
Itukah dirimu? Wajah aslimu?
Kenapa bisa?
Aku hanya ingin menghindar
Bukan ingin menghilang
Tolong biarkan aku tetap disini.
Tetap jalani hariku seperti ini.
Jangan ganggu aku atau kamu sendiri yang akan menanggung akibatnya.
¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶¶
Evelyn pov on
Ini sudah berlalu sekitar dua minggu, dari hari pertunangan dan pernyataan cinta terpendam sahabatku.
Kehidupanku pun kembali seperti sedia kala, berangkat kerja bersama sahabatku, pulang bersama sahabatku dan akan menghabiskan akhir pekan bersama ibu dan sahabatku.
Sampai saat ini ibuku masih belum tahu, jika aku bercerita itu artinya ibu juga tahu tentang ayah.
Aku tidak ingin ibuku kepikiran dan berujung dengan memburuk kesehatannya.
Yang harus aku lakukan sekarang adalah tetap ceria, dan menjalani hari seakan tidak ada yang terjadi, pada hari-hari sebelumku.
Di kantor aku masih menghindarinya, mencoba untuk tidak melihatnya, jika itu bukan untuk kepentingan semata dari pekerjaanku.
Meskipun aku tahu, terkadang dia akan berusaha mencari celah di antara waktu kerjaku, aku bersyukur karena aku masih di berikan oleh tuhan sekeping hati keras bagai baja.
"Semangat bekerja, Lyn. Jangan lupa kirim pesan."
Riki memberikan senyum teduhnya, membuatku ikut tersenyum sebelum menjawab, dengan anggukan kepala semangat.
Ya ... Hari ini seperti biasa, Riki menjemputku bekerja dan saat ini kami sudah sampai di parkiran tempat aku bekerja.
"Siap!"
"Aku pergi, sampai jumpa," pamitnya masih tersenyum hangat seperti dulu.
Sahabatku sama sekali tidak berubah, dia menepati janjinya, menjadi kakak serta sahabatku seperti dulu.
"Sampai jumpa, Riki!"
Brum!
Aku pun membalikkan tubuhku, menghadap ke arah gedung tinggi dengan nama perusahaan terkenal.
Tempat aku bekerja, saat ini hingga masa kontrakku habis nanti kedepannya.
"Semoga, hari ini akan sama seperti hari kemarin."
Aku berdoa dalam hati, agar semuanya dapat aku lewati dengan baik hari ini.
Saat aku memasuki lobby perusahaan, lagi-lagi tatapan berbeda di terima olehku.
Entah tatapan merendahkan atau juga tatapan mencela, terserah aku tidak perduli itu.
"Selamat pagi, Lyn!"
"Selamat pagi, Rai!"
Hanya Raina, seorang receptionis yang dulu satu kampus denganku, yang masih menyapa dan menganggapku seperti Evelyn yang dulu.
"Siap bekerja?"
"Tentu saja," balasku dengan semangat, Raina tersenyum dan mengangguk padaku, memberi dukungan moral dengan apa yang menimpaku.
Dia bilang, aku lebih baik di banding dengan yang lainnya.
__ADS_1
Aku mengerti maksudnya apa, tapi aku tahu dia hanya ingin aku baik-baik saja selama bekerja.
"Aku ke atas dulu."
"Baik, makan siang nanti seperti biasa. Oke!"
"Tentu saja."
Aku tersenyum melangkahkan kaki dengan sedikit semangat, setidaknya masih ada segelintir orang yang menyukai keberadaanku.
Sebenarnya Arlan sudah memberi peringatan keras, untuk tidak melakukan aksi bully seperti ini.
Tapi aku fikir percuma.
Lagian ... Ini sudah menjadi resikoku, resiko mencintai tanpa melihat siapa yang di cintai.
Oke lupakan.
Saat ini aku sedang ada di ruangannya, seperti biasa menyiapkan minuman kesukaanya, menyiapkan materi meeting atau juga memeriksa jadwalnya hari ini.
Aku melirik jam di dinding dekat pintu masuk, lalu bersiap keluar saat dalam hitungan detik, pintu pasti akan terbuka.
Ceklek!
Apa kataku, dia orang yang tepat waktu dan aku bersyukur akan itu.
Setidaknya aku bisa lebih awal dan selalu awal menyiapkan segalanya untuknya, jadi aku tidak perlu melihatnya lama-lama pula.
"Selamat pagi, Pak Presdir."
Aku menyapanya seperti biasa, hari ini dia hanya balas dengan gumaman, membuatku mengernyit akan sikapnya yang tidak seperti biasanya.
