
Hey kemarilah sebentar, Aku ingin bermain denganmu berlarian memutari rumput basah di pagi ini.
Temani Aku setidaknya sebelum kabut itu datang dan menenggelamkanku lagi.
Aku ingin menghilang dengan atau tanpa dirimu, di antara dingin dan nyanyian bisu tempat ini.
Aku ingin berjalan menyusuri keabadian yang sunyi, membawa kotak pandora penuh emosi, yang tidak seorang pun tahu isi hingga nanti.
Hingga nanti kematian menyambut, memeluk tubuh dalam balutan sepi.
Kondominium Arlan
Pukul. 08:00, WKB
Di kamar dengan cat berwarna dark blue, di sebuah ranjang dengan ukuran King size, terdapat seorang pria sedang tertidur pulas.
Pria dengan nama Arlan Cahya Widiyo itu perlahan membuka matanya, saat cahaya matahari dengan nakal menyinari wajahnya.
Kedip! Kedip! Kedip!
Matanya berkedip membiasakan cahaya yang masuk ke retina matanya, kemudian setelah menguap pelan dan merenggangkan tubuhnya sejenak, barulah Ia benar-benar membuka matanya.
Ia menolehkan wajahnya ke arah samping, di mana ada jam digital terpajang apik di buffet, samping tempat tidurnya.
"Hum ... Jam delapan," Gumamnya pelan.
Ia pun turun dari ranjangnya dan berjalan ke arah balkon kamarnya, melihat pemandangan ibu kota di pagi menjelang siang hari ini.
"Semakin ramai saja," ujar Arlan ketika melihat pemandangan ibu kota, yang setiap saat tidak pernah sepi dari kegiatan manusia di bawah sana.
Hari ini hari liburnya, jadi Ia berencana untuk main ke kost-an milik Evelyn, Ingin menghabiskan waktu liburnya bersama Evelyn dan ibu dari Evelyn, yang sudah mulai menerimanya dan bercerita dengan santai kepadanya.
Kemarin malam mereka juga makan malam sesuai rencana, membuatnya senang dua kali lipat saat mengingat tentang kejadian di dalam kantor, saat mereka selesai membicarakan dokumen.
"Seperti mimpi saja" Gumamnya pelan.
Ia melangkahkan kakinya keluar kamar dan menuju pantry, membuat kopi minuman kesukaannya, apalagi jika itu asistennya yang membuatkan untuknya.
"Padahal takarannya sama, tapi kok beda yah rasanya?"
Ia pun mengangkat bahunya lalu mulai meraciknya di coffee maker, meletakkan cangkir di bawah tempat keluarnya minuman dan menunggu cairan berwarna hitam itu memenuhi cangkir miliknya.
Aroma harum kopi memenuhi ruang tamu, saat Arlan membawanya untuk di nikmati dengan santai.
Ia meletakkan dengan bunyi pelan, sambil menduduki diri di sofa kemudian menengadahkan wajahnya ke atas.
Helaan nafas keluar dari hidungnya, dengan mata terpejam sekelebat bayangan wajah asistennya terlukis di depannya.
"Huft ..."
Akhirnya setelah sekian lama Ia berusaha sabar menghadapi Evelyn, Ia bisa juga dekat dengan asistennya tanpa jarak mengatas namakan atasan dan bawahan lagi.
Sekarang Ia dan asistennya sudah saling belajar, untuk menerima satu sama lain sebagaimana pria dan wanita berhubungan dengan normal.
"Kemarin itu Aku tidak menyangka," Gumamnya saat mengingat kejadian yang membuat Ia senang bukan kepalang.
Flasback on
Arlan pov on
Saat ini Aku sedang bersama asistenku, berbincang santai setelah membahas dokumen yang tidak di mengerti olehnya.
__ADS_1
"Kalau ada apa-apa, bisa kan Aku jadi sandaran Kamu juga?" Ujarku tiba-tiba bertanya dengan serius.
Aku bisa melihat Ia berhenti dari kegiatan beres-beresnya, dengan tubuh kaku sambil menghela nafas Dan barulah Dia menolehkan wajahnya ke arahku.
"Arlan Aku ..."
Aku menunggu dengan sabar kalimat lanjutan darinya, Aku tidak akan menyerah sampai Dia mengizinkan Aku ada di sampingnya juga, seperti sepupuku yang bisa dekat dengannya.
Namun bukan sebagai sahabat, melainkan hubungan pria kepada wanita normalnya.
"Arlan Aku tidak melarang Kamu untuk dekat dengan Aku, Aku akan sangat berterima kasih jika Kamu memang ingin melindungiku juga," Ujarnya melihatku dengan pandangan serius.
Ini yang ingin Aku dengar, akhirnya Aku bisa selangkah lagi dekat dengannya.
"Tentu saja Aku ingin, Lyn!"
"Terima kasih!" Lanjutku dengan perasaan senang.
