
Terbakar oleh hati yang manis dan penuh simpati
Jantung bergetar cepat dalam ilusi mimpi
Terikat oleh kenangan-kenangan semu
Hiasi hati tertusuk duri
Ilusi mimpi menyerang hati
'Tak kuasaku ingin mati
Hidup menjadi 'tak punya arti
Biarlah ini semua terjadi
Pergilah kemana saja tanpa sesal dihati
Simpan kenangan dalam sanubari
Tersimpan didasar relung hati
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Restoran Perancis
Di dalam ruang Vip
"Sudah selesai?" tanya Arlan saat melihat Asistennya mengelap bibir, dengan serbet yang ada di samping piring kosongnya.
"Um! Sudah." balas Evelyn.
"Kamu sudah?" Lanjutnya bertanya.
"Sudah, Kamu tunggu dessertnya. Mungkin sebentar lagi datang," balas Arlan sambil menyesap wine yang ada di dalam gelasnya.
"Ung!" seru Evelyn dengan senyum kecil.
Tidak lama seorang pelayan dengan membawa tray di tangannya, terlihat memasuki ruangan mereka, Dia tersenyum ramah dan menghidangkan dessert pesanan Evelyn dengan gerakan profesional.
"Silakan di nikmati!"
"Terima kasih!" seru Evelyn ramah.
Pelayanan tersebut membalas dengan ramah, kemudian meninggalkan ruangan setelah tugasnya selesai.
"Sehabis ini Kamu pulang saja!" seru Arlan, melihat Asistennya yang langsung melihat ke arahnya, dengan kening berkerut.
"Loh! Kenapa? Ini kan, masih jam kerja Aku," tanya Evelyn bingung.
Ia meletakkan lagi sendok kecil, yang tadi sudah di tangannya di samping bowl dessertnya.
"Sudah selesai juga, berkas Kamu kerjakan di rumah saja. Temani ibu, kasihan jika harus sendiri dirumah," balas Arlan menjelaskan.
Ia meletakkan gelas wine di meja, lalu melihat arloji di tangannya.
"Lagian, hanya tinggal beberapa jam lagi, jam kerja Kamu selesai. Kita habiskan sisa waktu di sini saja, bagaimana?" lanjut Arlan dengan alis naik-turun menggoda.
"Itu sih, mau Kamu," ujar Evelyn kembali menikmati dessert miliknya.
"Emang."
"Dih!"
Di luar ruangan, di saat bersamaan.
Tania memasuki Restoran dengan gerakan anggun, kepalanya mendongak dengan rasa percaya diri.
Di sambut dengan pelayan di depan pintu, bibir dengan polesan lipstik merah itu tidak sama sekali tersenyum, saat dirinya di suguhkan senyum ramah dari Si pelayan.
Setelah memasuki Restoran tersebut, Ia dengan segera mengedarkan mata tajamnya keseluruh penjuru dan sudut Restoran.
Ramainya pengunjung yang makan di Restoran ini, membuat Tania kesulitan mencari sesosok laki-laki, yang saat ini sedang di carinya.
Yang jelas mobil di parkiran adalah bukti nyata, bahwa tunangannya ada di dalam Restoran ini juga.
"Hum, kira-kira dimana Dia? Apa di ruang biasa atau di Vip, ah sebaiknya Aku hubungi Dia," gumam Tania, kemudian membuka kata sandi handphone yang ada di tangannya.
Ia menekan tombol panggil, pada kontak Arlan di handphonenya dan menempelkan layarnya di telinga kanannya.
The number you call-
"Hah! Kok tidak aktif sih! Tadi masih aktif kok," gumam Tania kesal, mencoba melakukan panggilan sekali lagi. Namun sayang, suara operator dengan pemberitahuan sama lah, yang di dengar telinganya.
"Ah ... Sial, sedang bersama siapa Dia? Oh ... Jangan-jangan Dia sedang bersama wanita lain, takut ketahuan olehku," gumam Tania berfikir dengan senyum miringnya.
Tangannya mengepal menahan kesal, hatinya panas saat fikiran negatifnya berkeliaran di otaknya.
Tring!
__ADS_1
Bunyi pesan masuk, membuat fikirannya teralihkan.
Ia membuka pesan dari temannya, yang meminta maaf atas keterlambatan dan menyuruhnya untuk lebih dulu memesan meja untuk mereka.
"Alasan, untung teman," Gumamnya saat membaca pesan, yang isinya membuat Ia kesal namun tetap Ia ikuti juga.
Ia pun duduk di luar dengan fikiran bisa melihat Tunangannya, yang mungkin saja jika keluar dari salah satu ruang Vip, akan di ketahui olehnya.
Seorang pelayan menghampirinya dan menggiringnya ke salah satu meja kosong, dengan jumlah kursi sesuai tamu.
