
Pagi ini matahari bersinar seperti biasa, tapi kenapa hangatnya tidak sama?
Ada apa dengan tatapan menggodamu, kenapa tampak berbeda.
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Kost-an Evelyn
Matahari pagi bersinar terang, menyinari wajah tampan seorang pria, yang akhirnya membuka perlahan mata setelah mengedip pelan, membiasakan cahaya pada retina matanya.
Ukh!
Ia meringis, saat merasakan sakit di kepalanya, seakan-akan kepalanya habis menghantam sesuatu namun ia tidak tahu apa.
"Umh ... Dimana aku?" lirihnya bingung, ia melihat sekitar yang terasa tidak asing dipenglihatannya, seperti ruangan yang sering ia singgahi akhir-akhir ini.
Kepalanya menggeleng pelan, berharap pusing lekas pergi dan untunglah berhasil meski tidak benar-benar pergi.
Matanya sekali lagi menjelajah sekitar, mulai dari ranjang minimalis yang di dudukinya, seprai merah maroon warna kesukaan kekasihnya, lalu perabotan rumah sederhana yang juga seperti milik kekasihnya.
Keningnya mengernyit saat ia merasa benar, jika ini adalah kamar kekasihnya, ditambah dengan terbukanya pintu kamar mandi dan disusul dengan sang kekasih yang keluar dari dalam, hanya dengan lilitan handuk yang tidak mampu menutupi bentuk tubuh sempurna milik Kekasihnya.
"Evelyn," gumam Arlan bingung.
"Arlan. Sudah bangun sayang!" seru Evelyn senang meski sempat tersentak kaget, saat dirinya ingat jika saat ini Ia hanya memakai handuk di hadapan sang kekasih.
Arlan mengangguk, kemudian memegang kepalanya yang kembali berdenyut sakit.
"Ukh!"
Ringisan dari Arlan, yang terdengar kesakitan membuat Evelyn segera menghampiri Arlan. Dan tanpa malu juga dirinya dengan segera membawa tangannya, untuk memeriksa kening Arlan yang untunglah tidak panas.
"Huft ... Syukurlah, tidak ada efek samping," batin Evelyn setelah menghela napas lega.
"Bagian mana yang sakit, sayang?" tanya Evelyn lembut, memijat pelan kedua sisi kepala Arlan, sehingga Arlan pun perlahan merasa sedikit sakit di kepalanya menghilang.
"Tidak sakit lagi, berkat kamu, Schatz."
Evelyn tersenyum sedih dalam hati, menatap wajah berantakan namun tetap tampan sang kekasih dalam diam.
"Benarkah?" tanya Evelyn memastikan, menuai anggukan kepala pelan dari Arlan, yang membawa kepalanya menyandar di dada milik Evelyn, serta tangan memeluk Evelyn manja.
"Kenapa tiba-tiba aku ada di kamarmu, Evelyn?" gumam Arlan bertanya, membuat Evelyn sedikit tersentak, namun tidak lama saat ia bisa menguasainya.
"Kamu tidak ingat?" tanya Evelyn alih-alih menjawab pertanyaan sang kekasih.
Arlan menggelengkan kepalanya, semakin memeluk Evelyn erat dengan hidung menghirup rakus aroma sabun khas kekasihnya.
"Kamu wangi, aku jadi ingin memakanmu," gumam Arlan dengan suara serak.
Evelyn dengan segera melepas pelukan Arlan, namun sayang Arlan tidak membiarkan, justru semakin memeluk erat disertai dengan kekehan gelinya.
"Ha-ha! Becanda, Schatz," lanjut Arlan dengan suara seraknya.
Diam.
Evelyn hanya diam saat mendengar lanjutan kalimat Arlan, yang juga ikut terdiam bingung.
"Kenapa?" tanya Arlan bingung, melonggarkan sedikit pelukannya dan menatap Evelyn dengan kening bertaut bingung.
