Bukan Salahku

Bukan Salahku
Kesepakatan Di Atas Syarat


__ADS_3

Cinta kita berdua


Adalah istana dari porselen.


Angin telah membawa kedamaian


Membelitkan kita dalam satu pelukan mesra.


Bumi telah memberi kekuatan


Saat kita telah melangkah


Dengan ketegasan.


Kekasihku,


Hati kita berdua adalah pelangi selusin warna.


°°°°°°°°°°°


Restoran Jepang


Tania pov on


Di depanku saat ini ada Arlan yang memandangku datar, namun Aku menampilkan ekspresi berkebalikan dengannya, ekspresi senangku bahkan tidak bisa di tutupi lagi.


Kenapa bisa Dia ada di depanku, sedangkan kemarin malam Dia menolakku dengan alasan wanita lain.


Dia fikir Aku tidak tahu, jika banyak wanita di sisinya, jadi bagaimana bisa Dia bilang ada wanita yang di cintainya.


Aku tersenyum saat mengingat kejadian beberapa saat lalu, saat Aku menerima pesannya, pesan ajakan ketemu dan makan malam bersama.


Aku melihatnya yang masih menatapku datar, tatapan tidak ikhlas tapi Aku berusaha menyampingkan perasaan kesalku.


Dia menyesap ocha hangatnya, dengan gaya yang sangat elegan dan Aku suka melihatnya.


Aku melamun melihatnya, dengan segala angan-angan indahku.


"Sebentar lagi Kamu jadi milikku." Batinku senang.


Tania pov end


Normal pov


"Jadi Arlan, ada apa mengajakku bertemu?" tanya Tania dengan senyum manis.


Senyum yang tidak ada apa-apanya di bandingkan dengan senyum Evelyn.


"Ah ... Sepertinya Aku harus kubur angan-anganku tentang Dia." batin Arlan sedih.


"Sepertinya Kamu sudah tahu, maksudku apa." balas Arlan datar.


Ia menyesap ocha hangatnya, menikmati sensasi dan harum dari minuman, yang saat ini sedang di nikmatinya.


Bicara tentang ocha, Ia ingat saat mengajak Evelyn makan di Restoran Jepang, saat mereka dinas di Australia.


"Aku masih punya janji dengannya, ah ... Benar-benar sial." batin Arlan kesal.


"Apa maksudnya Ar? Aku tidak mengerti," balas Tania bertanya dengan bingung, lebih tepatnya pura-pura bingung.


Ia menampilkan ekspresi wajah di buat senatural mungkin, sembunyikan kenyataan dengan baik sambil kepalanya menggeleng kecil.


Arlan menghela nafas dan merogoh saku jasnya, mengulurkan kalung dengan liontin love, ke arah Tania yang melihat kalung dan dirinya bergantian.


Sedari tadi Arlan mencoba meyakinkan, jika yang di lakukan saat ini benar apa adanya.


Perkataan Ibu dari Evelyn, membuat Ia sadar jika apa yang menjadi janjinya, harus lah Ia tepati segera.


Ini bukan salah Tania atau salah Ibunya, tapi ini salahnya.


Salah dirinya yang sembarangan bersumpah tanpa tahu ujungnya seperti apa.


"Ar, ini-


"Ya ... Aku akan mencoba menerima Kamu, untuk saat ini Kita akan bertunangan dulu. Tapi Aku tidak ingin menikah dalam waktu dekat dan satu lagi," sela Arlan cepat, Ia menggantung ucapannya, membuat Tania menatapnya penasaran.


"Apa?" tanya Tania dengan ekspresi senang, namun juga khawatir di saat bersamaan.


"Satu lagi, Aku tidak ingin ada pesta pertunangan dan untuk sementara ini jangan ada yang tahu. Lalu-


"Lalu?"


Tania menunggu Arlan menyelesaikan syaratnya dengan perasaan kesal, bagaimana bisa mereka bertunangan, tapi tidak ada orang yang mengetahui statusnya.