Aku melihatnya menggelengkan kepala dan tersenyum kecil.
"Tidak bukan Kamu yang seharusnya berterima kasih, tapi Aku. Kan Aku yang akan selalu bersandar sama Kamu, jadi mulai sekarang siap-siap yah. Arlan!" Serunya riang.
Aku pun mengangguk dan meyakinkan dalam diri sendiri, jika Aku akan selalu siap di saat Dia membutuhkanku.
Apa pun dan kapan pun, kalau itu demi kebaikannya Aku akan siap sedia.
"Oke ... Kapan pun Kamu butuh, Kamu bisa datang kepadaku. Paham?" Ujarku menegaskan.
"Oke Bosku!" balasnya semangat.
Aku pun menepuk kepalanya pelan, menuai kikikan senang darinya.
Sepertinya Dia senang saat kepalanya di tepuk seperti ini, ah ... Iya waktu itu juga Riki selalu menepuk kepalanya seperti ini.
"Tapi Lyn," Ujarku menghentikan sejenak kalimat yang ingin Aku ucapkan.
"Huem?"
Dia hanya bergumam, dengan pandangan tidak lepas dari dokumen yang sedang di bereskannya.
"Tapi Aku melindungimu bukan sebagai atasan pada bawahanya, bukan pada sahabat ke sahabatnya atau juga kakak kepada adiknya. Aku melindungimu sebagai pria, kepada wanita yang mencintainya," Ujarku dengan tegas.
Aku melihat Dia menghela nafas lagi, tanpa menoleh ke arahku Dia membalas ucapanku singkat, namun membuatku tersenyum saat mendengarnya.
"Aku tahu, Aku pun tidak melarang itu,"
"Sungguh?"
"Ya,"
Kali ini Dia melihat ke arahku dengan senyum kecil terpasang di wajahnya.
"Karena itu, Kamu harus berjuang lagi kalau memang benar serius denganku,"
"Tentu saja,"
Aku menjawab dengan cepat dan menuai dengusan darinya, tapi Aku tidak marah malah terkekeh saat mendengar kalimat yang di ucapkannya.
"Eleh ... Bisakah berubah, tidak yakin,"
"Bisa, Aku pasti akan berubah dan membuat Kamu membalas cintaku," Ujarku dengan yakin.
__ADS_1
"Ya ... Ya ... Ya, tiba-tiba datang wanita minta di manja,"
Seketika Aku terkekeh saat mendengar gerutuan darinya, Aku sungguh tidak menyesal pernah menunjukan kelakuan burukku. Jadi Dia tahu sendiri, kalau Aku bukan laki-laki yang manis di depan, tapi buruk di belakang.
Setidaknya Dia tahu kalau Aku memang laki-laki dengan kelakuan buruk, yang sedang berusaha merubah kelakuan buruknya demi Dia.
"Aku jamin itu,"
"Aku tunggu itu,"
Kekehanku lagi-lagi tidak bisa Aku tahan, saat mendengar nada santai namun serius di saat bersamaan, yang di ucapankanya untukku.
"Siap-siap saja sayang!" Seruku memandang asistenku dengan senyum miring.
"Belum saatnya Kamu memanggil Aku sayang, Pak Presdir!" Sewotnya dengan mata melotot lucu ke arahku.
Aku pun tertawa dengan Dia yang pergi meninggalkanku.
Arlan pov end
Flasback end
"Tentu saja, Aku jamin itu," gumam Arlan dengan senyum kecil saat mengingat kejadian kemarin.
Ia pun menghabiskan dengan segera kopi miliknya, kemudian memutuskan untuk mandi karena Ia ingin menghabiskan waktu libur dengan asistennya.
"Sebaiknya Aku mandi,"
Ia pun bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamarnya, melakukan ritual mandinya untuk bersiap pergi ke tempat tujuannya hari ini.
Skip
Pukul. 10:30
Saat ini Arlan sudah siap dengan pakaian santainya, seperti apa katanya tadi bahwa siang ini Ia akan berkunjung ke kost-an asistennya.
Di tangannya sudah ada kunci mobil dan juga dompet miliknya, benda wajib yang harus di bawanya jika keluar rumah.
Baru saja Ia keluar dari kamarnya, Ia di kejutkan dengan bunyi bel yang di tekan dari luar.
"Siapa?" gumam Arlan bingung.
Setahunya selain Ia dan dua asistennya serta Riki, tidak ada yang tahu dimana Ia tinggal.
Tidak ingin penasaran, Ia pun melangkahkan kakinya ke arah pintu Kondominiumnya.
Sebelum membuka pintu Ia mengintip melalui lubang intip.
"Perempuan?" Gumamnya bingung.
Ia pun membuka pintu dan memasang wajah bingung, saat wanita paruh baya itu tersenyum ke arahnya.
"Arlan yah?"
"Siapa?"
"Saya ..."
bersambung
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Ikuti kisah selanjutnya
Sampai babai