
Demi Tuhan, aku tidak sengaja. Aku bahkan tidak tahu dengan apa yang sudah aku lakukan.
Aku tidak bersalah, ini bukan salahku. Ini salahnya yang memaksaku untuk menjadikan ibunya korban, akan dosanya.
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Kediamanan Brata
Di dalam kamarnya, Tania berjalan kesana-kemari, saat dirinya bingung akan kejadian yang baru saja terjadi.
Rasa takut menggerogotinya, bagaimana jika Evelyn melaporkannya kepada pihak berwajib, bagaimana kalau ia di penjara dan bagaimana-bagaimana lainnya, tentang kemungkinan buruk yang akan menimpanya.
Kuku dengan polesan kutex, serta perawatan mahal miliknya menjadi sasaran, saat ia gelisah memikirkan segalanya.
Flasback on
Tania pov on
Siang itu aku yang kesal, mendatangi tempat tinggal milik wanita itu, untuk berbicara dengan ibunya supaya menasihati anaknya.
Aku yang saat itu sedang kesal, datang dengan tanpa persiapan kata-kata. Yang aku tahu adalah aku harus segera menemui ibunya, agar dia malu dan tidak berbuat menjijikan lagi.
Aku mengendarai mobilku dengan kecepatan sedang, sambil membayangkan reaksi seperti apa yang aku lihat dari ibunya.
"Oke, aku hanya harus meminta dengan nada biasa, lalu pulang. Beres."
Akhirnya aku sampai di depan gerbang, kost-an yang di sewa oleh wanita itu. Aku turun dari mobilku, melihat sekeliling dengan kernyitan merasa daerah tempat tinggal wanita itu terlalu sederhana.
Aku membuka pintu gerbang, menggunakan sapu tangan sebagai alas tanganku, saat aku melihat gagang gerbang yang terlalu kotor menurutku.
Di halaman ada pohon menjulang tinggi, nilai plus untuk membuatku menilai tempat ini jauh bisa di katakan tempat layak untuk di huni.
Aku menggelengkan kepala, tidak penting pikirku, saat aku ingat kedatanganku kesini bukan untuk menilai tempat tinggalnya.
Dari sini aku melihat tangga, sesuai dengan informasi yang aku dapat dari seorang informanku. Informasi yang kuterima juga menyebutkan, jika tempat tinggal si wanita itu ada di baris pertama, tepat di tangga akhir atas.
Di depanku ada pintu berwarna coklat muda, dengan tulisan angka sesuai informasi juga.
"Baiklah, cepat pergi dari sini."
Aku pun mengetuk pintu dengan ketukan pelan, sebanyak tiga kali lalu menunggu sahutan, namun tidak kunjung terdengar.
"Ck, sudah miskin, tuli pula," gumamku kesal.
Tanganku bersiap terangkat, hendak mengetuk pintu lagi, tapi tidak jadi, saat aku mendengar bunyi handle pintu yang di pegang seseorang dari dalam sana.
Ceklek!
Pintu terbuka, di hadapanku saat ini ada wanita paruh baya yang umurnya mungkin sama dengan Mama, tapi lebih cantik dengan tatapan teduhnya.
"Aku rasa kecantikan Evelyn menurun dari Papa, namun tatapannya menurun dari ibunya."
Ck!
Lagi-lagi aku berdecak, saat pikiranku melayang kemana-mana. Untuk apa aku mengagumi kecantikan musuhku sendiri. Lebih baik aku segera menyelesaikan urusanku, agar aku bisa segera menanti Arlan jatuh pasrah ke pelukanku.
"Cari siapa?" tanya ibu didepanku dengan suara lembut. Lebih hangat dibandingkan Mamaku sendiri.
Sialan!
"Stop Tania, berfikirlah logis."
"Apa mencari Evelyn? Kamu temannya Evelyn, cantik sekali."
