
Naina tersenyum tipis menatap foto yang masih anteng dalam tatapannya, matanya menilai pada perempuan cantik dengan wajah sendu tersebut, darah Naina sedikit berdesir, tiba-tiba saja dirinya sulit menerima kenyataan jika Habibi sang suami ternyata malah memajang foto perempuan lain dibanding harus memajang foto Naina sendiri.
“Emang cowok semuanya sama aja, mau yang waras mau yang gila, mau yang sehat mau yang sakit, semua sama-sama brengsek! Sasimo! Sana-sini mau!” Naina menggerutu meluapkan emosinya yang tiba-tiba saja memuncak, Naina tidak tahu apa jawaban pasti dari hatinya yang tiba-tiba saja mendadak kesal setengah mati.
Terbawa emosi, Naina meraih sebuah pajangan kristal berbentuk lambang kota paris yaitu menara eiffel, pajangannya terlihat lucu juga special mengingat benda yang terbuat dari kristal tersebut disimpan di kamar pribadi Abi, benda tersebut berada di atas nakas tepat di samping bantal Abi.
PRAK!
Naina tersenyum puas kala menatap lukisan serta pajangan tersebut hancur secara bersamaan, namun bersamaan dengan itu pula, teriakan menggelegar Naina dengar, hingga tubuhnya sedikit terjingkat kaget.
“NAINA!”
Naina menoleh pada ambang pintu, disana terlihat Abi tengah menatapnya tajam, lalu tatapannya kini beralih pada lukisan juga pajangan yang sudah sama hancurnya diatas lantai. Naina melengos, melihat betapa emosinya Abi kala melihat dua benda itu tidak dapat Ia selamatkan.
“Apa yang kamu lakukan Na?” Abi mendekat, masih menatap Naina dengan sangat tajam.
Gadis yang kini sudah menyandang gelar calon Ibu tersebut mendecih sinis “Kenapa? Lo marah? Karena foto selingkuhan Lo Gue pecahin?” Naina mengangkat wajahnya menantang Abi yang masih shock tak percaya dengan tingkah Naina.
“Gak seharusnya kamu hancurin foto Bundaku Na” Abi berkata lirih, tubuhnya mendadak lemas dengan pandangan nanar menatap serpihan foto Bunda Lili yang kini sudah hancur.
__ADS_1
“Bu bunda?” Naina masih belum mengerti, yang Naina tahu Abi adalah anak dari Mama Zahara, lalu kenapa Abi memanggil foto anak remaja tersebut dengan panggilan Bunda? Naina tidak mengerti, lalu sedetik kemudian gadis itu berdecih sinis, mungkinkah itu panggilan mesra mereka berdua? Ayah dan Bunda? Menjijikan! Naina kian kesal saja.
“Dasar pria gak tahu diri! Udah dapet Gue yang nyaris sempurna gini, masih aja berani pajang foto gadis lain di kamar! Sinting!” Naina berlalu pergi meninggalkan Abi yang masih berjongkok, berusaha menyelamatkan foto Bunda yang kini sudah terletak di bawah kasur dengan serpihan kaca yang bertebaran di sana.
“Pajangan ini dari Ratih, menara eiffel adalah mimpi kita, jika Ratih tahu benda ini hancur, apa sahabatku itu akan marah?” Abi bergumam sedih, pajangan ini adalah benda paling mahal yang pernah Ratih berikan padanya, tidak! Ini bukan mengenai harga, namun Ratih membeli pajangan tersebut hasil dari tabungannya semasa SMA dulu, mereka memiliki mimpi yang sama, mengunjungi menara eiffel bersama-sama suatu hari nanti, jika Ratih tahu Abi tidak menjaga pemberiannya dengan baik, sudah pasti Ratih akan kecewa dan sedih.
“Maafin Abi ya Bun, Abi gak bisa jagain foto Bunda” Abi kian sedih kala menatap wajah Bunda, setiap malam sebelum tidur, foto Bunda adalah obat dari segala obat untuk Abi, ketika lelah dan ingin menyerah, maka berbicara dengan foto Bunda adalah obat mujarab baginya.
