
Pagi ini begitu cerah, matahari pun sudah memancarkan cahayanya namun, tidak dengan raut wajah Sean, dia terlihat murung dan menekuk wajahnya. Anne tahu apa penyebabnya, namun dia membiarkan saja laki-laki itu begitu.
Melihat Sean yang sudah rapih dengan pakaian kerjanya, Anne pun segera mengambilkan makanan untuknya sarapan.
"Untuk siang mau sekalian aku bawakan bekal?"
Sean hanya menggelengkan kepalanya. Anne pun mengerti dan tidak banyak bertanya lagi, dia ikut duduk di hadapan Sean menemani sang suami menyantap makanan buatannya.
"Hari ini selama kamu bekerja, aku akan pergi ke pasar. Ada sesuatu yang harus aku beli," ujar Anne.
Mendengar Anne berkata seperti itu Sean pun segera menatap wajah Anne. Tatapan penuh kecurigaan.
"Akan ku antar,"ujarnya. Namun Anne menolaknya. Anne berkata bahwa dia tidak akan pergi lama, jadi Sean tidak perlu mengkhawatirkannya. Perasaan curiga itu tetap saja ada di dalam hati Sean, walaupun dia tahu Anne tidak akan berbuat macam-macam dan akan terus berada di sampingnya.
"Baiklah. Tapi ingat, jangan lama-lama. Aku akan pulang cepat," katanya memperingatkan.
____
Anne berjalan perlahan menghampiri sebuah kafe tempat dimana dia pernah bertemu dengan orang yang mengenalnya tempo lalu. Anne berharap kali ini dia bisa bertemu dengannya lagi, ada banyak sekali pertanyaan yang ingin dia tanyakan.
__ADS_1
"Semoga saja bertemu lagi," gumamnya.
Mampir sebentar untuk membeli kopi sambil mencari keberadaan orang yang dia ingin temui, lalu kembali duduk di sebuah kursi di bawah pohon rindang tidak jauh dari kafe. Menegug perlahan kopi di tangannya, sambil sesekali tersenyum pada bayi manis yang tertidur di stroller. Sudah hampir siang, orang itu tidak terlihat lagi. Anne kecewa, mungkin saja memang benar orang itu hanya kebetulan mengenali dirinya, pikirnya. Tapi rasa penasaran itu masih mengganjal, membentuk sebuah gulungan besar di lubuk hati paling dalam, hingga terasa sakit ia rasakan.
"Percuma saja aku berharap bertemu dengannya, orang itu pasti kebetulan saja bertemu denganku yang mirip temannya, dan nama kita pun sama. Iya, itu pasti hanya kebetulan saja!"
Anne beranjak dari duduknya, berharap rasa penasaran yang dia miliki menghilang dengan sendirinya. Namun tiba-tiba saja dari arah belakang seseorang menyentuh pundaknya. Ia pun menoleh dan terkejut.
"Sean?" Ujarnya. Dengan mata terbelalak dia merasa takut, takut jikalau Sean tahu dia tengah menunggu seseorang untuk mencari informasi tentang dirinya. Selama ini, Sean tidak suka jika dirinya membahas masa lalu dan ingin ingat lagi masa lalunya, terutama ayah dari anaknya.
"Kenapa kamu ada disini? Bukankah kamu bilang akan pergi ke pasar!" Ujarnya dengan dingin. Tanpa ragu dan gugup Anne menjawab pertanyaan itu, sebelumnya dia memang sudah menyiapkan alasan yang cukup masuk akal agar Sean tidak marah saat dirinya terlalu lama berada di luar.
"Kalau memang kamu lelah, tidak usah pergi ke pasar. Kamu bisa saja bilang padaku apa yang kamu mau, aku pasti akan membawakannya untukmu. Sekarang ayo kita pulang!" Sean mendorong stroller bayi itu mendahului Anne, lalu diikuti olehnya.
___
Dari kejauhan Juniar bisa mengenali seorang wanita yang mirip sekali dengan sang istri. Dia pun berlari mengejarnya sebelum naik ke sebuah bis yang akan berangkat pada saat itu juga. Melihat Juniar berlari, tanpa tahu alasannya pun Doni ikut berlari bersamanya.
"Anne.... Anne.... Anne...!" Juniar berteriak sekeras mungkin, wanita yang di panggil sempat menoleh namun terus berjalan memasuki bis tanpa menunggu dia menghampirinya. Itu adalah penumpang terakhir!
__ADS_1
Setelah berhasil mengejar Juniar yang berlari begitu cepat, Doni pun bertanya dengan napas yang tersengal-sengal
"A-pa kau melihatnya?"
Bukannya menjawab pertanyaan dari Doni, Juniar malah mengumpat sendiri.
"Sial! Hampir saja aku mendapatkannya. Aku harus melacak kemana bis itu pergi."
Orang-orang di sekitar menatapnya dengan aneh kepadanya, bagaimana tidak wajahnya yang memerah mampu menarik perhatian orang-orang sekitar. Tapi semua mata-mata itu tidak di hiraukannya. Doni yang tadi sempat pergi mencari minum saat Juniar tengah mengumpat, kini kembali lagi dengan dua botol minum di tangannya.
"Kau harus minum ini," Doni memberikan satu botol minum pada Juniar.
"Kau harus tenang. Jangan terlalu emosi."
"Bagaimana aku bisa tenang. Wanita itu benar-benar mirip sekali dengan Anne. Kau lihat saat aku panggil namanya tadi? Dia menoleh. Aku yakin dia memang benar-benar isteriku."
"Aku tahu. Tenanglah. Minum dulu airnya, kita pasti akan menemukannya." Doni mencoba menenangkan. Walaupun sebenarnya Doni merasa kesal karena Anne lebih memilih Juniar, tapi sekarang dia merasa iba melihat laki-laki itu sampai kurus kering tidak terawat. Perlahan waktu bisa menyembuhkan, apalagi sebentar lagi dia akan menikahi Rosa, teman kerjanya sendiri sekaligus teman Anne juga.
"Berhasil. Lihat!" Juniar menunjukannya pada Doni, dia sedari tadi sudah melacak dimana bis itu berhenti, dia pun segera memanggil taksi dan mengejar bis itu.
__ADS_1
"Ayo pergi. Jangan sampai kali ini kita kehilangan jejaknya lagi." Ajak Juniar.