Ibu di depanku melanjutkan ucapannya, ucapan yang membuatku mendengkus saat mendengar perkataan, jika aku adalah teman dari anaknya.
Cih ... Tidak sudi.
"Bukan, saya kemari ingin membicarakan suatu hal, dengan anda."
Aku lihat perubahan raut wajah dari ibu di depanku, saat mendengar perkataan dengan nada sinis dariku. Tapi aku tidak peduli, aku kesal saat dia mengira aku teman anaknya yang tidak tahu malu itu.
"Membicarakan apa yah, Nak?"
"Saya tidak ingin basa-basi, tolong ibu bicarakan ini dengan anak ibu. Untuk menjauhi tunangan saya," tandasku tho the point.
Aku tidak bisa bermanis-manis jika sudah membahas masalah ini.
Ekspresi dengan kernyitan bingung adalah yang aku dapat, membuatku segera berpikir jika wanita itu belum memberitahukan masalahnya.
"Anak baik," ejekku dalam hati.
Aku ingat jika ibu darinya baru saja siuman dari komanya, mungkin dia tidak ingin membuka ibunya sakit lagi, tapi sayang sekali aku yakin jika setelah ini, ibunya akan kembali sakit. Yah ... Lebih tepatnya sakit hati, saat tahu anaknya menjadi wanita j*lang, menggoda dan merayu tunanganku.
"Apa maksudnya, Nak?"
Nada suara yang keluar dari ibu di depanku, membuatku sedikit tidak tega. Tapi aku segera tepia rasa simpatiku, untuk jadi empati saat aku ingat apa yang sudah di perbuat anaknya.
"Maksud saya, bilang ke Evelyn untuk tidak mendekati lagi tunangan saya. Arlan Cahya Widiyo, Presdir di perusahaan tempatnya bekerja. Apa itu kurang jelas," jelasku dengan nada kesal.
__ADS_1
"Apa!"
Ekspresi yang klasik, ketika syok mendengar berita mengejutkan seperti ini, apalagi ini menyangkut anak sendiri. Iya kan?
"Heleh," batinku mendengus.
"Ibu, ibu masih tidak mengerti ini. Apa maksudnya ini, tolong jelaskan kepada ibu."
Astaga ... Menghabiskan waktu saja, pikirku kesal.
"Begini ya ibu, tolong di dengarkan dengan baik-baik, apa yang akan saya sampaikan ini. Jadi .... Saya ini tunangan dari Presdir tempat anak ibu bekerja."
"Bilang kepada anak ibu itu, untuk tidak mendekati tunangan saya lagi. Jangan ganggu hubungan kami lagi, bisa kan ibu."
Lagi-lagi hanya ekspresi syok yang aku terima, membuatku semakin yakin jika ibu dari Evelyn ini tidak tahu kebenaran, tentang kelakuan anaknya di luar sana.
"Jadi maksud kamu, anak ibu mendekati nak Arlan, seperti itu?"
Panggilan untuk tunanganku, dari ibu di depanku saat ini membuatku yakin, akan kedekatan keduanya sebelum aku bertunangan dengan Arlan seperti apa.
"Betul."
"Tapi nak Arlan bilang, jika dia belum memiliki tunangan. Lagi pula, Evelyn tidak memberitahukan masalah ini kepada ibu."
"Itu sebabnya saya kasih tahu ibu, agar ibu bisa memberitahukan ini kepada anak ibu. Jelaskan dan nasihati anak ibu, untuk tidak mengganggu kehidupan kami berdua lagi. Itu saja, saya permisi."
Aku pun pergi meninggalkan ibu dari Evelyn, hendak berbalik tapi tanganku seperti ada yang memegang, mencegah agar aku tidak pergi disusul dengan suara pertanyaan lainnya.
"Jangan pergi nak, ibu mohon. Jelaskan dulu sampai selesai, bila perlu ibu panggil Evelyn sekarang juga, agar permasalahan ini selesai."
