
Aku duduk terdiam di tengah kesunyian
Menatap langit yang enggan berbicara
Entah ... Sepertinya Dia diam membisu dengan seribu bahasa.
Apa karena Dia juga tahu kesedihanku?
Luka yang Aku pendam
Sakit yang sangat mendalam
Sakit yang 'tak bisa terbendung lagi
Bagaikan pisau menggoreskan luka
Kau pergi bersama semua kenangan
Jauh …. Jauh dan semakin jauh
Meninggalkan Aku sendiri
Bersama luka dalam hati
°°°°°
PT. BRATA
Di kantor dengan harum aroma bunga daisy, ada seorang wanita sedang mengerjakan pekerjaannya.
Di depannya ada Laptop menyala, dengan mata bergerak kanan dan kiri Ia memeriksa setiap baris kata, tanpa melewatkan satu pun kesalahan.
"Hum," Gumamnya dengan bibir tersenyum puas.
"Aku kira kerjaan mereka tidak ada yang becus, ternyata lumayan juga," Lanjutnya bangga.
Ia pun menutup file tersebut, saat merasa bahwa laporan yang di periksanya sudah selesai dan tidak ada kesalahan.
Wanita itu atau juga Tania, mengangkat tangannya untuk melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Hum ... Sudah waktunya makan siang, bagaimana kalau Aku ajak Dia makan siang." ujar Tania semangat.
Ia pun dengan segera mengambil handphone merek terkenal keluaran terbarunya, lalu mencari kontak nomor yang di tuju dan menekan tombol panggil.
Ia menunggu dengan sabar panggilannya di terima, namun hingga nada tunggu kesekian Ia tidak kunjung mendengar sapaan dari orang yang di tuju, melainkan suara operator yang membuat Ia berdecih kesal.
"Kemana Dia!" seru Tania kesal.
Ia pun mencoba sekali lagi. Namun sayang, lagi-lagi hanya suara operator yang di dengarnya.
"Sialan, maunya Dia apa?" ujar Tania menahan marah.
Hampir saja Ia membanting handphone miliknya, jika Ia tidak mendengar notif pesan singkat dari orang yang di tunggunya.
Senyumnya pun mengembang namun tidak lama, saat Ia membaca sebaris kata singkat, yang membuat hatinya gerah seketika.
"Sial, Dia hanya mengirim Aku pesan seperti itu. Tanpa ada penjelasan!" seru Tania kesal.
"Aku sibuk, jangan ganggu."
"Oke.... Ini baru satu bulan, sampai kapan Kamu bisa menutupi kelemahanmu, Arlan."
Di saat bersamaan
Restoran Perancis
Di meja dengan kursi untuk dua orang itu, duduk sepasang atasan dan bawahan yang sedang makan siang bersama.
Atasan dengan nama Arlan ini sedang membaca daftar menu, yang tertera dengan gambar dan tertata apik di buku menu.
Di depannya ada Asistennya, yang hanya diam sesekali melihat sekitarnya dengan mata berbinar kagum.
Siang ini Presdirnya menteraktirnya, dengan alasan keberhasilan kerja sama dengan perusahaan Wijaya untuk yang kesekian kalinya.
Padahal Ia sudah bilang untuk makan di tempat biasa saja, tapi sayang Ia kalah dengan argumen Presdirnya.
"Jadi Kamu mau makan apa, Lyn?" tanya Arlan melihat ke arah Evelyn, yang saat ini sedang melihat sekitar dengan mata berbinar.
"Dasar, selalu penasaran dan senang dengan hal sederhana." batin Arlan.
"Um ..."
Evelyn bergumam panjang saat mendengar pertanyaan Presdirnya, jujur saja Ia tidak terlalu tahu makanan khas dari negara Perancis ini.
"Kamu apa?" tanya Evelyn balik.
Karena tidak tahu apa yang harus di pesannya, Ia lebih baik bertanya pesanan dari Presdirnya, dari pada Ia harus pusing menentukan makanan untuk makan siangnya.
"Aku pesan Beef Burguignon, lalu Red Wine untuk minumannya."
__ADS_1
"Jadi Kamu mau apa?" lanjut Arlan, bertanya kepada Asistennya yang mengedipkan mata bingung.
"Susah sekali namanya," ujar Evelyn dengan kekehan polos.
Arlan tersenyum geli dengan kepala menggeleng, lucu dengan kejujuran yang di lihatnya dari wanita di hadapannya.