"Lalu ... Walaupun Kamu tunangan Aku, Kamu tidak berhak ikut campur masalah Aku." lanjut Arlan.


Ia menatap Tania dengan tatapan datar, menyembunyikan maksud dari syarat aneh yang barusan Ia ajukan.


"What?"


Tania berseru tidak terima saat Arlan selesai mengucapkan syaratnya, syarat yang membuatnya merasa menjadi tunangan tidak di anggap.


"Kurang jelas?" ujar Arlan datar.


"Tidak bisa Arlan, Aku tidak bisa menerima ini." tolak Tania marah.


Ia menatap Arlan dengan sorot mata kecewa.


"Bagaimana Kamu melakukan itu Arlan, Aku wanita dan wanita mana yang mau menerima syarat sulit seperti itu? Tidak akan ada!" seru Tania dengan nada marah.


Arlan hanya mengangkat bahu 'tak acuh, lalu dengan santai kembali menyesap ocha miliknya.


"Itu semua ada di tangan Kamu, jika Kamu tidak tahan dengan syarat ujianku. Kamu bisa membatalkan ini, jadi Aku tidak perlu merasa berdosa kepada Ibuku." balas Arlan santai.


"Maaf hanya ini yang bisa Aku lakukan, Lyn. Aku akan mambuat Dia mundur, sehingga Aku tidak akan mengecewakan Ibuku dan juga Kamu." batin Arlan.


Anggap dirinya brengsek ... Tapi Ia sudah tidak tahu cara menghindari janji orang yang sekarang sudah ada di surga.

__ADS_1


Tidak mungkin Ia menyusul Ibunya ke surga, hanya untuk menanyakan kebenaran tentang perjanjian perjodohan ini.


Tania merenungkan syarat ujian, yang menurutnya sangat berat dari Arlan dengan perasaan kesal.


Jika Ia kalah, maka Ia sendiri lah yang memupuskan angan-angan indahnya.


"Tidak Aku harus fikirkan cara lain." batin Tania.


Ia pun menghembuskan nafas, lalu menatap Arlan dengan tatapan menantang.


"Tidak ada yang tidak bisa Aku dapatkan, sekali pun itu Kamu. Arlan," batin Tania dengan senyum sinis di sembunyikan.


"Berapa lama?"


"Apa?"


Arlan tersentak kaget saat mendengar pertanyaan ambigu, dari wanita di depannya saat ini, yang sedang tersenyum dengan tatapan mata menantang.


"Berapa lama Arlan Widiyo, berapa lama Aku harus menunggu?" ujar Tania mengulangi pertanyaan dengan jelas.


"Kam-


"Ya ... Aku menerima syarat mustahil itu, Aku akan menerima semuanya. Tapi Aku juga punya syarat," ujar Tania menyela ucapan Arlan dengan cepat.


"Apa?" tanya Arlan gelisah.


"Jika Kamu ketahuan bermain api di belakangku, maka saat itu juga pertunangan Kita di selenggarakan. Bagaimana?" ujar Tania menatap Arlan dengan senyum ganjil.


"Artinya Kamu tidak akan bisa mengelak, lalu pesta pertunangan akan di laksanakan." batin Tania senang.


Ia yakin jika Arlan akan dengan cepat ketahuan sedang main di belakangnya, seorang cassanova terkenal bagaimana bisa di sembunyikan tabiatnya.


"Bermain api, apa maksudnya?" tanya Arlan bingung.


Ia mengernyit bingung saat mendengar syarat tidak masuk akal, yang menurutny-


Tunggu ...


"Ah ... Sepertinya Dia tidak tahu Aku sudah berubah. Evelyn Kamu memang Ibu dari anak-anakku kelak," batin Arlan senang.


Ia hampir saja menampilkan senyumnya, tapi tidak boleh ... Ini harus di rahasiakan dulu hingga permainannya selesai.