Aku menoleh dan menatap jijik ke arah tanganku, yang di genggam olehnya. Dengan kasar aku menyentak tangannya, sehingga tautannya pun terlepas.
"Lancang, siapa ibu berani pegang tangan saya!"
"Maaf, tapi ibu ingin ini selesai secepatnya. Ibu tidak ingin anak ibu di tuduh yang tidak-tidak. Ibu mau ini jelas semua!"
Kami saat itu ada di ujung tangga atas, karena memang aku hendak turun namun di tahan olehnya.
"Sebaiknya, ibu bicarakan ini dulu dengan anak ibu."
Aku mengelak dan lagi-lagi harus menjauhkan tanganku, saat ibu itu hendak mengambil tanganku.
"Tap-
"Cukup, saya sibuk. Biarkan saya pergi!"
Aku tidak tahu bagaimana bisa aku melakukan itu, menyentak lebih kasar tangan ibu itu, sehingga dia yang saat itu sedang mengahadap aku tiba-tiba terseret sentakan tanganku.
Ahhh!
Bruuk!
Brukh!
Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, bagaimana darah mengalir dari kepala ibu itu, yang saat ini tergeletak dengan mata terpejam.
"Astaga! Apa yang aku lakukan."
Dengan terburu aku menuruni tangga, untuk memastikan sendiri keadaan ibu itu.
Tap!
Berjongkok di hadapannya, aku membawa tanganku ke bagian hidung untuk merasakan hembusan napasnya, dan seketika aku melotot panik.
Sekali lagi aku memastikan keadaannya, tapi sayang sekali tetap samalah yang aku dapatkan.
"Gawat! Bagaimana ini."
Aku bertanya bingung akan semua yang baru saja terjadi, kepalaku menoleh ke kanan-kiri untuk memastikan jika tidak ada saksi mata yang melihat kejadian ini.
"Huft ... Tidak ada orang, syukurlah."
Setidaknya aku bisa bernapas lega, saat keadaan sekitar yang sepi, sehingga aku tidak perli takut akan ada saksi mata yang melihat.
"Aku harus segera pergi dari sini."
Dengan beegitu, akhirnya aku pun memutuskan untuk meninggalkan kost-an Evelyn. Berjalan sedikit cepat ke arah gerbang, membukanya tergesa dan masuk ke dalam mobilku, meninggalkan lokasi tempat aku pertama kali melakukan tindakan yang sungguh tidak aku sengaja.
"Aku harus tenang."
Tania pov end
Normal pov
Flasback end
Tania masih dengan kegiatannya, yaitu berjalan kesana-kemari dengan ekspresi gugup dan takutnya.
Ketukan pada pintu kamarnya, membuat ia tersentak kaget dan segera berhenti, melihat ke arah pintu dengan gelisah.
__ADS_1
Tok! Tok! Tok!
"Siapa?"
"Ini Mama!"
Dengan segera Tania pun melangkahkan kakinya, menghampiri pintu kamarnya dan membukanya dengan segera.
"Mama!"
"Ada apa, Tania?" tanya Kana penasaran.
Kana tentu saja kaget saat melihat ekspresi ketakutan, serta wajah pucat dari anaknya, yang memegang tangannya dengan remasan lumayan erat.
"Mah! Bagaimana ini?"
Alih-alih menjawab pertanyaan sang Nama, Tania malah balik bertanya masih dengan ekspresi takutnya. Dan itu semakin membuat Kana penasaran, dengan kejadian apa yang sedang menimpa sang anak.
"Mah, masuk dulu!"
Kana pun menuruti apa perkataan sang anak, masuk kemudian duduk di tepi ranjang, dengan Tania yang menatapnya dengan pupil mata bergetar tidak fokus.
"Ada yang tidak beres," batin Kana curiga.
"Mah, bagaimana ini."
"Bagaimana apa sih, jelaskan dong Tania," tandas Kana dengan nada kesal yang kentara.