"Kalau bahasa pribumi di sebut Rendang, simpel kan?" balas Arlan dengan gurauannya.
"Hah! Rendang? Ha-ha-ha! Ada-ada saja Kamu Ar, dasar!" seru Evelyn dengan kekehan renyahnya.
Kekehan yang membuat Arlan ikut terkekeh, tanpa bisa di tahan dan melupakan adat makan di restoran mewah.
"Untung saja Aku pesan ruangan vip." batin Arlan.
"Sama-sama daging Lyn!" seru Arlan di sela-sela kekehanya dan akibat perkataannya, Evelyn semakin terkekeh dengan bulir air mata di sudut matanya.
"Ha-ha-ha! Iya sih ... Sama-sama terbuat dari daging sapi, terus bedanya apa?" tanya Evelyn setelah puas terkekeh.
"Hum ... Bedanya yah! Mungkin di bumbunya. Kalau rendang main di rempahnya dan kalau beef burguignon ini di rebus, tapi pake anggur merah. Ya kira-kira seperti itu lah," ujar Arlan menjelaskan sesuai pengetahuannya.
Evelyn membuka mulutnya takjub, saat mendengar penjelasan simple dari Presdirnya.
"Wow ... Pake anggur merah," ujar Evelyn mengulangi perkataan Arlan dengan nada kagum.
"Iya ... Seperti itu lah," balas Arlan dengan bahu terangkat 'tak acuh.
"Oke deh ... Sama saja," ujar Evelyn memutuskan pilihannya.
"Mau wine juga?" tanya Arlan.
"No-no, dessert saja." balas Evelyn menolak.
"Mau coba Creme brulee?" ujar Arlan menawarkan.
"Apa itu enak?" tanya Evelyn penasaran.
"Enak ... Kamu coba sendiri, oke?" balas Arlan lembut, membuat Evelyn menganggukkan kepalanya setuju.
"Oke!"
"Gut."
Arlan pun memesankan makanan pilihan mereka, menyebutkan satu per satu dengan tambahan dessert pilihan asisten kesayanganya.
Sambil menunggu pesanan mereka datang, Arlan dan Evelyn pun membicarakan banyak hal.
Mengobrol berbagai pembahasan, hingga bertanya seputar kesukaan dan yang di benci dari masing-masing pribadi.
Ia pun merogoh dan melihat dengan langsung ekspresi yang berubah drastis. Senyumnya yang tadi merekah merasakan kebahagiaan, seketika pudar saat melihat nama Si pemanggil yang tertera di layar handphonenya.
Tania calling
"Sial," batin Arlan menahan agar tidak berdecak kesal.
Saat getarannya berhenti, Ia berniat meletakkan handphone miliknya ke atas meja, namun sayang ternyata handphonenya kembali bergetar dengan nama Si pemanggil yang sama.
"Oh God!" batin Arlan berteriak frustrasi.
Ia pun membiarkan panggilan itu begitu saja, tanpa ada niatan untuk mengangkatnya.
"Kita lihat, sampai berapa kali Kamu tahan menghubungiku?" batin Arlan menantang.
Cukup banyak panggilan dari Tania namun Ia biarkan begitu saja dan akhirnya di panggilan ke-enam, Tania pun menyerah.
Ia tersenyum dalam hati, namun raut wajahnya menunjukan rasa kesal luar biasa.
Ia pun mengetikkan beberapa kata dan mengirim pesannya, lalu mematikan handphone miliknya dengan segera.
Sedangkan di sisi Evelyn, yang melihat perubahan raut wajah laki-laki di depannya, tidak bisa untuk tidak mengernyit bingung.
"Ada apa dengan Arlan?" Batinnya bingung.
Ia pun memberanikan diri bertanya dan memanggil Arlan dengan nada khawatir.
"Ar ... Kamu kenapa?" tanya Evelyn.
"Ah ... Maaf!" seru Arlan kaget.
Wajahnya yang tadi menunduk, dengan cepat terangkat dan melihat Asistennya yang saat ini menatapnya khawatir.
"Kamu kenapa?" ujar Evelyn mengulangi pertanyaannya.
"Aku? Aku kenapa?" tanya Arlan bingung, maksudnya Ia berpura-pura bingung.
Ia harus bersikap biasa saja, jalani semua dengan biasa sampai wanita itu menyerah.
"Sudah satu bulan, Aku pasti berhasil." batin Arlan yakin.
