Bukan Salahku

Bukan Salahku
Rencana Tania


__ADS_3

Kenangan datang bersama lamunan


Terbang jauh kedalam masa lalu


Cinta sudah lepas tak berbekas


Hanya sisakan kenangan di masa itu


Kenangan abadi diatas cinta yang suci


Murni dan tulus tanpa modus


Kenangan dirimu selalu abadi selamanya


Terukir indah di hati kekal tak terganti


Takdir menjadi hal yang paling menyakitkan


Tapi tidak bisa dipersalahkan


Bagian dari ketetapan alam


Yang harus dijalankan tidak dengan keluhan


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


Flasback on


Tania pov on


Sekitar dua bulan aku bersabar dengan kelakuan tunanganku, tapi aku cukup muak dengan segala yang di terima olehku.


Bagaimana bisa dia dengan kejamnya, memperlakukan aku seperti ini.


Aku tunangannya tapi aku sama sekali tidak pernah menghabiskan waktu dengannya, jika di tanya hanya akan ada jawaban sibuk dan sebagainya.


Bahkan di akhir pekan pun dia selalu menolak ajakan makan malam denganku.


Hari ini aku sengaja pergi ke Kondominium miliknya, ingin memberi kejutan, mungkin dengan begini dia tidak akan menolakku.


Aku pun berniat turun dari mobilku, tapi belum juga aku turun, aku sudah melihat seseorang yang ingin aku kunjungi keluar dari pintu lobby.


"Arlan," Gumamku, dahiku mengernyit bingung karena menurut laporan dari Papa mertuaku, Arlan tidak punya acara di akhir pekan.


"Mau kemana dia?"


Aku bingung saat dia memasuki mobilnya dan pergi meninggalkan area parkir.


Tidak ingin ketinggalan aku pun mengikutinya, tentunya dengan jarak aman, aku tidak ingin ketahuan sedang mengikutinya.


"Untuk apa dia ke daerah seperti ini?" Gumamku bertanya.


Aku bingung dengan dia, apa pertemanannya sudah turun di level rendah, sampai mengunjungi tempat seperti ini.


Aku pun mematikan mesin mobilku, saat mobil miliknya berhenti, di depan gerbang dengan papan nama sebuah kost.


Dahiku semakin mengernyit karena melihat dia turun, dengan membawa rangkaian bunga besar di tangannya.


"Apa-apaan ini," Gumamku tidak percaya.


Dari sini aku menyaksikan dia yang di sambut oleh seorang wanita, wanita itu aku seperti pernah lihat.


"Tunggu! Bukan kah itu wanita yang di pesta tempo hari, jangan bilang dia benar kekasih Arlan?"


"Tidak, aku harus lakukan sesuatu,"


Aku menggelengkan kepalaku, saat melihat pemandangan di depanku, dimana aku melihat Arlan dan wanita Itu saling lempar senyum.


"Apa-apa'an ini!"


Tanganku mengepal dengan erat, saat aku melihat mereka memasuki dalam kost.


"Apa yang akan mereka perbuat?"


Aku mencoba menunggu waktu beberapa menit, mencari waktu yang tepat untuk memergoki mereka sedang melakukan sesuatu.


Sekitar lima menit Aku berniat turun dari mobil, tapi sayang aku tahan lagi, saat aku melihat gerbang terbuka dengan mereka berdua keluar.


Mereka berdua pun menaiki mobil dan meninggalkan tempat aku melihat mereka saat ini.


"Aku harus mengikuti mereka," Gumamku lalu menghidupkan mesin mobil, meluncur mengikuti mereka dari belakang.


"Jadi ini alasan kamu, tidak ingin pertunangan kita di ketahui orang?"


"Kamu yang meminta, kalau begitu aku akan membuat dia sendiri, yang memerintahkan kamu mengumumkan pertungan kita. Lihat saja,"


Dengan hati kesal dan penuh amarah, aku tetap mengikuti mereka, melihat bagaimana mereka saling berpegangan tangan, mengumbar kebahagian di depan khalayak ramai.

__ADS_1


"Wanita sialan," umpatku kesal.


