Bukan Salahku

Bukan Salahku
Merasa Egois


__ADS_3

Bab 35


Dalam rasa frustasinya Abi mengerang lelah, Abi menatap jalanan sekitar yang disesaki oleh kendaraan lainnya, terdengar suara klakson dimana-mana, rupanya Abi tengah terjebak macet. Jika tidak mengingat akan bahaya, Abi sebetulnya ingin sekali melepaskan alat bantu dengarnya, sepertinya suasana hening akan membantu Abi untuk sedikit rileks, namun tidak mungkin jika Abi harus melepaskan alat bantu dengarnya disaat dia tengah berkendara dijalan raya sibuk seperti ini. 


Abi mengedarkan pandangan pada sekitar, terlihat disana terlalu banyak orang yang mengumpat, mengutuk, bahkan marah-marah dengan tidak sabaran, sembari melihat sekitar seketika Abi menerawang mengingat masa lalunya yang cukup bising dan menyakitkan, sesekali benaknya bertanya ‘Kenapa hidupku harus semenderita ini? Tidakkah Tuhan terlalu berlebihan untuk hidupku? Kenapa aku tidak mati saja dulu? Kenapa aku harus terlahir seperti ini?’ dan pertanyaan-pertanyaan serupa lainnya terus menghiasi kepala Habibi. 


Namun kini, sedikitnya Abi sudah berdamai dengan kenyataan, entah ujian apalagi yang akan dirinya hadapi ke depannya, Abi tidak lagi merasa hidupnya terasa berat, meski kadang Abi seringkali merasa lelah juga. 


Jalanan macet akhirnya terurai setelah beberapa saat Abi menunggu, Abi kembali melajukan mobilnya menuju kawasan elit dimana rumahnya berada disana. Dari jarak beberapa meter Abi memperhatikan halaman rumahnya, kosong, mungkin Naina belum pulang dari belanjanya, sederet pesan chat pemberitahuan penggunaan uang telah sampai di ponsel Abi, Abi sudah tidak ingin lagi melihatnya, toh rasanya percuma saja. Apapun yang akan dikatakan Abi, Naina tetaplah gadis keras kepala yang akan sulit menerima saran orang lain, terlebih saran dari Abi. 


Dengan wajah kuyu, Abi segera melangkah menuju rumahnya, Abi disambut oleh Bibi yang datang tergopoh, berniat membantu membawakan tas Abi, namun pria itu segera menolak, Abi lebih suka membawa barangnya sendiri, segera Abi naik ke atas untuk menyambangi kamarnya, lalu Abi sempat merebahkan tubuhnya sejenak, Abi melirik pada dinding, dimana biasanya foto Bunda yang tersenyum terpajang disana, kini foto itu tidak ada lagi disana, Abi belum sempat kembali memasangnya. 


Menghela napas, Abi segera beranjak menuju kamar mandi, membersihkan diri mungkin bisa membuat pikirannya sedikit menjadi lebih jernih. 


Pukul sembilan malam, dan Abi yang kini masih duduk diatas kursi makan, masih belum melihat tanda-tanda akan kepulangan Naina, Abi yang dilanda cemas begitu mengkhawatirkan sang istri, terlebih calon anaknya, berulang kali Abi melakukan panggilan dan chat pada nomor Naina, namun tak kunjung terbalas. Abi sungguh bingung ingin menyusul sang istri kemana. 


Bolak-balik di ruang tengah, hingga Abi terduduk sembari memandangi tipi dengan layar cukup lebar yang berada di hadapannya dalam kondisi tidak menyala, Abi memandang bayangannya sendiri disana, Abi sungguh merasa tidak berdaya, dia tidak tahu Naina pergi kemana, hingga Abi tidak bisa menyusul istrinya. 


Pukul satu malam, Abi masih terjaga, dan Naina masih belum pulang, Abi sempat tekantuk-kantuk karena rasa lelahnya. 


Pendengaran Abi segera menajam kala mendengar suara pintu mobil yang ditutup dari luar sana, Abi segera berlari menuju pintu, mengintip siapa yang datang. 


Naina! Istrinya itu datang dengan keadaan sempoyongan, teman-temannya mengantar Naina hanya sampai teras rumah, meletakkan Naina begitu saja, dalam kondisi Naina yang mabuk parah dengan racauan yang tidak jelas. 

__ADS_1


Seketika air mata Abi menetes begitu saja, pria itu merasa hidupnya bagaikan dineraka, selama hidupnya Abi menjaga dirinya sebaik mungkin, Abi berusaha bersikap baik sesuai standar kebaikan manusia, namun kenapa hidupnya harus seperti ini?


Abi merasa lelah, sangat lelah.


Abi membuka pintu, berjalan mendekati Naina yang baru saja muntah, mengeluarkan semua isi perutnya hingga mengotori teras rumah juga baju seksi yang digunakannya. 