"Ada apa?" batinku, namun aku segera menepis pikiran itu, bukan urusanku juga.
"Lyn."
"Ya, Pak?"
"Tidak, tolong bua-
Tak!
Aku segera meletakkan secangkir kopi, saat dia hendak meminta.
"Sudah Pak, ada lagi?" tanyaku, tanpa melihatnya.
"Lyn. Ap-
"Jika pertanyaan tidak sesuai dengan pekerjaan, sebaiknya bapak urungkan. Hari ini bapak banyak rapat di luar kantor, saya harus segera menyiapkan keperluan bapak."
Aku menyela dengan cepat, terkesan tidak sopan tapi aku hanya menghindari permasalahan, yang akan di timbulkan dari pertanyaannya nanti.
Diam .... Dia hanya menetapku dengan ekspresi sedih, membuatku ikut sedih namun aku tahan.
Ini yang terbaik untuk kami, untuk Nyonya Tania tunangannya yang menyangka, jika aku berusaha mengambil Arlan darinya.
Aku melihatnya menunduk lesu, sebelum menatapku dengan senyum seperti dulu.
Senyum mengesalkan.
"Ada apa dengannya?" tanyaku dalam hati.
"Kamu mencoba melawanku. Lyn?"
"Apa maksudnya, Pak?"
"Tidak ada, kamu bisa kembali bekerja."
Aku hampir saja mendengus kesal, saat mendengar perkataannya.
"Dasar aneh, lagian darimananya aku melawan?" batinku bingung.
__ADS_1
"Baik pak, permisi."
Aku pun meninggalkan ruangannya, kembali bekerja dan menyelesaikan pekerjaanku, yang aku perhatikan entah mengapa semakin menumpuk.
"Haih."
Aku menghembuskan nafas lelah, lalu membuka satu per satu kertas map di meja kerjaku.
Evelyn pov end
Normal pov
Sepeninggalnya Evelyn dari ruang Arlan, ruangan itu pun menjadi sunyi saat si empunya ruangan terdiam, dengan segala pemikirannya.
Dua minggu ini ia menjalani hari dengan Evelyn, yang selalu menghindarinya kecuali ada pekerjaan, yang membutuhkan mereka untuk berdiskusi.
Dua minggu ini juga ia mencoba untuk menerima Tania, namun tidak bisa, cintanya seakan hanya berjalan di tempat dan hanya tahu satu tempat.
Di dalam hatinya, ia masih memiliki fikiran mendapatkan Evelyn untuk kembali di sisinya, ia tidak peduli akan apapun bahkan jika harus memaksa keadaan.
Perduli setan dengan janjinya, perduli setan jika ia harus membuat Evelyn membencinya.
Jika ia bisa mengurung Evelyn di sisinya, ia rasa itu adalah harga setimpal untuknya.
"Bagaimana pun, aku akan membuat kamu, berlari ke sisi aku lagi. Lyn," gumam Arlan berjanji, sebelum menyibukkan diri dengan segudang pekerjaannya.
Skip
Seperti yang di bilang oleh Evelyn, hari ini keduanya melakukan banyak aktivitas di luar kantor, membuat Evelyn harus ekstra sabar saat Arlan dengan sifat seenaknya yang kembali muncul.
"Pak, setelah ini ada janji dengan perusaha-
"Bagaimana kalau kita makan dulu?"
Ucapan Evelyn terpaksa harus di tunda, saat dengan seenaknya sang Presdir menyelanya dengan ajakan makan, serta nada lembut seperti biasa.
"Ya ampun, mau apa sih orang ini," batinnya tidak mengerti.
"Saya sudah makan siang, Pak," balas Evelyn seadanya.
"Tapi saya mau makan siang," ujar Arlan tidak perduli.
"Kalau gitu bapak silakan makan siang."
"Kita akan makan siang, bersama."
"Saya sudah makan, Bapak tidak perlu rep-
"Saya memaksa."
Arlan mengeluarkan nada tidak terbantahkan, saat melihat sikap Evelyn yang keras kepala, penyesalannya berubah menjadi obsesi, saat ia merasa jika ia terlalu mencintai asistennya.
"Arlan."
Seketika Arlan merasakan senang saat dirinya, di panggil seperti itu lagi oleh asistennya.
Setelah dua minggu ia merasa sepi pada telinganya, akhirnya panggilan itu terucap lagi dari bibir mungil asistennya.
"Apa?"
"Bisakah kamu tidak mengangguku, bisakah kamu lupakan aku?"
Deg!
"Apa?"
Bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ikuti kisah selanjutnya
__ADS_1
Sampai babai.