
Promise is made just to make someone expect and get hurt in the end.
It hurts the most when you can actually feel your heart breaking.
Janji hanya untuk membuat seseorang mengharapkannya dan terluka pada akhirnya.
Yang paling menyakitkan adalah saat kamu benar merasakan bahwa kamu sedang patah hati.
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Kost Evelyn
Saat ini Evelyn sedang duduk di depan cermin, melihat penampilannya dari pantulan, dengan senyum dan sorot mata sedih.
"Arlan, belum jemput, Lyn?" tanya sang ibu tiba-tiba, membuatnya tersentak kaget buru-buru mengubah raut wajahnya, menjadi cerah dan pura-pura membenahi rambutnya, yang sudah rapih dengan sela jarinya.
"Eh! Emh ..."
"Loh ... Kenapa?" tanya Mirna bingung, saat melihat ekspresi tagang dari Sang anak.
Sampai sekarang sang ibu belum tahu, apa yang terjadi dengannya dan sang Presdir.
"Ya Tuhan, aku harus segera bilang dengan ibu," batinnya memang sang Ibu merasa bersalah.
"Ano Bu, aku sama Riki, bukan berangkat dengan Arlan," balas Evelyn dengan senyum canggung, membuat Mirna mengangguk meskipun ada rasa aneh di hatinya.
"Oh ... Gitu, lalu Riki datang jam berapa?" tanya Mirna, berusaha mengenyahkan fikiran negativnya.
"Em .... Sepertinya sebentar lagi, nanti aku kirim pesan, Bu," balas Evelyn, kemudian berdiri dari duduknya, berjalan ke arah nakas tempat ia meletakkan handphonenya.
Dan baru saja ia ingin membuka kode sandi handphonenya, ia di kagetkan dengan ketukan pintu kamarnya.
Tok! Tok! Tok!
"Sepertinya itu Riki," ujar sang Ibu dan berjalan ke arah pintu.
Ceklek!
Pintu terbuka menampilkan sosok Riki dengan balutan jas dan dasi, menambah nilai pesonanya.
"Malam, Bu!" seru Riki semangat.
Ia tersenyum saat melihat wajah teduh dari Ibu sahabatnya, yang sudah ia anggap seperti Ibu sendiri.
"Malam juga Riki, semakin tampan saja. Ibu jadi pangling," balas Mirna menggoda Riki, yang kini wajahnya tersipu dan bergerak salah tingkah.
"Ibu bisa saja," ujar Riki malu, dengan tangan menggaruk lehernya yang tidak gatal, kebiasaan saat salah tingkah.
"Evelyn sudah siap, Bu?" lanjutnya bertanya.
Mirna tersenyum dan mengangguk "Sudah, dia sudah siap."
"Lyn, Riki sudah datang nih!" lanjut Mirna memanggil sang anak.
"Iya, Bu!"
Evelyn yang merasa persiapannya sudah selesai, sekali lagi meyakinkan diri jika sehabis malam ini, ia harus kembali menjadi Evelyn yang dulu.
"Huft ... Kamu pasti bisa," gumamnya untuk diri sendiri.
Ia pun melangkahkan kakinya dan berdiri di belakang sang ibu, membuat Riki yang melihatnya terpesona dengan wajah merona.
"Hai, Riki. Aku sudah siap," sapa Evelyn dengan telapak tangan terayun.
Meskipun wajahnya tanpa hiasan make-up, terkesan natural bermodalkan lipstik berwarna soft red, tapi di penglihatan Riki, Evelyn tampil sempurna.
"A-ah iya ... Yuk," balas Riki gugup.
Mirna hampir saja terkekeh saat melihat tingkah malu dari Riki, sahabat anaknya yang jelas menyukai sang anak.
"Kalau saja Riki, yang ada dihatimu, Lyn," batin Mirna sedih.
"Bu, kami berangkat," ujar Evelyn berpamintan, setelah mengecup pipi sang Ibu sayang.
"Hati-hati sayang," balas Mirna lembut.
"Bu, Riki pinjam Evelyn dulu," ujar Riki bercanda.
"Jangan lupa balikin, harus utuh loh!" seru Mirna membalas candaan, menuai kekehan dari Riki, sedangkan Evelyn hanya diam.
__ADS_1
Mereka pun berangkat bersama, menaiki mobil milik Riki menuju hotel, tempat diadakan pesta pertunangan sang Presdir.
Di dalam perjalanan Evelyn hanya diam, membuat Riki yang melihat menghembuskan nafasnya, namun tidak berani menegur.
