
Harum aroma manis menguar darimu ...
Memanggil untukku mengulurkan tangan dan menangkap semu ...
Keindahan alam tersaji, mendayu memanggil sepi ...
Jika cinta adalah keindahan ikatan emosi yang haqiqi.
Lalu ...
Benarkah kehaqiqian cinta itu ada?
Benarkah cinta itu sumber kebahagiaan?
Benarkah cinta itu menerima apa adanya?
Misteri cinta .... Siapakah yang bisa menjelaskannya.
Seseorang tolong Aku ... Tolong Aku dari bayang semu.
****
PT. TRI TUNGGAL
Ini hari pertama Evelyn masuk kantor, saat Sang ibu berhasil membujuknya untuk kembali bekerja.
Sedikit ada rasa was-was, tapi saat melihat raut wajah menenangkan dari ibunya, Ia pun mau tidak mau mengangguk mengiyakan perintah ibunya.
Hari ini seperti biasa, Ia di jemput oleh Riki yang berjanji akan meluangkan waktu makan siangnya, untuk menengok ibunya yang sendirian di kamar kostnya.
Kalau dirinya sih tidak tahu bisa atau tidak, seringnya rapat dengan waktu panjang, membuat Ia tidak bisa menjanjikan apa-apa kepada Sang ibu.
"Um ... Sepertinya Barly mengerjakan semua bagian Aku," gumam Evelyn sambil memeriksa beberapa laporan, yang hampir semua sudah di kerjakan.
"Kalau begitu Aku tinggal minta penjelasan dan tanda tangan,"
Ia pun menyimpan data di laptopnya dan membereskan beberapa berkas, lalu berdiri berjalan ke arah pintu ruang Presdirnya.
Sedangkan Arlan yang saat ini sedang mengerjakan laporannya, berhenti saat mendengar suara ketukan dari arah luar pintu ruanganya.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk!" seru Arlan tanpa mengalihkan wajah dari layar Laptopnya.
Ceklek!
Pintu terbuka di susul suara hak sepatu, serta suara asisten pribadinya yang hari ini baru mulai bekerja, setelah satu minggu membuatnya merasakan apa itu rindu.
"Permisi, Pak!"
Ia mengangkat wajahnya dan memasang senyum tampan, membuat Evelyn merasakan jantungnya berdetak kencang.
"Tidak lagi," batin Evelyn lalu berpura-pura memasang wajah bingung.
"Kenapa Pak, senyum-senyum gitu?" tanya Evelyn mencoba biasa saja.
Gubrak!
Sepertinya kalau ini dunia kartun Arlan akan jatuh seketika, saat mendapatkan reaksi tidak terduga dari Evelyn.
Mungkin jika itu wanita lain, mereka akan menjerit saat melihat senyum Arlan yang sungguh tampak berkilauan. Tapi beda dengan Evelyn, yang merasa aneh dengan senyum Arlan yang lain dari biasanya.
Ini menurut Arlan, Tidak tahu saja apa yang sebenarnya terjadi ...
"Terbuat dari apa Si Evelyn ini, kenapa senyum Aku malah di anggap aneh!" batin Arlan berseru kesal.
Senyum Arlan memudar di gantikan oleh dengusan, batal tebar pesona dengan niat lanjut pendekatan.
"Tidak apa-apa, lagian Kamu itu seharusnya senang dapat senyuman. Eh ... Malah bertanya ada apa, aneh sekali," ujar Arlan sewot.
"He-he, ya bukan gitu Pak. Kirain saya kan, Bap-
"Arlan, Evelyn Carla. Kan Aku sudah katakan, jika hanya ada kita berdua Kamu panggil Aku Arlan atau Ar!" sela Arlan cepat.
Ia merasa risih dengan panggilan dari Evelyn untuk dirinya.
"Emang saya ada tampang bapak-bapak?" Lanjutnya masih sewot.
Evelyn terkekeh kecil saat mendengar nada sewot dari atasannya, padahal menurut cerita yang Ia dengar, paling susah membuat Presdir mereka berekspresi kesal dengan wajah seperti ini.
Em ... Sering marah dan kesal karena pekerjaan, tapi ekspresinya biasa saja, tanpa ada raut wajah lucu seperti yang saat ini Ia lihat.
"Apa Aku termasuk orang yang beruntung?" batin Evelyn bertanya.
Arlan melirik ke arah asistennya yang terkekeh, Ia ikut tersenyum saat melihat lagi ekspresi bahagia dari asistennya.
Seminggu di rumah sakit dan kost merawat seorang ibu, Ia tahu Evelyn pasti memiliki beban yang tidak di bagi-bagi.
"Lyn!"
Kekehan Evelyn berhenti saat mendengar suara memanggil dari Presdirnya. Ia melihat dengan ekspresi bertanya, sambil melangkah mendekat ke arah Presdirnya.
"Hum, ada apa Ar?" tanya Evelyn setelah sampai di depan Arlan.