Yah ... Sudah satu bulan Ia merahasiakan status dirinya, dari Evelyn yang sudah sangat dekat dengannya.
__ADS_1
Meski sesekali Ia masih harus pandai mengatur waktu temu dengan Asistennya, setidaknya Ia berhasil mengundur waktu hingga satu bulan lamanya.
Lalu tentang Riki, sepupunya itu sepertinya juga tidak tahu.
Yah ... Tidak heran sih, sebab semenjak Mamanya meninggal, Papanya enggan untuk berhubungan lagi dengan keluarga Gandhi.
"Kamu aneh, tadi tersenyum tapi tiba-tiba senyumnya hilang. Emang Kamu dapat pesan dari siapa?" tanya Evelyn penasaran.
Deg!
Seketika jantungnya berdetak saat mendengar pertanyaan penasaran, dari orang yang justru sedang Ia usahakan, agar tidak tahu keadaan sebenarnya.
"Bukan dari siapa-siapa kok, kenapa?" balas dan tanya Arlan balik.
"Kenapa? Hum ... Nggak ada apa-apa sih," balas Evelyn dengan kening berkerut.
"Yang pasti ini bukan dari wanita dulu, wanita yang kata Kamu haus belaian," ujar Arlan dengan alis naik-turun menggoda Evelyn.
Evelyn sendiri hanya mencebilkan bibirnya, meledek ke arah Arlan yang terkekeh saat mendengar gumaman darinya.
"Siapa juga yang melarang, silakan loh kalau mau kembali ke zaman jahiliyah," gumam Evelyn dengan mata melirik ke arah lain, malas melihat ke arah laki-laki di hadapannya, yang semakin senang menggodanya dengan siulan iseng.
"Cuit! Cuit! ... Ada yang cemburu!" seru Arlan dengan nada gembira.
"Dih ... Siapa yang cemburu?"
"Kamu!"
"Dalam mimpimu, blee!"
"Dasar, tidak mau mengaku."
"Tidak dan tidak, titik."
"Iya dan iya, koma."
"Reseh ih!"
"Biarin."
"Huh!"
"Ha-ha-ha!"
"Sud-
"Permisi! Maaf mengganggu!"
Perdebatan mereka pun terpaksa berhenti, saat seorang pelayan masuk dan mendorong troly dengan makanan di atasnya.
Pelayan tersebut menata makanan di meja, lalu meninggalkan ruangan setelah menyajikan dengan rapih, hidangan pembuka yang di pesan oleh Arlan.
"Wow! Rendang versi Perancis!" seru Evelyn takjub, melihat makanan di piring dan Arlan bergantian.
"Apa ini bisa di makan dengan ketupat?" tanya Evelyn di ikuti dengan cengiran khasnya, membuat Arlan tertawa saat mendengar perkataan lucu, yang keluar dari mulut Asistennya.
"Ha-ha-ha! Ada-ada saja Lyn," ujar Arlan dengan kepala menggeleng heran.
Mereka pun memulai makan siang mereka, di selingi dengan obrolan ringan dan sesekali tertawa saat ada obrolan lucu yang terselip di sela-sela candaan mereka.
Kembali pada Tania.
Saat ini Tania sedang ada di perjalanan, menuju salah satu restoran setelah mendapat pesan dari salah satu temannya.
Restoran yang saat ini akan Ia datangi adalah restoran Perancis, Restoran mewah dengan menu andalan yang menggugah selera.
Mobil yang di kendarai Tania pun berhenti, parkir dengan aman di parkiran Vip milik Restoran tersebut.
Saat keluar dari mobil, matanya tidak sengaja melihat mobil dengan jenis dan plat yang sama dengan tunangannya.
Dahinya berkerut memikirkan kemungkinan yang ada, salah satu pemikirannya adalah Arlan berada di dalam Restoran saat ini.
"Apa Dia sedang meeting di sini?" gumam Tania bingung.
"Kalau begitu Aku harus cari Dia!" Lanjutnya berseru semangat.
Karena meyakini jika tunangannya ada di dalam, Tania pun memasuki Restoran dengan semangat dan senyum merekah.
"Ah ... Jodoh tidak akan kemana." Gumamnya senang.
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Apakah mereka bertiga akan bertemu saat ada di dalam?
Ikuti terus kisahnya ....
Perusahaan Wijaya dari novel Fell In love With My Arogan Fiance.
__ADS_1
Sampai babai