Ia tahu jika sahabatnya sedang mengalami sakit di hati, jadi ia hanya bisa diam dan mengendarai mobil dengan hati ikut merasa sakit.
Sedangkan Evelyn yang sepanjang perjalanan hanya diam, kembali mengingat saat ia bertemu sang Presdir di kantor dan itu adalah hari terakhir ia dan Arlan berbicara mengenai hubungan keduanya, selebihnya hanyalah obrolan pekerjaan.
Ia dan Arlan kembali menjadi dua pasang orang asing, meski sesekali ia mendapati jika sang Presdir, melirik ke arahnya dengan sorot mata rindu.
Percakapan terakhir yang sangat ia ingat adalah saat ia mengucapkan akan membencinya, jika dia membatalkan Pertunangan ini.
Itu terjadi saat ia hendak pulang, Presdirnya berhasil mencekal tangannya, membawanya masuk ke ruangannya, setelah seminggu ia mendiami sang Presdir.
"Kenapa kamu tidak mengerti juga Lyn, aku sangat mencintaimu. Tapi kenapa kamu tidak percaya dan tidak memberikan aku kesempatan untuk membatalkan Pertunangan omong kosong ini?"
Itu perkataan Arlan yang diucapkan dengan emosi, perkataan itu adalah yang paling diingatnya, saat ia dengan jelas melihat kekecewaan di kedua bola mata sang Presdir.
Ia sendiri hanya bisa diam, sebelum mengatakan dengan lantang apa keputusannya.
"Lyn!"
"..."
Puk!
"Lyn, hei ... Sudah sampai!"
"Ah! Ap- ada apa Riki?"
Evelyn tersentak kaget saat sahabatnya menepuk dan memanggil namanya.
Sepertinya ia tadi melamun, sehingga sahabatnya memandangnya khawatir.
"Ada apa?" ujar Evelyn mengulangi pertanyaannya.
Riki melihat Evelyn dengan sedih, kemudian mengusap sisi wajah Evelyn pelan.
"Kalau kamu tidak sanggup, kita bisa pergi ke tempat lain. Kita tidak usah menghadiri pesta ini," gumam Riki pengertian.
Evelyn menggeleng kepala pelan, balas menggenggam tangan Riki yang sedang mengusap pipinya lembut.
"Tidak, aku sudah bilang kepada Tania, jika aku akan menghadiri acara Pertunangan mereka. Aku tidak boleh ingkar janji."
Ya ... Benar, seminggu setelah ia dan Arlan bertengkar. Undangan datang dengan Tania, yang mengantar kertas undang menampilkan senyum kemenangan.
Toh ... Jika ia mau dan mengikuti sisi egoisnya, ia bisa saja meminta Arlan memutuskan petunangan dan menjalin hubungan dengannya.
Tapi tidak, ia wanita dan ia tidak mau di anggap sebagai wanita penghancur hubungan orang.
Terlebih ini adalah hubungan Presdirnya, ia tidak selevel harus berhadapan dan berebut pria dengan wanita berstatus orang punya.
"Baiklah, tapi jika kamu sudah tidak sanggup, kita bisa segera meninggalkan tempat. Oke?" ujar Riki mengalah.
Sahabatnya keras kepala dan ia akan kalah, jika berdebat dengan Evelyn yang saat ini sedang mengangguk, dengan senyum kecilnya.
"Aku mengeti," balas Evelyn, kemudian ia bersiap dengan Riki yang turun terlebih dahulu, membukakan pintu penumpang untuknya.
Keduanya jalan bersama, melewati koridor hotel menuju hall tempat acara dilaksanakan.
Sesampainya mereka didalam, mereka bisa melihat kursi yang berjejer dan saling menghadap, yang nantinya akan diduduki oleh masing-masing anggota keluarga, untuk melaksanakan pertunangan.
Hall luas ini sudah di sulap sedemikian rupa, dengan para tamu undangan ramai memenuhi setiap sudut.
Mereka lebih memasuki ruangan dengan Evelyn, yang merangkul lengan Riki kaku.
Di salah satu kursi dengan beberapa orang tamu, ada seseorang melihat ke arah pintu masuk dengan pandangan sakit.
Ia bangkit berdiri dan pamit undur diri, untuk menghampiri kedua tamu yang baru saja memasuki hall tempat acara pertunangan.
Dengan memasang senyum dibuat seceria mungkin, ia menutupi dengan baik wajah kecewa yang menggelayuti hati dan fikirannya.
"Riki, Evelyn!" panggilnya, sehingga dua orang yang tadi di panggil menoleh ke arahnya, dengan Evelyn yang tetap memeluk lengan sang sahabat.