Gelengan kepala dari Evelyn, tidak menjawab rasa penasaran serta rasa bingung Arlan dan Evelyn pun menyadarinya. Maka dengan cepat, Evelyn memasang senyum kecilnya.
"Kamu selalu mesum," dengkus Evelyn pura-pura marah, tapi Arlan terlanjur merasa aneh dengan keterdiaman Evelyn tadi.
"Ada apa? Sebenarnya apa yang terjadi tadi malam," batin Arlan bertambah bingung.
"Hum ... Karena dengan aku yang mesum, kita akan segera memiliki baby, Schatz," sahut Arlan asal, namun anehnya Evelyn menanggapinya dengan santai, saat biasanya kekasihnya akan melotot garang jika ia sudah membahas hal seperti ini.
"Mau punya baby? Kapan?"
__ADS_1
"Eh!"
"Kenapa Eh?"
Arlan tentu saja kaget, saat Evelyn justru bertanya seperti itu. Ada apa sebenarnya dengan kekasihnya? Kenapa aneh sekali.
"Kamu, kamu biasanya marah, jika aku sudah membahas hal mesum denganmu seperti ini?" tanya Arlan tidak percaya. Namun anehnya, sekali lagi Evelyn menanggapinya dengan santai tanpa marah sedikit pun.
"Loh ... Kenapa aku harus marah? Aku juga ingin kok, punya baby denganmu."
"Hah!"
Dengan segera Arlan melepas pelukannya, menjauh dari Evelyn dan menatap Evelyn dengan pandangan tidak percaya.
"Siapa kamu?" tanya Arlan dengan ekspresi lucu, sehingga Evelyn pun tergelak, saat merasa kekasihnya kaget dengan perubahannya.
"Evelyn, siapa lagi, sayang," balas Evelyn santai. Sikapnya pun santai, sesekali ia akan mengencangkan ikatan handuknya saat akan terlepas.
"Biasanya Evelyn akan marah, jika aku mesum," tandas Arlan masih tidak percaya, meski ia sudah bisa mengontrol raut wajah tidak percayanya.
"Kenapa marah sayang, wajar dong kalau aku ingin punya baby dengan kamu. Oh, atau kamu yang tidak ingin. Ck-ck-ck, dasar casanova kelas kakap," timpal Evelyn dengan gelengan kepala pura-pura kecewa.
"Maaf, Arlan," batin Evelyn.
"Siapa yang tidak ingin!" elak Arlan cepat. Ia dengan segera mendekati Evelyn, membawa Evelyn kehadapannya dan menatap kekasihnya dengan sorot mata serius.
"Jangan main-main dengan ucapanmu, Schatz. Aku tidak akan memberimu kesempatan kabur, jika sudah memulai permainan nanti," lanjut Arlan penuh dengan janji.
"Siapa yang mengajak kamu bermain, aku kan bilang ingin punya baby, bukan berarti aku ingin sekarang juga, sayang."
"Kok!"
"Dasar mesum," lanjut Evelyn setelah menepuk pipi Arlan, yang hanya memandangnya dengan mata berkedip cepat, saat merasa ia sudah dibodohi dengan permainan kata dari Evelyn, yang biasanya kalah jika sudah bermain kata.
Evelyn pun hendak bangkit dari duduknya, bermaksud untuk memakai pakaiannya, menghindari bisikan setan yang ingin mengiyakan maksud kekasihnya.
Dan baru saja ia mengangkat tubuhnya, ia harus merasakan gaya gravitasi saat tubuhnya jatuh, menimpa tubuh kekar kekasihnya, yang sengaja menariknya saat ia hendak berdiri dari duduknya.
Brukh!
"Ouch!!"
Deg! Deg! Deg!
Evelyn yang jatuh tepat di dada sang kekasih terkesiap, saat mendengar detak jantung milik kekasihnya yang berdetak kencang sekali.
"Masih sama kan?" bisik Arlan, sambil mengusap punggung Evelyn lembut, dengan Evelyn yang masih belum merubah posisinya.