"Kamu sudah tidak apa-apa?" tanya Arlan tiba-tiba, membuat Evelyn tersentak kaget antara ingin menjelaskan dan memendam.
"Aku? Em ... Aku baik-baik saja, kenapa?" balas Evelyn lalu balik bertanya.
"Tidak," balas Arlan singkat, kepalanya menggeleng pelan.
"Lalu, ada apa Kamu menemui saya, Lyn?" lanjut Arlan bertanya.
__ADS_1
"Ah ... Ini laporan sudah di kerjakan Barly, tapi saya baru mempelajari. Em ... Bisakah Aku bertanya tentang penjelasannya dan meminta tanda tangan?" balas Evelyn mengulurkan map berwarna merah, yang di terima Arlan dengan segera.
"Em, sebentar Aku lihat,"
Suasana hening pun tercipta saat Arlan serius mempelajari hasil kerja Barly, sedangkan Evelyn sendiri hanya bisa melihat Presdirnya dengan pandangan kagum.
Entah kenapa ekspresi wajah serius dari Arlan, selalu membuatnya kagum.
Evelyn pov on
Saat ini Aku sedang berada di depan Presdirku, memperhatikan dalam diam Dia yang sedang fokus memeriksa hasil pekerjaan rekan sesama asisten.
Seminggu lebih Aku absen bekerja, jika saja Aku masih bekerja di tempat lama, mungkin saja Aku sudah di pecat pemiliknya.
Srek! Srek! Srek!
Ruangan luas ini sunyi, hanya suara halaman kertas yang di buka, yang terdengar olehku.
"Lyn!" panggilnya, saat Aku sedang memperhatikannya dalam diam.
Hampir saja Aku tersentak kaget, eh ... Aku sepertinya sedikit melamun.
"Iya Ar?" Balasku, Aku sedikit canggung jika di kantor memanggil Dia dengan nama. Tapi karena permintaan keras kepala darinya, Aku mau tidak mau mengingkuti saja maunya.
"Ini sudah Aku tanda tangan, bagian mana yang tidak Kamu mengerti?"
"Yang bagian pihak ketiga," Jawabku saat mendengar pertanyaan darinya.
"Oh!"
"Kemari!" perintahnya. Sambil mengayunkan tangannya, meminta Aku untuk berdiri di sampingnya.
Aku pun mengikuti perintahnya, melangkah semakin mendekat ke arahnya dan mendengar dengan seksama penjelasannya.
Aku sedikit tidak fokus, apalagi saat menghirup aroma parfum mahalnya.
"Ah ... Jangan jadi wanita mesum, cukup tadi khilaf saat melihat senyumnya," Batinku menyadarkan diri.
Evelyn pov end
Normal pov
"Nah jadi seperti itu, Lyn. Ad-
Ucapan Arlan berhenti saat melihat Evelyn yang hanya diam memandangnya, dengan wajah melamun yang terlihat lucu di pandangannya.
"Lyn!" seru Arlan memanggil.
Tidak ada jawaban, membuat Ia terdiam dan ikut memperhatikan wajah Evelyn saling berhadapan.
Arlan pov on
Demi tuhan ... Harus seperti apalagi cara pendekatan Aku, agar Dia mengerti jika Aku sungguh tulus dengannya.
Cukup lama bagi Kami salin- .... Ah maksudku Aku yang memandangi wajah melamunnya.
Aku pun iseng bergumam pelan karena menurut survei, wanita melamun selalu menjawab pertanyaan tidak terduga dengan jujur.
Kalau seperti itu, rasanya Aku harus mencobanya.
Oke ... Aku mulai.
"Apakah wajahku tampan?" Tanyaku memulai pertanyaan.
"Em ... Tampan, sama seperti Riki,"
Ohok ...
Pertanyaan dengan jawaban menohok, membuatku hampir muntah darah seperti ada belati tidak kasat mata yang menghujami jantungku.
Oke ... Lanjut pertanyaan berikutnya, Aku tidak tahan mengingat jawaban jujur dari keadaan melamunnya.
"Apa Kamu mencintaiku?"
"Eumh ... Apa,"
1
2
3
"Akh ... Maaf!" Serunya memekik kaget, sadar dari acara melamunnya.
Sialan ... Kalau tahu begini Aku tidak akan buru-buru bertanya.
Arlan pov end
Normal pov
"Yah ... Arlan, kenapa Kamu mengerjaiku?" tanya Evelyn memekik kaget, apalagi saat wajah Sang Presdir berjarak hanya sejengkal dari wajahnya.
Arlan yang tadi mengumpat kesal menjadi terkekeh, saat melihat ekspresi kesal buru-buru mundur dari asistennya.
"Habis Kamu malah melamun, suara Aku mahal loh," balas Arlan setelah terkekeh.
"Ih ... Oke yang bagian itu maaf, tapi kan Kamu bisa tegur Aku. Kamu malah bertanya di saat Aku sedang melamun," ujar Evelyn gugup dan pura-pura kesal.