"Riy, kamu disini juga?" tanya Riki, melihat Riyanti dengan pandangan kaget.
Riyanti tersenyum anggun, melangkah menghampiri mereka dan berdiri dihadapan keduanya.
"Hai ... Selamat malam," sapa Riyanti masih dengan senyum.
__ADS_1
"Hai juga, Riyanti."
"Hai, Riy. Pertanyaanku belum dibalas," balas Riki kemudian memandang Riyanti dengan mata memicing.
Riyanti terkekeh kecil, dengan telapak tangan menutupi bibirnya.
"Ha-ha-ha, sorry-sorry. Iya nih, aku wakil dari Papa," balas Riyanti setelah terkekeh geli.
Riki mengeluarkan nada ngambek seperti itu untuknya, sungguh diluar prediksi, terlebih ada Evelyn disampingnya.
Dan ini juga membuat Evelyn menatap sahabatnya penasaran, sebab Riki bukan orang yang mudah mengeluarkan ekspresi atau nada seperti itu untuk orang lain.
Sebenarnya, sudah berapa lama ia tidak memperhatikan sahabatnya, ia sampai tidak tahu jika kedua orang disamping dan depannya, bisa saling bertanya dengan santai seperti itu.
"Apa mereka punya hubungan, tapi tidak mungkin," batin Evelyn penasaran.
"Oh, seperti itu."
Ketiganya pun bersama-sama menuju meja dan kembali melanjutkan perbincangan mereka.
Evelyn bisa melupakan sejenak masalahnya, dan melupakan fakta tentang apa yang akan terjadi sebentar lagi malam ini.
Yah ... Malam ini adalah malam terakhir, ia melihat Arlan sebagai pria, karena seterusnya ia akan menganggap Arlan orang asing dan sebatas Presdirnya.
Di depan mereka ada MC yang memandu acara, dia memanggil pihak keluarga dan juga pemeran utama malam ini.
Saat nama dari Arlan di panggil, jantung dan hatinya lagi-lagi tidak singkron dengan perintahnya.
Ia masih saja bergetar saat melihat pria dan wanita di depan sana, yang saat ini sedang berjalan menaiki panggung, di ikuti keluarga keduanya dan lagi-lagi jantungnya berdetak dengan kencang.
Jika tadi karena Arlan, kali ini adalah karena laki-laki patuh baya, yang sedang menggandeng seorang wanita dengan senyum tipisnya.
"Tidak mungkin," batin Evelyn menatap depan dengan mata melotot kaget.
Riki yang disebelahnya ikut menatap tidak percaya ke arah panggung.
"Apa-apa'an ini, takdir macam apa ini," batin Riki dengan tangan mengepal.
"Lyn," panggil Riki khawatir, saat sahabatnya menatap ke arah depan dengan mata nanar.
Riyanti sendiri tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi, ia tahu jika pria didepan sana ada hubungan dengan wanita di samping seseorang yang disukainya.
Tapi, ia tidak tahu kelanjutan.
Kenapa sampai Evelyn, mengeluarkan ekspresi berlebih seperti itu.
"Sebenarnya ada apa," batinnya bingung.
Acara pun berlanjut tanpa hambatan, meski sang pria terlihat sekali tidak suka dengan acara ini.
Mata tajamnya menulusuri ruangan ini dengan seksama, mencari keberadaan wanita yang dicintainya.
Deg!
Ketemu.
Dan seketika ia kaget saat mendapati sang asisten menatap ke arah panggung, dengan pandangan nanar dan emosi serta kecewa di kedua bola matanya.
"Emosi, untuk apa? Bukankah dia yang menginginkan pertunangan ini terjadi," batin Arlan tidak mengerti.
Acara tukar cincin telah usai, kini saatnya tamu undangan memberi selamat untuk kedua pasangan tunangan ini.
Riyanti berdiri di samping Riki, yang berjalan disamping Evelyn.
Mereka berjalan bersama menghampiri keluarga yang sedang berbahagia, di ikuti oleh kerlipan kilatan dari lampu blits saat ketiganya sampai di hadapan Arlan dan Tania.
Tania menampilkan senyum kemenangannya, memandang Evelyn dengan sinis.
Tapi sayang sekali, arah pandang Evelyn bukan kepada Tania atau pun Arlan tetapi pada seseorang laki-laki, yang berdiri dengan wajah kaget juga saat melihatnya.
"Evelyn!"
"Ayah!"
"Apa?"
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Ikuti kisah selanjutnya ...
Sampai babai.