Bukan Salahku

Bukan Salahku
Part 37


__ADS_3

Hari libur ini Anne dan Sean menghabiskan waktu bersama ke pusat kota. Suasana sangat ramai karena selalu ada pameran saat ada hari libur. Anne, Sean dan si bayi mungil itu berjalan mengelilingi sudut tempat, menikmati jajanan yang berjejer di sepanjang jalan.


"Kita harus berfoto disini," ujar Sean sambil mengotak-atik kamera yang dia gantung di lehernya.


Setelah puas berfoto, keduanya pun berjalan ke sebuah tempat makan yang tidak terlalu ramai. Anne senang karena dia sudah menantikan makanan kesukaannya itu dari jauh hari.


Melihat Anne yang antusias langsung memilih makanan yang dia mau, Sean merasa bersalah, karena baru kali ini dia mengajak sang isteri pergi makan di luar, biasanya Sean selalu membawakannya ke rumah.


Setelah puas mengelilingi pameran, berfoto, dan makan, Anne dan Sean memutuskan untuk pulang. Hari pun sudah sore, tapi mereka memutuskan mampir ke supermarket untuk membeli kebutuhan si bayi mungil itu.


"Sean, tunggu disini sebentar, aku mau ke toilet dulu," ujar Anne menitipkan anaknya. Sean pun segera menggendong bayi itu.


"Apa perlu ku antar?" Sean khawatir jika Anne tersesat.


"Tidak perlu, aku akan segera kembali," ujar Anne berlalu.


Saat Anne keluar dari toilet, suara seorang laki-laki menyapanya.


"Anne?" Ucap laki-laki itu sambil menatapnya tidak percaya, namun Anne hanya bengong karena dia tidak kenal dengan orang yang menyapanya itu.

__ADS_1


Karena merasa tidak kenal, Anne pun memutuskan pergi dengan terburu-buru meninggalkan orang itu, dia takut. Namun baru lima langkah dirinya berlalu, tiba-tiba saja langkahnya terhenti karena seseorang yang memanggil namanya tadi menghentikan langkahnya.


"Lepaskan!" Ujar Anne menegaskan suaranya.


"Apa kamu lupa sama aku? Kamu beneran Annetasya kan? Temanku?" Ujar seseorang yang kini tidak sabar menunggu jawaban.


"Maaf, anda salah orang!" Anne pun pergi meninggalkan orang itu dengan wajah yang di tekuk. Bukan apa-apa, dia tidak terbiasa berkomunikasi dengan orang asing sedekat itu, selama ini dia hanya berkomitmen dengan Sean saja.


Sean mendapati Anne yang datang menghampiri namun dengan wajah yang suram. Dia pun tidak sabar ingin mengetahui alasannya. Namun belum saja laki-laki itu bertanya Anne langsung mengajaknya untuk segera pergi dan tidak perlu lagi memilih-milih kebutuhan bayinya karena memang sudah cukup.


"Ayo pergi!" Ujar Anne. Melihat Anne yang tampak sangat kesal, Sean tidak berani bertanya. Dia mengurungkan niatnya itu, dan berniat bertanya saat sudah sampai di rumah nanti.


____


"Kamu pasti lelah, maaf ya karena aku belum bisa membahagiakan kamu sepenuhnya," ujar Sean sembari mencium bahu Anne.


Anne tersenyum seraya mengusap lembut pipi Sean yang berada di belakangnya. Selama ini Anne tidak pernah menuntut apapun dari suaminya itu, dia bahkan cukup merasa bahagia karena telah di cintai oleh orang yang mampu menerima segala kekurangannya. Dia bahkan merasa bersyukur karena Sean mau menyayangi bayinya, seperti anaknya sendiri.


"Sean, aku sudah cukup merasa sangat bahagia. Aku bahkan tidak tahu harus membalas kebaikan dan cintamu seperti apa, aku takut mengecewakan kamu."

__ADS_1


"Anne, apa kamu benar-benar mencintaiku?" Tanyanya tiba-tiba. Anne pun mengerutkan keningnya sehingga kedua alisnya saling berdekatan.


"Kenapa pertanyaan kamu aneh sekali sih? Jelas saja aku mencintaimu," jawab Anne kesal. Dia tidak suka kalau dirinya di ragukan dalam hal apapun, termasuk cintanya.


"Jangan marah. Aku hanya belum yakin kamu benar-benar mencintaiku karena kita belum melakukan itu," ujar Sean yang langsung di pahami oleh Anne. Tentu saja sejak mereka berdua menikah, mereka belum pernah saling bercumbu. Karena Sean berjanji tidak akan menyentuh Anne saat dia masih mengandung, dan akan meminta jatahnya itu enam bulan setelah Anne melahirkan. Tentu saja masih cukup banyak waktu untuk menunggu.


"Bukankah kamu yang berjanji tidak akan menyentuhku sampai anakku berusia enam bulan? Kenapa sekarang kamu seolah-olah melupakan janji itu?"


"Bukan seperti itu. Aku hanya merasa sudah tidak sabar harus menunggu lagi. Apa aku boleh membatalkan janjiku waktu itu?" Tanya Sean memelas. Namun Anne dengan tegas menolaknya.


"Tidak! Saat seseorang sudah berjanji, maka dia harus menepati janjinya, sekecil apapun itu tetap sebuah janji!"


Sean menarik napas dalam, dia akan sabar menunggu waktu selama tiga bulan lagi. Tidak ada gunanya lagi merajuk meminta jatah sekarang, bagaimanapun Anne tidak akan memberikannya. Lelaki itu menyandarkan kepalanya di pundak Anne, seraya menciumi aroma tubuh Anne yang membuatnya merasa nyaman.


Setelah selesai menyusui sang buah hati, Anne menidurkannya di kasur. Dia pun menghampiri sang suami yang masih duduk di sofa dekat jendela kamar di pojok sana. Sean yang tengah memejamkan matanya di buat terkejut dengan kehadiran Anne dan kecupan di bibirnya. Kecupan itu pertama kalinya Sean dapatkan dari Anne yang sudah menjadi isterinya selama enam bulan terakhir.


"Kenapa tiba-tiba?" Tanya Sean seolah ingin mengulangnya kembali.


"Apa kamu tidak suka?" Tanya Anne.

__ADS_1


"Bisakah kita mengulanginya, aku bahkan tidak bisa menikmati bibir indah ini," tanya Sean dengan suara parau, seolah dirinya dikuasai oleh ribuan nafsu.


Melihat sorot mata Sean yang sendu, Anne tahu lelaki itu menginginkannya. Dia pun duduk di pangkuan Sean dan mengulangi perbuatannya tadi.


__ADS_2