"Untuk tiga orang," balas Tania saat Si pelayan bertanya.
"Silakan buku menunya, jika sudah siap memesan, panggil Saya kembali," ujar Si pelayan ramah sebelum pamit undur diri, setelah meletakkan lonceng kecil sebagai tanda panggil.
"Hum," gumam Tania dengan mata sibuk melihat buku menu.
Sedangkan di sisi Arlan yang sudah selesai makan siang, Ia keluar dari ruang Vip setelah membukakan pintu untuk Asistennya.
Saat Arlan berjalan bersama Evelyn di sampingnya, Arlan tidak memperhatikan sekitar dan tetap berjalan tanpa tahu, jika di sampingnya adalah meja dengan Tania duduk dan membaca buku menu.
"Habis ini benar yah, Aku langsung pulang," ujar Evelyn dengan nada semangat.
Ia menatap Presdirnya, yang ikut menoleh ke arahnya dengan senyum tipis.
"Iy-
"Tania!"
Arlan terdiam tidak melanjutkan ucapannya, saat telinganya mendengar nama seorang wanita, yang harus Ia hindari pertemuannya jika sedang bersama wanita lainnya.
Ia dengan cepat melihat ke arah dimana dua wanita, menyebut nama wanita bernama Tania, wanita yang saat ini melambai tangan membalas seruan memanggil.
Deg!
Jantung Arlan seketika berdetak kencang, tangannya dengan otomatis bergerak mengambil tangan Evelyn, untuk di seretnya dengan cepat meninggalkan tempat mereka berdiri saat ini.
Tentunya kelakuan dari Arlan, yang tiba-tiba aneh seperti ini, membuat Evelyn bertanya dengan penasaran.
"Ar! Ada apa?" tanya Evelyn dengan langkah terseret, saat dirinya harus menyeimbangkan langkahnya dengan langkah kaki Presdirnya.
Arlan tidak menjawab pertanyaan Asistennya, Ia tetap menarik Evelyn mengikuti langkahnya, tanpa tahu jika Sang asisten kualahan di belakangnya.
Cengkraman kuat tangan Arlan, membuat pergelangan tangannya kesakitan. Namun, karena melihat raut wajah kaku dari Presdirnya, Ia tidak berani bertanya di saat pertanyaan pertamanya belum di jawab.
"Sebenarnya ada apa ini?" batin Evelyn bingung.
Sedangkan di sisi Tania.
"Hai! Kali-
Ucapannya berhenti saat melihat seseorang, dengan tubuh belakang seperti tunangannya, pergi meninggalkan Restoran sambil menyeret seorang wanita.
Dengan kening berkerut, Ia memicingkan matanya untuk mempertajam penglihatannya.
"Arlan." Gumamnya.
"Arlan? Arlan siapa? Woah ... Jangan-jangan Arlan yang itu yah?"
Tania tersentak kaget saat mendengar seseorang bertanya, mengenai gumamannya yang tadi menyebut nama Sang tunangan.
Seperti Ia melamun sambil memperhatikan seorang laki-laki, yang entah kenapa mirip sama sekali dengan tunangannya.
"Eh ... Tapi kan, memang ada mobil Dia di sini. Oh ... Sial, Aku harus mengikutinya," batin Tania dengan kepala mengangguk dan itu membuat dua temannya, melihat ke arahnya dengan ekspresi semakin heran.
"Tania, Kam- hei mau kemana?"
Tania berdiri dari duduknya, kemudian menyambar tasnya yang Ia letakkan di bawah meja.
"Aku pergi dulu, maaf tidak bisa ikut makan siang. Tagihanya Kalian masukkan di kantor Aku saja, seperti biasa," ujar Tania tanpa menjelaskan kemana Ia akan pergi.
Ia meninggalkan kedua temannya, yang melihat kelakuannya dengan kening berkerut heran. Namun Ia tidak peduli dan tetap berjalan dengan tergesa, meninggalkan restoran menuju ke arah parkiran.
Sepeninggalnya Tania, dua temannya yang masih penasaran mulai membicarakannya.
"Tania kenapa sih? Mencurigakan sekali. Tadi Dia juga menyebut nama laki-laki, Arlan, apa Arlan yang terkenal cassanova itu?"
"Entah ... Tapi kalau memang iya, hebat juga Dia, baru pulang dari luar negeri, sudah dapat target pengusaha kaya. Yah ... Walaupun semua wanita, pasti mudah dekat dengan Si Arlan ini," balas teman Tania yang lainnya.
"Ha-ha-ha! Tapi tidak semua, buktinya Kamu susah dekat," Ujarnya meledek teman di hadapannya, yang menampilkan ekspresi kesal akan ucapan benar adanya dari teman di hadapannya.
"Playboy sialan ... Tapi tampan sih, hi-hi!"