Tidak ada niat untuk menyapa, memarahi, atau membentak, Abi enggan untuk mengeluarkan suaranya, Abi hanya menatap Naina dengan pandangan datar. 


“Ya Allah Non!” itu adalah suara Bibi, perempuan paruh baya itu datang mendekati Naina, bersiap membantunya. Sedari tadi, Bibi juga sama cemasnya memikirkan Naina yang tidak kunjung pulang, hingga Bibi masih terjaga di waktu yang hampir tengah malam ini. 


“Bagaimana ini den Abi?” Bibi menatap Abi yang masih terpaku menatap Naina, pandangan Abi tertuju pada perut Naina, Abi rasa calon anaknya pasti menderita di dalam sana, seketika Abi merasa egois sekali, demi mempertahankan anaknya, justru Abi malah lebih banyak menyakitinya dan membuatnya menderita, seketika Abi bertanya-tanya, apakah keputusannya mempertahankan anaknya adalah keputusan yang tepat? Abi sungguh menderita kala melihat calon anaknya menderita, Abi tidak tahan lagi, hingga membuat air matanya berderai tak terbendung. 


“Yang sabar ya Den” Bibi menatap Abi dengan mata berkaca, rupanya perempuan itu merasakan kesedihan Abi. Abi pria yang baik dan sabar, Bibi tahu itu. 


Naina sudah hampir tak sadarkan diri, aroma yang tercium dari perempuan itu terasa begitu menusuk, Abi tidak terbiasa dengan bau tersebut. Abi memundurkan langkahnya. 


Abi melangkahkan kakinya menuju kamarnya, meninggalkan Bibi dan Naina yang tengah diambang batas kesadarannya. 


Abi duduk di tepi ranjang dengan kedua tangan menangkup wajahnya sendiri “Abi lelah Bun” Abi menangis sejadi-jadinya, sebagai seorang pria Abi merasa tidak berguna, dia tidak mampu menjalankan kewajiban membimbing istrinya dengan benar, sebagai seorang Ayah Abi merasa gagal karena tak mampu menjaga anaknya dengan baik, malam itu Abi habiskan dengan menangis pilu, merutuki hidup dengan penyesalan tiada banding. 


***  


Waktu menunjukkan pukul sepuluh pagi saat Naina membuka matanya, gadis itu melenguh lalu mengerang kala merasakan betapa kepalanya terasa pening, matanya mengerjap-ngerjap, lalu sedikit demi sedikit mulai terbuka, gadis itu mengerutkan keningnya perlahan, mencoba mengingat kembali bagaimana dirinya bisa berada di tempat ini sekarang. 

__ADS_1


Naina mengedarkan pandangannya, ruangan ini adalah kamarnya, Naina segera terlonjak, dia sungguh lupa bagaimana dia bisa berada di kamarnya?


Semalam temannya mengajak Naina untuk mendatangi sebuah club malam, lalu temannya mencekoki Naina dengan minuman beralkohol, mata Naina membelalak kaget, tanpa sadar tangan dan matanya menatap pada perutnya yang kini masih menonjol, seketika entah kenapa napas Naina terdengar melega, setidaknya anak itu masih ada, maka Ia akan terhindar dari amukan Abi, begitu pikirnya. 


Memaksakan diri untuk mandi, akhirnya Naina beranjak menuju kamar mandi, menunaikan hajatnya, hingga waktu menunjukkan pukul sebelas siang, Naina merasakan perutnya melilit, mungkin Ia kelaparan, Naina melewatkan waktu sarapannya dan kini harusnya dia sudah makan siang juga.


Naina merasa heran saat tidak ada makanan seperti biasa diatas nakas, biasanya Abi yang akan membawakannya ke kamar, memaksa Naina untuk makan jika Naina malah rewel tak ingin makan, tapi sekarang semuanya sepertinya tidak terjadi. 


Abi? Naina bertanya-tanya, apa Abi marah? Apa Abi melihatnya mabuk-mabukan semalam?


Naina turun dari lantai dua, melihat ada Bibi yang tengah memasak di dapur, mungkin masak untuk makan siang, rasanya malas sekali menyapa wanita paruh baya tersebut, namun Naina memaksakan diri.


“Abi kemana Bi?” tanya Naina basa-basi. 


Bibi menghentikan kegiatannya tanpa menoleh ke arah Naina. 


“Den Abi sudah berangkat kerja Non”


Naina mengerutkan keningnya merasa heran dengan tingkah Bibi yang terlihat aneh, setahunya Bibi adalah perempuan yang ramah dan sopan terhadap majikan, namun kini bahkan Bibi enggan menatap wajahnya. 


“Bi?” Naina memanggil, hingga Bibi terlihat terpaksa menoleh.


“Ya Non?” Bibi menatap Naina dengan tatapan datarnya. 

__ADS_1


Naina mengerutkan keningnya kala melihat wajah Bibi yang sembab. 


“Bibi habis nangis?”


__ADS_2