
Aku pernah bertanya siapa yang akan ada di sampingku, jika bahkan dunia sendiri tidak mendukungku.
Dan kamu datang, dengan jawaban yang hingga sekarang pun masih sama.
Aku, aku dan aku yang akan mendukungmu.
Terima kasih, Kekasihku.
Referensi lagu untuk part ini, Eternal love__Michael Learn To Rock.
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Kondominium Arlan
Pagi datang setelah melewati malam yang panjang, di dapur dengan perlengkapan memasak yang lengkap, berdiri seorang wanita dengan apron putih, membalut tubuhnya yang saat ini hanya memakai kemeja hitam.
Si wanita ini sedang fokus dengan telur mata sapi di penggorengan, lalu sesekali akan ke bagian lain untuk memotong tomat dan akan kembali ke penggorengan lagi.
Setelahnya roti dengan isi telur, tomat dan keju pun siap di hidangkan. Ia beralih ke bagian juicer, memotong buah apel menjadi potong kecil, memasukkanya satu persatu ke dalam tabung dan mendorongnya menggunakan tongkat, dengan gelas siap menampung sari.
Disaat si wanita sedang fokus dengan pekerjaannya, sepasang lengan putih kekar, memeluknya dari belakang dan disusul dengan dagu yang menempel manja di bahunya.
"Astaga!"
"Hmm ... Gutten morgen."
Pekikan kaget si wanita, hanya dibalas dengan gumaman dan sapaan, dari si pelaku dengan suara serak khas bangun tidur.
Si pelaku ini sesekali mengecupi leher jenjang si wanita yang adalah kekasihnya, saat kekasihnya menggelung rambut panjangnya, memperlihatkan leher jenjang menggoda di pagi hari.
"Hentikan, aku sedang membuatkan sari buah apel untuk kamu," titah si wanita. Namun sayang, yang diberi titah tidak peduli, tetap mengerjai leher jenjangnya hingga ia meremang, hampir meloloskan suara desahan jika tidak buru-buru berbalik, sehingga pelukan si lelaki pun terlepas.
"Ck ... Kenapa di lepas," gumam si lelaki kesal, setelah berdecak masih dengan mata setengah terpejam, mengantuk.
"Cuci muka, lihat, kamu bahkan belum bangun dari tidurmu. Tapi sudah mesum saja," sewot si wanita, tangannya dengan terampil merapihkan rambut berantakan kekasihnya, yang di hadiahi pelukan dari si lelaki yang merasa pagi harinya sempurna.
Ini adalah kali pertama, kekasihnya, asisten pribadinya atau juga Evelyn, menginap di hunian miliknya.
Ia yang biasa bangun tidur, mandi dan langsung berangkat kerja atau olahraga di setiap paginya, merasa berbeda saat ada seseorang yang menyiapkan sarapan seperti ini untuknya.
"Tidak mau, mau bobo lagi," tolaknya, dengan nada manja dan kembali memeluk sang kekasih, saat kekasihnya melepas pelukannnya dan mendorongnya masuk ke dalam kamarnya lagi.
"Tidak, Arlan. Cuci muka, lalu sarapan. Oh, atau kamu mau aku sarapan sendiri, lalu aku pulang? Kalau gitu silakan saja, kembali menjadi kerbau," ancam si wanita, Evelyn. Dengan tangan bersedekap, saat ia lagi-lagi melepas pelukan sang kekasih yang langsung membuka matanya, menatapnya dengan ekspresi lucu. Ekspresi yang baru ini Evelyn lihat, di pagi hari berbeda dalam kehidupannya.
"Jangan, oke, aku cuci muka. Kamu duduk cantik dulu, lima menit selesai. Tunggu aku!" seru Arlan, mendorong punggung Evelyn dan mendudukan Evelyn di kursi. Sedangkan dirinya bergegas berbalik arah, hendak menuju kamarnya untuk mencuci wajahnya. Namun kemudian kembali menghampiri Evelyn lagi, berdiri di hadapan Evelyn yang memandangnya dengan ekspresi bertanya.
"Ada ap-
Cup!
"Morning kiss," selanya, setelah mengecup seenaknya bibir milik Evelyn, yang hanya bisa melihatnya dengan mata berkedip cepat.
"Aku cuci muka dulu," lanjutnya kemudian tanpa menanti jawaban Evelyn, ia sudah melangkahkan kakinya cepat ke arah pintu, membuka dan menutupnya dengan debamam, yang akhirnya membuat Evelyn sadar dari rasa terkejutnya.
Blam!
"Is ... Dasar," gumam Evelyn dengan kepala menggeleng pelan, diikuti kekehan kecil sebelum bangun dari duduknya, menuju tempat ia tadi membuat sari buah yang belum selesai.
