Bukan Salahku

Bukan Salahku
Hasutan


__ADS_3

Ini bukan seperti yang kamu lihat.


Aku dan dia bahkan baru saja saling menyepakati perjanjian persahabatan.


Ini bukan seperti yang kalian lihat.


Jangan lihat aku seperti itu, aku bukan wanita seperti itu.


Tidak adakah yang percaya padaku?


Tidak adakah yang mendukungku?


¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶


PT. TRI TUNGGAL


Evelyn merasa aneh saat tatapan dari karyawan lainnya, yang entah kenapa hari ini semakin tidak biasa.


Tepatnya seminggu yang lalu, saat dirinya tidak sengaja mendengar desas-dasus tentangnya, tentang ia yang dekat lagi dengan sang Presdir.


"Sebenarnya ada apa?" batin Evelyn tidak mengerti.


Ia pun menggelengkan kepalanya, mengenyahkan pikirannya, berusaha untuk masa bodo dengan orang-orang di sekitarnya.


Ia berpikir, jika ia meladeni omongan negativ tentangnya, maka mereka akan semakin menjadi.


"Biarkan saja, Lyn. Nanti juga berhenti sendiri," batinnya sabar.


"Selamat pagi, Lyn!" sapa Raina ramah seperti biasa.


Di meja informasi, ada beberapa reseptionist yang bertugas, tapi hanya Raina yang masih menyapanya ramah.


"Selamat pagi, Rai!" balas Evelyn dengan senyum kecil.


Saat Evelyn sampai di depan meja informasi, reseptionist di sebelah Raina meliriknya sinis, di ikuti lengan bersenggolan dengan teman lainnya.


Ia hanya bisa menghela napas diam-diam, ia tidak bisa serta merta membalas, karena bukan gayanya membalas dengan membabi buta.


"Hari ini masih sibuk, Lyn? Aku makan siang sendiri," ujar Raina sedih.


Evelyn tersenyum tidak enak, meminta maaf saat lagi-lagi ia ingat, jika ia memang beberapa hari ke depan akan sangat sibuk.


"Seperti itu lah, Rai. Jadwal Pak Presdir sangat padat, aku bahkan harus lembur seminggu ini," balas Evelyn menjelaskan.


"Yah ... Meeting sembari main, ya enak."


"Hus, nanti orangnya dengar."


"Apa sih, ya biar aja."


Raina melirik ke arah teman seprofesinya dan menghela napas lelah.


Ia juga melihat ke arah Evelyn, yang raut wajahnya berubah dengan pandangan tidak enak.


Bagaimana pun, samping kiri dan depannya adalah teman sesama karyawan di perusahaan ini.


Ia tidak mau memihak si ini atau pun si itu, tapi saat melihat ekspresi dari teman, yang dulu satu kampus dengannya, terlihat sedih dan murung, membuatnya tidak tega juga.

__ADS_1


Sebenarnya asisten pribadi yang dulu lebih parah, bahkan pernah dengan bangga memberitahukan tentang hubungan terlarang mereka.


Ini alasan Arlan memecat asistennya dulu.


Evelyn sendiri tidak punya hubungan apapun dengan Presdir mereka, kenapa mereka seakan sangat tidak menyukai kedekatan Presdir dan Evelyn.


"Rai, aku sebaiknya ke atas. Aku harus mengurus keperluan Pak Presdir," ujar Evelyn, mambuat Raina tersentak kaget, melihat Evelyn dengan mata berkedip cepat.


"Ah! Baik lah, Lyn. Selamat bekerja!" balas Raina semangat.


"Eum ... Tentu saja."


Evelyn pun berbalik arah, berjalan ke arah lift dan menekan tombol angka dimana ruangannya berada.


Ting!


Lift yang kosong membuatnya bisa bernapas, setidaknya ia tidak perlu mendengar dan menerima tatapan itu lagi.


Walaupun ia banyak menghabiskan waktu dengan sang Presdir, tapi mendapatkan hal seperti itu saat berpapasan di lobby atau di toilet, ya lama-lama ia sedikit kesal juga.


"Apa salahku, dekat dan bersahabat dengan atasanku sendiri?" gumamnya bertanya bingung.


Pertanyaan yang tidak akan ada jawaban, karena ia tidak akan bertanya pada siapapun, jika ia saat ini sedang sendiri.


Ting!


Lift pun terbuka, ia melangkah dengan sedikit berat, saat ingat jika jadwal mereka berdua hari ini padat lagi.


"Astaga, aku butuh liburan."