Bagaimana bisa ia menjawab, jika anaknya selalu bilang bagaimana dan bagaimana.
"Mah, kacau. Semuanya kacau mah."
Lagi-lagi Tania hanya meracau dengan kalimat tidak jelas, sehingga Kana pun pusing dibuatnya.
"Apa yang kacau sih, Tania. Coba ceritakan pelan-pelan," pinta Kana, membuat sebisa mungkin sang anak untuk tenang.
"Mah, Evelyn."
"Evelyn kenapa?"
"Evelyn tahu, jika ibu Mirna meninggal karena aku Mah. Bagaimana ini Mah?"
"Apa?"
Kana tentu saja syok setelah mendengar sendiri perkataan sang anak, yang memberitahukan masalah atau juga rahasia dosa sang anak.
"Kamu, kamu yang membuat Mirna meninggal?" tanya Kana dengan nada kaget yang kentara. Sehingga Tania yang sudah terlanjur berbicara, hanya mampu mengangguk pasrah.
"Iya, Mah. Aku yang yang menyebabkan kematian ibu Mirna. Tapi aku tidak sengaja Mah, aku sungguh tidak tahu jika akan ada kejadian itu. Yang aku tahu, aku hanya menyentak tangan ibu Mirna, lalu ibu Mirna jatuh."
Tania menjelaskan dengan nada gugup luar biasa, ia bahkan tidak tahu apakah sang Mama mengerti atau tidak, dengan apa yang barus saja ia katakan.
Kana diam sejenak, dengan cepat berpikir untuk langkah selanjutnya.
Apa yang di katakan sang anak membuatnya bukan hanya khawatir, tapi juga takut di saat bersamaan, saat ia juga mengingat tentang kecelakaan yang menimpah Mirna.
Kecelakaan yang adalah ulahnya juga.
Ia tidak menyangka, jika istri dari suaminya akan mengalami kejadian na'as untuk kedua kalinya, dengan keluarga yang sama. Jika dulu ia, kemarin anaknya.
"Astaga! Takdir apa ini," gumam Kana seperti bisikan, sehingga Tania yang saat ini sedang tidak fokus, tidak bisa mendengarnya.
Kana mengehela napas, kemudian menatap anaknya dengan serius.
"Oke, Mama mengerti. Sekarang yang harus kamu lakukan hanya tenang, jangan mudah ke pancing omongan Evelyn. Bisa saja dia hanya menebak, iya kan?" tanya Kana memastikan.
Tania terdiam, saat memikirkan perkataan Mamahnya yang mungkin saja benar.
"Betul juga," batin Tania membenarkan, sehingga ia bisa sedikit lega.
"Jadi bagaimana selanjutnya, Mah?" tanya Tania setelahnya.
"Kamu tenang saja, Mama yang akan mengurusnya. Asal kamu janji satu hal," ujar Kana dengan tenang, merencanakan sesuatu yang ujungnya akan ada keuntungan untuknya juga.
"Apa, Mah?"
"Kasih Mama kuasa, akan beberapa puluh persen saham perusahaan. Ini buat kebaikanmu, Mama perlu kuasa untuk membungkam seseorang nanti."
Kana segera menjelaskan dengan jelas apa maksudnya, saat melihat sang anak yang hendak menyelanya, sehingga Tania pun mau tidak mau mengangguk mengiyakan.
"Baiklah Mah, jika itu demi kebaikan dan keamanan Tania," balas Tania dengan pasrah, membuat senyum Kana merekah dalam hati, saat rencana yang sebenarnya hanya akal-akalannya bisa segera terealisasi.
"Bagus, dengan begini. Aku hanya tinggal eksekusi."
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ikuti kisah selanjutnya ...
__ADS_1
Terima kasih atas dukungan, perhatian, bantuan untuk vote, atau juga like dan komentarnya, wahai readers yang Author sayangi.
Sampai babai.