Abi menghabiskan banyak waktu untuk melukis wajah Bunda hingga semirip foto aslinya yang diberikan Mama Zahara, namun kini hanya dengan satu kali lemparan saja, Naina menghancurkan semuanya. Abi mungkin masih bisa melukisnya kembali, namun momentnya jelas akan berbeda, lukisan ini adalah lukisan pertama Abi, dan Abi sangat menyayangi lukisan tersebut sebagai apresiasi untuk dirinya sendiri.
“Kamu keterlaluan Na” Abi berucap dengan mata berkaca-kaca, semua hal yang berhubungan dengan Bunda, tidak bisa tidak membuat Abi merasa sesedih ini.
Naina berdiri tegak diatas balkon kamarnya sendiri, jujurnya kejadian hancurnya lukisan Abi membuat Naina sedikit tidak tenang, kini sikap Abi berubah, lelaki itu sedikit datar dan dingin sekarang, tidak lagi menatap Naina dengan pandangan memohon atau penuh harap, yang terpancar hanya wajah kesal dan tidak ingin menatap wajah Naina. Apa sebegitu berartinya perempuan tersebut bagi Abi? Naina mulai menerka-nerka.
“Mau kemana dia? Mau menemui kekasihnya?” Naina bicara sendiri kala menatap kepergian Abi yang tengah mengendarai mobilnya, Abi keluar dari halaman rumah dengan penampilan yang terlihat keren, Naina berdecih kesal.
“Gue dikurung disini, dilarang pergi, disuruh makan makanan kambing, dan dia pergi sesuka hati? Sekali brengsk tetap brengsk rupanya” Naina kembali menggerutu, sangat tidak puas dengan segala peraturan yang Abi buat.
“Gara-gara Lo tumbuh di perut Gue, jadinya Gue harus kayak gini, coba Lo mati aja waktu itu” Naina menatap perutnya dengan kesal.
__ADS_1
“Hah ... ya sudahlah, mendingan Gue nonton aja” Naina melangkah mendekati kasur, lalu melompat ke atasnya dalam sekali gerakan, mengabaikan perutnya yang seharusnya Ia jaga, menyalakan layar lebar yang berada di dinding, lalu memilih chanel favorit nya, Naina mulai fokus untuk maraton film kesukaannya.
Sementara itu, di tempat lain ...
Abi tengah berjalan melewati petak demi petak yang bertebaran disetiap tanah yang dijejakinya, Abi berhenti disalah satu gundukan lalu mengernyit heran, menatap pada salah satu gundukan yang menjadi tujuannya untuk datang ketempat ini, Abi menatap bingung pada pemandangan di hadapannya.
Disana seorang gadis tengah bersimpuh dengan isakan yang terdengar jelas, Abi sangat mengenal gadis tersebut, lalu kaki Abi berjalan melangkah mendekati gadis tersebut.
“Tante, aku mau pergi, kayaknya perginya bakalan lama, aku bakalan tinggalin Abi, hiks” Abi mendengar gadis itu menggumamkan namanya, langkahnya kembali tertahan, sepertinya menyimak curhatan gadis tersebut lebih menarik bagi Abi.
Dulu, dulu sekali Abi sering membawa gadis tersebut ke tempat favoritnya ketika sedih, makam Bunda. Abi seringkali menumpahkan kesedihannya pada Bunda, meski Ia tahu Bunda tidak akan mendengarnya, namun berbicara di depan makam Bunda seringkali membuat hati Abi menjadi lega.
“Aku udah pernah bilangkan gimana perasaan aku sama dia, kenapa Tante gak restuin aku? Aku sedih Tan, makanya aku mau pergi aja, meskipun Mama dan Papaku melarang”
Abi mengernyitkan keningnya, bicara apa gadis ini sebenarnya, tiba-tiba datang dan seolah sudah sering datang ke tempat ini untuk bicara banyak hal dengan Bunda? Kenapa Abi tidak tahu hal ini?
“Tan, selama aku pergi Tante jagain dia ya? Karena aku udah gak bisa lagi deket-deket sama dia”
Sebetulnya, dia yang Ratih maksud ini siapa sih? Batin Abi menerka-nerka, apa mungkin pria yang pernah diakui Ratih, bahwa Ratih sangat mencintainya? Tapi Abi belum dikenalkan dengan pria beruntung tersebut, kira-kira siapakah dia? Abi tidak bisa menebaknya sama sekali.
__ADS_1