"Masih berdetak kencang, saat kamu di dekatku, kan," lanjut Arlan saat Evelyn hanya diam, tidak menyahuti perkataannya, karena ia sendiri pun merasa tidak perlu jawaban dari kekasihnya.
"Tapi, jika kamu pergi ... Akan kah jantung ini tetapi berdetak, kalau si pemilik jantungnya saja sudah memberikan jantungnya kepada kamu yang pergi?" tanya Arlan tanpa sadar, saat dirinya terbawa suasana memikirkan hal yang tidak-tidak.
"Jangan bicara seperti itu, aku tidak suka," gumam Evelyn lirih, kemudian mengangkat wajahnya menatap Arlan yang saat ini menatap langit-langit kamarnya.
"Kenapa?" tanya Arlan, menurunkan pandangan dan menatap Evelyn, hingga akhirnya mereka pun saling bertatapan.
"Karena sesungguhnya, tanpa kamu sadari, jantungku lebih dulu ada di genggamanmu. Jadi, bagaimana bisa jantungmu berhenti berdetak, jika nyatanya kamu punya dua jantung di dalam tubuhmu. Jantungku dan jantungmu, Arlan."
"Evelyn."
Arlan tidak mampu berkata-kata lagi, saat dirinya merasa melayang akan ucapan Evelyn yang berbeda kepadanya.
Ia melihat Evelyn dengan tatapan memuja, sedangkan Evelyn perlahan bangkit, duduk disisi Arlan dan diam, memandang balik Arlan dengan menelan saliva susah payah.
"Sesuatu harus aku lakukan, hanya ini yang akan membuatku memiliki kenang-kenangan denganmu Arlan, maafkan aku," batin Evelyn memantapkan hatinya, jika apa yang akan dilakukannya adalah benar menurutnya.
"Arlan," panggil Evelyn dengan nada serak, masih dengan menelan saliva susah payah.
"Iya?"
__ADS_1
Tangan berwarna putih dengan jari lentik itu terangkat, membawanya untuk menyentuh dan menelusuri rahang tegas sang kekasih, yang menikmatinya dengan geraman menahan gairah.
Arlan yang sudah sering merasakan sentuhan intim dari banyak wanita merasa kalah, saat merasakan sentuhan berbeda dari tangan kekasihnya, yang menyentuhnya dengan gerakan seringan kapas.
"Evelyn," gumam Arlan dengan suara serak, pertanda dirinya mulai terpedaya, saat ia pikir sudah lama semenjak ia mengenal Evelyn, dirinya tidak pernah merasakan sentuhan seduktif seperti ini.
Tangan yang tadi ada di rahangnya berpindah, menelusuri leher, jakun, hingga dada bidang dengan bagian atas topless, padahal tadi malam ia masih memakai kemeja, lengkap dengan jas kerjanya.
"Shit, hentikan ini," batin Arlan mengumpat, namun sayang batin dan nalurinya tidak sejalan, saat dirinya justru menikmati dengan mata terpejam.
"Ini aneh, ada apa dengan Evelyn." otak waras Arlan masih berpikir alasan perubahan tiba-tiba kekasihnya, namun semua berubah saat ia merasakan sentuhan lembut pada belah bibirnya.
Matanya segera terbuka lebar, saat tadi dirinya terbuai dengan belain tangan kekasihnya di sepanjang tubuhnya. Kini ia bisa melihat langsung, tatapan mata Evelyn yang menghujaminya, menatapnya dengan tatapan rayuan saat bibirnya dibelai mesra oleh bibir kekasihnya.
Ciuman tidak berlangsung lama, saat Evelyn memutuskan untuk melepas cumbuan, dengan benang bening menjuntai di saat bibir keduanya terlepas.
Dengan napas memburu, Arlan masih sempat melihat senyum manis sekaligus senyum aneh dari kekasihnya, sehingga ia pun tersadar dari buaianya dan duduk kemudian memegang kedua bahu Evelyn segara.