Tidak tahan dengan kemesraan yang aku lihat di depanku, aku pun pergi meninggalkan tempat mengesalkan, tempat dimana hati aku sakit untuk kesekian kalinya.


"Aku tahu, jika aku mendatangi kamu sekarang, kamu akan mengelak, kan?"


"Heh, sialan!" Seruku kesal.


Keesokan harinya, aku pun mendatangi kantor Arlan ingin menemuinya, bila perlu berbicara empat mata dengan wanita itu jika aku tidak emosi duluan.


Aku dengan percaya diri, melangkah memasuki lobby perusahaan milik tunanganku.


Aku sudah tahu dimana lantai ruangannya berada, jadi aku masuk tanpa bertanya kepada petugas receptionst.


Ting!


Lift yang membawaku ke atas terbuka, aku pun melangkah keluar dan berjalan menuju meja, di mana seharusnya ada asistennya berada, tapi sayang tidak ada siapapun duduk di situ.


"Heum ... Bukankah seharusnya dia duduk manis di situ?" Gumamku bertanya bingung.


Aku pun mengangkat bahu tidak perduli, lalu melanjutkan langkahku, mendekati ruangan dengan pintu tertutup.


Tapi sayang baru juga aku ingin membuka pintu, seseorang dari belakang menegurku dan membuatku terpaksa melepas handle pintu.


Aku pun membalikkan tubuhku, mengernyit bingung saat ada seorang wanita dengan pakaian kantor seksi, melihatku dengan sorot mata menilai.


"Berani sekali dia melihatku seperti itu," Batinku marah.


"Ehem ... Maaf, sedang mencari siapa?" Tanyanya kepadaku.


Ah ... Aku lupa, aku belum pernah kemari dan belum ada yang tahu mengenai identitasku.


"Sial," Batinku mengumpat kesal.


"Aku cari Arlan, apa dia ada di dalam?" Tanyaku.


Aku melihatnya sedang menatapku dengan pandangan menilai, penampilanku di lihatnya dari ujung hingga ujung.


"Ehem ... Ada yang salah dengan pakaianku?" Tegurku membuatnya buru-buru menggeleng.


"Maaf,"


"Kalau boleh tahu, ada keperluan apa?" Tanyanya.


"Ada keperluan apa?" Ulangku dan dia mengangguk.


Aku melihatnya menggeleng panik, tapi ia segera menatapku dengan alis curiga.


"Hih ... Tidak percaya sekali." Batinku.


"Jadi benar Nona ini tunangannya?" Tanyanya memandangku curiga.


"Iya, tentu saja. Apa perlu aku lapor dengan Papa Keanu Widiyo?" Balasku menantang.


Aku melihatnya menggeleng kepala lagi, lalu ia melihat kiri dan kanan seperti ingin menyampaikan sesuatu, membuatku semakin curiga.


"Ada apa sebenarnya?" Batinku bertanya.


"Nona benar kan tunangan Pak Presdir?"


"Iya ..." Jawabku bosan.


Mau sampai kapan dia bertanya seperti ini.


"Lama-lama bikin kesa-


"Tapi banyak kabar, jika Asisten pribadi Pak Presdir adalah kekasihnya Pak Presdir, Nona," Bisiknya hati-hati.


Ucapan dalam hatiku berhenti saat aku mendengar, kabar cukup mengejutkan dari seorang karyawati di depanku saat ini.


"Apa? Apa maksudnya?" Tanyaku cepat.


Kecurigaanku benar, berarti ada apa-apa dengan mereka.


Dia pun menceritakan gosip yang sudah berjalan beberapa minggu, tentang kedekatan tunanganku dengan wanita tersebut.


"Seperti itu, Nona," Ujarnya menyudahi ceritanya.


"Baik, terima kasih atas informasinya."


"Sama-sama, Nona!"


Aku terdiam memikirkan cara untuk membuat wanita itu kecewa.


Ah! Benar juga fikirku.


"Ih iya!" Seruku saat dia ingin berbalik pergi.

__ADS_1


"Boleh aku minta tolong?"


"Iya, Nona?"