Evelyn mendesah lelah dan memulai pekerjaan, di awali dengan kegiatan biasa, apalagi kalau bukan menyiapkan minuman kesukaan Presdirnya.


Di tempat lain, tepatnya di sebuah kantor milik keluarga Brata.


Di ruangan dengan gaya sesuai si pemilik, duduk seorang wanita dengan wajah full make-up dan juga seorang lainnya, yang duduk di depan si pemilik ruangan.


Si pemilik ruangan atau juga Tania, menatap tidak mengerti saat temannya bertanya, tentang tunangannya yang memiliki wanita lainnya.


"Ya aku bingung dong, masa iya sih kamu tidak tahu."


Tania tersenyum canggung, saat temannya ini bertanya dengan nada berlebihan.


Apa maksudnya berkata jika ia di selingkuhi oleh Arlan, tunangannya yang selalu menolak kehadirannya.


"Tapi, Arlan tidak sedang dekat dengan wanita lain, aku yakin itu pasti," balas Tania tetap mencoba ramah, padahal dalam hati ia sudah menyumpah serapahi teman di depannya, Arlan serta seseorang itu.


"Kamu tanya gih, minggu kemarin tunangan kamu makan siang dimana."


Tania gerah seketika saat temannya, yang di kenal tukang gosip bercerita dengan semangat, membicarakan hal yang sungguh tidak akan selesai, jika temannya belum puas.


"Sebenarnya, maksud kamu apa sih?" tanya Tania tidak tahan lagi, ini akan lama jika dibiarkan saja.


"Astaga Tania, dari tadi belum nyambung juga?" tanya temannya, dengan nada gemas dibuat-buat.


"Kamu terlalu bertele-tele, cepat katakan saja selanjutnya," ujar Tania sarkas.


Ia menatap temannya yang tersenyum aneh ke arahnya, sebenarnya ada apa ini, kenapa seperti ia akan diberi tahu, berita yang bisa membuatnya marah saat ini juga.

__ADS_1


Selain Arlan dan perusahaan turun, tidak ada yang bisa menyita perhatiannya.


Si teman yang merasakan perubahan suasana pada teman elitnya, mendengus sebelum menatap Tania dengan senyum aneh.


"Aku melihat tunanganmu, makan dan bercanda dengan tawa yang tampan, bersama seorang wanita yang cantik, tapi aku kira aku pernah melihatnya."


Deg!


Tania emosi seketika, saat mendengar perkataan temannya.


Tangannya mengepal, menatap temannya dengan senyum dipaksakan.


"Wanita? Apa kamu kenal?" tanya Tania berusaha tenang.


"Entah lah."


Si teman mengangkat bahu tak acuh, lalu mengerutkan kening seakan berpikir.


"Tapi ... Dari pakaian yang dipakainya, sepertinya hanya seorang sekretaris atau asisten. Ya, seperti itu lah," lanjutnya setelah mengingat.


"Apa?"


"Ya begitu, aku ingat sekali."


Seketika Tania mengingat satu orang, saat mengerti dengan ciri-ciri orang, yang disebutkan temannya tadi.


Tidak salah lagi, pasti dia orangnya.


"Wanita sialan, belum cukup ternyata cemo'ohan teman sekantornya," batin Tania saat ia mengingat jika ia adalah dalang, dari bully yang di terima oleh Evelyn, wanita atau anak dari Papa sambungnya.


"Kita lihat, sampai kapan kamu bisa dekat dengan tunangan aku lagi," lanjutnya masih dalam hati.


"Oke deh! Aku harus kembali ke kantor, terima kasih atas kerjasamanya, Tania."


"Ya."


Tania hanya menjawab singkat, saat teman main merangkap teman bisnisnya pamit undur diri.


"Astaga, bagaimana caranya supaya dia jera dan tidak lagi berdekatan dengan Arlan. Ah sial ... Dasar wanita murahan!"


Tania kesal, Tania marah.


Di tambah lagi dengan ingatan tentang ia dan tunangannya, yang sama sekali tidak ada tawa di dalamnya.


Bagaimana bisa, ada wanita lain yang bisa membuat Arlan tertawa, sedangkan dirinya tidak.


Apa kurangnya?


Apa kelebihan dia?


Kenapa Arlan lebih menyukai dia, dari pada ia yang jelas-jelas sederajat, terlebih ia adalah tunangannya.


"Evelyn Carla, lihat saja. Aku tidak akan tinggal diam," desis Tania dengan niat buruknya.


Bersambung


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Ikuti kisah selanjutnya.


Sampai babai.


__ADS_2