Tapi Arlan tidak tahu jika permainan ini, hanya akan membuatnya semakin cepat menemui kekecewaan wanita kesayanganya.


"Ya ... Bermain dengan wanita lain di belakang Aku, artinya Aku tidak ingin Kamu bermain dengan wanita lain. Hanya Aku wanita yang boleh Kamu sentuh, Aku seorang," ujat Tania menjawab pertanyaan Arlan dengan percaya diri.


Arlan mengernyit jijik mendengar ucapan terakhir wanita di depannya.


Sumpah ... Mungkin dulu Ia akan tersenyum miring, saat mendengar undangan tersirat dari seorang wanita. Tapi kali ini Ia mual, saat mendengar perkataan, dengan makna dewasa yang barusan Ia dengar.


"Lagian siapa yang ingin menyentuhnya?" batin Arlan menahan diri untuk tidak berdecih.


"Itu syaratnya?" tanya Arlan datar, menyembunyikan perasaan gembiranya.


Tentu saja Ia gembira, syarat ini sangat mudah baginya yang sekarang, tidak tahu kalau Ia yang dulu, mungkin sehari langsung akan di adakan pesta pertunangan.


"Dalam mimpimu." batin Arlan.


"Deal!" seru Arlan tanpa menjawab pertanyaan Tania.


"Sialan," batin Tania kesal, dengan tangan di bawah meja mengepal erat.


Ia pun menatap Arlan lagi, masih dengan senyum manis di buat-buatnya.


"Baiklah, deal!" seru Tania setuju tanpa ada jabat tangan dengan Arlan.


Arlan bahkan menikmati minumannya masih dengan sikap santai, membuat Tania berkali lipat kesal dengan kelakuan pria di depannya.


"Untung cinta," batin Tania dengan senyum di paksakan.


Skip


PT. TRI TUNGGAL


Sudah seminggu lebih dari malam perjanjian antara Arlan dan Tania di ucapkan.


Kedua Orang tua mereka juga sudah sepakat dan menerima keputusan dari anak-anak mereka.


Meskipun ada perdebatan antara Arlan dan Keanu, tapi Arlan mampu membungkam saat lagi-lagi Keanu protes dengan tindakannya.


"Untunglah Aku bisa menutupi ini." gumam Arlan.


Ia sedang memeriksa berkas yang tadi Asistennya berikan dan akan di ambil jika Ia sudah menandatanganinya.


"Aku harap ini cepat berlalu," gumam Arlan dengan tangan sibuk membolak-balikkan kertas, serta sesekali mencoret bagian yang menerutnya kurang memuaskan.


Merasa berkas yang di periksanya perlu perbaikan, Ia pun menelepon asistennya untuk memperbaiki kesalahannya.


Tangannya hampir mengangkat gagang telepon di mejanya, tapi sebuah ide jahil mampir di fikirannya.


Sudah lama Ia tidak mengerjai Asistennya, hum ... Tepatnya sudah beberapa jam yang lalu.


Dengan senyum merekah Ia mencari kontak atas nama Asistenku lengkap dengan gambar hati di ujungnya.


Ia membalikkan kursi yang sedang di dudukinya, melihat lukisan yang Ia pesan dari Jerman.


Lukisan dengan gaya Rokoko, seni luar biasa dari abad ke-19.


Klik!


Tut! Tut! Tut!


Ia semakin tersenyum saat menanti panggilan isengnya di terima, lalu berganti dengan decihan saat Operator yang menyambut pendengarannya.


"Hais! Kenapa tidak di angkat!" seru Arlan kesal.


Tidak menyerah mengerjai Asistennya, Ia pun kembali menekan nomor kontak Asistennya.

__ADS_1


Tut! Tut! Tut!


Lagi-lagi Operator yang mengangkatnya.


"Kemana Dia?" gumam Arlan bingung.