"Ada apa?" tanya Arlan bingung akan tingkah tidak biasa Evelyn, yang biasanya tidak pernah memulai, namun saat ini malah menggodanya dengan terang-terangan.
Tidak digoda saja ia sudah ingin memamakan sang kekasih, apalagi digoda seperti tadi.
"Ada apa? Kenapa pertanyaannya ada apa?" tanya Evelyn disela-sela ia menghirup rakus udara, saat merasa dirinya hampir kehabisan napas.
"Kamu tidak pernah memulai hal seperti ini," tandas Arlan cepat.
"Manusia bisa berubah, Arlan. Dan aku hanya mengikuti instingku, apa aku salah, jika aku ingin menjadi milikmu seutuhnya?" tanya Evelyn tanpa menjawab pertanyaan Arlan.
"Tidak, kamu tidak salah, karena aku juga ingin memilikimu seutuhnya," timpal Arlan cepat.
"Kalau begitu sentuh aku, Arlan. Miliki aku seutuhnya, aku ingin merasakan kamu ada di dalamku. Aku ingin merasakan apa yang kamu miliki," tandas Evelyn menatap Arlan tergesa.
"Tapi aku ingin itu, saat aku sudah menikahimu, Evelyn!" seru Arlan kembali pada akal sehatnya.
Ia mencintai Evelyn, ia memang ingin memiliki Evelyn, menyentuh Evelyn, merasakan dirinya di dalam Evelyn. Tapi tidak untuk saat ini, ia ingin menjaga Evelyn dan ingin merasakan itu semua saat ia bisa memiliki Evelyn setelah berjanji pada Tuhan.
"Kamu tidak mencintaiku, Arlan," tanya Evelyn lirih, dengan nada kecewa untuk menutupi maksudnya.
"Aku sangat mencintaimu, Evelyn. Tapi aku ingin memilikimu dengan-
"Lakukan Arlan. Bawa aku menuju kenikmatan atas permainanmu, sentuh aku selembut sutera, miliki aku seutuhnya sekarang juga."
Gleuk!
Arlan menelan salivanya susah payah, dengan batin berperang, saat di hadapkan dengan rayuan lembut dari Evelyn yang berbeda.
Ia mencintai Evelyn, sudah lama juga ia ingin menyentuh Evelyn. Lalu, saat dirinya mendapat undangan, kenapa dirinya ragu. Seakan jika ia menerimanya, ia justru akan kehilangan Evelyn untuk selamanya.
Cup!
Evelyn yang merasa jika Arlan sedang bimbang pun mengecup singkat bibir Arlan dengan berani. Sehingga Arlan pun tersadar dari lamunannya dan menatap Evelyn dengan mata tertutup kabut gairah.
"Sentuh aku," pinta Evelyn dengan nada lembut.
"Sekarang," bisiknya menatap Arlan sama dengan kabut menutupi, namun jika diperhatikan ada emosi tersimpan di dalamnya, emosi yang tidak Arlan sadari saat dirinya lebih memilih untuk memejamkan mata, ketika bibirnya dan bibir Evelyn saling bersentuhan lembut.
Sinar matahari yang hangat, menambah hangatnya suasana saat dua insan saling mencintai, terbawa arus dan menyatu merasakan nikmatnya duniawi.
Ranjang dengan derit lembut bertempo dari sedang cepat dan pelan lagi, mengiringi helaan napas yang bersautan.
Peluh menghiasi keduanya, dengan bibir saling menyebut nama, saat terakhir di waktu pelepasan.
Lalu yang tersisa adalah senyum puas, saat keduanya saling melihat, untuk selanjutnya saling memanggut mesra sebagai akhir permainan di pagi menjelang siang hari mereka.
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ikuti kisah selanjutnya ....
__ADS_1
Terima kasih dan sampai jumpa.
Huwaa🙈🙈🙈 Nggak kuat.