"Tolong sebarkan berita, saat ada Asisten itu, tentang Arlan yang sudah memiliki tunangan. Bisa, kan?" Ujarku dengan tangan menyerahkan kartu sekali pakaiku.


Kartu dengan jumlah saldo, lumayan jika membeli baju dengan total dua digit.


"Tentu, tentu saja Nona!" Balasnya semangat.


"Dasar, rendah," Batinku mendengus sinis.


Aku pun pergi dengan membawa kekesalan berkali lipat, sudah tidak bertemu dengannya, aku juga harus menambah daftar fakta tentang permainan hatinya.


Tapi setidaknya aku dapat cara untuk membuat wanita itu jatuh, sakit hati dan terpuruk.


Meskipun harus mengeluarkan senjata andalan, uang tentu saja, uang bisa membeli segalanya.


"Oke, kita lihat besok," Gumamku, kemudian menghidupkan mesin mobil dan pergi meninggalkan gedung perusahaannya.


Skip


Keesokan harinya seperti kataku, aku pun kembali pergi mengunjungi kantor milik tunanganku.


Kali ini aku sudah pastikan, jika mereka berdua ada di tempat, aku sudah menghubungi pekerja wanita kemarin dan meminta informasi akurat.


Tentunya dengan masih dengan iming-iming sesuatu seperti kemarin, tapi aku tidak perduli yang penting informasi ini, bisa membuat wanita tidak tahu malu itu sadar, dimana posisinya berada.


"Kita lihat," Gumamku lalu berjalan menuju lift dan menunggu dengan sabar, pintu lift terbuka mengantarku ke lantai sembilan belas.


Ting!


Akhirnya sampai juga. Aku pun keluar dan seketika tersenyum saat melihatnya, duduk dengan mata fokus menghadap ke arah laptop.


"Selamat menikmati," Gumamku dengan senyum sinisku.


Aku pun melangkah mendekatinya, yang melihatku kaget.


Wow ... Apakah dia ingat dengan wajahku, entah, aku tidak perduli, yang aku perdulikan adalah dia harus tahu fakta yang di tutupi Arlan dengan rapat.


"Ada yang bisa di bantu?" Tanyanya dengan senyum, yang menurutku sangat menjijikan.


"Arlan, ada?" Tanyaku dengan senyum pura-pura.


"Pak Presdir? Apa sudah ada janji?" Tanyanya, masih dengan ramah.


Sumpah, aku ingin sekali menyiram wajahnya dengan air selokan saat ini juga, aku ingin berteriak jika dia adalah wanita tidak tahu diri.


Tapi tidak boleh ... Aku ingin dia sendiri, yang tahu kabar ini dari mulut Arlan.


"Ini penting, Papanya yang memerintahkan, apa perlu aku menghubungi Tuan Keanu?" Balasku masih berpura-pura ramah.


Aku melihatnya berfikir sejanak, sepertinya nama Papa Keanu bisa di andalkan, karena aku melihat mengangguk dan mengizini aku masuk.


"Baiklah, silakan masuk." Balasnya masih dengan senyum, yang aku pastikan jika sebentar lagi akan hilang dari wajahmu.


"Terima kasih!" Seruku dengan nada senang.


"Ah! Aku lupa!" lanjutku berseru tiba-tiba.


"Iya?"


"Bisakah aku minta tolong antarkan minuman ke dalam, tapi aku mau kamu yang antar. Aku tidak suka jika itu orang lain, bisa kan?" Ujarku dengan nada manis, sumpah aku ingin segera muntah di tempat.


"Baiklah," Balasnya, sambil mengangguk.


"Bagus!"


Aku pun meninggalkan meja kerjanya, berjalan dengan menuju pintu di mana Arlan ada di dalamnya.


"Permainan di mulai," desisku, sebelum membuka pintu ganda itu dengan pelan.


"Halo, Arlan!"


Dan aku bisa melihat Arlan yang berdiri dari duduknya dan menatapku dengan mata melotot kaget.


"Segitunya tidak ingin bertemu," Batinku menahan marah.


"Kamu!"


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ikuti kisah selanjutnya ....


Sampai babai.

__ADS_1


__ADS_2