"Untung saja cepat sadar," batin Evelyn menghembuskan nafas lega.
"Sengaja, lucu tahu wajah melamun Kamu," balas Arlan santai sambil melanjutkan kekehannya, membuat Evelyn gatal ingin mencakar wajah tampan dari Presdinya.
__ADS_1
"Nyakar orang, di penjara nggak yah?" batin Evelyn bertanya.
Bukh!
"Ouch!!"
Arlan berpura-pura kesakitan saat Evelyn memukul lengannya, tangannya mengusap lengannya sendiri memberi efek dramatis yang membuat Evelyn panik.
"Ar, maaf. Apakah sakit?" tanya Evelyn khawatir. Ia ikut mengusap lengan Arlan pelan, ingin mengurangi rasa sakit yang sedang di alami Presdinya.
"Padahal Aku mukulnya pelan loh," batin Evelyn bingung.
"Iya ... Sakit, Lyn," balas Arlan dengan senyum di sembunyikan. Ia membuat wajah kesakitan, sehingga Evelyn yang melihatnya menyesal.
"Maafin Aku, Ar," gumam Evelyn pelan, membuat Arlan yang mendengarnya tersenyum di balik ringisan pura-puranya.
"Tidak bisa langsung sembuh, hanya dengan ucapan maaf Lyn," ujar Arlan penuh dengan maksud, membuat Evelyn mengernyit bingung saat mendengar perkataan aneh dari Presdinya.
"Jadi Aku harus apa?" tanya Evelyn pasrah.
"Eumh,"
"Apa Ar?" tanya Evelyn tidak sabar.
Arlan hampir saja terkekeh saat melihat ekspresi tidak sabar dari asistennya.
"Dih ... Kok lucu gitu ya," batin Arlan gemas.
"Umh .. Bagaimana kalau makan malam di rumah Kamu, bertiga dengan ibumu. Setuju?" lanjut Arlan memandang Evelyn lembut.
Deg!
Jantung Evelyn seketika berdegub saat mendengar dan melihat pandangan lembut dari Presdinya.
Ia tidak menyangka Arlan meminta makan malam dengan ibunya turut serta, Ia terharu setidaknya Arlan mengingat ibunya.
"Arlan," batin Evelyn senang.
"Bagaimana?" ujar Arlan mengulangi pertanyaannya. Ia menunggu dengan gelisah, saat Evelyn belum juga menjawab ajakan makan malam keluarga darinya.
"Iya ... Kalau Kamu mau seperti itu, Aku setuju Ar!" balas Evelyn dengan senyum ceria.
Senyum yang cepat menular, sehingga saat ini Arlan juga tersenyum tidak kalah ceria ke arah Evelyn.
"Benar yah!"
"Iya,"
"Aku pesan makanan untuk di kirim ke kost-an Kamu, oke?"
"Oke,"
"Aku kirim bunga untuk ibu Kamu bagaimana?"
"Ibu suka bunga!"
"Ah ... Bagaimana kalau Aku pindahin juga, barang-barang Aku ke kost-an kamu,"
"Pind- ... Ah, Kamu mau memainkan permainan kata sama Aku yah, licik!"
"Siapa suruh lemah di bidang itu,"
"Ah Arlan, reseh!"
"Reseh tapi tampan dan mempesona, tidak masalah,"
"Ih narsis!"
"Ha-ha-ha!!"
Keduanya pun melanjutkan obrolan mereka , sambil sesekali bercanda dan itu menciptakan suasana berbeda untuk keduanya.
Cukup lama mereka berdiskusi tentang pekerjaan Evelyn yang tertinggal banyak informasi, serta sesekali bercerita tentang masing-masing dari mereka.
"Sudah mulai terbuka yah, sepertinya ibunya segalanya untuknya," batin Arlan melihat dengan senyum kecil, bagaimana antusiasnya Sang asisten menceritakan tentang masa lalu keluarga sederhananya.
"Lyn!" panggil Arlan, saat Evelyn sedang memberesakan berkas di meja kerjanya.
"Heum?"
"Kalau ada apa-apa, bisa kan Aku jadi sandaran Kamu juga?" ujar Arlan bertanya dengan serius.
Evelyn menghentikan kegiatan beres-beresnya dengan tubuh kaku, ini lagi yang di bahas. Tapi entah mengapa kali ini Ia merasa hatinya bergerak, ingin menggapai sesuatu yang selama ini Ia hindari.
"Ya Tuhan, apa kah Aku harus mengalah dengan kenyataan," batin Evelyn bimbang.
Di belakangnya ada Riki yang selalu menemani, membuat Ia merasa tidak butuh seseorang lainnya untuk menopang tubuh lemahnya dari arah lain.
Tapi kalau sudah begini, bagaimana Ia menolak kesungguhan yang di berikan Arlan untuknya.
Ia pun menghela nafas ... Dan menoleh ke arah Presdirnya.
"Arlan Aku ...."
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ikuti kisah selanjutnya
Sampai babai
__ADS_1