"sebaikny-


"Sebaiknya Apa Ar?"


"Astaga!!"


Sebelumnya


Di meja kerja Evelyn


Evelyn pov on


Aku saat ini sedang memeriksa beberapa laporan masuk, yang baru saja di antar oleh salah satu karyawan di bagian perencanaan.


Aku baru saja memberikan berkas kontrak, yang harus di periksa dan tanda tangani sebelum di urus sisanya oleh Barly.


Saat Aku sedang fokus mengerjakan beberapa laporan, Aku merasakan getaran pada meja kerjaku, yang berasal dari handphone milikku.


"Huem?" Gumamku penasaran.


Aku pun melihat nama dari Si pemanggil, kemudian mendengus saat melihat nama Seseorang di layar handphoneku.


"Mau apa sih." Gumamku.


Aku pun kembali mengerjakan pekerjaanku, tapi sayang harus terganggu lagi ketika getaran berasal dari handphoneku terasa lagi.


"Hais! Maunya apa sih Dia itu?" Ujarku kesal.


Aku pun tetap membiarkannya, hingga getaran selanjutnya datang lagi dan itu membuat kesabaranku semakin menipis.


"Belum cukup yah, tadi pagi sudah mengerjaiku?" Gumamku kesal.


Aku pun berdiri dari dudukku, berjalan menuju ruangannya dan membuka pintu tanpa suara. Aku pun berjalan dengan langkah sunyi lalu berdiri di belakangnya.


Kebetulan Dia sedang menghadap dinding sepertinya sedang melihat lukisan, sehingga Dia tidak merasakan kehadiranku.


"Kerjain baru tahu rasa," Batinku dengan senyum iseng.


"Kemana Dia?"


Aku terkikik mendengar gumaman kesal darinya.


"Dasar," Gumamku kecil sambil menggeleng kepala.


"sebaikny-


"Sebaiknya Apa Ar?"


Aku pun dengan cepat menyela ucapannya, membuat Dia kaget dan dengan cepat menoleh ke arahku.


Evelyn pov end.


Normal pov


"Astaga!!"


Arlan mendelik kaget saat melihat Asistennya ada di hadapannya saat ini, yang masuk tanpa suara dan sukses membuatnya kaget luar biasa.


"Ya ampun Lyn, untung Aku tidak punya riwayat penyakit jantung!" lanjut Arlan berseru kaget.


Evelyn terkekeh saat mendengar nada alami kaget dari Presdirnya, Ia senang saat melihat ekspresi dan wajah lucu dari laki-laki, yang beberapa minggu ini selalu menghabiskan waktu dengannya dan Ibunya di kost-annya.


"Kamu mau apa? Mau ngerjain Aku lagi?" cerca Evelyn bertanya dengan mata menyipit curiga.


Arlan yang sudah sembuh dari rasa kagetnya mendengus jengkel, Asistennya selalu saja curigaan terhadapnya.


"Kamu curiga saja," ujar Arlan berpura-pura kesal.


"Kebiasaan!" seru Evelyn membalas dengan cepat.


"Yee ... Wajar lah, kan Aku-


"Aku apa?" sela Evelyn cepat.


"Aku kan calon suami Kamu!"


"Dih .. Siapa juga yang-


"Iya ngaku, iya aja deh!"


"Ih ... Apa sih!"


"Ih ... Iya sih!"


"Arlan!"


"Iya sayang,"


"Ih!!"


Yah ... Mereka ini


Niat hati Si bos ingin memerintahkan Si asisten untuk merevisi berkas kontrak, pasangan Bos dan Asisten ini malah bercanda dengan candaan yang tidak ada habisnya.


"Begini saja, cukup bagiku," batin Arlan tersenyum kecil, melupakan sejenak statusnya sebagai calon tunangan wanita lain, di hadapan wanita yang di cintainya.


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ikuti terus kisahnya ...

__ADS_1


__ADS_2