Sementara Evelyn di dapur dengan kegiatannya, Arlan yang saat ini sedang berada di kamar mandinya, melihat pantulan wajahnya di cermin. Wajah dengan senyum salah tingkah, saat pagi harinya benar-benar pagi sempurna.
__ADS_1
"Begini kah, rasanya nanti jika punya istri?" gumamnya, bertanya kepada pantulan wajahnya sendiri, kemudian tersenyum dengan gelengan kepala, berakhir dengan ia yang menggigit jarinya dan selanjutnya mengusak rambutnya, merasa gemas sendiri saat melihat kekasihnya, lagi-lagi memakai kemeja miliknya yang terlihat sungguh menggoda.
Seorang cassanova sedang salah tingkah.
"Sepertinya aku harus siapin dia baju, takut dia bermalam lagi, jadi kan tidak repot mikirin salinan untuknya," gumam Arlan berpikir dengan kepala mengangguk, membenarkan pemikiran sepihaknya, tapi tidak lama saat ia berpikir ulang mengenai rencananya, diikuti kepala menggeleng.
"Eh! Tapi sepertinya kemeja punyaku juga oke, lebih wah, lebih cocok," timpalnya dengan senyum miring, saat pikiran indahnya lebih bagus menurutnya.
"Kalau begitu dalaman saja, humm ... Tapi berapa ukuranya," pikirnya tambah ngaco, bahkan tangannya ikut terangkat, dengan telapak tangan bergerak ambigu.
"Aku belum pernah mengukurnya," lanjutnya, kemudian menepuk keningnya merasa bodoh sesaat, ketika pikiran absurd menguasainya.
"Astaga! Aku sudah gila. Apa yang baru saja aku pikirkan," desahnya lelah sendiri, saat sadar dari pemikiran gila, namun indah yang tiba-tiba terbayang di angannya.
Bayangan jika ada Evelyn yang tinggal dan menemaninya di setiap hari, dalam kehidupannya di dunia ini.
"Shit, sebaiknya aku cepat cuci muka, lalu sarapan dan menghabiskan waktu liburku dengannya."
Dengan begitu, Arlan pun segera membasuh wajahnya, hanya dengan air tanpa sabun pembersih, itu pun ia lakukan singkat asal segar kemudian mengerikan wajahnya dan bergegas keluar kamar mandi.
🌷🌷🌷🌷🌷
Di meja makan sudah tersedia setangkup sandwich isi telur, tomat dan keju, juga sari apel dengan jumlah dua untuk masing-masing.
"Kirain tidur lagi," sindir Evelyn, saat melihat Arlan yang berjalan santai menuju ke arahnya, menarik kursi dan duduk nyaman saling berhadapan dengannya.
"Kalau ditemani kami, aku sih oke aja," sahut Arlan dengan senyum manis, lengkap mata berkedip menggoda Evelyn, yang mendengkus saat mendengar kalimat dari kekasihnya, yang tidak jauh-jauh dari hal mesum.
"Mulai deh," gerutu Evelyn, dengan wajah malu. Malu saat ia ingat jika tadi malam mereka berbagi selimut, bahkan lagi-lagi ia memakai kemeja milik Arlan, yang terlihat kebesaran di tubuh mungilnya.
"Belum juga minum, bagaimana bisa mulai," timpal Arlan semakin menggoda Evelyn, yang mendelikkan matanya ke arah Arlan, yang tergelak saat melihat ekspresi tidak berkutik kekasihnya.
"Kalah, kan," lanjut Arlan meledek.
Mereka pun makan dengan diselingi obrolan ringan, hingga tidak terasa sandwich dan sari apel sudah tandas, berpindah tempat ke dalam perut mereka masing-masing.
"Terima kasih sarapannya, Schatz," ucap Arlan lembut, setelah mengelap sudut bibirnya dengan serbet, dengan gaya elegan khas seorang Arlan.
"Kembali kasih," balas Evelyn, tersenyum manis ke arah Arlan yang juga tersenyum kecil.
"Aku mau beresin dapurnya, kam-
"Tidak perlu, nanti ada asisten rumah tangga yang akan membereskan. Sekarang kamu temani aku saja, kita habiskan waktu dengan bersantai," sela Arlan, melarang kekasihnya yang hendak berdiri dari duduknya.
"Tapi, ini berantakan," timpal Evelyn, melihat sekeliling yang sebenarnya tidak berantakan, hanya meja makan karena baru saja selesai di pakai.
"Biarkan saja, oke. Sekarang kami ikut aku," tandas Arlan tidak terbantahkan.
Ia menarik dengan lembut tangan Evelyn, yang pasrah saja saat Arlan membawanya ke sebuah ruangan tidak sempit juga tidak luas, dengan rak-rak buku dan berbagai foto menghiasi.
Ruangan yang tidak pernah Evelyn masuki, karena selalu tertutup dan memang tidak pernah ada seorang pun yang diizinkan masuk.
