
Kata-kata indahmu, membuat hati dan jantung ini bergetar haru.
Bagaimana bisa kamu mencintaiku seperti itu.
Tapi .... Apakah jika nanti kamu tahu kebenaran tentang dan bagaimana sebenarnya aku, akankah kamu tetap mencintaiku?
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Di dalam mobil yang dikendarai oleh Arlan, ada Evelyn yang tersenyum kecil saat melihat isi pesan, yang dikirim oleh temannya tentang kedatangan seseorang.
"Ternyata sangat mudah membuatnya terlena, astaga ... Kenapa ada wanita macam dia di muka bumi ini," batin Evelyn tidak habis pikir, kepalanya menggeleng kecil, dengan kekehan geli yang membuat Arlan mengernyit, penasaran karena kekasihnya tersenyum dan terkekeh sambil melihat layar handphonenya.
Seketika matanya melotot saat pikiran tidak-tidak mampir, di otak tampannya.
Bagaimana kalau kekasihnya memiliki kekasih lainnya, atau memiliki selingkuhan untuk membalasnya.
Oh tidak bisa.
"Apa ada yang lucu? Kenapa kamu terkekeh seperti itu?" tanya Arlan dengan nada biasa, berusaha stay calm saat hatinya tidak selaras, justru saat ini sedang berapi-api, memikirkan hal-hal buruk yang sebenarnya tidak penting.
Evelyn menoleh ke arah Presdirnya, mengerutkan kening saat ia memperhatikan raut wajah kekasihnya, yang saat ini menampilkan ekspresi biasa namun sebenarnya kesal, dan itu terlihat dari alisnya yang berkerut.
Tidak banyak yang tahu, karena orangnya sendiri pun tidak terlalu memperhatikan. Ini hanya Evelyn seorang, yang terlalu care terhadap orang-orang di sekitarnya, apalagi Arlan yang notabenenya__kekasihnya.
"Aku sedang berkirim pesan dengan Raina, dia bilang sebal harus makan siang sendiri lagi," ucap Evelyn menjelaskan dengan lembut, saat apa yang di katakannya benar adanya. Meskipun ada hal yang di tutupi, tapi tidak semuanya ia berbohong.
"Kamu yakin, tidak sedang berbohong?" tanya Arlan masih enggan melihat ke arah asistennya, yang menahan tawanya, saat mengerti arti dari pertanyaannya.
Kekehan Evelyn terdengar memenuhi mobil, beriringan dengan lagu kesukaannya, apalagi kalau bukan instrumen saksofon, dari Adele__All I Ask.
"Kenapa kamu tertawa?" singut Arlan, saat mendengar kekehan kekasihnya alih-alih jawaban, akan pertanyaan dengan makna cemburu darinya.
Evelyn menggelengkan kepala, masih terkekeh saat ia merasa lucu dengan sikap cemburu, yang terlihat jelas di mata sang kekasih.
"Kamu kenapa, sayang? Pertanyaan kamu seperti orang cemburu gitu," goda Evelyn tanpa menjawab pertanyaan sang Presdir, yang hampir tersedak saat mendengar pernyataan yang memang benar adanya.
"Ukh! Apa maksudnya, siapa yang cemburu?", kilah Arlan, menghindar dari pernyataan yang tepat sasaran akan rasanya saat ini.
Siapa yang tidak akan cemburu, jika saja benar kekasih sendiri berkirim pesan dengan pria lain.
Meskipun ia pria tampan sejagat raya, ia masih belum mampu menggapai Evelyn seutuhnya, katakan ia bener-bener jatuh cinta, bahkan memasuki tahap kronis stadium akhir, kepada asistennya yang kini masih asik terkekeh.
Evelyn menatap wajah kekasihnya dengan mata memicing, kemudian mengangguk kepala seakan mengerti.
"Oh ... Jadi tidak cemburu nih ..."
Evelyn semakin menggoda Presdirnya, yang bergerak salah tingkah dengan tangan mengepal di atas stir kemudi.
Arlan tidak menjawab, namun dalam hati mengumpat dengan sumpah serapah, saat kekasihnya menggoda ia dengan pertanyaan bodoh.
Astaga, pria mana yang tidak akan cemburu coba, memiliki kekasih seperti kekasihnya.
"Shit, damn," batin Arlan, menahan rasa kesalnya.
"Kalau begitu ak-
"Aku apa?"
Arlan menyela perkataan Evelyn cepat, saat ia merasa jika apa yang akan kekasihnya ucapkan adalah hal, yang akan membuatnya semakin kesal.
"Akan mencari yang baru," sahut Evelyn cepat, tanpa ragu dengan mata menatap wajah, berganti menjadi pekikan kaget, saat mobil yang dikendarai Arlan berhenti tiba-tiba.
Ckitt!
Kali ini Evelyn tidak sampai terjedug dashboard, karena ia memakai sabuk pengaman, sehingga ia aman dari luka dengan bentuk sebuah benjolan.
