Sean. Anne pun menghentikan langkahnya yang satu langkah lagi berhasil masuk ke dalam kamar. Anne berbalik badan, menatap lawan bicaranya di ujung sofa sana.
"Ada apa? Apa aku buat salah sama kamu? Jika iya, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud untuk membuat kamu marah, Sean."
Sean hanya terdiam. Dia tahu bahwa di luar sana ada orang yang tengah mencari keberadaan Anne, dia takut jika Anne bertemu dengan mereka dan pergi meninggalkan dirinya. Dia tidak ingin kehilangan Anne, wanita yang dia cintai sepenuh hati. Ditambah lagi, Sean pun tahu maksud Anne pergi ke kafe tadi, wanita itu ingin menemui laki-laki yang mengenali sang isteri. Dia takut jika mereka merebut Anne darinya. Dia takut Anne kembali pada keluarganya.
"Jangan pergi, tetap disini. Temani aku," pintanya. Anne pun mengurungkan niatnya untuk menemani sang buah hati, dia duduk di samping Sean. Mata laki-laki itu sayu.
"Bisakah kita lakukan itu sekarang?" Tanya Sean dengan suara parau. Anne terpojok, karena kini posisinya terhimpit oleh tubuh Sean yang berada di atasnya. Anne menelan salivanya pelan, baru kali ini dia melihat sorot mata Sean yang seperti bukan dirinya, Anne merasa ketakutan, ia pun mendorong tubuh Sean dengan keras hingga terpental.
"Maaf Sean. Tidak hari ini, aku sangat capek." Tolaknya. Bukannya marah, Sean malah menyeringai, entah apa yang laki-laki itu pikirkan. Membiarkan Anne pergi ke kamarnya.
__ADS_1
Perlahan Anne merebahkan tubuhnya ke kasur. Sekujur tubuhnya terasa sakit, mungkin itu efek perjalanan tadi siang.
Namun kenapa kini pandanganya menjadi gelap. Dia yakin dia belum tidur, dia masih bisa merasakan detak jantungnya. Anne mencoba untuk tenang, menarik napas dan saat Sean masuk ke dalam kamar tiba-tiba saja pandangannya kembali normal.
"Kenapa dengan mataku?" Batinnya. Anne memundurkan tubuhnya saat melihat Sean datang menghampirinya. Tatapan mata itu kini berubah hangat, tidak seperti tadi. Tapi tetap saja bagi Anne itu sangat menakutkan, orang yang tiba-tiba marah kini berubah menjadi baik. Sean memeluk tubuhnya dengan penuh kehangatan.
"Maafkan aku sayang, aku tidak bermaksud untuk membuat kamu takut. Kamu tahu, aku sangat mencintaimu, aku tidak ingin kamu pergi dariku," ujarnya dengan berlinang air mata. Anne tidak membalas pelukannya, namun Sean memeluknya dengan erat.
"Peluk aku. Jangan perlakukan aku seperti ini." Ujar Sean kembali.
Malam bertabur bintang, Juniar menatap langit-langit kamar yang terasa jauh dari pandangan. Malam semakin larut, namun dirinya tidak dapat memejamkan mata. Dia masih belum bisa tidur dengan nyenyak karena belum bisa menemukan yang dia cari. Rasa penasaran itu mengalahkan lelah dan kantuknya.
"Dimana kamu sekarang? Apa kamu baik-baik saja? Aku merindukanmu...."
"Aku berjanji jika kita di persatukan lagi, aku tidak akan pernah menyakitimu. Aku berjanji kamulah wanita yang paling berharga di hidupku."
__ADS_1
Malam itu sekitar pukul dua pagi, ponselnya berbunyi, ada tanda pesan masuk ke dalam ponselnya. Awalnya dia tidak akan melihat siapa orang yang mengiriminya pesan, namun karena bosan dia pun akhirnya membacanya.
Juniar terkejut, rasanya dia ingin keluar malam itu juga. Namun karena pikirannya sekarang sedang jernih, dia pun mengurungkan niatnya, dia akan pergi jika hari sudah pagi. Dan malam itu Juniar hanya mondar-mandir tidak karuan, dia menantikan pagi segera datang. Dia tidak sabar untuk pergi ke suatu tempat dimana wanita yang dia cari tinggal. Akhirnya, orang suruhannya pun menemukan alamat keberadaan orang yang mirip dengan Anne.
"Kali ini kita harus bertemu," gumamnya sambil memandangi potret wanita yang di cintai.
"Aku tidak mencintaimu, Jun!" Seorang wanita berteriak kepadanya dengan keras. Wanita itu tidak mau menampakkan wajahnya, sambil terus berjalan dengan sangat cepat.
Juniar hanya mampu memanggil namanya pelan. Sambil terisak dia menyaksikan kepergian wanita itu yang kini sudah tidak terlihat lagi.
Sebuah benda keras menghantam bahunya, dia meringis kesakitan dan tersadar bahwa itu hanya sebuah mimpi. Juniar tidak sadar tertidur di kursi, sehingga saat tidurnya mulai pulas dia pun terjatuh dan kepalanya terlebih dahulu mengenai lantai sehingga membuat pegal di bahu.
"Ah sial! Kenapa aku tidur disini?" Umpatnya. Dia pun segera mencari ponselnya. Melihat jam di tangannya.
"Aku harus pergi. Tapi kemana Doni?" Batinnya. Dia masih kebingungan karena saat terbangun Doni sudah tidak ada di kasurnya, di cari ke kamar mandi pun tidak ada.
__ADS_1