Blam!
Arlan menutup pintu dan berjalan menuju jendela, membuka tirai dan seketika ruangan pun terang.
Evelyn menatap takjub sekeliling, ruangan atau juga perpustakaan mini milik kekasihnya, terlihat elegan dengan kursi baca dan sofa single yang terlihat nyaman untuk bersantai.
"Ini?"
__ADS_1
"Ini ruangan tempat aku biasa sendiri, jika sedang dalam mood jelek. Atau juga saat aku merindukan seseorang," jawab Arlan memunggungi Evelyn, yang melihat Arlan dengan kening berkerut penasaran.
"Merindukan seseorang?"
Arlan berbalik menghadap ke arah Evelyn, yang masih menatapnya dengan penasaran. Tersenyum sedih, saat ia harus membuka luka lama sekaligus kenangan manis disaat bersamaan. Tentang seseorang yang sangat ia sayangi dan sangat ia cintai.
"Ya ... Seseorang yang sangat aku cintai, melebihi cintaku padamu," sahut Arlan, dengan senyum sendu yang terpancar di kedua bola matanya.
Sedikit ada rasa sakit di hati Evelyn, saat tahu jika Arlan masih memikirkan cintanya dulu. Tapi ia menepis jauh-jauh pikiran buruknya, dengan memasang senyum kecil dan menghampiri kekasihnya yang masih bergeming di dekat jendela.
"Boleh aku tahu siapa?" pinta Evelyn, setelah berdiri di hadapan kekasihnya, yang tersenyum dan mengangguk mengiyakan.
"Aku memang ingin memperkenalkanmu dengannya, dengan seseorang yang selalu ada di hati ini," balas Arlan cepat.
Ia menggengam tangan kanan kekasihnya, membawanya untuk menghampiri meja dengan foto lama terpajang.
"Bulan Gandhi."
"Bulan Gandhi," beo Evelyn dengan kening berkerut, saat ia merasa pernah mendengar nama itu di suatu tempat.
"Iya," sahut Arlan, menghadap ke arah Evelyn, yang segera melihat ke arahnya.
"Wanita tercantik yang pernah ada di kehidupan aku, Mamaku. Cinta sejatiku," lanjut Arlan dengan senyum tulus namun tatapan matanya sendu, saat mengingat jika sewaktu sang Mama hidup ia tidak terlalu memperhatikan.
Evelyn yang mendengarnya tentu saja merasa bersalah, sudah cemburu dengan ibu dari kekasihnya sendiri. Ia membawa Arlan kepelukannya, meletakkan wajah kekasihnya kedekapan dadanya, sambil mengusap punggung kekasihnya lembut.
"Maaf, seharusnya kamu tida-
"Tidak, aku ingin kamu kenal dengan beliau. Kami tidak perlu meminta maaf," sela Arlan, menyamakan dirinya dalam dekapan hangat kekasihnya, meski harus menunduk, merendahkan tubuhnya saat Evelyn hanya setinggi dadanya.
"Jangan sedih, aku akan ada di sini, menemani kamu, selamanya."
"Benarkah?"
"Hum ... Tentu saja, karena aku mencintaimu, Arlan. Aku sangat mencintaimu," gumam Evelyn lembut.
Arlan mengurai pelukan Evelyn, menatap Evelyn dengan binar bahagia penuh cinta.
"Kamu yang bilang Evelyn, maka dari itu, jangan salahin aku, jika aku menguncimu di penjara cintaku selamanya. Memasukkanmu di golden cage milikku, tanpa kamu bisa keluar lagi," tandas Arlan dengan bersungguh-sungguh, menatap Evelyn dengan janji posesif yang kentara.
Evelyn menanggapinya dengan anggukan kepala, tersenyum kecil sebagai jawaban yang dibalas Arlan dengan senyum bahagianya.
"Terima kasih," bisik Arlan, mengadu dahinya dengan dahi milik Evelyn, yang lagi-lagi mengangguk.
"Aku sangat mencintaimu," lanjut Arlan masih berbisik.
"Aku juga mencintaimu," balas Evelyn.
Arlan membawa sebelah tangannya untuk menarik pinggang Evelyn, lebih merapat dengan tubuhnya, sedangkan satunya lagi ia letakan di belakang leher Evelyn, yang menerima begitu saja saat Arlan menariknya perlahan.
"Ich liebe dich uber alles," lirih Arlan sebelum membawa Evelyn ke dalam cumbuan, penuh kelembutan tanpa ada nafsu di dalamnya.
"Terima kasih, Arlan. Aku pun sangat mencintaimu," batin Evelyn membalas cumbuan Arlan, dengan mata terpejam dan hati tersenyum saat akhirnya ia bisa mencintai Arlan dengan bebas.
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Ikuti kisah selanjutnya ....
Terima kasih dan sampai babai.