Ia merasa de javu, saat dulu pernah merasakan pengalaman seperti ini.
"Ar! Kalau bawa mobil hati-hati, hampir saja kening aku jadi korban lagi," dumel Evelyn, dengan tangan mengusap dadanya kaget.
__ADS_1
Arlan tidak menggubris omelan dari kekasihnya, ia justru memegang bahu Evelyn sedikit kencang, sehingga membuat Evelyn meringis kecil, saat merasakan sakit pada kedua bahunya.
"Jangan coba-coba, Evelyn Carla."
Arlan tanpa menjawab pertanyaan sang asisten, mendesis dengan nada serius dan dengan nada posesif, sambil menatap kedua bola mata kekasihnya, yang juga menatapnya dengan binar aneh.
"Kamu milik aku, Evelyn," lanjut Arlan masih dengan nada posesifnya.
Deg!
Jantung Evelyn berdegub kencang, saat mendengar nada kepemilikan posesif dari kekasihnya, kekasih yang ia cintai namun masih milik orang, serta kekasih dengan status batu pijakan.
Ia juga yakin, jika saat ini wajahnya sudah panas, dengan rona merah di pipinya.
"Arlan, aku-
"Verlass mich nicht. Ich flehe dich an(Jangan tinggalkan aku, aku mohon padamu)," tutur Arlan lembut, menatap kedua bola mata kekasihnya, yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Arlan, aku hanya bercanda. Aku hanya menggoda kamu, aku-ak-
Grep!
Arlan dengan segera membawa Evelyn kepelukan posesifnya, membuat ucapan dengan nada gugup dari Evelyn terputus, di gantikan dengan aliran bening, yang sebisa mungkin ditahan oleh Evelyn.
"Sekali pun kamu bercanda, tolong jangan katakan hal itu. Cukup sekali aku tidak bisa menggapaimu, jadi, saat aku sudah memilikimu seperti ini. Aku tidak akan membiarkan kamu, hilang dan pergi dari sisiku lagi. Ingat ini Evelyn Carla, kamu adalah miliku, selamanya akan menjadi milikku."
Ucapan dengan nada tegas, absolut khas dari seorang Arlan, membuat hati Evelyn bergetar, takut tidak kuat menahan dan akan menyerah dengan begitu mudah kepada Arlan.
Bagaimana ini, ia ingin perempuan itu merasakan sakit dulu, baru kemudian ia akan mengatakan kejujuran rencana ia, saat dulu meminta Arlan sebagai kekasihnya.
Lagu instrumen saksofon dari marcell__Tak terganti, mengiringi keterdiaman keduanya, saat Evelyn menatap dalam seorang Arlan, dengan Arlan sendiri yang menatap memuja seorang Evelyn Carla.
"Evelyn aku mencintaimu, sekarang ataupun nanti, saat kamu salah ataupun kamu benar. Saat kamu duka maupun suka, karena apa, karena bagiku kamu__satu-satunya yang aku inginkan di dunia ini," lanjut Arlan saat sang kekasih diam membisu.
Musik masih berlanjut, berganti saat mereka lama saling melihat dengan ekspresi berbeda.
Entah sudah berapa lama keterdiaman mereka, sampai Arlan memutuskan untuk kembali menghidupkan mesin mobil dan mengganti persneling, kemudian melaju membelah jalan raya yang kebetulan lenggang.
Skip
Kini saatnya pasangan Presdir dan asisten ini untuk pulang, setelah menjalani aktivitas kantor di luar ruangan.
Sebelumnya Arlan sudah memberi tahu, jika malam ini mereka akan ada pembahasan lanjutan meeting hari ini, di kondominium sang Presdir yang membuat Evelyn mencebik tidak terima.
"Kenapa tidak di kantor saja, Ar?" tanya Evelyn kesal, saat keduanya jalan bersama menuju pintu lobby tower tempat tinggal Arlan.
"Ini sudah hampir malam, Schatz. Aku tidak mau kamu dimangsa nyamuk," balas Arlan santai, tidak peduli saat sang kekasih melangkah dengan kaki menghentak kesal.
"Kamu lelah? Perlu aku gendong?" tanya dan tawar Arlan, kepada Evelyn dengan nada menggoda, menuai pukulan sayang di lengannya dari sang kekasih.
"Tidak sudi," sewot Evelyn kejam, membuat Arlan terkekeh kemudian mengamit tangan Evelyn, untuk masuk kedalam genggamannya.
"Jahat sekali, tidak boleh loh menolak rezeki," sahut Arlan masih dengan nada santai, semakin gencar menggoda kekasihnya, yang ikut terkekeh di sampingnya.
"Apa sih, yang begitu kok rezeki," dengkus Evelyn dengan senyum geli.
"Iya dong, segala bentuk bantuan itu namanya rezeki loh. Jadi lain kali jangan ditolak yah," ucap Arlan bijak, dengan kekehan kecil saat mendengar gerutuan dari mahluk mungil di sampingnya, si mungil kesayangannya.