"Dasar."
Keduanya pun terkekeh dan mulai memesan makanan mahal gratis, yang sangat sayang jika di lewatkan begitu saja.
Kembali pada Tania, yang saat ini sudah hampir tiba di parkiran.
"Haih ... Cepat sekali jalannya," Gumamnya kesal, kakinya hampir saja tersandung saat hils tingginya di paksa berjalan cepat, dengan mata jelalatan melihat kanan dan kiri.
__ADS_1
"Aku harus menemukan Dia, bila perlu saat Dia sedang bersama wanita lain."
"Awas saja Kamu, Arlan," Lanjutnya dengan hati senang dan kesal di saat bersamaan.
Ia melanjutkan langkah kakinya menuju parkiran, dimana tunangannya memarkirkan mobil.
"Ah! Itu Dia!"
Tania tersenyum senang, saat melihat Arlan yang hendak membuka pintu mobilnya.
Dengan semangat Ia pun berjalan sedikit cepat, menghampiri tunangannya yang sebentar lagi memasuki mobilnya.
Tidak ingin tunangannya pergi begitu saja, Ia pun mencoba memanggilnya.
"Arlan!" seru Tania memanggil.
Tapi tunangannya tetap tidak menoleh.
"Loh ... Ada apa ini, kenapa Dia tidak menoleh ke arahku, apa Dia tidak mendengar suaraku?" Gumamnya bingung.
Tidak menyerah Tania mencoba memanggil lagi, tapi sayang tetap tidak berhasil membuat orang yang di panggil untuk menoleh.
"Arlan!"
"Sial, pasti Kamu dengan seorang wanita, kan? Kamu tidak ingin ketahuan olehku, kan?" ujar Tania semakin kesal.
Kakinya menghentak kesal dengan nafas memburu, Ia berbalik arah menuju mobil miliknya sendiri, kembali ke perusahaan untuk menangkan fikirannya, yang saat ini sedang di kuasai oleh rasa kesal luar biasa.
Ia pun membuka pintu mobilnya setelah menekan tombol di remote, yang saat ini ada di tangannya lalu menutup pintu dengan kuat, sehingga menimbulkan debaman keras saat pintu tertutup sempurna.
Blam!
"Awas Kamu, Arlan!" Gumamnya saat sudah duduk di belakang stir kemudi.
"Sudah tidak makan siang, di tambah melihat tunangan pergi tanpa bisa bertemu sapa. Haih ... Aku harus lakukan sesuatu," Lanjutnya kemudian menghidupkan mesin mobil, ikut meninggalkan area parkir Restoran.
Arlan pov on
Di sepanjang perjalanan tadi Aku tidak bisa untuk tidak mengumpat kesal.
Astaga ... Aku hampir saja ketahuan, jika saja dua wanita tadi tidak memanggil namanya.
Sepertinya tuhan masih menyayangiku, sehingga Aku bisa menghindar dari wanita yang saat ini sangat Aku hindari, jika sedang bersama wanita lain.
Syarat darinya sangat mudah, namun juga sulit di saat bersamaan.
"Ar! Ada apa?"
Tidak ... Aku tidak boleh mengeluarkan suaraku dulu, Aku takut Dia akan sadar dengan keberadaanku.
Aku tetap menyeretnya mengikuti langkaku, tanpa menoleh ke belakang dan untungnya Evelyn tidak bertanya lagi.
Saat ini Kami sudah sampai di parkiran, Aku dengan segera membukakan pintu untuk Evelyn dan berjalan cepat menuju pintu lainnya.
"Arlan!"
"Sial." umpatku dalam hati.
Aku mendengar suara memanggil namaku, yang Aku yakini berasal dari Dia.
"Abaikan." Gumamku.
"Arlan!"
Aku pun membuka pintu mobilku, masuk tanpa menoleh dan segera menghidupkan mesin mobil.
"Kenapa, Ar?"
Aku pun menoleh ke arah samping, melihat Asistenku yang melihatku dengan raut wajah khawatir.
Ah ... Aku tidak sadar membuat ekspresinya seperti itu, seharusnya Aku tidak boleh membuat ekspresi wajahnya seperti itu.
Aku pun tersenyum untuk menenangkannya.
"Tidak apa-apa, Aku antar pulang yah!"
"Em."
Setelah mendapat gumaman darinya, Aku pun mulai menggatur persneling mobilku, mundur perlahan dan akhirnya meninggalkan area parkir Restoran.
Restoran tempat Aku mengalami serangan jantung mendadak, karena hampir ketahuan terpergok sedang makan dengan wanita, oleh tunangan yang tidak Aku inginkan.
"Baru ini Aku merasakan takut luar biasa, kedepannya, Aku harus lebih hati-hati." Batinku.
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ikuti terus kisahnya ....
__ADS_1
Sampai babai.