"Apa sih, gitu kok rezeki. Yang ada kesempatan dalam kesempitan gitu mah, huh, dasar."
Sepanjang perjalanan mereka menuju atas, tampak Arlan tinggal, tidak henti-hentinya mereka bercanda, dengan Evelyn atau pun Arlan yang terkekeh.
Ting!
Lift yang mengantar mereka akhirnya terbuka, di lantai ke tiga puluh, lantai tempat tinggal Arlan yang hanya berisi dua pintu, dengan milik Arlan salah satunya.
"Buka pintu," perintah Arlan, saat dirinya membawa bahan masakan sesuai keinginannya, dengan sang kekasih sebagai juru masaknya, sedangkan ia juru icip-icip dan makan.
Evelyn mendengkus, namun tetap membuka pintu dengan kartu miliknya sendiri, lalu masukkan kode sandi pintu kondominium milik kekasihnya.
__ADS_1
Apakah kalian tahu, berapa kode sandi pintu dari hunian milik kekasihnya?
Mari lihat, saat ia menekan angka:
420222
Arlan bilang ini adalah singkatan nama mereka, dan itu lagi-lagi membuat hati seorang Evelyn bergetar.
Klik!
Ceklek!
Pintu terbuka, dengan Evelyn yang mendorong lebih lebar daun pintu, sehingga Arlan bisa masuk dengan ia yang membuntut di belakang sang kekasih.
Ctik!
Seketika lampu hidup, memperjelas pemandangan sekitar ruangan dari hunian milik kekasihnya.
Tata barang dan letak dari perabot rumah kekasihnya masih seperti dulu, saat ia pertama kali datang untuk memasakkan kekasihnya sop makaroni__Makanan kesukaan sang Presdir.
"Langsung masak?" tanya Evelyn saat mereka berjalan bersama, menuju area dapur mewah yang juga tidak berubah.
"Kamu tidak lelah?" sahut Arlan balik bertanya.
Evelyn menggelengkan kepalanya, kemudian menyingsing lengan blous yang dikenakannya.
"Biar cepat selesai, jadi aku bisa cepat pulang juga," ujar Evelyn santai, menuai gerutuan tidak terima dari Arlan.
"Enak saja, siapa yang suruh kamu pulang cepat. Sehabis makan dan membahas meeting tadi, kita lanjut yang lainnya dong," sewot Arlan tanpa malu, merajuk di hadapan asistennya yang kini terkekeh, dengan tangan cekatan memisahkan bahan masakan mereka.
"Apa kata kamu aja lah, yang penting selesai ini aku pulang," balas Evelyn tidak terpengaruh dengan gerutuan kekasihnya.
"Evelyn!"
Evelyn terkekeh saat mendengar seruan gemas Presdir merangkap kekasihnya.
Kemudian yang terdengar adalah obrolan ringan, dengan tangan Evelyn yang tetap bekerja, memasukan bahan mentah untuk di olahnya menjadi makanan, makan malam mereka.
Skip
Acara memasak selesai, dengan Evelyn yang terpaksa harus mengganti pakaiannya, saat kekasihnya dengan iseng mengacaukan acara masaknya, ketika ia mengaduk saus sebagai siraman spaghetti, sehingga saus-nya mengenai blous yang dipakainya.
Evelyn pun memakai kemeja kebesaran milik Arlan, yang terlihat menggoda, dipenglihatan seorang Arlan.
Kemeja berwarna putih, yang mampu menutupi setengah dari paha miliknya. Namun tetap saja, tidak mampu menutupinya dari mata buas seorang Arlan.
"Kamu pantas, memakai kemeja milikku," goda Arlan dengan siulan kurang ajar, membuat Evelyn melotot kesal dengan Arlan yang tergelak saat melihat ekspresi lucu kekasihnya.
"Diam! Dan makan saja bagianmu," sembur Evelyn dengan mata menatap tajam.
"Duh! Galak sekali, jadi mau makan kamu, dibandingkan dengan makan spaghetti," sahut Arlan santai, tentu saja semakin membuat Evelyn kesal, dengan rona malu di pipinya.
Di tengah-tengah acara makan dan mengobrol mereka, bell tempat tinggal Arlan berbunyi, membuat keduanya saling melihat dengan alis bertaut bingung.
"Siapa?" tanya Evelyn, yang dibalas bahu terangkat tanda tidak tahu dari kekasihnya.
"Sebaiknya kamu terusin makan kamu, biar aku yang buka pintu," lanjut Evelyn, sambil beranjak dari duduknya dan berjalan membuka pintu.
Evelyn berjalan dengan santai, tidak ada rasa curiga di hatinya.
Ceklek!
Ia pun membuka pintu, tanpa melihat lubang kecil di daun pintu kemudian kaget, ketika matanya bersiborok dengan sepasang mata, yang menatap dirinya dengan tatapan murka.
"Kamu!"
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Ikuti kisah selanjutnya ...
Sampai babai.